
Vaya masih berdiri di depan cermin yang memantulkan bayangannya. Berkali-kali ia mencuci tangan hingga rasanya kulitnya bisa ikut larut bersama air keran menuju ke saluran pembuangan.
Vaya menghela napas berat, seberat langkahnya untuk kembali ke auditorium hotel berbintang lima untuk melanjutkan acara pesta yang bahkan tidak dimengerti oleh Vaya. Berada di pesta itu membuat Vaya jadi seperti alien yang terdampar di bumi.
Vaya keluar dari toilet, melangkah gontai menyusuri lorong yang sepi. Ia benar-benar merasa tidak pantas berada di pesta itu. Tempat mewah dengan orang-orang mewah berkumpul di tengah kemewahan.
Vaya berjalan menuju ke balkon yang sepi. Ia masih membutuhkan banyak udara segar untuk memenuhi paru-parunya. Vaya menengadahkan kepalanya, menatap langit malam yang gelap dengan kilauan bintang yang berpendar cerah.
Seharusnya ia tidak perlu berada di sini. Bertemu dengan Yoran dan melihat kebersamaan pria itu dengan istrinya membuat dada Vaya terasa sesak.
...*****...
Vier menghela napas berat, berkali-kali ia melirik jam tangan dan kursi kosong di sampingnya.
Vaya sungguh keterlaluan, itulah yang ada dalam benak Vier.
Wanita itu harusnya berada di sisinya, mendampinginya selama pesta. Namun kursi kosong di sisi Vier jelas membuat para wanita tergoda untuk berlomba-lomba duduk di samping Vier.
"Maaf, kursi ini sudah ada yang menempati, silakan cari kursi yang lain," Vier menolak dengan sopan para wanita yang bergiliran menghampirinya.
Vier beranjak dari tempat duduknya, dengan sigap Mike yang berada di sisi kursi yang lain ikut berdiri.
"Mike, kau di sini saja, jaga kursinya baik-baik," pesan Vier sebelum pergi.
"Baik Pak," sahut Mike.
Mike bisa melihat kegelisahan dari sorot mata Vier. Mike tahu, Vier pasti akan mencari Vaya. Entah ke mana Vaya pergi, membuat Mike harus mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mata Mike menangkap sosok Yoran yang masih berbincang dengan beberapa tamu.
Mike masih melemparkan tatapan skeptis ke arah pria itu.
Semoga saja Bu Vaya tidak nekat menemui pria itu di pesta ini, batin Mike.
...*****...
Vier berjalan menyusuri koridor, matanya sibuk mencari-cari Vaya yang entah pergi ke mana. Mengaku pergi ke toilet, namun sudah lebih dari tiga puluh menit belum juga kembali.
Apa jangan-jangan dia tersesat? Atau jangan-jangan dia menggoda dan tergoda pria lain?
Vier mengepalkan tangannya yang mengeras seperti rahangnya.
Jujur saja Vier merasa kesal dengan mata para pria yang memandangi Vaya, hanya karena ia tampil menawan malam ini. Ingin rasanya ia mencongkel satu per satu mata para pria yang begitu jelalatan terhadap Vaya.
Vier masih melangkah menyusuri koridor hotel, mencari-cari tempat di mana Vaya mungkin bersembunyi, menyembunyikan dirinya.
Mata Vier tertuju pada balkon yang sepi, matanya langsung menangkap sosok wanita bergaun merah gelap yang menyendiri di tempat itu.
Vier mengerjapkan matanya, berharap bahwa sosok yang ditangkap netranya benar-benar adalah Vaya.
Ia berjalan pelan, bahkan nyaris tak menimbulkan suara saat mendekati Vaya yang sedang menengadahkan kepalanya menatap langit malam yang cerah.
"Rupanya kau di sini."
Vaya terperanjat mendengar suara Vier.
"Vi-Vier!" seru Vaya cepat-cepat menutup mulutnya.
Vier melangkah mantap menghampiri Vaya.
"Kenapa kau pakai acara kabur seperti ini?" tanya Vier. "Apa aku ada menyuruhmu untuk kabur?"
"A-aku tidak kabur, aku hanya mencari udara segar," jawab Vaya.
"Udara segar?" Alis Vier terangkat sebelah.
__ADS_1
"'Udara segar, atau menggoda pria berpenampilan segar?" tanya Vier.
Vaya mencebik mendengar pertanyaan Vier. Langkah Vier yang semakin maju membuat Vaya langsung terdesak ke dinding di sisi balkon.
Vier segera menempelkan tangan kirinya di dinding, sedangkan tangan kanannya langsung meraih dagu Vaya.
"Kau ini, sepertinya ancamanku hanya menjadi angin lalu saja bagimu. Apa aku harus menaikkan level hukuman untukmu?" tanya Vier.
Tubuh Vaya terdesak ke dinding, Vier mengimpitnya, tak memberi ruang gerak bagi Vaya.
"Vi-Vier, jangan begini," Vaya mendorong dada Vier.
"Jangan begini? Jadi maumu apa?" tanya Vier sambil menyeringai.
"Vi-Vier, jangan bercanda begini," Vaya mencoba mendorong Vier.
"Bercanda? Apa kau pikir aku suka bercanda dengan hidupku?" tanya Vier sambil menatap lekat-lekat mata Vaya.
