
Vier mengetuk-ngetuk jarinya di depan dinding kaca, menunggu dengan sabar nada sambung untuk menghubungi Vaya.
"Ck, kenapa tidak dijawab? Apa dia masih marah?" Vier bertanya-tanya sendiri.
Tadi pagi, Vaya marah pada Vier karena Vier yang membuang ponsel Vaya sebelum mereka tidur. Alasan Vier membuang ponsel Vaya ke lantai tak lain karena ia merasa terganggu dengan getaran dari ponsel tersebut. Vier membutuhkan ketenangan agar bisa mendapatkan tidur yang berkualitas.
Namun rupanya ponsel Vaya yang dilempar Vier sembarangan itu, menghantam tembok. Layar ponsel itu langsung retak tak karuan.
"Vier! Apa yang sudah kau lakukan pada ponselku?! Layarnya jadi hancur begini!" keluh Vaya ketika menemukan ponselnya yang teronggok di lantai.
Vier masih bermalas-malasan di tempat tidur pun menyahut.
"Ya sudah, ganti saja yang baru, aku akan meminta Mike untuk memberimu ponsel baru. Lagipula ponselmu kata Mike sudah renta, kerap kali kehabisan daya, sehingga kata Mike sulit untuk menghubungimu."
"Vier, ini bukan masalah ponselku yang sudah renta! Tapi banyak data penting yang tidak boleh sampai hilang! Belum lagi, apa kau tahu, ponsel ini kubeli dengan susah payah! Dulu aku membelinya secara kredit dengan bunga sebesar tiga setengah persen per bulan selama dua belas kali!" cecar Vaya.
"Aku bahkan harus puasa senin kamis demi berhemat! Tapi lihat! Kau dengan mudahnya merusak ponselku! Itu sama saja kau merusak semua usahaku, Vier!"
"Vaya, kenapa kau jadi menyalahkanku?! Yang salah itu kan kau! Kenapa juga kau meletakkan ponselmu di bawah bantalmu?! Getarannya sungguh mengganggu! Memangnya siapa sih yang masih menghubungimu malam-malam begitu?" sergah Vier.
"Vier! Kenapa kau malah berbalik menyalahkan ponselku?! Kau yang membuat ponselku jadi rusak begini, tapi kau malah balik menyalahkanku?!"
"Vaya, sudahlah, sebentar Mike akan datang dan memberimu ponsel baru! Tidak usah banyak drama!" tandas Vier.
Vier bisa melihat ekspresi masam Vaya. Wanita itu benar-benar luar biasa kesal.
"Vaya, mana ciuman selamat pagi untukku?" todong Vier.
"'Cium saja tembok!" sahut Vaya dengan begitu ketus.
"A-apa? Vaya! Apa kau mau kuhukum karena membantah perintahku?!" sergah Vier.
"Terserah!" sahut Vaya.
Brak...!
Vier terkesiap melihat Vaya membanting pintu kamar mandi.
"Cih! Berani-beraninya kau marah padaku!" Vier berdecih.
Seharian ini Vier begitu sibuk, terlebih saat ini ia sedang berada di luar kota bersama Mike untuk mengurus pekerjaannya. Perilisan produk terbaru dari OMG jelas menyita seluruh konsentrasinya.
Namun begitu ada waktu luang, seperti saat ini misalnya, Vier menyempatkan diri untuk menghubungi Vaya.
"Kenapa dia masih marah? Bukankah aku bahkan sudah mengganti ponselnya dengan yang lebih baik lagi? Aku bahkan memberinya nomor teleponku juga," Vier bertanya-tanya.
"Pak Vier," Mike menghampiri Vier. "Meeting dengan tim quality control sudah hampir dimulai."
"'Sebentar, Mike," kata Vier.
__ADS_1
Vier masih menempelkan gawai cerdasnya di telinga kiri. Ia masih menunggu Vaya menjawab teleponnya.
"Huh! Dasar wanita ini! Dia ke mana sih? Apa dia benar-benar sangat marah padaku? Beraninya dia marah padaku!"
Vier murka, namun menyimpan rasa gelisah.
"Pak Vier, saya akan mencoba menghubungi Bu Vaya, bersiaplah untuk meeting," kata Mike.
"Huh! Mike, teleponku saja tidak dijawabnya, apalagi kau!"
Vier menyodorkan gawai cerdasnya ke Mike. Ia benar-benar gelisah, namun saat ini sebisa mungkin ia harus tetap fokus pada pekerjaannya.
