Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
140 - Pengungkapan Selena


__ADS_3

Para pelayan mulai berdatangan dan menghidangkan makanan pembuka di atas meja makan.


Vier terdiam sambil memandangi ibunya dan juga Selena secara bergantian. Saat ini ia masih berusaha menebak-nebak, apa maksud ibunya dengan mengajak Selena seperti ini.


"Vier, kau pasti sedang menebak-nebak mengapa Ibu sampai mengajak Selena datang menemuimu," kata Bu Cintami.


Vier hanya menarik senyum sambil meneguk segelas air mineralnya.


"Ibu ingin kau dan Selena saling berbincang secara terbuka mengenai masalah yang kalian hadapi hingga akhirnya rencana pernikahan kalian harus batal."


"Sungguh, Ibu sangat menyayangkan keputusan tersebut, padahal Ibu sangat berharap Selena-lah yang menjadi menantu Ibu," kata Bu Cintami.


"Ibu," Vier menyela ucapan ibunya.


Mata Vier dan mata Bu Cintami saling mengunci.


"Selena memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami. Aku menghargai keputusan Selena, Bu," kata Vier.


"Vier, I have to make a choice. Aku harus membuat pilihan. It was because you gave me no choice! Itu karena kau tidak memberiku pilihan!" Selena menyela.


"Aku tidak habis pikir, bagaimana seorang pria yang begitu baik sepertimu, ternyata pernah melakukan hal yang begitu buruk. I know. Aku tahu. It was your past. Itu adalah masa lalumu. But I could not accept that. Tapi aku tidak bisa menerima itu. You were being so selfish! You killed your unborned baby! Kau begitu egois! Kau membunuh janinmu!"


Bu Cintami terperangah mendengar ucapan Selena yang terdengar begitu penuh emosi.


"Se-Selena, are you sure?" tanya Bu Cintami tergagap. Selena, apa kau yakin?


Vier mengerutkan keningnya ketika Bu Cintami melemparkan tatapan tak percaya pada Vier.


"Vier, apa maksud semua itu?" tanya Bu Cintami.


"Ibu, aku bisa jelaskan," jawab Vier.


Tok...Tok...


Suara ketukan pintu membuat semua mata langsung tertuju pada pintu masuk. Sosok seorang wanita berdiri di ambang pintu langsung menjatuhkan tas belanjaan yang dibawanya.


...*****...


Vaya benar-benar hanya bisa terdiam saat matanya menangkap sosok wanita luar biasa cantik yang saat ini sedang duduk di meja makan berhadapan langsung dengan Vier dan Bu Cintami.


Selena!


Brugh...


Tas berisi belanjaan untuk makan malam yang sudah disiapkan oleh Vaya sampai terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"You!" Selena berseru sambil berdiri dari kursinya.


Selena tak mungkin bisa melupakan wajah dari wanita yang datang menghampirinya dan mengatakan hal yang membuat Selena langsung berpikir ulang tentang hubungannya dengan Vier.


"She was Vier's ex girlfriend! Dia adalah mantan kekasih Vier! She told me everything! Dia menceritakan semuanya padaku. About her affair with Vier. Tentang hubungan gelapnya dengan Vier. Dan tentang anak Vier yang terpaksa harus diaborsi karena keinginan Vier!"


Selena menjelaskan dengan bahasa campur aduk di tengah rasa kalutnya.


Vaya benar-benar membeku tak karuan dengan ucapan Selena. Selena seakan melemparkan kembali bumerang yang dulu pernah dilemparkan oleh Vaya.


Vaya melihat mata Bu Cintami melotot makin lebar, sedangkan Vier terlihat memijat pelipisnya.


"What are you doing in here? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Selena ke arah Vaya.


"Selena, she is Vier's wife. Selena, dia adalah istri Vier," jawab Bu Cintami.


"What?!" seru Selena dengan suara tercekat.


Selena melihat cincin yang melingkar di jari manis kanan Vier.


"Vier?! Are you married?" tanya Selena.


Tubuh Selena gemetaran, ia bahkan jatuh terduduk di kursinya.


"How could you, Vier?! How could you?!" Selena tertunduk lesu mulai menangis terisak-isak.


Vier menghela napasnya.


"Ibu, mari bicarakan hal ini baik-baik," kata Vier.


"Vier, Ibu ingin bicara dengan istrimu," ucap Bu Cintami dengan penuh ketegasan.


...*****...


Vaya menegang saat Bu Cintami mengajaknya untuk berbincang di ruang tamu secara empat mata.


