Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
191 - Kejujuran


__ADS_3

"Wah, gila kau, Yoran! Kenapa kau malah mendatangi si pemburu lelaki?"


Yoran mengulas senyumnya saat semua teman-temannya memasang ekspresi ingin tahu alias kepo. Vier yang masih menutupi rasa kesalnya pada Vaya, menatap lurus ke arah Yoran.


"Aku datang karena aku mendengar namaku dipanggil," jawab Yoran singkat.


"Ohh, aku pikir kau datang karena si pemburu lelaki menggodamu," sahut Vier sambil menyeringai horor, yang kemudian diikuti tawa elu-eluan untuk menggoda Yoran.


Vier masih menyimpan rasa kesal atas sikap Vaya yang benar-benar terlihat sangat tidak bersahabat dengannya.


Rasanya keinginannya untuk meminta maaf pada Vaya atas apa yang pernah terjadi di masa lalu seakan menguap bersama rasa kesal Vier pada Vaya.


Apa-apaan, dasar wanita sok cantik! Tidak tahu diri! Vier membatin.


Mata Vier kembali tertuju pada Vaya yang kini memasuki ballroom. Kemudian Vier memindai ekspresi teman-temannya yang tak mampu menyembunyikan rasa terpana terhadap kehadiran Vaya.


"Wow!" decak kagum mereka terceplos.


"Serius itu Vaya si pemburu lelaki?! Gila body-nya!" ceplos Rehan.


"Wah, wah! Sepertinya sekarang dia memang wanita penggoda!"


"Ck! Kalian makin memuji wanita itu, semakin besar kepala dia!" Vier berdecak sebal mendengar puji-pujian yang terlontar untuk Vaya.


"Apa kalian tidak ingat, betapa kalian ketakutan saat menerima surat cinta dari si pemburu lelaki? Kenapa sekarang kalian malah berdecak kagum begitu?" tanya Vier dengan nada mencemooh.


"Haha, Vier, itu kan masa lalu. Kalau sekarang, aku rasa aku tidak keberatan," sahut salah satu dari mereka seraya terkekeh.


"Yah, itu juga kalau Vaya tidak keberatan untuk jadi simpananku, haha," lanjutnya kembali tertawa.


"Haha!" Vier ikut tertawa.


Namun sungguh berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya saat ini. Ketika tangannya terkepal erat dan darahnya seakan mulai mendidih hanya karena membicarakan tentang Vaya.


Sial! Vier kembali mengumpat dalam hati.


Vier melangkah meninggalkan teman-temannya yang masih menggunjingkan Vaya. Tanpa sadar Vier melangkah ke arah Vaya dan terhenti tatkala mata mereka saling bertumbukan.


"Lima belas tahun berlalu dan kau masih nampak menyedihkan," celetuk Vier dengan tangan terlipat di depan dada.


Vier benar-benar gondok melihat Vaya yang masih tetap mengacuhkannya.


"Aku heran mengapa kau masih berani memperlihatkan dirimu lagi!" lanjut Vier kembali melontarkan ujaran bersifat provokatif.


Vaya bangkit dari kursinya, sorot mata tajamnya dan sikapnya yang terlihat arogan membuat Vier terintimidasi.

__ADS_1


"Uruslah urusanmu sendiri!"


"Ayo kita pergi," ajak Vaya pada Ibe.


Vier terperangah melihat kepergian Vaya.


Yang benar saja! Berani-beraninya wanita itu padaku! Vier melengos dalam hati.


Jarum kekesalan Vier terhadap Vaya semakin miring ke kanan. Tidak ada wanita yang berani memperlakukannya seperti ini. Semua wanita selalu bersikap manis dan ramah di hadapan Vier.


Cih, benar-benar wanita yang menyebalkan! Wanita seperti itu sungguh layak untuk mendapat hukuman!


Huh, syukurlah yang akan menikah denganku adalah Selena. Sudah cantik, baik, menyenangkan! Sementara si pemburu lelaki itu! Hih, sok cantik! Hihh! Dasar wanita menyebalkan! Geram Vier.


Vier hanya bisa menelan rasa kesalnya sendiri, terlebih saat orang-orang mulai berkasak-kusuk usai melihat Vier yang macam dicampakkan kekasih.


"Kau pikir siapa dirimu?!" gumam Vier.


"Oh ya, apa kalian melihat tunanganku?"


Vier berusaha mengalihkan perhatiannya dari Vaya. Meski ia mencari-cari Selena, namun tetap saja ia masih memikirkan Vaya.


...*****...


