
Genggaman tangan Yoran memberikan kehangatan yang menjalar di tangan Vaya, membuat Vaya merasa tenang dan nyaman. Vaya menatap manik mata Yoran yang berkilau bak mutiara hitam.
"Vaya, terima kasih karena kau pernah menyukaiku setulus hatimu," Yoran mengurai senyumnya.
Paras tampan dan senyum menawan Yoran selalu sukses membuat Vaya makin grogi. Tangan Vaya sudah banjir keringat panas dingin lengkap dengan sengatan-sengatan listrik yang menggelitik.
"Vaya, aku sungguh ingin tahu, mengapa kau bisa sesuka itu padaku?" tanya Yoran.
Vaya benar-benar merasa wajahnya memanas, rasa salah tingkah menyergapnya ke level tertinggi.
Apa yang membuatku suka pada Yoran?
Otak Vaya berputar cepat, namun mulutnya lebih dulu berucap.
"Karena kau tampan, baik, pintar, dan kau ketua OSIS," jawab Vaya.
Aduh, bodoh, apa yang aku katakan? Vaya memaki dirinya.
Jawaban spontan dari Vaya jelas membuat Yoran mengembangkan senyumnya, senyum khas bintang iklan pasta gigi di televisi.
"Ya, maksudku, kau adalah tipe orang yang pasti akan disukai oleh semua wanita. Hanya wanita yang berselera buruk saja yang tidak menyukaimu," Vaya cepat-cepat memberi klarifikasi atas pernyataannya.
Yoran masih tetap mempertahankan senyumnya, ia masih menatap Vaya yang terlihat salah tingkah. Genggaman tangan Vaya bahkan mencengkeramnya lebih erat.
"Vaya, semua yang kau ucapkan itu adalah diriku saat masih di masa sekolah," ucap Yoran.
"Lihatlah aku sekarang, aku bukan lagi seorang ketua OSIS yang disukai dan diidolakan oleh semua orang," lanjut Yoran.
"Kehidupan selepas masa sekolah adalah kehidupan yang nyata, di mana aku adalah orang yang harus memenuhi semua tuntutan kehidupan."
Vaya menatap ekspresi Yoran yang berubah murung.
"Aku merasa tidak ada orang yang benar-benar menyukaiku, bahkan istriku sendiri," lanjut Yoran.
"Eh? Bagaimana bisa, Yoran?" tanya Vaya.
Yoran menatap Vaya, tatapannya terlihat getir.
"Pernikahanku dengan Grace hanyalah sekadar pernikahan bisnis. Aku tahu Grace tidak pernah mencintaiku, meski aku selalu berusaha untuk mencintainya," jawab Yoran.
Mata Yoran menerawang jauh, ada kegetiran, kesedihan, dan kekecewaan yang terpancar dari sorot matanya yang teduh.
Vaya bisa merasakan rasa sesak yang dirasakan oleh Yoran.
"Mendengar bahwa kau masih menyukaiku, rasanya membuatku tidak percaya. Bagaimana bisa kau tetap menyukaiku selama itu? Apa yang membuatmu tetap bertahan untuk terus menyukaiku?" tanya Yoran.
Vaya terdiam, apa yang dikatakan oleh Yoran adalah sebuah kebenaran. Selama lima belas tahun terakhir ini ia terus menyukai Yoran. Menjaga rasa suka itu di hatinya, meskipun pada akhirnya harus bertepuk sebelah tangan.
"Yoran, bagiku, alasanku tetap bertahan untuk terus menyukaimu selama ini karena bagiku mencintaimu membuatku merasa bahagia," ucap Vaya.
__ADS_1
Vaya menyeka air matanya yang tiba-tiba meluncur turun.
"Jika hanya dengan mencintaimu sudah membuatku merasa bahagia, bagiku itu sudah cukup."
Vaya mengulas senyumnya, merasakan kelegaan yang luar biasa karena sudah mengungkapkan apa yang selama ini tak pernah ia ungkapkan pada Yoran secara langsung.
"Yoran, aku sungguh tidak bermaksud untuk membebanimu, aku hanya mengungkapkan apa yang selama ini kupendam, aku hanya ingin kau tahu," kata Vaya.
"Setelah mengatakan semuanya aku jadi merasa sangat lega, aku sungguh bersyukur bahwa orang yang kusukai adalah kau, Yoran," lanjut Vaya.
Yoran menatap Vaya yang berusaha tersenyum meski air mata Vaya masih mengalir.
"Seandainya saja orang yang kucintai adalah kau, pasti aku juga akan merasakan kebahagiaan itu," ucap Yoran.
"Bisa saling mencintai dan saling membahagiakan," lanjut Yoran.
Vaya kembali mengangguk. Yoran menyeka air mata Vaya, mengamati wajah Vaya.
Samar-samar ia memang mengingat saat Vaya menghampirinya, menyerahkan selembar surat padanya. Surat yang belum sempat ia baca itu sudah robek di tangan Vier yang datang menginterupsi.
