Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
134 - Bukan Cinderella


__ADS_3

Pertanyaan yang dilemparkan oleh Bu Cintami jelas membuat Vaya kembali meneguk ludahnya, tenggorokannya benar-benar begitu kering, tandus,  dan gersang bak gurun pasir.


Dalam benak Vaya saat ini terlintas bayangan Vier. Vier yang begitu tampan, penuh pesona, dan bergelimangan harta. Sementara Vaya, dia bahkan tidak punya apa pun yang bisa ia banggakan mengingat semua hal yang ada dalam hidupnya menggunakan kata serba kekurangan. Mulai dari kurang cantik, kurang menarik, dan berasal dari keluarga kurang mampu.


Sungguh tidak bisa dibandingkan dengan Selena, tunangan Vier yang begitu sempurna. Wajar saja jika Selena diterima dengan baik oleh keluarga Vier sebagai calon istri yang begitu pantas untuk mendampingi pria itu.


Vaya menarik napasnya, mengepalkan kedua tangan, berusaha mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki untuk bisa menatap mata ibu mertuanya yang jelas merasa bahwa Vaya tidak pantas untuk mendampingi Vier.


"Ibu, saya tentu merasa pantas menjadi istri Vier, karena saat ini saya adalah istri Vier," jawab Vaya.


Alis Bu Cintami terangkat sebelah mendengar jawaban Vaya.


"Saya pantas mendampingi Vier karena saat ini Vier adalah suami saya. Sudah semestinya saya pun harus memantaskan diri."


Vaya tidak tahu dari manakah asalnya rasa percaya dirinya yang begitu tinggi. Apakah dari mengumpulkan serpihan-serpihan keberanian? Toh, Vaya memang menikah dengan Vier bermodalkan keberanian saja.


"Sungguh kepercayaan diri yang mengesankan," ucap Bu Cintami dengan nada nyinyir.


"Terima kasih, Bu," Vaya mengulas senyum selebar mungkin untuk menanggapi ucapan nyinyir dari ibu mertuanya.


"Vaya, tapi kau pasti sudah sangat memahami bahwa Vier adalah pria yang sangat terkenal dengan reputasinya sebagai seorang yang sangat sering mengganti wanita yang berada di sisinya," ucap Bu Cintami.


"Darah ayahnya sungguh mengalir begitu kental dalam darah Vier. Aku sungguh salut pada Selena karena hanya dia satu-satunya wanita yang bertahan cukup lama hingga akhirnya Vier memperkenalkan Selena kepada kami," lanjut Bu Cintami sambil mengulas senyumnya lagi.


Vaya merasakan otot-otot di wajahnya menegang tak karuan. Lagi-lagi ibu mertuanya menyerangnya dengan sebuah kenyataan yang menyesakkan Vaya.


Vier memang sudah mengencani Selena selama dua tahun. Dua tahun tentu waktu yang sangat lama untuk pria macam Vier. Kebersamaan Vier dan Selena selama dua tahun tentu tidak bisa dibandingkan dengan kebersamaan Vier dan Vaya yang masih dalam hitungan belum sampai seumur jagung.


"Bagaimana jika Vier sudah bosan denganmu dan membawa wanita lain untuk mengatasi rasa bosannya? Apa kau sudah siap menerima semua itu?" tanya Bu Cintami.


Vaya semakin menegang, ia bahkan tak sadar sudah menekan buku-buku jarinya dengan kuat. Pertanyaan dari ibu mertuanya benar-benar membuat Vaya merasa sedang menghadapi pertanyaan dari seorang dosen penguji ketika melakukan sidang skripsi.


Vaya seakan terhempas pada kenyataan yang begitu menakutkan. Dibuang oleh Vier ketika pria itu sudah bosan. Seperti para wanita yang pernah ada dalam hidup Vier, mengisi hari-hari Vier, dan memanaskan malam-malam Vier di tempat tidur ataupun di ruang bercinta pria itu.


Bu Cintami masih melemparkan pandangannya pada Vaya, tak putus-putusnya mengamati perubahan ekspresi wanita di hadapannya.


Meski Bu Cintami tidak pernah mempermasalahkan wanita mana pun yang dikencani oleh Vier selama ini, namun sebagai orang tua, Bu Cintami jelas memiliki kriteria menantu idaman yang pantas untuk mendampingi Vier.


Wanita berpenampilan biasa dan berasal dari keluarga yang biasa-biasa jelas bukan menantu idaman Bu Cintami. Ia sungguh kurang berkenan dengan wanita yang seakan dipungut di jalan oleh Vier.


"Ibu, terima kasih sudah mencemaskan hubungan saya dan Vier. Saya sangat paham Ibu mencemaskan saya karena Vier memang sangat mudah untuk diinginkan oleh wanita mana pun," ucap Vaya.


"Namun bagi saya, inilah konsekuensi yang harus saya terima karena sudah memutuskan untuk mendampingi Vier," lanjut Vaya.


"Jadi, kau sama sekali tidak masalah jika Vier mengganti posisimu dengan wanita mana pun?" tanya Bu Cintami.

__ADS_1


Vaya mengulas senyumnya.