Mike menghela napas.
"Pak Vier kenapa Anda harus repot-repot menelepon Bu Vaya? Kenapa tidak langsung kirim pesan mengancam saja seperti yang biasa Anda lakukan?" tanya Mike.
"Mike! Aku hanya ingin dia mendengar dengan telinganya sendiri! Bukan hanya sekadar membaca dengan matanya!" sahut Vier.
"Jadi, maksud Anda, Anda ingin mendengar suara Bu Vaya?" tanya Mike.
Vier terkesiap mendengar pertanyaan Mike.
"Tidak, Mike. Aku hanya ingin menyampaikan hukumanku padanya secara langsung," sahut Vier.
Vier merengut melihat Mike yang nampak mengulum senyumnya.
"Mike, aku tidak ingin mendengar suara Vaya. Aku hanya harus menyampaikan. Menyampaikan!" Vier menekankan pada Mike.
...*****...
Vaya menimbang-nimbang, apakah ia harus menjawab telepon dari Vier?
Vaya mendengus kesal melihat layar ponselnya yang retak parah. Beruntung Vaya masih bisa menggunakan ponselnya untuk sekadar menjawab panggilan telepon yang masuk.
Meski Vier sudah memberikannya sebuah gawai cerdas baru, tetap saja rasanya Vaya enggan untuk menerimanya.
"Ada apa, Vaya? Kenapa kau tidak menjawab teleponmu?" tanya Yoran.
"Bukan telepon penting," sahut Vaya.
"Oh begitu," sahut Yoran.
Vaya menengok ke arah jam.
"Yoran, aku rasa aku harus pamit," kata Vaya.
Yoran menatap Vaya, ada rasa enggan untuk membiarkan Vaya pergi.
"Ada apa, Yoran?" tanya Vaya.
__ADS_1
"Entah mengapa saat ini aku merasa ingin bersama lebih lama denganmu, Vaya," jawab Yoran.
Vaya tertegun mendengar ucapan Yoran.
"Rasanya, malam ini aku tidak ingin melaluinya sendiri," lanjut Yoran.
Yoran melihat Vaya yang nampak berpikir keras.
"Tapi, jika kau memang merasa keberatan, tidak apa-apa, aku akan mengantarmu pulang."
Vaya masih berpikir keras lantaran, apakah tidak apa-apa ia tidak pulang malam ini?
Harusnya tidak apa-apa sih, toh Vier saat ini sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.
"Yoran, apa sungguh tidak apa-apa aku lebih lama di sini?" tanya Vaya.
"Vaya, aku sungguh tidak ingin sendirian malam ini," jawab Yoran.
...*****...
Vaya, jika kau marah padaku, aku benar-benar akan lebih marah padamu!!!
Vier mengetik dengan cepat, namun ia memutuskan untuk menghapusnya lagi.
Vier melirik jam tangannya, sudah jam sepuluh malam. Harusnya Vaya sudah tidur seperti yang biasa mereka lakukan.
Vaya, apa kau masih marah padaku? Aku minta maaf.
Vier mengetik kembali, namun lagi-lagi menghapusnya dengan cepat.
"Mike, apa Vaya benar-benar marah padaku, sampai dia tidak mau menjawab teleponku?" Vier bertanya pada Mike.
"Pak Vier, memangnya kenapa Bu Vaya sampai marah?" tanya Mike.
"Mike, aku pun juga merasa dia harusnya tidak perlu semarah itu karena aku merusak ponselnya, toh aku sudah mengganti ponsel rentanya dengan ponsel yang baru. Kenapa dia makin menyebalkan begini sih?!" keluh Vier.
"Pak Vier, apa Anda sudah meminta maaf secara layak pada Bu Vaya?" tanya Mike.
"Apa? Meminta maaf secara layak?" alis tebal Vier terangkat sebelah.
"Ya. Sebuah permohonan maaf yang tulus saya rasa akan lebih diterima oleh Bu Vaya, dibandingkan dengan memberi beliau ponsel yang baru," usul Mike.
"Begitukah?" tanya Vier.
"Pak Vier, saya kira Anda sudah memahami Bu Vaya," sahut Mike.
"Cih, Mike, tolong jangan memberi usulan yang menggelikan seperti itu. Yang salah itu adalah Vaya, kenapa harus aku yang minta maaf?" cibir Vier.
Vier kesal, namun setelah berpikir cepat, mungkin usulan Mike patut dicobanya...
__ADS_1
...*****...