
"Vier!"
Setengah berlari Vaya menghampiri Vier yang tengah berbaring di tempat tidur ruang VIP di salah satu rumah sakit swasta.
"Vaya," Vier terperangah melihat kedatangan Vaya.
Vaya jadi tahu bahwa Vier berada di ruangan itu lantaran melihat ketatnya penjagaan yang dilakukan oleh dua orang pria berbaju hitam di depan pintu.
"Kenapa kau kemari? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pulang dan berkumpul bersama keluargamu?" tanya Vier.
"Ibuku yang menyuruhku untuk kemari," jawab Vaya.
"Oh, jadi kau datang kemari hanya karena disuruh ibumu," sahut Vier dengan nada menyindir.
Yah, padahal Vier berharap bahwa Vaya datang atas keinginannya sendiri. Rupanya tidak sesuai ekspektasi Vier. Kecewa sih, tapi melihat Vaya datang seperti ini cukup membuat Vier merasa senang.
Vaya menatap Vier yang mulai mengatur posisi bantalnya. Bersandar agar mendapatkan posisi yang nyaman, meski tempat tidur di rumah sakit jelas tidak senyaman tempat tidur di rumahnya.
"Vier, apa kau baik-baik saja?" tanya Vaya.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Vier.
Vaya mengamati wajah Vier yang nampak lebam dengan sudut bibir terluka.
"Ya, kau sampai menginap di rumah sakit seperti ini, berarti kau kenapa-kenapa," sahut Vaya.
Vier mengunci tatapan mata Vaya yang menunjukkan kecemasan.
"Bagaimana kondisi Mike?" tanya Vaya.
"Mike masih menjalani beberapa pemeriksaan," jawab Vier.
"Apa kau sudah melakukan pemeriksaan?" tanya Vaya.
"Hmm, ya, sudah," jawab Vier.
"Bagaimana hasilnya? Apa kau ada gegar otak? Patah tulang?" tanya Vaya.
Vier menatap skeptis ke arah Vaya.
"Vaya, apa kau sedang menyumpahiku?" Vier balik bertanya.
"Tidak, Vier! Tidak! Aku hanya bertanya," sahut Vaya cepat-cepat.
"Vaya, apa kau sudah makan malam?" tanya Vier.
"Vier, aku bahkan sama sekali tidak merasa lapar, rasanya aku benar-benar kehilangan selera makan! Melihat perkelahian yang begitu brutal! Rasanya aku benar-benar tidak bisa melupakan semua itu dengan cepat!"
Tubuh Vaya kembali gemetaran, Vaya bahkan merasa lututnya lemas.
Vier mengulas senyum, sambil mengutak-atik gawai cerdasnya untuk memesan makanan.
...*****...
Tak perlu menunggu lama untuk mendatangkan makanan cepat saji karena lokasinya masih berada di gedung yang sama. Restoran ayam goreng yang beroperasi selama dua puluh empat jam di rumah sakit ini berada di lantai dasar.
Vaya terperangah melihat banyaknya ayam goreng yang diantar oleh pegawai restoran. Ayam goreng dalam sepuluh ember besar itu memiliki aroma yang menggugah selera.
"Sudah semua ya, Pak," kata salah satu pegawai yang mengantar ayam goreng.
"Terima kasih," kata Vier.
"Vier? Kau serius mau makan sepuluh ember ayam goreng?" tanya Vaya.
"Ada apa, Vaya? Tidak masalah kan?"
Vier menyeringai melihat ekspresi Vaya yang luar biasa terkejut.
"Tapi Vier, kau kan tidak makan makanan cepat saji. Apalagi ayam yang digoreng dengan banyak tepung dan minyak seperti ini," kata Vaya.
"Vaya, apa kau sungguh ingin aku menyuruhmu memasak di sini?" tanya Vier sambil mengambil sepotong ayam goreng bagian paha bawah.
