Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
022 - Belitan Tali


__ADS_3

Semuanya benar-benar sangat gelap. Terlalu gelap, membuat Vaya putus asa. Vaya hanya bisa mengandalkan nalurinya saja. Yang pasti saat ini kancing kemejanya mulai terlepas semua.


"Vier! Apa yang kau lakukan?!" sergah Vaya menahan tangan Vier yang dirasanya mulai membuka kemejanya.


"Bukankah sudah kukatakan bahwa kau harus menuruti keinginanku?" tanya Vier.


"Ya, tapi kenapa harus begini?!" Vaya balik bertanya.


"Ya, karena aku memang maunya seperti ini," sahut Vier.


Ada seringaian yang terdengar jelas dari suaranya.


Vaya terdiam, tubuhnya mulai kembali bergetar. Entah apa yang saat ini dilakukan oleh Vier.


"Jangan bergerak sedikit pun, atau kau benar-benar menyesal, haha," Vier tertawa lagi.


Vaya hanya bisa terdiam, saat ini rasa takut kembali menyergapnya. Tubuhnya mulai gemetaran ketika merasakan jemari Vier membelai tubuhnya. Tangan pria itu bergerak, mulai dari lehernya, mengalungkan sesuatu. Vaya bisa mencium aroma napas pria itu.


Oh tidak! Apa yang dilakukan oleh orang gila ini?! Batin Vaya menjerit.


"Angkat kedua tanganmu ke atas!"


Vier memerintah sambil menuntun tangan Vaya. Vaya merasa tangannya terangkat ke udara, lalu seutas tali terasa membelit dadanya. Tangan pria itu bergerak seakan menggerayangi dadanya.


"Vi-Vier!" sergah Vaya.


"Tangan tetap di atas!"


Vaya merasakan kembali tangan pria itu turun ke perutnya.


Sret..


Terdengar seutas tali yang membelenggu perutnya.


Oh Tuhan! Apa yang sedang dilakukan oleh pria ini? Oh Tuhan! Apa aku benar-benar akan dinodainya?


Oh tidak! Apa yang harus kulakukan? Apa kutendang saja dia?


Vaya menimbang-nimbang, namun jika ia melakukan kekerasan kepada Vier, pria itu benar-benar akan memenjarakannya.


Apa sebaiknya aku turuti saja apa maunya?


Batin Vaya bergelut lagi.


Vaya kembali terkesiap saat pria itu menarik turun ritsleting rok span yang ia kenakan.


"Vi-Vier!"


Vaya terperanjat. Rok yang ia kenakan meluncur turun.


"Vier!" seru Vaya tercekat.


"Ck! Apa kau benar-benar mau kuikat?!"


Hardikan Vier membuat Vaya kembali terdiam.

__ADS_1


Ugh! Vaya merasa ingin menangis.


Ia benar-benar merasa hina karena Vier melecehkannya seperti ini. Ia bisa merasakan kembali tali yang membelit bokongnya, tangan pria itu bahkan meraba-raba bokongnya.


Vaya kembali merasakan tangan Vier yang terus turun memegangi pahanya, merasakan kembali belitan tali yang membuatnya menahan napas.


Beberapa saat kemudian, Vaya tidak lagi merasakan adanya tali yang membelit tubuhnya.


"Ayo jalan!"


Nada bicara Vier memerintah.


"Jalan ke mana?!" gerutu Vaya.


"Ck...!"


Vier berdecak kesal, ia mengambil tangan Vaya dan menuntunnya.


Vaya merasakan tangan Vier yang menggandeng lengannya, sekujur tubuhnya merinding ketika kakinya menginjak lantai yang dingin.


Terdengar bunyi gemericik air yang menghujani lantai.


"Kyaa!"


Vaya menjerit saat tubuhnya terguyur air dengan suhu yang begitu panas.


"Panas!" teriak Vaya seketika membuka ikatan dasi yang menutup matanya.


"Oh, sorry, airnya terlalu panas ya?" tanya Vier sambil memutar kran shower dengan cepat.


"Haha, aku tidak sengaja!" Vier tertawa.


Tidak sengaja apanya? Kau bahkan tertawa seperti tidak merasa bersalah sama sekali! Geram Vaya.


"Vaya! Kenapa kau membuka matamu? Siapa yang menyuruhmu untuk membuka mata?" tanya Vier.


Darah Vaya menggelegak dalam setiap pembuluh darahnya. Perasaannya campur aduk, antara malu karena hanya mengenakan pakaian dalam, dan marah karena Vier menyiramnya dengan air bersuhu panas.