Vier berusaha untuk memejamkan matanya. Ia menarik selimut tebal dan memeluk bantal. Ia sudah mencoba menghitung domba-domba yang tersesat dalam pikirannya, namun bayangan Vaya  justru makin menyesatkan pikirannya.


"Sial! Sial! Kenapa kau tak kunjung pergi dari pikiranku?!"


Vier mengumpat sambil membanting kepalanya berkali-kali di atas bantal.


Bertemu kembali dengan Vaya setelah lima belas tahun berlalu justru malah membuatnya nelangsa.


Niatnya untuk meminta maaf pada Vaya menguap bersama rasa kesalnya pada wanita itu.


Vier turun dari tempat tidurnya, ia menunduk untuk membuka laci nakas di samping kasur. Ia mengeluarkan sebuah amplop berisi sepucuk surat yang sudah lekang oleh waktu. Kertas yang menguning dengan tulisan tangan yang tintanya sudah mulai merembes membuat surat itu benar-benar terlihat seperti perkamen tua yang ditemukan di situs penggalian benda-benda masa pra sejarah.


Vier masih menyimpan surat itu. Surat yang membuat jantungnya berdebar tak karuan, namun akhirnya dongkol setengah mati karena surat itu bukan ditujukan untuknya.


Vier kembali teringat masa-masa ketika tanpa ia sadari, bertahun-tahun yang lalu, ia menunggu surat cinta yang ditujukan untuknya. Surat cinta dari seorang gadis yang meneror para pemuda dengan surat tersebut.


Tanpa disadari oleh Vier, ia terus menunggu surat cinta itu tiba untuknya, ia menunggu hari yang berganti bulan, bulan yang berganti tahun. Surat cinta dari Vaya tak pernah ia dapatkan.


Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Vier jelas merasa kecewa. Namun kekecewaan harus disembunyikan karena membuat harga dirinya terluka.


Entahlah, Vier merasa malu untuk mengaku pada diri sendiri, bahwa tanpa disadarinya, ia pernah menyukai Vaya.

__ADS_1


Ia menyukai gadis lusuh dan dekil yang membuat surat cinta hingga jantungnya berlomba. Ia jatuh cinta pada gadis yang setiap harinya selalu menerima penolakan dari pemuda mana pun yang mendapat pernyataan cinta darinya.


...*****...


"Apa kau tahu, aku bahkan sengaja mengencani hampir semua gadis di sekolah, untuk meyakinkan diriku, mengingkari rasa yang ada di hatiku untukmu."


Vaya terperangah mendengar pengakuan Vier yang saat ini menatapnya lekat-lekat. Manik mata Vier nampak berkaca-kaca.


Wajah Vier terlihat merona merah, pria itu tersipu dan salah tingkah lalu menutup wajahnya dengan  sebelah tangannya.


"Ck, aku tahu, kau pasti menganggapku sangat konyol!"


Vier membuka kembali wajahnya yang makin bersemu merah dan memanas.


"Aku sungguh merasa seperti seorang pengecut yang terus bersembunyi dan menghindari perasaanku sendiri," lanjut Vier.


"Aku selalu meyakinkan pada diriku sendiri bahwa aku tidak mungkin tertarik padamu, menyukaimu, bahkan jatuh cinta padamu, Vaya."


"Aku adalah Vier yang begitu sempurna! Semua wanita tergila-gila padaku! Tapi, mengapa aku terus memikirkanmu?!"


"Semakin keras usahaku untuk menepis, mengusir, menghilangkan bayangmu, maka bayangmu justru makin tersesat dalam benakku!"


"Ehem," Vaya berdeham.


"Vier, apa saat ini kau sedang mengeluarkan gombalan-gombalan receh yang biasa kau berikan kepada semua wanita yang pernah ada dalam hidupmu?" tanya Vaya.


Vier memejamkan matanya sambil menggeleng pelan kemudian perlahan ia membuka kembali matanya lalu mengambil kedua tangan Vaya dan menggenggamnya.


"Vaya, kau salah jika menganggap bahwa aku sedang menggombal."


"Karena bagiku, aku tidak pernah bercanda untuk urusan hidupku," lanjut Vier.


Vier segera berlutut di hadapan Vaya.


"Vi-Vier!" Vaya terperanjat melihat Vier berlutut di hadapannya.


"Vaya, aku tahu, kau selalu menganggap bahwa pernikahan kita terjadi karena sebuah kesalahan."


"Kau salah karena telah berbohong."


"Vier," lirih Vaya.


"Oleh sebab itu, menikahlah lagi denganku!"


Vaya merasa wajahnya memanas dengan degup jantung yang bertalu-talu.

__ADS_1


"Menikahlah denganku karena kejujuranmu!"


...*****...


__ADS_2