Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
065 - Pernikahan Kita Bukanlah Inginku


__ADS_3

Vaya menatap Vier yang masih menyeringai usai memberinya ciuman.


Kenapa tiba-tiba saja Vier mengajaknya pacaran?


Batin Vaya jelas gelisah. Namun apakah pacaran dengan Vier termasuk salah satu perintah yang harus dilakukan oleh Vaya?


Apa ini akal-akalan Vier untuk menghukumku jika aku menolaknya?


Apa Vier akan mengikatku lalu menggantungku terbalik di balkon kamarnya?


Lagi-lagi Vaya bertanya-tanya sendiri karena ekspresi Vier sungguh tidak tertebak.


Bukannya Vaya mau besar kepala, ini merupakan pertama kalinya ada pria yang mengajaknya untuk pacaran. Vaya terlalu trauma untuk melakukan kembali pengungkapan cinta, mengajak pria untuk pacaran dengannya, lalu berujung pada penolakan.


Namun, secara mendadak Vier mengajaknya untuk pacaran! Apa tidak salah?


Apa maksud pria ini ya?


Masa sih Vier suka padaku sampai mengajakku untuk pacaran?


Apa Vier sudah gila? Eh, tapi kan, Vier memang sudah tidak waras!


"Hmm, Vier, kau yakin mau pacaran denganku?" tanya Vaya penuh kehati-hatian.


Ekspresi Vier berubah menjadi lebih serius. Kedua alisnya yang tebal dan rapi itu saling bertaut. Seketika Vaya jadi salah tingkah sendiri karena Vier menatapnya seperti itu.


"Vier, kau pasti sedang bercanda kan?"


Vier masih memasang ekspresi serius sebelum akhirnya menjawab.


"Memang! Haha!"


Vier tertawa terbahak-bahak, Vaya mencebik, lagi-lagi Vier mempermainkannya. Yah, pria itu kan memang selalu menjadikannya bahan tertawaan. Bahkan sejak zaman mereka masih duduk di bangku SMA.


"Siapa juga yang mau pacaran dengan wanita sepertimu? Kau jangan besar kepala ya," Vier menyundul-nyundul kepala Vaya dengan jarinya.


"Kau itu, sudah tidak ada cantik-cantiknya. Kecerdasan hanya rata-rata saja. Prestasi tidak ada. Tukang bohong. Apa yang bisa kubanggakan jika kita pacaran?"


"'Mikir kau, Vaya! Mikir!"


Lagi-lagi Vier menyundul-nyundul kepala Vaya dengan gemas.


"Menikahimu saja sudah menjadi keterpaksaan karena aku harus menuntut pertanggungjawabanmu atas gagalnya pernikahanku."


Vaya kembali mencebik, mulutnya semakin mengalami kemajuan seiring dengan sundulan jari Vier di kepalanya.


"Aku berani bertaruh, kalau kau tidak menikah denganku, kau pasti sudah jadi istri ketiga dari pria kaya raya yang konon katanya akan dijodohkan denganmu! Haha!"


Vier masih tertawa dengan tawa mengejeknya yang begitu khas.


"Tapi, apa pria kaya raya itu bisa menerima ikan buntal sepertimu? Tubuhmu yang dipenuhi lemak jahat, perut bergelambir, dan pahamu yang macam sapi glonggongan itu. Pria itu pasti sangat menyesal sampai kotoran yang keluar dari perutnya pun akan ikut menyesal! Haha!"


Vaya benar-benar geram dengan ejekan-ejekan Vier.


Dasar Vier, makin sadis perkataannya, makin lebar saja tertawanya! Batin Vaya.


Kesal sih? Tapi Vaya bisa apa?


Bagaimana cara untuk membungkam pria ini agar berhenti merundungnya?

__ADS_1


Vaya memutar tubuhnya menghadap ke arah Vier, mengalungkan kedua tangannya di leher Vier. Vaya segera mengambil wajah Vier lalu membenamkan sebuah ciuman yang begitu manjur untuk membungkam Vier.


Vaya menyesap bibir Vier dengan rasa jengkel yang tak bisa ditahannya.


Apa aku perlu menggigit lidah Vier sampai putus?


Tidak! Bagaimana jika dia juga menggigit lidahku?


Terlalu banyak yang dipikirkan Vaya saat ini sehingga ia sama sekali tidak menikmati ciuman mereka.


Sementara itu, Vier membalas ciuman Vaya dengan penuh gairah. Ia benar-benar menyukai pertikaian ini. Saling memagut dalam birahi yang makin menguasai dan makin menjadi setiap detiknya.


Vier bahkan menggendong Vaya, membaringkan Vaya di atas grand piano, tanpa berhenti sejenak dari perpagutan mereka. Vaya melingkarkan kedua kakinya di pinggang Vier. Mengunci dengan rapat pinggang Vier, hingga menempel begitu erat di tubuhnya.


Vaya mengulas senyum kemenangan saat merasakan sesuatu di bawah sana yang mulai berdiri tegak namun itu bukanlah keadilan. Mengeras sedemikian rupa, tapi bukan es batu di pegunungan es.


"Hmphh! Aah, Vier!" Vaya meracau manja yang dibuat-buat.


Vaya melepas pagutan mereka, menatap Vier dengan tatapan manja dan desaahan yang membuat Vier benar-benar tak mampu menahan diri.


Tangan Vier menyusup masuk menyusuri paha Vaya, mengaitkan jarinya pada ujung kain untuk melepas segitiga yang menyembunyikan gua belut.


Vaya menyeringai menahan tangan Vier yang hendak mengobok-obok gua belut.


"Vier, masih lampu merah," Vaya mengulum senyumnya.


Ekspresi Vier seketika menegang.


"Oh," sahutnya singkat.


