Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
069 - Mengunjungi Sekolah


__ADS_3

Vaya mencuri pandang ke arah Yoran yang terlihat begitu keren ketika sedang mengemudi. Bagaimana Yoran bisa setampan ini ya?


Ah, ya, dari dulu kan Yoran memang pemuda blasteran yang tampan.


"Ada apa, Vaya?" tanya Yoran.


Eh..


Lagi-lagi Vaya terciduk mencuri pandang ke arah Yoran. Vaya harus memikirkan alasan bagus agar tidak mempermalukan dirinya sendiri.


"Aku hanya melihat-lihat pemandangan bagus supaya tidak mabuk perjalanan," jawab Vaya.


Wajahmu itu pemandangan bagusnya, Yoran! Vaya kembali membatin.


"Oh, kau mabuk perjalanan? Apa kita perlu beristirahat sebentar?" tanya Yoran.


"Tidak apa-apa, Yoran, aku baik-baik saja kok," jawab Vaya.


Vaya sungguh harus pandai-pandai menyimpan rasa groginya. Perjalanannya menuju ke kota asalnya bersama Yoran jelas menjadi perjalanan yang saat ini melelahkan mental Vaya. Berduaan dengan orang yang selama ini disukainya membuatnya begitu gugup hingga melelahkan fisiknya.


Belum lagi Vaya begitu was-was karena ia harus bolos kerja seperti ini. Meninggalkan pekerjaan yang sedang banyak-banyaknya.


Hanya saja kapan lagi ia bisa bolos?


Bisa jalan-jalan bersama Yoran, meski hanya satu hari saja.


Kapan lagi kan?


Vaya harus menutupi rasa gelisahnya dengan baik. Ia sungguh tidak ingin kegelisahannya merusak acara jalan-jalannya dengan Yoran.


"Vaya, apakah selama ini ada guru yang sangat ingin kau temui?" tanya Yoran.


Vaya berpikir cepat, sebenarnya saat masih sekolah dulu tidak ada guru yang benar-benar akrab dengan Vaya. Vaya bukan murid yang dekat dengan guru lantaran ia tidak punya prestasi apa-apa. Yah, syukur-syukur waktu itu ia bisa masuk ke sekolah favorit melalui program pemerintah, yakni pembinaan keluarga miskin.


"Aku ingin bertemu dengan Pak Herdin," jawab Vaya.


"Pak Herdin?" tanya Yoran.


"Pak Herdin itu guru kimia yang dulu masih muda, tampan, dan jadi idola para siswi, beliau mengajar di kelasku waktu kelas satu," jawab Vaya.


"Oh, sepertinya aku tidak pernah diajari beliau," ucap Yoran.


"Hmm, ya, dulu kan kau masuk di kelas unggulan, sedangkan aku di kelas kecap," sahut Vaya.


"Haha," Yoran tertawa. "Kelas kecap?"


"Ya, kelas A, B, C," jawab Vaya.


"Haha," Yoran tertawa lagi.


Tawa Yoran terlihat anggun, pria itu menutup mulutnya dengan satu tangan yang sukses membuat Vaya terpesona.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin bertemu dengan beliau?" tanya Yoran.


"Ya, aku mau melihat beliau, apa setelah selama ini beliau masih tetap tampan? Hehe," Vaya terkekeh. "Dan aku juga ingin komplain dengan beliau," jawab Vaya.


Yoran menoleh sekilas, lalu kembali fokus mengemudi.


"Komplain kenapa?" tanya Yoran ingin tahu.


"Ya, Pak Herdin itu sering mengadakan ulangan harian lisan. Saat teman-teman yang lain diberi paling sedikit sepuluh soal kimia dasar, Pak Herdin hanya memberiku soal paling banyak dua buah. Sisanya, kami berbincang panjang lebar," jawab Vaya.

__ADS_1


"Wah, kok bisa begitu?" tanya Yoran lagi.


"Ya, aku rasa gara-gara aku pernah memuji beliau tampan, segar, dan harum, tidak seperti guru-guru lain," jawab Vaya.


"Haha," Yoran kembali tertawa. "Aku rasa mungkin Pak Herdin menyukai pujianmu," sahut Yoran.


"Tapi akhirnya ya begitu, aku tidak bisa kimia dasar, hingga akhirnya kimia lanjutanku pun hancur-hancuran," lanjut Vaya.


"Haha," Yoran kembali tertawa.


"Yoran, kenapa kau tertawa terus sih?" cibir Vaya.


"Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk mentertawakanmu. Hanya saja, sepertinya aku jadi paham alasan mengapa Pak Herdin suka berbincang denganmu saat ulangan lisan. Kau orang yang berterus terang," kata Yoran.


"Hehe," Vaya terkekeh.


"Menyenangkan bisa berbincang denganmu, Vaya," kata Yoran.


Vaya kembali berdebar-debar karena pujian Yoran.


"Ya, aku juga suka berbincang denganmu, Yoran," sahut Vaya.


...*****...


Sesampainya di sekolah, mereka datang bertepatan dengan jam pulang sekolah. Para murid berseragam putih abu-abu berhambur keluar dari pintu gerbang.


