
"Eh, Kakak."
Aria tersenyum senang melihat kedatangan Vaya dan Vier.
Mike menegang melihat ekspresi Vaya yang melotot ke arahnya dan juga Aria. Vaya langsung menghampiri Aria bak seekor banteng yang melihat kain merah dikibarkan oleh matador.
"Hiihh! Anak ini!" Vaya langsung menguyel-uyel kepala Aria.
"Aduh, Kakak!" Aria mengaduh.
"Kau ini, Aria! Jantung Kakakmu ini untung saja bukan made in China! Hihh, kau ini, ibu mengira kau ini hilang lagi! Ibu sampai panik mencarimu karena kau meminta izin makan sebentar, ternyata malah nyasar di sini!" Vaya masih menguyel-uyel kepala Aria dengan gemas.
"Pakai acara menyuapi Pak Mike lagi! Dasar ganjen!" omel Vaya.
"Kakak, aku tidak ganjen kok! Aku tidak ganjen!" sahut Aria.
"Mike, kau ini ya, hampir saja aku mengobrak-abrik Deri lagi! Padahal baru saja kami melakukan kesepakatan perdamaian!" Vier melotot ke arah Mike.
"Ternyata justru kau yang menyelundupkan Aria di kamarmu!" Vier menyeringai horor.
"Pak Mike, tolong jangan modusin adik saya ya!" sungut Vaya.
"Pak Vier, Bu Vaya, saya sungguh minta maaf," kata Mike dengan cepat. "Saya tidak bermaksud menyelundupkan Aria di kamar saya, sungguh."
"Saya juga tidak bermaksud modusin adik Anda, Bu Vaya."
Mike mencoba menjelaskan kepada Vier dan Vaya.
"Kak Vier, Kak Vaya, tolong jangan marah-marah begitu! Pak Mike tidak bersalah!" sergah Aria.
"Aku yang mengajak Pak Mike untuk makan bersama. Aku merasa kasihan karena Pak Mike kesulitan makan sendiri, jadi aku yang membantu Pak Mike untuk makan," Aria menjelaskan.
"Pak Vier, Bu Vaya, saya sungguh minta maaf, harusnya saya tidak perlu menerima kebaikan dan perhatian Aria, daripada menjadi bumerang seperti ini," Mike menyela.
"Pak Mike, ini bukan salah Pak Mike, tapi salahku, marah saja padaku ya Kak, jangan Pak Mike," potong Aria.
"Aria, menurutku, kakakmu bukannya marah padamu ataupun Mike. Izinmu itu yang kurang benar. Kau mengaku izin sebentar, tapi ternyata sebentarmu itu sampai membuat ibumu cemas," sahut Vier.
"Aku rasa, jika kau mengatakan pada ibumu bahwa kau akan makan bersama Mike, ibumu pasti tidak akan sepanik itu," Vier melanjutkan penjelasannya.
"Maaf, Kak," Aria menunduk dalam.
"Ya sudah, yang penting kau baik-baik saja, ayo temui ibu," ajak Vaya.
"Iya, Kak," kata Aria.
Vaya dan Aria segera meninggalkan Vier dan Mike yang saling menatap.
"Hehe, Mike!"
Vier terkekeh, ia segera melompat ke tempat tidur Mike dan mengunci leher Mike dengan sikunya.
"Ugh."
Mike menggelepar seperti ikan yang terlempar di darat.
"Dasar kau ini, Mike! Harusnya sekarang aku sudah masuk ronde ketiga, tapi gara-gara kau! Hiihh!"
"Maaf, Pak Vier, maaf," Mike memohon.
"Hihh! Kau ini! Jangan berpikir untuk menggoda adik iparku, Mike! Apa kau mau dituduh pedofil? Aku tidak mempekerjakan predator anak di bawah umur ya!" Vier masih mengunci leher Mike.
"Pak Vier, tolong jangan berpikir seperti itu," Mike mengalah.
__ADS_1
"Masalahnya kau membuatku berpikir seperti itu, Mike! Hufh!" Vier meniup telinga Mike.
"Whoaa!" seru Mike terperanjat.
"Awas ya, Mike! Jangan jadi om-om cabul!" Vier menyeringai.
"Pak Mike, waktunya pemeriksaan, oops!"
Seorang perawat yang baru saja memasuki ruangan langsung tercengang melihat kondisi Mike yang berada di bawah kungkungan Vier.
"Oh, maaf, anggap saya tidak melihat apa-apa," ucap perawat itu salah tingkah.
"Tidak! Tidak! Bukan seperti itu!" seru Vier dan Mike serempak sambil memisahkan diri.
...*****...
Vaya dan Aria menyusuri koridor menuju ke ruangan tempat Tante Darti dirawat.
"Aria! Kau ini ya, jangan genit-genit begitu dengan Pak Mike!" tukas Vaya.
"Ih, Kakak, siapa yang genit-genit sih?" cibir Aria.
Vaya memicingkan matanya ke arah Aria yang terlihat malu-malu.