Vier menyeringai melihat ekspresi Vaya yang berubah kecut.
__ADS_1
"Makanlah, aku tidak bisa menghabiskan semua ayam goreng ini sendiri," kata Vier.
"Kalau tidak bisa menghabiskan semuanya sendiri, kenapa pesannya banyak sekali? Sungguh mubazir!" tukas Vaya.
"Vaya, kau jangan lupa ya, makanmu kan banyak sekali! Bahkan lebih banyak dariku! Haha!" tawa Vier mengejek Vaya.
"Vaya, lekas dimakan! Apa kau ingin aku yang menyuapimu?"
Vaya mencebik, lalu mulai mengambil potongan ayam goreng dan memakannya.
Vier menatap Vaya yang nampak melamun di depan ayam gorengnya.
"Apa yang kau pikirkan, Vaya?" tanya Vier. "Apa kau mau menambah porsi lagi?"
Vaya terenyak, matanya langsung menatap Vier yang balik menatapnya skeptis.
"Tidak, Vier, aku jadi teringat sesuatu saat makan ayam sebanyak ini," jawab Vaya.
"Teringat sesuatu? Tentang apa?" tanya Vier.
"Aku jadi teringat, kau pernah menraktir ayam goreng ini untuk teman-teman sekelas ketika kau berulang tahun yang ke-16," jawab Vaya.
Vier mengerutkan alisnya.
"Benarkah?"
Vaya mengangguk.
"Dan, apa kau tau, rasanya ayam goreng ini merupakan makanan termewah untuk anak sekolah di zaman itu, haha," Vaya tertawa mengingat kenangan itu.
"Dan bagiku, itulah pertama kalinya aku makan ayam goreng ternama di dunia. Aku tidak memakannya di sekolah dan membawanya pulang ke rumah agar bisa dimakan bersama adik-adikku," lanjut Vaya.
"Apa? Pertama kali kau memakannya? Kok bisa?" tanya Vier keheranan.
"Vier, harga satu paket ayam goreng ini dulu mahal sekali. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi di bawah garis kesejahteraan seperti keluargaku bisa untuk makan selama satu minggu," jawab Vaya.
"Oh begitu," Vier mengulas senyumnya sambil mengangguk-angguk.
"Jadi sekarang bagaimana perasaanmu setelah bisa makan ayam goreng mewah sebanyak ini?" tanya Vier.
"Kenyang, hehe," Vaya terkekeh.
"Haha," Vier tertawa mendengar jawaban Vaya.
"Vaya, apa kau tahu, jangankan ayam goreng ini, aku bahkan bisa membeli saham restoran ini sekaligus beberapa cabangnya kalau kau mau!" kata Vier dengan penuh kebanggaan.
"Haha," Vaya hanya bisa tertawa.
...*****...
Selesai makan, Vier menuju ke kamar mandi untuk sekadar menggosok giginya. Sedangkan Vaya membereskan dan merapikan meja dari sisa camilan malam mereka.
Vier keluar dari kamar mandi, lalu segera berbaring di tempat tidur. Ia menatap ruangan yang sudah dirapikan oleh Vaya.
"Vier, aku benar-benar minta maaf," kata Vaya. "Maaf karena aku, kau jadi terluka seperti ini," lanjut Vaya.
Vaya menautkan semua jarinya, menatap Vier dengan ragu-ragu. Vier mengambil tangan Vaya dan menuntun Vaya untuk duduk di tepi tempat tidurnya.
"Vaya, kenapa kau harus minta maaf?" tanya Vier
"Menurutku, justru akulah yang harusnya meminta maaf padamu dan keluargamu, khususnya Aria. Gara-gara masalah pekerjaan yang timbul, kalian yang harus menanggungnya," kata Vier.
"Aku harusnya memerhatikan keselamatan keluargamu juga, Vaya," kata Vier.
Vaya menatap sorot mata Vier yang saat ini meredup, penuh penyesalan.