Yoran mendekat lalu mengecup kening Vaya.
"Terima kasih sudah menyukaiku, Vaya," kata Yoran.
Vaya hanya bisa mengangguk sambil terisak-isak. Yoran membelai lembut Vaya, lalu membenamkan sebuah ciuman ke bibir Vaya.
Vaya terperanjat mendapat ciuman dari Yoran. Ciuman itu terasa lembut namun begitu menyedihkan.
Namun bagi Vaya saat ini, ia merasa sangat bahagia mendapatkan ciuman dari Yoran.
Ia mengalungkan tangannya ke leher Yoran. Memejamkan matanya, merasakan detik-detik yang berlalu untuk saling memagut. Untuk sejenak saling melupakan apa pun yang berada dalam pikiran mereka karena terbawa perasaan.
...*****...
Vaya mengulas senyumnya ke arah Yoran yang saat ini masih fokus mengemudi. Tangan kirinya sesekali menggenggam tangan Vaya. Yoran mengecup tangan Vaya yang berada dalam genggamannya. Kecupan tersebut sukses membuat debar jantung Vaya makin menggila.
"Vaya, sebaiknya kita makan dulu sebelum aku mengantarmu pulang," kata Yoran.
"Hmm, boleh, mau makan apa?" tanya Vaya.
"Apa pun yang kau inginkan," jawab Yoran.
Vaya rasanya ingin menjerit hingga pita suaranya putus. Saat ini ia benar-benar merasa sangat bahagia. Bisa makan malam bersama Yoran di restoran mewah pasti menyenangkan.
Namun restoran mewah jelas bukan pilihan yang baik, mengingat bisa saja Vaya bertemu dengan Vier seperti tempo hari.
"Yoran, sepertinya lebih baik kita beli burger drive thru saja," usul Vaya.
"Burger drive thru?" tanya Yoran.
__ADS_1
Vaya mengangguk cepat, ya, lebih aman makan burger drive thru.
...*****...
"Yoran, terima kasih sudah mengantarku," kata Vaya sebelum turun dari mobil Yoran.
"Hmm, ya, terima kasih sudah menemaniku hari ini, Vaya," kata Yoran.
Vaya kembali menatap Yoran, rasanya ia tidak ingin berpisah dari pria itu. Yoran kembali mengecup bibir Vaya, Vaya membalas kecupan Yoran yang singkat.
"Sampai jumpa," kata Vaya sambil membuka pintu mobil.
"Ya, sampai jumpa," sahut Yoran.
Vaya segera turun dari mobil Yoran, beberapa saat kemudian pria itu pun pergi. Vaya masih merasakan debaran jantungnya yang menggila. Lagi-lagi ribuan kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.
Vaya berjalan menuju ke mess karyawan, tempatnya selama ini tinggal sebelum pindah ke rumah Vier. Untunglah Vaya tidak mengembalikan mess-nya pada perusahaan. Hanya tempat ini yang bisa digunakan Vaya untuk singgah sejenak sebelum kembali ke rumah Vier.
Vaya mengaktifkan kembali gawai cerdasnya yang setengah hari ini ia matikan. Ia tidak ingin terganggu pekerjaan.
Syukurlah tidak ada pesan dari Evi ataupun Pak Andre karena Vaya mengambil izin tidak masuk kerja untuk urusan keluarga.
Gawai cerdas Vaya bergetar, benda berbentuk persegi panjang itu memunculkan panggilan dari nomor tak dikenal.
Vaya terbiasa mengabaikan panggilan tak dikenal yang biasanya hanyalah panggilan spam.
Drrrt.. Drrtt...
"Hihh! Siapa sih?" keluh Vaya.
Vaya merasa terganggu karena nomor itu sudah sepuluh kali meneleponnya.
Telemarketing dari asuransi apa sih?! Ngotot sekali! Gerutu Vaya.
"Selamat malam, apa benar saat ini saya sedang terhubung langsung dengan Ibu Vaya Mahalna?" Terdengar suara ramah di seberang sana.
"Ya benar, saya sendiri," jawab Vaya.
"Baik Bu Vaya Mahalna, saat ini saya hendak memberikan Anda penawaran spesial," lanjut si penelepon.
Ugh, luar biasa telemarketing asuransi ini! Sudah malam begini masih mencari klien.
"Maaf, saya tidak berkenan ikut asuransi apa pun itu! Kalau tanya alasannya apa? Ya alasannya karena saya tidak mau ikut! Itu saja alasan dari saya!" cecar Vaya.
Hening, tak ada jawaban.
"Saya memberi penawaran spesial untuk menjemput Anda sekarang. Saya tidak menerima alasan apa pun meski Anda menolak penawaran spesial saya. Salam hormat dari saya, Vierlove Yanjayadi."
"Vi- Vier!"
__ADS_1
Seketika Vaya menutup mulutnya, sebelum ia berteriak dan membuat semua penghuni mess menyambanginya.
...*****...