Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
050 - Strategi Menggoda


__ADS_3

Vaya sudah selesai mandi dan segera memasuki ruang lingerie untuk memilih salah satu dari sekian banyak lingerie yang harus dipakainya. Ruangan ini benar-benar sudah macam toko saja.


Sepertinya Vier memang terobsesi pada lingerie! Atau jangan-jangan semua ini adalah lingerie dari para wanita yang sudah ditiduri Vier? Batin Vaya bertanya-tanya.


Entah mengapa Vaya jadi merinding dengan asumsinya sendiri.


Tapi semua lingerie yang ada di ruangan ini nampak baru bahkan beberapa masih ada label harganya.


Sepertinya lingerie ini memang koleksi Vier! Dan bisa saja pria itu diam-diam memakainya untuk kepuasan pribadinya.


Ugh, perut Vaya jadi kram hanya dengan memikirkan itu.


Dalam waktu yang singkat, Vaya sudah memikirkan beberapa strategi yang harus dilakukannya untuk mendapatkan izin dari Vier.


Strategi pertama yakni berpenampilan seksi seperti yang selalu diinginkan oleh Vier. Ia mematut dirinya di depan cermin, mengamati lingerie berwarna merah menyala dengan aksen hitam, bermodel korset dengan renda dan tali-tali yang akan menyamarkan perut Vaya yang kerap dibully Vier bergelambir akibat tumpukan lemak jahat.


Kemudian ia menunggu di tempat tidur sambil berselancar di dunia maya. Membuka aplikasi video-video berisi tutorial menggoda pria.


Perut Vaya benar-benar terasa kram menyaksikan video tersebut, ditambah dengan pemakaian lingerie bermodel korset yang membuatnya merasa sesak dua kali lipat.


Vaya bahkan merasa mulai mengantuk, menunggu Vier yang seakan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menemuinya di kamar ini.


Apa sebaiknya kususul saja ya? Pikir Vaya.


Cklek...


Pintu terbuka, Vaya segera melompat dari tempat tidur dan menyambut kedatangan Vier.


"Vier, apa kau mau mandi? Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," kata Vaya.


"Hmm, ya, aku memang merasa lelah," sahut Vier sambil membuka ikatan dasinya.


"Vier, biar aku yang lakukan," Vaya dengan cepat membuka ikatan dasi Vier.


Ia juga membuka satu per satu kancing kemeja Vier. Tubuh atletis yang terpahat sempurna itu jelas membuat Vaya jadi insecure. Wajar saja kan, Vier sering mengejek perutnya yang bergelambir.


"Tidak sekalian celanaku?" tanya Vier sambil menyeringai.


"Apa kau tidak keberatan?" tanya Vaya.


Vier mengulas senyum seringaian khasnya.


Oh tidak! Vaya memejamkan matanya sambil membuka ikat pinggang dan meloloskan celana panjang yang dikenakan Vier.


Vier segera memasuki bathtub, berendam di air hangat bercampur busa sabun yang terasa nyaman.


"Vier, aku akan memakaikan sampo untukmu."


"Vaya, aku rasa kau tidak perlu melakukannya, jika pun harus, maka lakukan dengan benar. Jika kau sampai membuat rambutku rontok sehelai saja, maka kau harus siap menerima konsekuensinya," nada bicara Vier terdengar mengancam seperti biasanya.


"Tenang saja, Vier," sahut Vaya seraya terkekeh.


Daripada cuma sehelai, lebih baik kau langsung kugunduli saja! Vaya membatin.


Vaya segera mengambil sampo dan menyapukan sampo ke kepala Vier lalu memijatnya dengan lembut.


Vier memejamkan mata, menikmati pijatan lembut di kepalanya.


Hmm, boleh juga keterampilan memijatnya, batin Vier senang.


Vaya sudah mempelajari teknik pijat relaksasi dari video-video tutorial. Vaya juga memijat belakang leher hingga ke bahu Vier. Siapa pun pasti akan sangat suka dipijat relaksasi yang jelas akan memberi efek menenangkan.


"Vier, aku bilas ya," kata Vaya.

__ADS_1


"Hmm," sahut Vier.


"Vier, aku boleh ya, pergi ke rumah orang tuaku," Vaya mulai memohon.


"Hmm, tidak," sahut Vier.


Ugh! Vaya menahan rasa kesalnya.


"Vier, coba jelaskan padaku, apa alasan mengapa kau tidak mengizinkanku pergi menemui orang tuaku?" Vaya membilas rambut Vier dengan air yang mengalir dari shower.


"Aku rasa aku sudah mengemukakan alasannya, entah kau paham atau tidak," sahut Vier.


"Vier, sungguh, aku benar-benar pergi ke rumah orang tuaku, harus berapa kali kukatakan agar kau mengerti? Selama ini aku bahkan tidak pernah mengencani pria mana pun!" sergah Vaya.


"Vaya, cukup!" ucap Vier.


"Keluarlah lebih dulu, aku mau membilas tubuhku!"


Vaya kembali merasa dongkol begitu keluar dari kamar mandi.


Dasar Vier gila! Apa dia sungguh tidak percaya apa pun yang kukatakan padanya?


Tidak! Aku tidak boleh menyerah begitu saja!


...*****...


Vaya masih menunggu di depan pintu kamar mandi hingga akhirnya Vier keluar hanya menggunakan handuk kimono.


"Vier," Vaya kembali siap memohon izin dari Vier.


Vier segera naik ke tempat tidur, ia berbaring dalam posisi telungkup.


"Vier, aku pijat bahumu ya," kata Vaya.