Vier beranjak menjauh dari Vaya. Vier meninju udara berusaha menenangkan diri untuk meredam hasratnya yang bergelora. Gagal mengobok-obok gua belut, membuatnya kembali menahan rasa nelangsa di hati.


Maaf ya, Vier, pernikahan kita bukanlah inginku, batin Vaya sambil tersenyum penuh kemenangan tanpa diketahui oleh Vier.


...*****...


Di sebuah kamar, seorang pria mengambil sebuah buku tebal sebelum naik ke tempat tidur. Pria itu terbiasa membaca buku sebelum tidur dengan tujuan agar lebih cepat mendatangkan rasa kantuk.


Seorang wanita cantik baru saja keluar dari kamar mandi, rambut panjangnya yang masih basah terbungkus handuk. Wanita itu duduk di depan meja rias, menjawab gawai cerdasnya yang berbunyi.


Pria yang sedang membaca buku itu hanya melirik sekilas. Istrinya masih saja membahas masalah pekerjaan meski sebentar lagi memasuki jam tidur.


"Tidak! Aku ingin laporan itu besok tepat pukul sepuluh pagi!" wanita itu menutup teleponnya dengan kesal.


"Ada apa, Grace?"


Wanita itu tidak menjawab, wajah cantiknya seketika tertekuk sempurna.


Yoran masih memandangi Grace yang saat ini sedang sibuk berkutat di depan meja rias untuk mengaplikasikan produk perawatan kecantikan kulit.


"Grace?" tanya Yoran.


"Yoseph, aku sedang tidak ingin membahasnya denganmu!" jawab Grace dengan nada ketus.


Yoran masih tak melepaskan pandangannya kepada wanita cantik yang sudah dua tahun dinikahinya ini. Perjodohan bisnis menjadi latar belakang pernikahan antara Yoran dan Grace. Yoran tidak menolak perjodohan tersebut karena jatuh cinta pada Grace yang begitu jelita. Seorang wanita mandiri, pekerja keras, dan ambisius, itulah sosok yang menggambarkan seorang Grace.


Grace segera naik ke tempat tidur karena sudah merasa lelah. Ia segera berbaring memunggungi Yoran.


Yoran mendekat lalu memeluk Grace dari belakang.

__ADS_1


"Grace, jangan bekerja terlalu keras," kata Yoran.


Grace melepaskan tangan Yoran dari perutnya yang ramping.


"Yoseph, aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri untuk mengurus perusahaan!" sahut Grace masih dengan nada ketus.


"Grace, mengurus perusahaan sepenuhnya bukan tanggung jawabmu," kata Yoran.


"Huh! Tapi pada kenyataannya memang hanya aku yang bisa melakukan semuanya!" tandas Grace.


"Grace," Yoran kembali memeluk Grace.


"Yoseph, lepaskan aku!" perintah Grace.


"Grace, aku hanya ingin memelukmu," kata Yoran.


"Aku tidak ingin kau memelukku! Tidurlah! Aku lelah!" Grace mendorong Yoran menjauh darinya.


Grace segera menarik selimut. Yoran menatap nanar punggung Grace yang terlihat indah dalam balutan gaun tidur yang jujur saja selalu membuatnya selalu menginginkan Grace.


Hanya saja Grace kerap menolak keinginan Yoran. Sikap dingin Grace jelas membuat ranjang mereka pun dingin. Tak ada kehangatan dan keromantisan yang tercipta bahkan sejak awal pernikahan mereka.


Di depan semua orang, mereka harus berlagak menjadi pasangan suami istri yang sempurna dan bergelimang kebahagiaan. Namun semua hanya agar pernikahan mereka terlihat seperti pernikahan bahagia pada umumnya.


Yoran menyadari bahwa pernikahan mereka hanya berlandaskan bisnis semata. Namun ia percaya bahwa seiring berjalannya waktu, kebersamaan mereka akan menumbuhkan benih-benih cinta. Seperti halnya Yoran yang jatuh cinta pada Grace dan bersedia untuk menikah dengan Grace.


"Grace," Yoran kembali memeluk Grace.


Grace tidak bergeming.


"Grace, kita sudah menikah selama dua tahun, tidakkah menurutmu, sebaiknya kita mulai memikirkan untuk memiliki anak?"


"Orang tuaku mengatakan bahwa mereka sudah ingin sekali melihat cucu mereka," lanjut Yoran.


Grace melepaskan pelukan Yoran, ia segera duduk berhadapan dengan Yoran.


"Yoseph, daripada kau memikirkan anak, lebih baik kau pikirkan bagaimana mengembangkan perusahaanmu agar lepas dari ambang kebangkrutan."


"Grace," kata Yoran.


"Yoseph, saat ini pekerjaanku jauh lebih penting. Dan jujur saja, aku tidak tertarik untuk menghadirkan anak di pernikahan kita. Jadi, aku harap kau mengerti itu," sahut Grace.


"Grace? Bisa-bisanya kau berkata seperti itu!" kata Yoran.


"Yoseph, ini inginku, jadi tolong hargai keinginanku!" tandas Grace.


"Grace, aku selalu menghargai inginmu, tapi tidakkah kau harusnya juga menghargai keinginanku?" tanya Yoran.


"Kita adalah pasangan suami istri, Grace!"


"Ya, aku tahu, kita adalah pasangan suami istri! Tapi kita hanyalah pasangan suami istri yang diinginkan oleh kedua orang tua kita!"


"Grace! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?!" sergah Yoran.


"Yoseph, aku hanya berkata jujur dan apa adanya!" jawab Grace diplomatis.


Pernikahan kita, bukanlah inginku, Yoseph, batin Grace.


Lagi-lagi Yoran hanya bisa bungkam seribu bahasa.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2