"Yah, aku cukup sadar bahwa posisi dan pekerjaanku ini memang memiliki resiko yang tinggi, jumlah orang-orang yang tidak menyukai kesuksesanku jelas lebih banyak daripada yang menyukaiku," lanjut Vier.
Vier menatap Vaya lekat-lekat.
"Kau bahkan tidak menyukaiku kan?" kata Vier.
Deg..
__ADS_1
Vaya merasa jantungnya mulai bergemuruh.
"Vi-Vier, apa maksudmu?" kata Vaya.
"Vaya, apa kau pikir aku tidak merasakan rasa tidak sukamu padaku?" tanya Vier.
Lagi-lagi Vier mengunci tatapan Vaya yang membuat Vaya jadi tidak bisa memalingkan pandangannya.
"Kau bahkan mengatakan bahwa kau membenciku," kata Vier lagi.
"A-anu Vier," Vaya tergagap.
"Anu apa?" tanya Vier.
"A-aku, bukannya tidak menyukaimu, aku juga bukannya membencimu, tapi aku...," kata Vaya masih tergagap.
"Kau bukannya tidak menyukaiku, dan kau juga bukannya membenciku, jadi sebenarnya apa maksudmu, Vaya?" tanya Vier.
Vaya terkesiap mendengar pertanyaan Vier, rasanya Vaya jadi tidak bisa berkata apa-apa. Ia seakan tersedot ke dalam mata hitam Vier yang dalam.
"Vaya, aku bahkan tahu bahwa kau tidak suka saat aku menciummu."
Vier mengambil tangan Vaya dan mengecup satu per satu jari Vaya.
"Vi-Vier," kata Vaya.
"Vaya, apa menurutmu ciumanku seburuk itu sampai kau tidak suka saat aku menciummu?" tanya Vier.
"Vi-Vier, sungguh bukan seperti itu, aku," ucapan Vaya terhenti.
"Kau hanya terpaksa menciumku, kau hanya terpaksa menerima ciumanku karena kau tidak mau mendapat hukuman dariku, begitu kan?" desak Vier.
"Vi-Vier, sungguh, aku hanya merasa tidak nyaman dan takut padamu," jawab Vaya.
Vier terdiam dan menatap Vaya.
"Kau tidak nyaman dan takut padaku?" tanya Vier.
Vaya cepat-cepat mengatupkan bibirnya.
"Vaya, apa yang membuatmu tidak nyaman dan takut padaku?" tanya Vier.
"Ya, aku merasa tidak nyaman, karena aku merasa apa yang kulakukan menurutmu selalu salah, dan aku takut padamu, karena aku takut kau akan marah, dan ya, aku takut...," jawab Vaya.
Vier memicingkan matanya.
"Hmm, begitukah?" tanya Vier.
Vaya mengangguk cepat, menatap Vier yang lagi-lagi membuatnya takut.
"Aku marah padamu, karena kau terus menentang dan menantangku."
Vier merengkuh dagu Vaya, Vaya langsung memalingkan wajahnya.
Vier menghela napas berat.
"Kenapa kau harus takut padaku, Vaya? Aku bahkan tidak merasa takut saat harus menghadapi para preman yang akan membunuhku," sahut Vier.
Vaya tertegun menatap Vier.
"Aku bahkan siap memberikan nyawaku untuk melindungimu. Tapi kau bahkan menolak saat aku menciummu."
"Vi-Vier, bukan begitu," kata Vaya.
"Kalau bukan begitu, lalu apa?" tanya Vier.
Vaya menatap ekspresi Vier yang mengeras, sorot matanya penuh dengan rasa kecewa, kesal, dan kemarahan.
Vier mengambil bibir Vaya, membenamkan bibirnya ke bibir Vaya.
...*****...
Budayakan mendukung karya ini sampai selesai ya, pembaca tersayang sejagad NT/ MT.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya.