
"Yoran!"
Lamunan Yoran buyar seketika begitu seseorang memanggil namanya. Yoran yang beberapa saat lalu tenggelam dalam pikiran kosongnya langsung menyambut kehadiran seseorang yang sedang ditunggu.
"Vier."
Yoran mengulurkan tangannya dan langsung menjabat tangan Vier.
"Kenapa kau bengong begitu, Yoran?" tanya Vier.
Vier melepas tangan Yoran dan menepuk lengan Yoran dengan tinjunya. Tinju Vier sebenarnya pelan, namun cukup membuat Yoran jadi terhuyung sejenak.
"Vier, tinjuanmu masih tetap kuat," Yoran menyeringai.
"Haha, begitukah? Padahal aku bahkan tidak menggunakan lima persen kekuatanku!" Vier tertawa.
"Oh ya, ngomong-ngomong, tempat ini bagus sekali, Yoran! Kau sepertinya memilih tempat yang cocok untuk bersantai."
Vier mengedarkan pandangannya ke segala penjuru restoran yang berkonsep terbuka, menyatu dengan alam dan pepohonan hijau di kawasan perbukitan.
Yoran senang mendengar pujian dari Vier. Restoran ini merupakan salah satu restoran yang berada di bawah naungan Rand Co. mulai dari tahap desain hingga pengelolaannya.
Mereka menuju ke salah satu meeting room yang memiliki pemandangan langsung ke lembah ngarai nan hijau.
"Vier, kau mau minum teh atau kopi?" tanya Yoran.
Vier mengerutkan keningnya.
"Maaf, Yoran, aku tidak minum teh dan kopi," jawab Vier.
"Oh, kau diet kafein?" tanya Yoran.
"Haha, tidak, aku tidak diet kafein. Aku tidak terbiasa minum kopi dan teh berdasarkan ajaran dari keyakinan yang kuyakini dulu," jawab Vier.
"Oh, ternyata kau masih tetap religius," sahut Yoran.
"Aku bukannya religius, Yoran, hanya tidak terbiasa," Vier menekankan.
"'Aku pesan jus jeruk saja," sahut Vier.
...*****...
Vier memerhatikan secara saksama pemaparan dari Yoran yang menjelaskan dengan sangat detail untuk projek pengembangan properti milik Vier.
Yoran yang memiliki latar belakang sebagai seorang arsitek sekaligus mendalami desain interior tentu saja lebih menguntungkan bagi Vier yang menganggap bahwa Yoran adalah paket lengkap.
Plok.. Plok.. Vier bertepuk tangan senang begitu Yoran selesai menjelaskan pemaparan yang singkat, padat, namun begitu detail.
"Aku benar-benar suka dengan ide-idemu, Yoran! Aku sungguh menantikan semuanya dengan sangat antusias!" ucap Vier usai menyesap jus jeruknya.
"Ya, aku hanya berusaha memenuhi ekspektasimu," sahut Yoran.
Yoran menyesap kopi dari cangkirnya lalu meletakkan kembali cangkir tersebut di atas tatakan porselen putih.
"Yoran, bukankah kudengar kabarnya, kau yang akan menggarap projek dari AE Property? Aku mendengar selentingan kabar itu," kata Vier sambil mengetuk-ngetuk gelas jusnya.
"Hmm, ya, tapi aku menolaknya," jawab Yoran singkat.
"Kenapa kau menolaknya?" tanya Vier ingin tahu.
"Masalah komunikasi," jawab Yoran singkat. "Aku lebih menginginkan kerja sama dengan pihak yang bisa memberikan feedback menarik dibandingkan hanya sekadar fee yang menarik," lanjut Yoran.
__ADS_1
Vier mengulas senyumnya, ia tak salah menjatuhkan pilihan untuk bekerja sama dengan Yoran yang idealis.
"Haha, begitu ya! Aku sungguh menantikannya," sahut Vier antusias.
"Mike tolong dibantu untuk selanjutnya."
Vier melemparkan pandangannya pada Mike yang duduk di sisi lain sambil mengutak-atik tablet pintarnya.
"Baik, Pak," sahut Mike.
Mike menatap ke arah Yoran.
"Saya sudah mengirimkan draft kontrak, jika ada yang hendak didiskusikan lagi, silakan hubungi saya," kata Mike.
"Aku rasa sudah tidak ada masalah," sahut Yoran.
"Baiklah, kalau memang tidak ada masalah," sahut Vier.
Mike menyodorkan tablet pintar beserta stylus pada Vier. Vier segera membubuhkan tanda tangan digital pada kontrak diikuti Yoran.
"Terima kasih, Vier, karena sudah percaya padaku," kata Yoran sambil menjabat tangan Vier.
"Ya, aku percaya padamu karena kompetensimu, terlepas dari karena aku mengenalmu sebagai kawan lama," sahut Vier.
"Baiklah, kalau begitu aku harus pergi, masih ada hal lain yang harus kuurus, Yoran," kata Vier berpamitan.
"Ya, sampai jumpa, Vier," ucap Yoran.
"Sampai jumpa, Pak Yoseph," Mike berpamitan.
