Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
117 - Coolman


__ADS_3

Vaya menatap kedua mata Vier yang begitu membara. Vier segera menggendong Vaya dan membawanya ke tempat tidur.


Mereka saling menatap, Vaya merasakan kulitnya begitu panas, terbakar gairah yang begitu membara. Darahnya berdesir kencang, seirama dengan jantungnya yang bergemuruh.


Vier memberikan kecupan-kecupan lembut di kening dan kelopak matanya. Bibir pria itu terasa begitu panas, sepanas gairahnya yang begitu membara.


Vaya sungguh menikmati kecupan-kecupan lembut dari Vier yang semakin turun, menyusuri garis rahang Vaya. Vaya memejamkan matanya, meresapi setiap sentuhan yang diberikan Vier, menghirup aroma rambut Vier. Bagaimana bisa aroma sampo yang disiapkan dari rumah sakit bisa memiliki aroma yang begitu mewah di rambut Vier?


Vier kembali melanjutkan penjajahannya di tubuh Vaya. Menjajah tulang selangka, turun hingga ke bukit kembar yang masih terbungkus kutang berenda.


Vier membenamkan bibirnya, bermain-main dengan manja dan penuh gairah.


"Aah! Vier!" Vaya melenguuh.


"Vaya," ucap Vier di tengah gairahnya yang berkobar.


Ia benar-benar menginginkan Vaya, mengulang malam panas penuh gairah tanpa perlu merasa cemas apakah akan ada yang mendengar desahaan dan erangaan mereka sepanjang malam.


Dengan tatapan mendamba, memuja, dan menginginkan, Vier kembali menyesap bibir Vaya. Bibir yang begitu menggodanya, membuatnya tak bisa menahan diri.


Kring... Kring...


Dering ponsel dari dalam tas Vaya yang tergeletak di lantai di depan pintu masuk jelas mengganggu konsentrasi mereka.


"Hmph, Vier," Vaya menepuk bahu Vier.


"Biarkan saja, Vaya," sahut Vier.


"Vier, bagaimana jika itu telepon penting?" tanya Vaya.


"Ck, kenapa kau begitu peduli pada teleponmu? Apakah yang meneleponmu itu adalah pria lain?" tanya Vier.


"Vier," sungut Vaya.


Vier memicingkan matanya.


"Vier," rengek Vaya.


"Vaya, apa kau mau bertaruh denganku?" tanya Vier.


"Bertaruh apa, Vier?"


"Jika yang meneleponmu ternyata tidaklah penting, maka kau harus menerima hukuman dariku," jawab Vier.


"Lantas jika ternyata telepon itu penting, apa kau akan tetap memberiku hukuman?" tanya Vaya.


"Hukuman?" Vier terperangah.


"Vaya, aku ini pria yang sportif. Saat kau salah aku akan memberimu hukuman, jika kau yang benar maka aku akan memberimu hadiah," sahut Vier.


"Hadiah? Bagaimana aku bisa mendapatkan hadiah, sedangkan semua yang kulakukan selalu salah di matamu?" cibir Vaya.


"Oh, jadi kau meragukanku?" tanya Vier.


Vaya memutar bola matanya, ia segera turun dari tempat tidur, mengambil tasnya.


Vier mencebik, ia meneguk ludahnya saat menatap ayunan pinggul Vaya. Bokong sintal yang tertutup pakaian dalam berenda itu selalu sukses membuatnya bergairah.


Vaya sungguh pandangan hidup bagi Vier. Ya, cukup memandangi Vaya yang setengah telanjang seperti itu, sudah membuat juniornya bangkit dari mode tidur. Menentang hukum gravitasi yang ditemukan oleh Newton saat melihat buah apel yang jatuh ke bawah.

__ADS_1


Vier sungguh tidak sabar menunggu Vaya yang menjawab teleponnya.


Ah sial! Aku benar-benar menginginkan bokong itu! Batin Vier begitu gusar.


Vier melompat turun dari tempat tidur, segera menangkupkan tangannya ke bokong yang menggoda kewarasannya.


"Halo Ibu, ugh!" jawab Vaya sambil terlonjak kaget.


Vaya melotot ke arah Vier yang menyeringai mesum bin cabul.


"Vaya, Aria hilang!" jawab Ibu.


"Apa?!" seru Vaya.


Vier menghentikan aksinya, lalu menatap Vaya.


"Kok bisa, Bu? Ibu di mana sekarang?"


"Ibu sekarang di rumah sakit, menunggu Kak Darti," jawab Bu Asih.