Vaya jadi teringat, ia juga pulang tepat waktu karena harus menjaga Aria dan juga Rian lantaran ibunya harus bekerja menjadi buruh setrika keliling dari rumah ke rumah setelah paginya berjualan di pasar mengelola warung kopi. Hanya sesekali ia bisa pulang terlambat dalam rangka mengerjakan tugas sekolah.


"Pak Herdin?"


Vaya menegur seorang pria yang ditemuinya begitu Vaya keluar dari mobil Yoran.


Pria itu menoleh ke arah Vaya yang berjalan menghampirinya.


Pria berusia kepala empat itu menyeringai tipis.


"Wah, maaf ya, murid saya itu banyak, saya jadi agak lupa," Pak Herdin meminta maaf.


"Wah, bapak tetap tampan, segar, dan harum ya, masih pakai parfum V, Pak?" tanya Vaya.


"Oh, kau Vaya yang itu ya?" Pak Herdin mencoba mengingat-ingat.


"Tidak apa-apa Bapak tidak mengingat saya, tapi saya tetap ingat Bapak," kata Vaya.


Pak Herdin menyeringai lalu mengarahkan pandangannya ke arah Yoran.


"Ini pasti Yoran bule yang ketua osis dulu ya?" tebak Pak Herdin.


Yoran bule? Hihi, Vaya terkekeh geli.


"Benar Pak, tapi rasanya tidak pakai bule," sahut Yoran sambil menjabat tangan Pak Herdin.


"Wah, sudah sukses ya kau sekarang," puji Pak Herdin.


Yoran hanya mengulas senyumnya.


"Kalian bersama?" tanya Pak Herdin.


"Maksudnya, Pak?" Vaya balik bertanya.


"Maksud saya, kalian akhirnya jadi pasangan?" tanya Pak Herdin.

__ADS_1


"Haha, kelihatannya begitu ya, Pak?" Vaya tertawa.


Tawa Vaya jelas bertujuan untuk menutupi rasa groginya yang makin berlipat-lipat.


"Yah, biasa orang bule kan suka yang eksotis-eksotis," sahut Pak Herdin.


"Haha, Bapak ini, bisa saja," Vaya kembali tertawa.


"Baiklah, kalau begitu, saya pamit dulu, mau pulang," kata Pak Herdin.


"Baik Pak, senang bertemu dengan Anda," Vaya bergantian dengan Yoran menjabat tangan Pak Herdin.


Sepeninggal Pak Herdin, Vaya dan Yoran pun memasuki gedung sekolah. Vaya membawa Yoran ke pintu masuk gedung yang dulu merupakan ruang kelas mereka.


"Aku rasa dulu aku duduk di sekitar situ, dan kau duduk di sana, Yoran," kata Vaya sambil menunjuk.


Mata Yoran mengikuti arah yang ditunjuk oleh Vaya.


"Hmm, mungkin seperti itu, aku benar-benar sudah lupa," sahut Yoran. "Ngomong-ngomong, bagaimana kau masih bisa mengingat semua itu, Vaya?"


"Entahlah, aku merasa otakku sangat aneh. Aku bisa mengingat semua hal yang kurasa sangat penting bagiku," jawab Vaya.


"Oh begitu," sahut Yoran.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri koridor bangunan gedung sekolah yang mengalami banyak perubahan selama lima belas tahun terakhir.


Kedatangan Vaya dan Yoran tidak terlalu digubris oleh para murid karena mereka sudah terbiasa dengan kedatangan para tamu. 


"Aku teringat, waktu itu kau dan murid-murid populer sering nongkrong di bawah pohon ini. Tempat paling hits di zaman itu."


Vaya menghampiri area tersebut. Terdapat pagar yang terbuat dari susunan kayu. Ada banyak coretan para siswa yang meninggalkan jejak di sana, rupanya dilestarikan oleh pihak sekolah.


Mata Vaya tertuju pada salah satu coretan yang bertuliskan Vier love u was here.


Dasar pria narsis, batin Vaya.


Jika harus mengingat hal yang lalu, di zaman itu, Vier memang luar biasa narsis dan hingga kini masih tetap mempertahankan kenarsisannya.


Yah, rasanya sungguh iri sekali melihat Vier yang dulu sekolahnya hanya bermain-main saja kini menjadi pria yang luar biasa sukses.


Duh, kenapa aku jadi memikirkan Vier sih? Vaya cepat-cepat mengusir Vier dari pikirannya.


"Namaku ada tertulis di sini," ucap Yoran secara tiba-tiba.


"Benarkah?" tanya Vaya.


Vaya menghampiri Yoran. Mata Vaya melotot lebar begitu melihat coretan di pagar itu.


"VY love Yoran," kata Yoran.


Vaya nyaris menjerit histeris. Itu adalah tulisan tangannya lima belas tahun yang lalu.


"VY siapa ya?" Yoran bertanya-tanya kepada Vaya.


Vaya menyeringai kikuk, satu nama terlintas cepat dalam benaknya.


"Vierlove Yanjayadi!"


...*****...


Dukung terus karya receh othor ini ya..

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya.. 😁😁


__ADS_2