
"Vier!"
Seruan Bu Cintami sama sekali tak menghentikan kepergian Vier saat mengejar Vaya.
Bu Cintami menghela napas super berat sambil mengerling ke arah Selena yang nampak terpaku.
Selena benar-benar menegang karena Vier lebih memilih mengejar wanita itu.
"Mike, lekas bawa Vier kembali kemari," perintah Bu Cintami.
Mike hanya mengangguk sebagai tanda setuju dan bergegas pergi meninggalkan Bu Cintami dan Selena.
"Do not worry, Selena, Vier will be back soon. Tenang saja, Selena, Vier akan segera kembali," kata Bu Cintami menenangkan Selena.
"Mrs Cintami, does Vier love her? Apa Vier mencintai wanita itu?" tanya Selena.
"No, he does not," jawab Bu Cintami dengan cepat.
Bu Cintami menatap lurus ke arah Selena yang terlihat gundah. Selena menekan-nekan buku-buku jarinya dengan gusar.
"Selena, the woman who loved by Vier is you. Wanita yang dicintai oleh Vier adalah kau. Sebelum bersamamu, Vier tidak pernah memperkenalkan kekasihnya padaku. Vier hanya memperkenalkan wanita yang akan diajaknya untuk berhubungan secara serius," Bu Cintami menjelaskan.
"Hanya kaulah wanita pertama yang dibawa Vier dan diperkenalkan oleh Vier. Itu karena ia benar-benar sangat serius terhadap hubungannya denganmu, Selena," lanjut Bu Cintami.
"I am sure. Aku yakin. Wanita itu menjebak Vier agar Vier menikahinya setelah mengacaukan rencana pernikahanmu dengan Vier."
"How dare she is! Beraninya dia," geram Selena.
"Aku sangat yakin, Selena. Terlebih wanita yang menjadi istri Vier, sudah mengenal Vier sejak Vier masih begitu muda. She is so obssesed with Vier. Dia sangat terobsesi pada Vier," tutur Bu Cintami.
"How pitty Vier is. Kasihan sekali Vier," lirih Selena.
"Seandainya saja aku tidak membatalkan pernikahanku dengan Vier, saat ini kami pasti sudah hidup berbahagia," ujar Selena.
"Aku sungguh menyesal telah melakukan itu Mrs. Cintami. I should fix it as soon as possible. Aku harus memperbaiki semua itu sesegera mungkin."
"Aku tidak ingin Vier terlalu lama bersama wanita itu."
"Ya, kau benar, Selena. Vier hanya sedang terjebak dan kita harus melepaskannya dari jebakan itu."
...*****...
"Vier! Ah... tidak!"
Vaya berusaha meronta dalam kuncian tubuh Vier. Bibir Vier saat ini menyusuri garis rahangnya, meninggalkan kecupan-kecupan lembut dan basah di lehernya.
Vaya memejamkan mata, ia benar-benar berusaha untuk tidak terlena saat Vier memberinya sentuhan-sentuhan yang membuatnya terbuai.
Vier menahan kedua kaki Vaya dengan pahanya, menyusupkan tangannya ke dalam isi rok span yang dikenakan Vaya. Mencari titik erotis yang pada akhirnya membuat Vaya tak bisa berkutik.
"Vaya, jangan pernah berpikir untuk pergi dariku," bisik Vier di telinga Vaya.
Lidah Vier menyusup dan menjilati telinga Vaya. Desahaan demi desaahan tak kuasa untuk ditahan oleh Vaya.
Vier membuka ikat pinggang yang melingkari pinggangnya lalu menurunkan ritsleting celananya untuk membebaskan juniornya yang menegang setiap kali bersentuhan dengan Vaya.
Jemarinya yang basah dan licin ditariknya dari milik Vaya yang sudah siap untuk disinggahi. Sarang hangat yang siap untuk dinikmati.
"Aah... Vier! Tolong jangan lakukan!" Vaya memohon.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan apa yang kau inginkan, Vaya," geram Vier.
"Aah!"
Vaya tersentak dan merasakan Vier memasuki inti dirinya dalam sekali sentak. Tubuhnya yang mulai terguncang membuat Vaya berpegangan erat pada bahu Vier.
"Aah! Vier!"
"Vaya," Vier mengeraang.
Bibir mereka kembali saling bertaut, meski Vaya berusaha untuk menolaknya namun Vier terus menuntun dan menuntutnya.
Vaya merasakan tubuhnya menegang, sebelum terhempas gelombang kenikmatan yang membuatnya lunglai dalam pelukan Vier.
Vier segera membawa Vaya ke atas tempat tidur. Saling mencumbu dengan gairah dan hasrat yang membakar.
Satu per satu pakaian yang menempel di tubuh mereka terlepas. Dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh, erangaan dan desahaan yang saling bersahutan memenuhi kamar itu.
"Vaya," Vier menatap mata Vaya dengan intens. Seintens gerakan Vier yang membuat Vaya benar-benar tak kuasa untuk menolak semua yang dilakukan pria itu atas tubuhnya.
Vier memeluk erat tubuh Vaya, yang seakan menariknya lebih erat saat memuntahkan lahar panas dari aktivitas erupsi erotis yang tak mampu ditahannya lagi.
Vaya memejamkan matanya, menerima kecupan lembut di keningnya.
"Vaya," Vier mengusap lembut kening Vaya.