"Ya sudah, aku akan ke rumah sakit sekarang," sahut Vaya.


"Vaya, kok bisa adikmu hilang lagi?" tanya Vier.


"Aku juga tidak tahu, Vier!" sahut Vaya.


Vaya cepat-cepat menyambar pakaiannya di lantai lalu memakainya dengan cepat.


Vier menghela napas berat, memandangi asetnya yang masih menantang dunia.


"Vaya, tidak bisakah kita satu ronde dulu?" tanya Vier.


"Haha, baiklah! Aku benar-benar akan menagih sepuluh rondeku, Vaya!"


Vier menimpali sambil cepat-cepat kembali memakai pakaiannya.


...*****...


"Pak Mike, aa..."


Aria menodongkan sendok berisi sup ke arah mulut Mike.


Mike tidak tahu apa yang pada akhirnya mendorongnya untuk membuka mulut. Apakah karena kegigihan Aria yang terus berusaha menyuapinya ataukah karena perutnya yang memang sudah terasa lapar?


Hap...


Mike menyeruput kuah sup sementara Aria terlihat begitu senang.


Ataukah karena melihat senyum Aria yang begitu cerah dan seakan menghangatkan hatinya?


Pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam benak Mike saat ini.


"Pak Mike, makan yang banyak ya, supaya cepat sembuh," Aria tersenyum riang.


Mike mengunyah sup sayurnya lambat-lambat.


"Hmm, Aria, sebenarnya kau tidak perlu repot-repot menyuapi saya seperti ini," ucap Mike.


"Pak Mike, tidak apa-apa, saya suka sekali bisa membantu Pak Mike seperti ini," kata Aria.

__ADS_1


Aria kembali menciduk sup dengan sendok dan menyodorkannya ke mulut Mike.


Mike kembali membuka mulutnya dan memakan sup yang disuapkan Aria.


Aria memandangi pria tampan di hadapannya dengan mata berbinar-binar.


Mike tidak tahu kenapa, saat ini ia merasa jantungnya berdebar tak karuan. Namun sebisa mungkin ia menutupinya.


Sungguh tidak lucu rasanya Mike berdebar-debar karena melihat senyum seorang gadis berseragam SMP.


"Pak Mike, Pak Mike kok bisa jago berantem begitu?" tanya Aria.


"Saya tidak sejago itu," jawab Mike.


"Tidak jago bagaimana? Pak Mike benar-benar sangat keren! Jangan-jangan Pak Mike ini adalah superhero ya?" tanya Aria.


Mike menggeleng cepat.


"Saya tidak sekeren itu, dan saya juga bukan superhero," jawab Mike.


Lagi-lagi ucapan Aria sukses membuat Mike salah tingkah.


"Tidak! Pak Mike sungguh adalah superhero! Coolman!" lanjut Aria.


"Hmm, Coolman," Mike mengulas senyumnya.


"Pak Mike sungguh keren sekali! Sungguh seperti bintang film hollywood."


Mata Aria kembali berbinar-binar memandangi Mike.


"Haha, sungguh tidak seperti itu, Aria," Mike tertawa untuk menutupi rasa groginya.


"Oh ya, ngomong-ngomong, Pak Mike, kok Pak Mike sendiri saja di rumah sakit ini? Apa keluarga dan teman-teman Pak Mike tidak ada yang menjenguk?" tanya Aria.


"Hmm, saya rasa mereka tidak perlu tahu kondisi saya yang seperti ini," jawab Mike.


"Kenapa begitu, Pak Mike?  Apa Pak Mike tidak merasa kesepian?" tanya Aria.


Mike menggeleng pelan.


"Aria, saya tidak ingin membuat orang-orang terdekat saya merasa cemas, dan saya juga tidak merasa kesepian karena begitulah yang dilakukan oleh seorang superhero kan?"


Mike kembali mengulas senyumnya pada Aria.


"Pak Mike benar-benar Coolman!" Aria bertepuk tangan heboh.


"Sst, jangan bilang siapa-siapa ya," desis Mike sambil terkekeh.


"Hihihi," Aria terkikik geli.


"Pak Mike, ayo makan lagi, aku suapi," kata Aria.


Mike membuka mulutnya, kembali menyantap sup yang disuapkan oleh Aria.


"Aria!"


Seruan itu membuat Aria menoleh ke arah pintu ruangan yang baru saja dibuka.


...*****...

__ADS_1


Dukung terus karya recyeh ini ya pembaca penuh ❤❤❤❤❤


__ADS_2