Vaya benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Saat ini pikirannya seakan kosong, tersedot masuk ke dalam bola mata hitam Bu Cintami yang menatapnya tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.


Bu Cintami duduk di sofa, dengan kedua tangan terlipat di depan dada, dan menyilangkan kakinya. Punggung wanita paruh baya itu bersandar nyaman di sofa.


"Vaya," ucap Bu Cintami dengan nada yang begitu datar.


"Aku rasa aku sungguh bisa membaca situasi yang terjadi saat ini. Aku tidak menyangka ternyata kau ternyata seorang wanita yang akan melakukan apa saja demi memenuhi ambisimu. Sebegitu inginnya kau untuk menikahi pria kaya hingga kau menghalalkan segala cara?" tukas Bu Cintami.


Vaya merasa tenggorokannya tercekat.

__ADS_1


"Kau benar-benar bertindak sangat jauh sekali!"


"Ibu, aku bisa jelaskan," Vaya menyela.


"Menjelaskan apa, Vaya? Bukankah semuanya sudah jelas? Kau menjebak Vier, membuat Vier terpaksa harus menikahimu, makanya rencana pernikahannya dengan Selena batal!" tandas Bu Cintami.


"I-Ibu," Vaya terperangah dengan tudingan yang dilayangkan oleh Bu Cintami.


"A-aku tidak menjebak Vier dan aku tidak memaksa Vier untuk menikahiku. Yang ada justru sebaliknya Bu, Vier yang memintaku untuk menikah dengannya," kata Vaya membela diri.


Vaya tentu tidak bisa melupakan bagaimana Vier memberinya pilihan yang pada akhirnya tidak bisa dipilih oleh Vaya selain menerima apa yang diinginkan oleh Vier.


"Vier memintamu untuk menikah dengannya?" tanya Bu Cintami. 


"Haha!" Bu Cintami tertawa dengan nada mencemooh.


"Vaya, apa kau tidak pernah berkaca? Memangnya apa yang kau miliki sampai Vier memintamu untuk menikah dengannya?"


"Selena bahkan sudah begitu sempurna untuk Vier! Lantas untuk apa Vier harus melepaskan Selena demi memilihmu?"


Bu Cintami melemparkan cecaran yang membuat hati Vaya terasa ditombak oleh ribuan tombak tajam yang kemudian menghujam jantungnya.


"Apa karena kau menjebak Vier dengan mengatakan bahwa kau hamil anaknya, dan meminta pertanggungjawaban Vier?"


"I-Ibu, itu sungguh tidak benar," jawab Vaya.


"Vaya, aku selalu mendidik Vier untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. Aku menekankan pada Vier, bahwa di dunia ini berlaku hukum sebab akibat. Setiap hal yang ia lakukan pasti ada konsekuensinya, sehingga Vier sudah terdidik dan terbiasa berhati-hati dalam bertindak," beber Bu Cintami panjang lebar.


"Jika kau memang pernah mengandung anak Vier, aku rasa seharusnya sudah dari dulu Vier membereskan masalah itu," lanjut Bu Cintami.


Vaya merasakan matanya mulai memanas, namun ia berusaha untuk tegar menghadapinya.


"Sesungguhnya aku tidak pernah ikut campur urusan pribadi Vier, karena aku sudah memberi kepercayaan penuh padanya bahwa wanita yang akan dipilihnya adalah wanita yang luar biasa. Ternyata, luar biasa berambisi untuk menikahi pria kaya sehingga nekat melakukan apa saja."


"Bahkan jika pria itu sudah memiliki pasangan resmi! Tipe wanita seperti itulah wanita-wanita yang kubenci!"


"Sudah cukup dulu aku yang mengalami hal tersebut! Sehingga aku sungguh berharap sangat bahwa anakku, Vier, tidak mengalami hal yang sama! Yakni tidak perlu berurusan dengan wanita-wanita haus uang dan kekayaan!"


"Apa orang tuamu yang menyuruhmu untuk mengejar pria kaya?"


"Apa ayahmu terlilit utang? Ibumu kesulitan ekonomi hingga kau menukar semua itu dengan tubuhmu?"


Bu Cintami terus mencecar Vaya yang saat ini berusaha menahan air matanya.


"Aku sungguh kecewa dengan wanita sepertimu! Yah, kebanyakan wanita dari kalangan bawah memang seperti itu. Tidak tahu diri dan tidak tahu malu," tandas Bu Cintami.

__ADS_1


"Kalau kau memang masih punya malu, kau seharusnya bisa berpikir apa yang harus kau lakukan."


...*****...


__ADS_2