
"Ibu, aku pergi ke pasar dulu, titip Vero ya, Bu. Vero masih tidur," kata Vaya berpamitan pada ibunya.
"Iya, hati-hati, Vaya, jangan lupa bawa payung, ini sudah mendung," kata Bu Asih.
"Ya Bu," sahut Vaya.
Vaya pun segera berangkat ke pasar yang lokasinya cukup jauh dari kota terdekat dengan menumpang mobil angkutan yang kebetulan lewat. Vaya terpaksa menumpang mobil angkutan yang lewat karena satu-satunya sepeda motor miliknya digunakan Aria untuk pergi ke sekolah.
Jarak menuju ke kota terdekat membutuhkan waktu sekitar tiga jam jika tidak ada kendala di perjalanan. Meski Vaya sudah berangkat pagi-pagi namun kemungkinan untuk sampai di pasar pastilah tengah hari.
Untunglah kondisi warung sedang sepi sehingga Bu Asih tidak terlalu repot melayani pelanggan yang datang.
Bu Asih menatap langit yang nampak begitu gelap lantaran tertutup mendung pekat.
Bu Asih berharap Aria segera pulang sekolah dan Vaya kembali dari pasar sebelum hujan turun.
Tiba-tiba Bu Asih merasa kepalanya pusing, wanita paruh baya itu pun segera duduk di salah satu meja kosong.
Sementara itu di lantai atas, Vero terbangun dari tidur. Bocah itu mengedarkan pandangannya mendapati kekosongan yang setiap hari selalu didapatinya.
Ia pun segera menuruni anak-anak tangga secara perlahan, menghampiri Bu Asih yang duduk di salah satu kursi.
"Mbah, ibu di mana?" tanya Vero menghampiri Bu Asih.
"Ibumu ke pasar," jawab Bu Asih.
"Mbah kenapa? Sakit?" tanya Vero.
"Mbah cuma sedikit pusing. Mbah istirahat sebentar ya," jawab Bu Asih.
"Mbah mau teh hangat?" tanya Vero.
"Tidak usah repot-repot, Vero. Mbah cuma mau istirahat sebentar," jawab Bu Asih sambil mengulas senyumnya.
Vero bisa melihat wajah neneknya yang memucat. Vero segera ke dapur. Ia mengambil air panas dari dispenser dan menyeduh satu kantong teh.
Vero sudah terbiasa melihat ibu ataupun neneknya membuat teh, sehingga ia meniru apa yang biasa dilihatnya.
"Mbah, ini diminum dulu," kata Vero sambil menyodorkan segelas teh hangat untuk Bu Asih.
Bu Asih kembali mengulas senyumnya, meski saat ini ia merasa berat untuk tersenyum lantaran kepalanya yang begitu pusing.
Bu Asih menyeruput sedikit teh hangat yang diberikan Vero.
"Terima kasih ya, Vero," kata Bu Asih. "Kamu memang pintar, tapi selalu hati-hati ya dengan air panas," ujar Bu Asih.
"Mbah tenang saja, aku ini sudah besar," sahut Vero dengan bangga.
"Permisi! Pesan kopinya satu gelas!"
"Mbah, biar Vero saja," kata Vero begitu melihat Bu Asih hendak melayani pelanggan.
"Vero," ucap Bu Asih.
"Aku bisa, Mbah," sahut Vero antusias.
"Apa sebaiknya warungnya ditutup saja ya?" gumam Bu Asih.
Bu Asih masih merasa pusing meski sudah mencoba beristirahat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Aria pulang sekolah. Aria pulang lebih cepat karena hari ini kebetulan hanya kegiatan try out ujian sekolah.
Aria langsung menghampiri ibunya yang nampak terkulai lemah di salah satu meja.
"Ibu! Ibu kenapa? Pucat sekali!" Aria terkejut melihat Bu Asih.
"Iya, dari pagi tadi Ibu merasa pusing," kata Bu Asih.
"Ya sudah, ayo kita ke puskesmas sekarang, Bu," ajak Aria.
"Kalau kita pergi, Vero bagaimana?" tanya Bu Asih. "Vaya belum pulang dari pasar dan sekarang cuaca begitu mendung," kata Bu Asih.
"Aku jaga rumah saja," sahut Vero.
"Vero yakin tidak mau ikut?" tanya Aria.
Vero mengangguk yakin dan mantap.
"Nanti kalau hujan-hujanan, aku bisa sakit," sahut Vero.
"Ya sudah, kalau begitu warungnya ditutup saja," usul Aria.
Aria segera menutup warung lebih cepat.
"Vero, jaga rumah sebentar ya. Tunggu sampai ibumu pulang. Jangan main kompor, jangan sembarang buka pintu kalau ada orang yang tidak dikenal," pesan Aria.
"Ya, Tante," sahut Vero.