"Bagaimana jika Ibu ada di posisi saya?" Vaya balik bertanya.


"Vaya, saya bertanya seperti itu karena saya sudah pernah berada di posisimu," ucap Bu Cintami tetap tenang.


"Hmm, begitu ya," ucap Vaya.


Bu Cintami mulai menegang, wanita di hadapannya jelas sedang mencoba memprovokasinya.


"Jika selama ini Ibu bisa mendampingi suami Ibu, itu artinya saya juga bisa mendampingi suami saya kan?" tukas Vaya.


"Haha, kau tidak sama sepertiku, jadi jangan coba-coba menyamakan posisimu denganku," Bu  Cintami tertawa sinis.


Vaya terdiam, meneguk ludahnya, lidahnya tiba-tiba terasa begitu kelu.


"Aku dan kau berasal dari kelas yang berbeda. Sehingga kau harus mengerti hal itu," sengit Bu Cintami.


Pandangan Bu Cintami yang menusuk jelas membuat jantung Vaya serasa ditombak.


"Ba-baik Bu, saya mengerti," ucap Vaya tergagap.


"Kau bukan Cinderella yang hidup dalam dunia dongeng. Sehingga kau jangan merasa angkuh hanya karena Vier memilihmu untuk menjadi istrinya."


Vaya benar-benar hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Bu Cintami.


"Baiklah, aku rasa cukup pembicaraan kita kali ini. Aku hanya ingin kau berpikir dengan sebaik-baiknya. Apakah kau memang benar-benar sudah pantas untuk Vier?" tutup Bu Cintami.


Wanita paruh baya itu pun segera beranjak dari tempat duduknya bertepatan dengan Pak Jo yang datang membawakan minuman.


"Nyonya, minumannya," ucap Pak Jo.


"Terima kasih, Pak Jo, lain kali saja ya," sahutnya ramah.


Bu Cintami segera melangkah pergi meninggalkan Vaya yang masih terdiam dan kehilangan kata-katanya.


...*****...


Sepanjang hari Vaya hanya bisa termenung di depan monitor komputernya. Perbincangannya dengan ibu mertua sungguh memengaruhi pikiran Vaya.


Vaya tidak bisa fokus bekerja dan kehilangan konsentrasi.


Rasanya semua hal-hal indah dan membahagiakan yang baru saja dialaminya dalam beberapa hari terakhir, tidak, lebih tepatnya dalam beberapa jam terakhir harus sirna.


Sisa-sisa liburan romantis penuh gairah bersama Vier di Maldives hanya membuat semua teman-teman kantornya bertanya-tanya.

__ADS_1


Mengapa Vaya mendadak mengambil cuti, lalu pulang dalam kondisi kulit yang jauh lebih gelap? Matahari Maldives yang membakar kulit Vaya tentu tidak begitu terasa menyengat ketimbang ucapan ibu mertua yang begitu menyengat.


Yah, tipikal ibu-ibu kaya raya yang merasa bahwa menantu perempuannya tidak setara, tidak selevel dengannya pasti akan bersikap seperti itu.


"Mbak Vaya!"


"Eeh," Vaya tergagap.


Di depan Vaya, Evi sudah menatap Vaya dengan tatapan keheranan.


"Mbak Vaya melamun apa sih? Dipanggil dari tadi kok tidak ada sahutan," tukas Evi.


"Ehem, maaf, Evi, aku lagi gagal fokus nih," Vaya berdeham.


"Mbak dicari Madame," kata Evi.


"Oh, oke," sahut Vaya.


Vaya segera mematut dirinya di depan cermin saku. Wajahnya benar-benar terlihat kusut dan pucat. Cepat-cepat ia memulaskan lipstik berwarna cerah agar memberi rona segar pada wajahnya.


...*****...


"Vaya, bagaimana dengan progres tugas khusus yang saya berikan beberapa waktu lalu?"


Madame berbicara dengan nada rendah begitu Vaya duduk di hadapan beliau. Madame adalah julukan untuk bos besar di perusahaan tempat Vaya bekerja.


Vaya benar-benar lupa dengan tugas khusus dari Madame. Begitu banyak masalah pribadi yang dihadapi Vaya, membuat Vaya benar-benar lupa dengan tugas khusus tersebut.


"Maaf, Bu, akhir-akhir ini saya benar-benar sibuk dengan pekerjaan yang ada," ucap Vaya dengan penuh kehati-hatian.


"Baiklah, Vaya, saya mengerti posisimu. Kalau begitu saya akan mengalihkan tugas tersebut darimu," ucap Madame dengan tegas.


Vaya terdiam. Jika tugas khusus itu dialihkan, itu artinya Vaya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan posisi bagus di perusahaan.


Oh tidak! Batin Vaya gusar.


"Ibu, saya pasti bisa, tolong beri saya waktu," Vaya memohon.


"Kembalilah bekerja, Vaya," perintah Madame.


Vaya mendesaah lirih, perintah Madame pun akhirnya ia turuti. Ia segera keluar dari ruangan kerja beliau dengan perasaan kecewa.


Ia sudah gagal dalam pekerjaannya. Ya, gagal untuk mendapat posisi dan jabatan yang bagus di perusahaan.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2