Vaya mendelik gusar, ia segera memijat bahu Vier.


"Vier, apa kau sungguh tak percaya bahwa aku benar-benar akan pergi ke rumah orang tuaku?" Vaya bertanya sekali lagi.


"Hmm," jawab Vier singkat.


Vaya memutar bola matanya, kenapa Vier begitu bersikeras tidak memberinya izin?


Vaya cuma pergi ke rumah orang tuanya, bukan ke rumah laki-laki lain.


"Vier, apa aku perlu mengajakmu untuk pergi bersamaku?" tanya Vaya.


Aha! Ini dia yang aku tunggu-tunggu! Batin Vier senang.


"Aku pergi bersamamu? Apa kau pikir aku orang yang tidak punya kerjaan?" tanya Vier dengan nada mencemooh.


Ya, ajak aku, dasar bodoh! Memohonlah! Memohonlah agar aku ikut denganmu! Batin Vier girang.


"Ya, aku juga berpikir seperti itu, kau kan sangat sibuk, bahkan di rumah kau masih saja tetap bekerja. Jadi lebih baik aku pergi sendiri saja," jawab Vaya.


"Huh, Vaya, apa kau pikir kau bisa membodohiku seperti itu? Tepat di depan mataku, aku melihatmu boncengan dengan laki-laki lain! Tepat di depan mataku, aku melihatmu dimodusin laki-laki lain! Apalagi di belakangku?!" sergah Vier.


Vier memutar tubuh, lalu menarik Vaya ke atas tubuhnya. Mata mereka saling bertemu, Vaya meneguk ludahnya, rasanya tenggorokannya tercekat. Vier memainkan tali lingerie yang dikenakan Vaya.


"Vaya, apa kau sungguh tidak kapok berbohong padaku?" Vier menyeringai.


"Vier, sungguh, kesibukanmu jelas menjadi pertimbanganku mengapa aku memutuskan untuk pulang sendiri. Lalu yang kedua, kau pasti tahu kondisi rumah orang tuaku seperti apa. Rumah itu jelas tidak nyaman untukmu. Banyak nyamuk dan tidak ada pendingin udaranya. Nanti kau malah rewel," beber Vaya.


"Jadi, apa kau berpikir untuk mengajak pria lain ke rumah orang tuamu?" tanya Vier

__ADS_1


Vier mulai menarik perlahan ikatan lingerie Vaya. Vaya mendelik gusar, lalu mencubit kedua pipi Vier dengan gemas.


"Hihh, Vier!"


"Aduh! Vaya! Beraninya kau!" keluh Vier.


"Tidak ada pria lain, Vier!"


"Wanita pembohong sepertimu, mana bisa kupercaya!" sergah Vier.


Strategi nomor dua yang harus dilakukan oleh Vaya berdasarkan tutorial menggoda pria yakni memberi sentuhan erotis kepada pria. Vaya memberanikan dirinya, mumpung saat ini posisinya sedang berada di atas tubuh Vier.


Vaya mendekat ke wajah Vier, lalu menciumi wajah Vier. Vier memejamkan matanya, menikmati kecupan-kecupan lembut di sepanjang rahangnya. Vier reflek memegangi aset kembar milik Vaya dan memainkannya.


Mereka kembali saling menatap sebelum akhirnya Vier kembali meraih bibir Vaya dan menyesapnya seperti yang sudah-sudah.


"Hmph, Vier," Vaya berusaha melepaskan ciuman Vier yang makin ganas.


"Vier! Aku boleh pergi ya," kata Vaya.


"Tidak," sahut Vier sambil memburu bibir Vaya.


"Vier," rengek Vaya.


Vier menatap Vaya yang saat ini benar-benar membangkitkan nalurinya sebagai seorang pria. Naluri untuk memangsa buruan yang sudah berada dalam ringkusannya.


"Hmphh, Vier," Vaya masih merengek di sela-sela ciuman mereka.


Vier sudah tidak tahan, Vaya yang merengek dan naluri buasnya yang terpanggil benar-benar tidak mampu dikendalikannya.


"Vieer!"


"Baiklah! Baiklah!" Vier akhirnya mengalah.


"Boleh yaa," Vaya bermanja-manja di dada Vier.


"Baiklah, aku akan membiarkanmu pergi, tapi dengan satu syarat," kata Vier.


"Apa itu?"


"Aku ingin melahapmu malam ini," kata Vier.


"A-apa?" Vaya tertegun.


Vier menyeringai lalu meringkus Vaya ke bawah kungkungannya. Ia membungkam mulut Vaya dengan ciumannya. Mereka kembali terlibat dalam aksi saling membakar gairah.


Tidak! Tidak! Aku tidak mau, Vier! Vaya berusaha berontak.


Namun bagi Vier, ia merasa senang dengan aksi pemberontakan Vaya yang dianggapnya makin membakar gairahnya yang berkobar-kobar.


Vier menyusupkan satu tangannya untuk memainkan gundukan lemak sementara satu tangannya yang lain menyusup ke bagian bawah, bermain-main di rawa terlarang.


Tubuh Vaya menggeliat, ada rasa aneh yang menyergap tubuhnya. Rasa asing antara geli yang bercampur dengan kenikmatan.


"Hmm, Vaya, tubuhmu benar-benar sangat reaktif," Vier tersenyum senang.


"Vier! Ugh!" Vaya menggeliat.


Vier menyeringai senang, namun tiba-tiba ia terdiam saat mengeluarkan tangannya dari rawa terlarang milik Vaya.


"Darah?!" Vier melotot ngeri.


Oh! Si*al! Batin Vier kecewa.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2