"Lah, terus kenapa kau sampai menyuapi Pak Mike segala?" tanya Vaya.
"Kak, aku hanya membantu Pak Mike yang tidak bisa makan sendiri," jawab Aria.
"Aria, Pak Mike bisa makan sendiri! Tidak usah disuap-suapi begitu! Jangan-jangan Pak Mike cuma modusin kamu!" tuding Vaya.
"Kakak kok tega sekali menuduh Pak Mike begitu? Pak Mike itu benar-benar laki-laki yang baik dan sopan!" Aria membela Mike.
"Lagipula, aku sendiri yang mau membantu Pak Mike," lanjut Aria.
Aria mengerucutkan bibirnya.
"Kalau semua laki-laki itu tukang modus, berarti Kak Vier juga tukang modus dong!" sahut Aria.
Vaya mendelik gusar sambil mengacak-acak rambut Aria.
"Ihh, Aria! Pokoknya kamu jangan mudah percaya dengan laki-laki!"
"Ihh, Kakak berarti tidak percaya dengan Kak Vier dong?" tukas Aria lagi.
"Ihh, anak ini! Awas ya ganjen-ganjen, Kakak potong uang jajanmu!" ancam Vaya.
"Hehe, potong saja Kak, uang jajan dari Kak Vier masih banyak kok!" sahut Aria.
"Astaga, Aria! Bandel ya!" sungut Vaya.
Vaya dan Aria memasuki ruangan tempat Tante Darti dirawat. Aria langsung menghampiri dan memeluk ibunya.
"Ibu!" seru Aria.
"Aria!" Bu Asih merasa sangat lega begitu melihat kedatangan Aria.
"Kamu dari mana saja, Aria? Ibu kira kamu benar-benar hilang lagi!" kata Bu Asih.
"Maaf Bu, tadi aku bersama Pak Mike kok. Aku kasihan pada Pak Mike, aku membantu Pak Mike yang tidak bisa makan sendiri," jawab Aria.
"Huuh! Aria, kau ini lebih kasihan Pak Mike atau Ibu?!" cibir Vaya.
"Maaf Kak, maaf Bu," kata Aria.
__ADS_1
Darti membuka mata, sayup-sayup ia mendengar suara keramaian di sekitarnya. Matanya yang besar segera terbuka dan langsung menangkap sosok Asih dan kedua putrinya.
"Tante Darti," sapa Vaya.
Darti segera membuang pandangan. Rasa kesal dan kemarahan masih tersisa di hatinya. Bu Asih langsung menoleh ke arah Darti.
"Kak Darti baik-baik saja?" tanya Bu Asih.
"Tolong tinggalkan aku sendiri!" sahut Darti dengan ketusnya.
Vaya, Aria, dan Bu Asih saling melemparkan pandangan.
"Tante Darti," kata Vaya.
"Tinggalkan aku sendiri!" suara Darti meninggi.
"Vaya, Aria, ayo kita pergi," ajak Bu Asih.
Vaya pun segera pergi meninggalkan ruang perawatan Tante Darti bersama Aria dan ibunya.
Darti segera meneteskan air mata dalam kesendiriannya.
Ia merasa sangat marah dan kesal pada Vaya. Ia menyalahkan Vaya beserta sang suami yang membuat Deri harus mendekam di penjara. Meski sudah memohon bahkan berlutut, Vaya sungguh enggan untuk membantu membebaskan Deri dari penjara.
Ini semua salah Asih! Asih yang tidak bisa mendidik anaknya dengan benar! Batin Darti.
...*****...
"Ibu, Tante Darti kenapa menyebalkan begitu sih?" keluh Aria. "Dijengukin baik-baik, tapi kenapa masih judes begitu?"
"Aria, mungkin Tante Darti butuh waktu untuk sendiri," sahut Bu Asih.
"Aria, kalau tidak judes, bukan Tante Darti namanya," sahut Vaya.
Langkah Vaya terhenti tatkala melihat kedatangan Vier.
"Nak Vier," sapa Bu Asih.
"Ibu," Vier mengulas senyumnya. "Bagaimana keadaan Tante Darti?" tanya Vier.
"Sepertinya Tante Darti sudah baik-baik saja," sahut Vaya.
"Ibu dan Aria mau pulang?" tanya Vier.
"Iya, sepertinya itu lebih baik," jawab Bu Asih.
"Ya sudah, kalau begitu, mari saya antar pulang," ajak Vier.
...*****...
Bu Asih dan Aria segera turun dari mobil mewah yang dikendarai Vier begitu mereka tiba di depan rumah.
"Kalian tidak mampir dulu?" tanya Bu Asih pada Vaya dan Vier.
"Terima kasih Bu, tapi kami harus kembali ke rumah sakit untuk membantu Mike," jawab Vier.
"Oh begitu," kata Bu Asih.
"Kalau begitu, kami permisi," Vier berpamitan.
Di dalam mobil, Vaya menegang saat Vier menyeringai ke arahnya.
"Vaya, sepertinya aku harus menagih sepuluh ronde yang kau janjikan."
__ADS_1
...*****...