
"Vaya! Mau ke mana?"
Nola dan Mery yang kebetulan bertemu dengan Vaya di depan lift langsung menyapa Vaya.
Dua orang tukang gosip yang kehadirannya sebenarnya sangat dihindari oleh Vaya.
"Aku mau ke lobi utama," jawab Vaya sambil mengulas senyumnya.
Duh, kenapa harus bertemu mereka sih? Vaya membatin.
"Mau ngapain ke lobi?" tanya Nola kepo.
"Oh, aku baru dikabari, katanya ada paket untukku," jawab Vaya.
"Waah! Paket apa tuh, Vaya?" tanya Mery antusias.
"Hehe, entahlah, aku juga tidak ingat," jawab Vaya terkekeh sambil memasuki lift.
"Wah, Vaya ini, saking banyaknya belanja di Syopi, sampai lupa beli barang apa saja ya!" seloroh Nola.
"Haha," Vaya tertawa kecut.
"Yah, bisa dimaklumi sih, namanya juga Vaya kan masih lajang, uangnya hanya dipakai untuk dirinya sendiri! Beda dengan ibu-ibu seperti kita ini, yang sedikit-sedikit untuk keperluan anak-anak!" ujar Mery.
"Ya, lebih baik untuk beli keperluan dapur, daripada belanja-belanja di Syopi!" lanjut Nola.
"Jadi Vaya, kapan kamu menikah?" tanya Mery.
"Iya, si Indi, anak baru masuk tiga bulan yang lalu saja, sudah sebar undangan lho! Masa kamu yang sudah stok lama, masih belum kepikiran menikah?" tanya Nola.
Vaya hanya menyeringai kecut.
"Ya elah, malah cengar-cengir," cibir Mery.
"Vaya, kau itu makin hari bukannya makin muda! Kalau umur sudah kepala tiga, sudah susah lho untuk memilih! Pilihannya itu, kalau tidak duda, ya, suami orang!" seloroh Nola lagi.
"Haha," Vaya hanya tertawa renyah.
"Apa jadi simpanan om-om lebih banyak duitnya ya? Daripada jadi istri sah?" tanya Mery lagi.
"Haha," lagi-lagi Vaya tertawa kecut menanggapi cerocosan Mery dan Nola.
Tring..
Pintu lift terbuka, cepat-cepat Vaya turun di lantai tujuannya.
"Duluan ya, teman-teman," Vaya berpamitan.
"Yaa," sahut Nola dan Mery yang masih tetap berada dalam lift.
"Tuh, Nola, benar kan, Vaya betah melajang karena sudah jadi simpanan om-om!" bisik Mery.
"Tapi, om-om mana ya, yang mau sama perempuan tua? Aki-aki jompo saja pasti lebih memilih daun muda!" Nola menimpali.
...*****...
Vaya mengerutkan keningnya melihat sebuah amplop cokelat yang diberikan seorang kurir yang menunggu di lobi.
"Silakan tanda tangan di sini, Bu," si kurir menunjuk ke lembar surat jalan.
"Tapi, Pak, saya tidak merasa ada memesan paket," tolak Vaya.
__ADS_1
"Bu, saya kemari hanya untuk mengantar paket," ujar si kurir.
Vaya pun akhirnya menandatangani lembar surat jalan lalu membawa amplop tersebut ke ruangannya.
Vaya jelas bertanya-tanya apa isi amplop itu. Ia bahkan melakukan penerawangan dengan mengarahkan amplop tersebut ke udara.
Bagaimana jika isi amplop itu adalah dokumen pengurusan perceraian yang dikirimkan oleh Vier?
Bruk...
Amplop yang dipegang Vaya itu langsung jatuh dan menimpa wajahnya.
Perceraian?
Jantung Vaya berdentam makin keras, kepala Vaya mendadak kosong.
Ya, bisa saja kan, Vier mengirimkan dokumen perceraian mereka. Dada Vaya benar-benar terasa luar biasa sesak hanya dengan memikirkan perceraiannya dengan Vier.
Vaya benar-benar sangat kecewa, namun bukankah ini sudah menjadi konsekuensinya?
Pernikahannya dengan Vier benar-benar hanya sebatas kontrak perbudakan birahi yang pada akhirnya harus selesai.
Vaya membuka amplop dan mengeluarkan isinya, yaitu amplop putih berisi sebuah cek kosong.
Kring..
Ponselnya berdering, menampilkan nomor tak dikenal. Dengan penuh keraguan, Vaya menjawab panggilan tak dikenal itu.
"Halo, Vaya."
Deg..
Jantung Vaya seakan berhenti berdetak mendengar suara ibu Vier.
Vaya menatap kosong ke arah cek tanpa nominal yang sudah ditanda tangani oleh ibu Vier.