Aria dan Bu Asih segera pergi ke puskesmas terdekat yang lokasinya berjarak hampir dua puluh kilometer. Maklum saja, namanya juga mereka tinggal di daerah terpencil jauh dari kota.
...*****...
Hujan turun dengan derasnya, petir sambar menyambar.
Buku cerita bergambar yang biasa dibacakan Vaya untuk Vero mengisahkan tentang serigala dan tiga ekor anak babi. Serigala yang kelaparan di tengah derasnya hujan melakukan berbagai macam cara agar bisa memangsa tiga ekor anak babi yang sedang berada di dalam rumah mereka.
Tok.. Tok..
"Permisi!"
Seruan dari lantai bawah disertai ketukan pintu yang terdengar lebih menyerupai gedoran membuat Vero terlonjak kaget.
"Permisi! Permisi!"
Seruan itu membuat Vero penasaran, pelan-pelan Vero menuruni tangga.
Ia membuka jendela untuk mengetahui siapa yang datang dan menggedor di luar rumah. Saking kerasnya seakan hendak mendobrak pintu rumahnya.
Mata Vero langsung tertuju pada seorang pria yang langsung mengulas senyum ramah padanya.
"Permisi, adik kecil," sapa pria itu dengan ramah.
Vero mengerutkan kedua alisnya karena pria yang dilihatnya jelas adalah pria asing.
"Tenang saja, adik kecil, saya bukan orang jahat dan sama sekali tidak bermaksud jahat," kata pria itu masih dengan ramah.
"Kalau bukan orang jahat, apa kau serigala?" tanya Vero.
"Saya manusia, bukan serigala. Lihat, saya tidak punya cakar seperti serigala," jawab pria itu sambil tersenyum dan menunjukkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Hmm, lantas kau mau apa?" tanya Vero.
"Apa warung ini buka? Saya butuh tempat singgah dan menumpang untuk sementara," kata pria itu.
"Hujan begitu deras dan saya belum bisa melanjutkan perjalanan," lanjutnya lagi.
Vero masih melemparkan tatapan skeptis.
"Begini saja, tolong panggilkan orang tuamu, biar saya bicara dengan mereka," kata pria itu lagi.
"Orang tuaku tidak ada," jawab Vero.
"Apa? Orang tuamu tidak ada?"
"Ya, aku sedang sendirian! Dan aku tidak boleh membiarkan orang asing masuk ke rumah ini!"
"Bagaimana kalau ternyata kau adalah orang jahat dan hendak berbuat jahat? Aku ini orang miskin, tidak punya apa-apa!"
"Tidak ada yang bisa kau rampok!" lanjut Vero.
Pria ramah itu hanya bisa mengurai senyumnya lantaran menghadapi si bocah skeptis.
"Hmm, baiklah, kalau begitu, perkenalkan, nama saya adalah Mike, dan saya bukanlah orang jahat. Ini kartu identitas saya, silakan pegang untuk menjadi jaminan," pria itu mengeluarkan kartu identitas dirinya dari dalam dompet, lalu menyerahkan kartu tersebut pada Vero. Ia juga menyerahkan gawai cerdasnya pada Vero.
"Tekan angka dua dan kau akan langsung terhubung ke kantor polisi jika menurutmu saya akan berbuat jahat," kata pria itu lagi.
Vero memandangi kartu identitas dan juga gawai cerdas yang sepertinya lebih bagus dari milik Tante Aria.
"Oh ya, di dalam gawai cerdas milik saya itu juga banyak permainan seru lho," kata pria itu lagi mencoba bernegosiasi.
...*****...
Mata Vero tak putus-putusnya melihat sosok dua orang pria bertubuh jangkung yang saat ini memasuki rumahnya.
"Adik kecil, terima kasih sudah memberi kami tumpangan," kata Mike.
Vero hanya diam dan mengawasi kedua pria itu.
"Oh ya, adik kecil, ngomong-ngomong, siapa namamu?" tanya Mike.
"Vero," jawab Vero singkat.
"Vero, perkenalkan, ini Pak Vier, dan beliau adalah atasan saya."
Mike memperkenalkan sosok pria yang saat ini berada di sampingnya.
"Atasan itu apa?" tanya Vero.
"Mike, gunakan bahasa yang mudah dimengerti anak kecil," kata Vier ke arah Mike.
Mike mengerutkan alisnya, bagi Mike, Vero jelas bukanlah anak kecil biasa. Anak kecil yang sungguh pintar sampai-sampai menjadikan KTP dan gawai cerdas Mike sebagai barang sitaan.
"Aku adalah teman Mike," kata Vier pada Vero.
"Oh, teman," kata Vero.
Mike memandangi wajah Vero, entah mengapa ia merasa wajah anak kecil itu sungguh tidak asing.
Entah mengapa Mike seakan pernah melihat wajah itu, tapi di mana?
__ADS_1
Entahlah, Mike tidak ingat. Yang pasti saat ini ia sudah menemukan tempat untuk singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mencari Vaya.
...*****...