Vier menyusuri sisi rahang Vaya dengan bibirnya.
"Vi-Vier, apa yang kau lakukan?" Vaya berusaha mendorong Vier.
Vier menahan kedua tangan Vaya di atas kepala Vaya dengan satu tangannya.
"Apa yang kulakukan adalah melakukan apa yang ingin kulakukan," jawab Vier sambil menyeringai.
"'Vi- Vier! Ini di tempat umum!" sergah Vaya.
"Apa aku perlu membeli tempat ini agar menjadi tempat pribadiku?" tanya Vier lagi.
Vier menyeringai, ia benar-benar tak tahan melihat penampilan Vaya yang benar-benar terlihat menggoda. Menggoda sisi maskulinnya untuk menjamah wanita itu.
Vier segera membenamkan bibirnya di bibir Vaya. Vier selalu tidak bisa menahan diri setiap kali berurusan dengan bibir Vaya. Meski setiap hari selalu melakukan ciuman yang penuh gairah, Vier memang merasakan bahwa Vaya masih saja menolaknya.
"Vaya," ucap Vier melepaskan ciumannya.
Ia melihat Vaya yang terengah-engah kehabisan napas.
"Vaya, bernapas yang baik dan benar!" perintah Vier sambil menciumi kembali rahang Vaya.
"Vieer," keluh Vaya.
Vier menyeringai, ia kembali mendorong tubuh Vaya, satu kakinya memaksa agar kedua kaki Vaya terbuka lebar.
Tubuh mereka benar-benar sudah begitu rapat, Vaya terperanjat merasakan benda yang mengganjal di antara pahanya.
Vier kembali menciumi rahang Vaya, menikmati setiap jengkal kulit leher Vaya yang begitu reaktif saat ia membenamkan ciuman lembut.
Vier sudah tenggelam dalam kabut gairahnya saat kembali melumaat bibir Vaya, menyelipkan kedua tangannya yang bebas untuk meremaas rambut Vaya, lalu bergerak turun ke bokong Vaya.
Vaya berusaha mendorong dada Vier. Ia sungguh tidak menikmati apa yang dilakukan Vier padanya.
"Vaya, aku benar-benar ingin bercinta denganmu sekarang di sini," bisik Vier.
"'Vier! Apa kau sudah gila?!" sergah Vaya.
Vier mengulas senyumnya.
"Sepertinya memang," sahut Vier.
Vier kembali menyesap bibir Vaya, penuh gairah yang membara sementara Vaya berusaha untuk menolak ciuman dari Vier.
"Vi-Vier, kumohon, lepaskan aku!" Vaya meloloskan bibirnya dari lumaatan bibir Vier yang memburunya.
__ADS_1
"Hmm, lepaskan? Lepaskan pakaianmu?" goda Vier sambil menciumi kembali rahang Vaya.
"Vier, tolong jangan lakukan ini," Vaya memohon.
"Jangan lakukan ini di sini?" tanya Vier menggoda Vaya.
"Jadi, kau mau di mana? Apa perlu kita ke kamar di atas dan melakukan yang kuinginkan?" goda Vier.
"Vi-Vier," Vaya berusaha mendorong saat Vier mencoba memburu bibirnya lagi.
"Vier!"
Seruan itu menggelegar, sedetik kemudian sebuah pukulan langsung mendarat di wajah Vier.
Duak.. Bruk..!
Detik berikutnya Vier jatuh terjerembab ke lantai.
"Yoran!"
Vaya berteriak lalu menghentikan Yoran yang hendak kembali memukul Vier. Wajah Yoran merah padam menahan amarahnya.
Vier bangkit terhuyung, sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Vier meludah dan menatap Yoran yang terlihat luar biasa berang.
"'Apa yang kau lakukan, Vier?!" sergah Yoran.
Kemarahan menguasai Yoran, matanya berkilat penuh kemarahan.
"Yoran, hentikan!" Vaya menahan lengan Yoran.
"Yoran! Harusnya yang bertanya adalah aku! Kenapa kau memukulku begini?!"
Emosi Vier tersulut, ia menarik kerah kemeja Yoran. Yoran balas menarik kerah kemeja Vier.
"Kenapa kau menjahili Vaya?!" tanya Yoran.
"Menjahili?" Vier terperangah.
"Yoran! Hentikan!"
Vaya berusaha melerai dua pria di hadapannya yang saat ini langsung menjadi tontonan orang-orang yang melihat mereka.
Emosi Vier tersulut, ia berusaha mencengkeram kerah jas yang dikenakan Yoran.
"Pak Vier!"
Mike yang baru saja datang langsung meringkus Vier dari belakang.
"Pak Vier, tolong tenang," bisik Mike.
"Tapi, Mike!" sergah Ver.
Yoran berusaha meredam emosinya.
"Vaya, ayo kita pergi," ajak Yoran.
"Yo-Yoran!" sergah Vaya.
Yoran segera mengajak Vaya pergi meninggalkan balkon, menggandeng tangan Vaya, menerobos puluhan mata yang melihat mereka.
Vier benar-benar syok melihat apa yang terjadi di hadapannya. Vaya pergi meninggalkannya bersama Yoran.
Apa-apaan ini?!
__ADS_1
...*****...