Yoran mengangguk memandangi kepergian Vier bersama asistennya yang sedari tadi entah kenapa menatap Yoran dengan tatapan penuh tanda tanya.
...*****...
"Yoseph? Maksudmu Yoran?" tanya Vier.
"Hmm, ya, beliau," jawab Mike.
"Kami sudah mengenal sejak masih SMA, berarti sudah hampir dua puluh tahun yang lalu. Haha, astaga, sudah selama itu ya," sahut Vier seraya tertawa.
"Oh begitu, apa itu artinya Pak Yoseph juga mengenal Bu Vaya?" tanya Mike.
Vier mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan dari Mike.
"Mike, aku dan Vaya itu dulu satu sekolah, kami satu angkatan. Aku dan Yoran juga bersekolah dan kami itu satu angkatan, jadi artinya apa?"
Vier balik bertanya pada Mike agar Mike menarik kesimpulan sendiri.
"Ada apa, Mike? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Vier.
"Tidak, Pak," jawab Mike.
Mike tentu tidak bisa langsung serta merta menyampaikan apa yang baru saja didapatnya beberapa saat yang lalu dari orang yang dimintanya untuk memata-matai Vaya.
Daripada salah menyampaikan informasi hingga menimbulkan perang dunia, lebih baik Mike menyimpannya dulu sambil menyelidiki kebenarannya.
...*****...
Vaya menyibukkan hari-harinya dengan pekerjaannya sambil berusaha untuk melupakan Yoran.
Setiap hari ia terus meyakini bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang benar. Hal terbaik bagi mereka berdua.
__ADS_1
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hingga hari pun berganti minggu.
Vaya menatap sendu sepasang anting berlian yang menjadi kado dari Yoran. Kado pertama sekaligus kado yang menjadi perpisahan mereka. Vaya menyimpan anting itu di laci meja kerjanya. Benda mungil dan cantik itu sungguh terlalu bagus untuknya.
Rasanya memang hampa sekali tidak ada pesan atau pun telepon dari Yoran yang menemani hari-harinya.
Apakah Yoran baik-baik saja?
Ya, semoga Yoran baik-baik saja. Itulah yang selalu diharapkan oleh Vaya.
...*****...
Mike melangkah memasuki dapur, ia berjalan menghampiri Vaya yang sedang memasak makan malam.
Mike memang mencari waktu yang tepat agar ia bisa berbincang dengan aman. Maksudnya aman di sini berarti tidak ada orang yang akan mendengar pembicaraan mereka.
"Bu Vaya," sapa Mike.
"'Oh, Pak Mike, sebentar ya, masakanku belum selesai," sahut Vaya.
Mike memberi kode kepada dua orang koki yang berada di dapur untuk meninggalkan mereka berdua.
Dua orang koki bergegas pergi sesuai kode yang diberikan oleh Mike.
"Pak Mike, ada apa?" tanya Vaya.
Vaya melihat ekspresi wajah Mike yang nampak menegang.
"Bu Vaya, sebelumnya saya minta maaf karena apa yang nanti saya sampaikan mungkin akan terdengar seperti mencampuri urusan pribadi Anda," kata Mike.
Mike berusaha menjaga setiap perkataan yang meluncur dari mulutnya. Sebisa mungkin tidak terdengar mengintimidasi atau pun menyudutkan.
"Ada apa, Pak Mike?" Vaya mengulangi pertanyaannya.
Mike menatap tajam ke arah Vaya.
"Apa Anda mengenal Pak Yoseph Randvale?" tanya Mike.
Deg..
Jantung Vaya rasanya seakan berhenti berdetak mendengar nama panjang Yoran yang disebutkan oleh Mike.
"Yoseph Randvale?" Vaya mengerutkan keningnya.
Ia berpura-pura mengingat, namun dalam hati Vaya jadi bertanya-tanya mengapa Mike menanyakan Yoran?
Apa Mike tahu sesuatu?
Oh tidak! Jangan-jangan Mike memang sudah mengetahui sesuatu!
Apa yang harus kujawab ya? Batin Vaya.
"Yoseph Randvale? Oh, sepertinya aku memang punya teman bernama Yoseph Randvale waktu masih sekolah," jawab Vaya.
"Tapi aku tidak tahu, apakah Yoseph Randvale yang kumaksud akan sama dengan Yoseph Randvale yang Anda maksud, Pak Mike," lanjut Vaya.
Vaya berusaha menutupi rasa gentarnya. Mike yang dikenalnya selalu berwajah ramah dan mengulas senyum mendadak nampak seperti orang asing yang tidak dikenalnya.
"Bu Vaya, saya minta pada Anda, jangan pernah menyakiti Pak Vier," ucap Mike.
"Saat Anda menyakiti beliau, yang akan menderita bukan hanya beliau, namun semua orang yang berada di sekitar beliau akan terkena dampaknya."
__ADS_1
Ucapan Mike terdengar begitu penuh peringatan, tanpa senyum, dan membuat Vaya meneguk ludahnya lantaran tenggorokannya yang seketika tercekat.
...*****...