"Lekas mandi!" Perintah Vier sambil melemparkan gagang shower ke arah Vaya.


Vier segera pergi meninggalkan Vaya yang hanya bisa menelan kemarahannya.


Pria itu benar-benar bersikap semena-mena padanya.


"Hiks...," Vaya mulai menangis.


Rasa kesal yang harus ditelannya hanya bisa membuatnya menangis.


...*****...


Vaya sudah selesai mandi, mengambil salah satu handuk yang tersedia pada rak penyimpanan dalam kamar mandi itu.


Vaya mengamati kulit punggungnya yang terasa perih akibat siraman air panas. Untunglah ia memiliki kulit yang gelap, jika saja kulitnya cerah, punggungnya pasti sudah berwarna merah.


"Ugh! Dasar Vier gila!" sungut Vaya.

__ADS_1


Vaya mengambil selembar handuk kimono berwarna putih lalu memakainya untuk keluar dari kamar. Ia juga memungut kemeja dan roknya yang tergeletak di lantai. Lagi-lagi rasa malu dan kesal menyergapnya. Biang keroknya jelas adalah Vier.


Apa Vier benar-benar sungguh ingin balas dendam padaku dengan menyiksaku seperti ini?


Tok.. Tok..


Ketukan pintu membuat Vaya bergegas membukanya.


"Selamat malam, Bu, saya datang mengantarkan Anda pakaian ganti."


Tasya, pelayan muda itu mengantarkan sebuah kantung kertas untuk Vaya.


"Terima kasih," Vaya menerima kantung kertas itu.


Vaya menutup pintu kamar sambil membuka isi kantung tersebut. Ada pakaian dalam bersih, sebuah gaun berwarna hijau zamrud, dan sebuah kantung kertas berisi salep untuk luka bakar.


Vaya meletakkan kantung kertas itu di atas tempat tidur. Ia melipat kemeja dan roknya, juga pakaian dalamnya yang basah.


Ia cukup mengenakan handuk kimono, dan handuk yang membungkus kepalanya untuk keluar dari kamar itu.


"Bu Vaya, Anda mau ke mana?" tanya Tasya yang berjaga di depan kamar.


"Saya mau kembali ke kamar saya," jawab Vaya singkat.


"Tapi, Bu, Pak Vier mengatakan Anda tidak boleh ke mana-mana, saya diberi tugas untuk melayani kebutuhan Anda," cegah Tasya.


"Terima kasih, saya hanya membutuhkan kamar saya sendiri," sahut Vaya.


Ya, biar saja kamar itu jauh dan terasing, tak akan ada orang yang mengganggu ketenangannya.


...*****...


Langit malam nampak muram tanpa ada pendar bintang yang menghiasi angkasa. Angin dingin yang berembus kencang sama sekali tidak mampu menerbangkan kerisauan hati Vaya.


Vaya melangkah gontai menyusuri jalan setapak menuju ke kamarnya yang berada di paviliun barat.


Lagi-lagi ia merasa bahwa sudah mengambil keputusan yang salah. Entah mengapa ia merasa menyesal sudah menandatangani kontrak perbudakan yang dilakukan oleh Vier.


Ugh, kenapa aku bodoh sekali?! Kenapa aku harus membuat kebohongan itu?! Batinnya gusar.


Awalnya Vaya pikir dengan membuat kebohongan itu, Vier akan bertengkar dengan tunangannya. Vaya bahkan bisa membayangkan bagaimana tunangan Vier menampar Vier dengan keras. Mereka bertengkar, kalau perlu saling mencakar, kemudian viral di sosial media.


Vaya jelas akan menjadi orang pertama yang memencet tombol jempol pada akun Lambe gosip yang memviralkan pertengkaran Vier dan tunangannya. Selanjutnya mereka berdua akan diundang ke stasiun televisi untuk memberi klarifikasi dan menyatakan bahwa semua itu hanya settingan.


Begitulah skenario yang ada dalam imajinasi Vaya. Skenario yang hanya dengan membayangkannya saja sudah sangat membuat Vaya terhibur.


Namun siapa yang menduga bahwa kebohongan tersebut justru membuahkan petaka bagi Vaya?


Nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur. Yang bisa dilakukan Vaya saat ini adalah bertahan hingga akhirnya tersisih dengan sendirinya.


Mungkin saat ini Vier memang sedang melakukan upaya balas dendam terhadapnya. 


Balas dendam hingga pria itu bosan dengan sendirinya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2