"Terserah kau mau mengisinya dengan nominal berapa pun yang kau inginkan. Anggap saja, cek itu sebagai kompensasi untukmu."
Vaya gemetaran menahan rasa jengkelnya.
"Ibu, apa kita bisa bertemu?" tanya Vaya.
...*****...
Vaya melangkah dengan kemarahan yang berusaha disembunyikannya dengan baik melalui senyum yang tersungging lebar begitu menemui ibu mertuanya di sebuah restoran salah satu hotel berbintang lima.
"Silakan duduk, Vaya," Bu Cintami mempersilakan Vaya untuk duduk.
"Terima kasih, Bu," Vaya segera meletakkan bokongnya di atas kursi.
Vaya menatap lurus ibu Vier yang mengulas senyum lebar.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya, Bu," kata Vaya.
Vaya menahan rasa dongkol yang bergemuruh dalam dadanya.
Vaya mengeluarkan amplop berisi cek yang diberikan oleh ibu Vier untuknya.
"Ibu, saya berterima kasih atas kemurahan hati Ibu karena sudah memberikan saya kompensasi yang sejujurnya tidak saya butuhkan," Vaya menyodorkan kembali cek itu ke arah Bu Cintami.
Alis Bu Cintami terangkat sebelah.
__ADS_1
"Mengapa kau menolaknya, Vaya?" tanya Bu Cintami.
"Saya menolak karena saya merasa tidak membutuhkannya," jawab Vaya dengan tegas.
"Vaya, aku memberikanmu kompensasi sebagai bentuk terima kasihku karena kau sudah bersikap baik selama menjadi istri Vier."
"Aku juga tidak mendengar kabar miring tentangmu, dan bagiku itu sudah cukup," lanjut Bu Cintami.
Vaya menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat dan ia tidak bisa bernapas dengan baik dan benar.
"Ibu, tapi tetap saja, saya tidak bisa menerima semua ini," kata Vaya.
"Vaya, kau harus menerima uang pemberianku. Kau bisa menggunakannya untuk melanjutkan kehidupanmu bersama keluargamu. Hidup tenang dengan segala kebutuhan yang lebih dari cukup."
Bu Cintami masih menata kata-katanya dengan sangat santun tanpa ada emosi yang terdengar di telinga Vaya.
"Kau bisa menggunakan semua uang yang kuberikan, anggap saja kau memenangkan lotre berupa hadiah utama. Kau bisa menggunakannya untuk menunjang penampilanmu."
"Kau bisa mempercantik dirimu dengan berpenampilan yang jauh lebih memukau sebagai bentuk rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan kepadamu."
"Yah, setidaknya, mantan menantuku bukanlah wanita lusuh," lanjut Bu Cintami.
Deg..
Rasanya jantung Vaya kembali akan berhenti berdetak.
Mantan menantu?
Vaya berusaha menguatkan dirinya. Rasanya semua yang meluncur dari mulut ibu mertuanya hanya berisi hinaan.
"Ibu," Vaya menyela.
"Terima kasih sudah memikirkan sampai sejauh itu. Jujur saja, saya bahkan tidak berpikir sampai ke situ," ujar Vaya.
"Hanya saja, saya tetap menolak. Karena bagi saya, inilah diri saya. Saya lebih nyaman menjadi diri saya sendiri."
"Selama menikah dengan Vier, saya harus berusaha untuk memantaskan diri. Dan jujur saja itu melelahkan baik fisik maupun mental saya. Saya harus hidup seperti yang diinginkan oleh orang lain. Saya merasa seperti sebuah boneka yang bisa dimainkan sesuka hati dan itu jelas bertentangan dengan hati nurani saya," lanjut Vaya.
"Itulah alasan yang membuat saya ingin mengakhiri pernikahan saya dengan Vier. Saya memang tidak memiliki apa pun yang bisa saya banggakan. Hanya saja, saya memiliki harga diri yang harus saya jaga."
Bu Cintami meremaas buku-buku jarinya. Jujur saja ia benar-benar merasa sangat tertantang untuk berdebat dengan Vaya.
"Ibu."
Suara seorang pria membuat Vaya menoleh, sosok Vier langsung tertangkap di mata Vaya berikut dengan sosok Selena.
"Selena."
Bu Cintami berdiri dari tempat duduknya dan langsung menyambut pelukan Selena.
Vaya mencuri pandang ke arah Vier.
Huh, belum resmi bercerai saja, Vier sudah kembali go public bersama Selena, batin Vaya dengan dongkolnya.
"Baiklah, saya rasa saya harus pamit undur diri," Vaya segera berpamitan.
Vaya menunduk dalam kemudian bergegas pergi.
"Vaya!" seru Vier bergegas mengejar Vaya.
"Vaya! Kita harus bicara!"
__ADS_1
...*****...