Vaya terdiam, lagi-lagi, ia merasa bersalah karena terjerumus dalam kenikmatan yang diberikan Vier.
"Vier, bagaimana kau bisa begitu tega? Ya, kau benar-benar sangat tega, Vier," lirih Vaya.
Vier memandangi wajah Vaya yang berbaring di sampingnya, jemarinya menyeka air mata Vaya yang berlinangan.
"Aku tahu, aku sadar aku salah karena sudah merusak rencana pernikahanmu. Tapi, ya, lantas jangan menjadikanku sebagai boneka pemuas birahimu!"
Vier masih mengusap lembut wajah Vaya, dalam pandangannya yang mengabur, Vaya merasakan kehangatan dari tatapan lembut Vier.
"Kau memang bukan boneka pemuasku, Vaya," ucap Vier enteng.
"Bukan boneka pemuas? Lantas yang kau lakukan terhadapku ini apa?" tanya Vaya.
"Kau bahkan sampai memberiku alat kontrasepsi tanpa sepengetahuanku! Jelas sekali kan, kau hanya ingin bersenang-senang dengan tubuhku tanpa resiko!" cecar Vaya.
Vier masih memainkan anak rambut yang berada di sekitar telinga Vaya.
"Vieer!" Vaya menepis tangan Vier.
"Kau bisa menggunakan pengaman untukmu sendiri! Kenapa kau justru menumbalkanku?! Kau benar-benar egois, Vier!" rutuk Vaya.
"Ck, Vaya," Vier berdecak kesal.
"Vaya, aku bukannya memberimu alat kontrasepsi tanpa sepengetahuanmu! Aku hanya ingin semua yang ada pada dirimu tidaklah luput dari pengawasanku!"
"Aku sungguh tidak berkenan jika nantinya kau justru melakukan hal-hal yang berbahaya tanpa sepengetahuanku! Bagaimana jika nantinya kau hamil lalu kau nekat menggugurkan janinmu tanpa sepengetahuanku?" Vier balik bertanya.
"Bukankah itu jauh lebih egois?" tanya Vier.
Vier kembali mengusap lembut pipi Vaya.
"Kalau kau hamil dan menerima kehamilanmu, aku tidak mungkin tidak bertanggung jawab, Vaya," Vier mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Aku dididik untuk selalu bertanggung jawab atas segala perbuatan yang kulakukan. Oleh karena itu aku sangat berhati-hati dalam bertindak."
"Saat mendengar bualanmu yang mengaku bahwa kau hamil anakku, tentu saja aku tidak percaya. Aku bukan pria yang bisa secara asal-asalan meniduri wanita."
Vier mengusap bibir Vaya dengan ibu jarinya.
"Seperti halnya kau yang tidak semudah itu untuk tidur dengan pria lain kan?" tanya Vier.
"Vier, apa kau sungguh tidak pernah percaya padaku? Apa aku sungguh harus memberimu bukti dulu agar kau percaya padaku?" Vaya balas bertanya.
"Ya, karena kau sungguh wanita penuh kebohongan," sahut Vier enteng.
Vaya mendelik gusar.
"Kau bilang aku pembohong, sedangkan kau sendiri playboy yang tidak bisa dipercaya!" balas Vaya.
"Haha!" Vier tertawa sambil membawa Vaya kembali ke dalam pelukannya.
"Vier, berhenti memperlakukanku seperti ini! Berhenti membuatku terbawa perasaan dan akhirnya membuatku jadi sangat menginginkanmu!" Vaya mendorong tubuh Vier.
Vier mempererat pelukannya, membiarkan Vaya berada di atas tubuhnya.
"Vaya, bukankah aku memang pria yang sangat mudah untuk diinginkan oleh wanita lain?"
Vier menatap ke dalam mata Vaya.
"Vaya, jangan pergi dariku, jangan pernah berpikir untuk pergi dariku," ucap Vier.
"Vier, kau dan Selena sudah kembali bersama, untuk apa aku harus berada di antara kalian? Apa jangan-jangan kau punya fantasi untuk melakukan thresome?"
"Vaya oh Vaya!" Vier mencubit gemas hidung Vaya.
"Aduh, Vier, sakit!" keluh Vaya.
"Vaya, aku dan Selena tidak kembali bersama," sahut Vier.
Vaya menatap ke arah Vier.
"Tapi kalian bahkan datang bersama!" cibir Vaya.
"Kami hanya bertemu di lift," sahut Vier.
Vaya memicingkan matanya, pertanda ia tidak percaya ucapan Vier.
"Apa kau pikir aku akan percaya?" Vaya melemparkan pertanyaan bernada skeptis.
Vier masih memandangi wajah Vaya sambil memainkan ujung rambut Vaya.
"Vaya, apa kau tahu? Aku selalu meyakini bahwa sebuah pernikahan adalah hal yang sangat sakral. Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Hanya mautlah yang dapat memisahkan. Itulah yang selama ini kuyakini," ucap Vier.
"Kau adalah istriku dan menjadi satu-satunya wanita yang kumiliki," lanjut Vier sambil membawa Vaya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku sudah menuduhmu, Vaya, maafkan aku. Tak seharusnya aku menuduhmu seperti itu."
Vaya merasa pandangannya mengabur, air matanya kembali mengalir.
Rasa marah dan kecewanya seketika terhempas oleh rasa cintanya pada Vier.
...*****...
__ADS_1