
Vaya benar-benar merasa deg-degan saat Vier menggendongnya ala bride style. Langkah pria itu begitu mantap saat membawa Vaya menyusuri lorong menuju ke ruangan tempat mereka akan melanjutkan aktivitas panas mereka.
Jantung Vaya berdebar dan gemuruhnya bahkan bisa terdengar jelas oleh Vier. Vaya langsung menyusupkan wajahnya di dada telanjang Vier begitu melihat bahwa arena babak selanjutnya adalah ruangan yang membuat Vaya jadi teringat pengalaman pertamanya yang meninggalkan kesan terlalu dalam.
Blam.. Pintu di belakang mereka tertutup, Vaya mempererat tangannya yang melingkari punggung Vier.
Vier segera membawa Vaya ke atas tempat tidur di ruangan dengan tirai hitam yang mengelilingi seluruh ruangan.
Jantung Vaya berdentam-dentam makin keras karena seketika teringat pada borgol yang membelenggunya dan cambuk yang memecut kulitnya.
"Ada apa, Vaya?" tanya Vier dengan nada menggoda.
"Vier, apa kau ingin memberiku hukuman?" tanya Vaya.
"Hukuman?" Alis Vier terangkat sebelah.
"Ya, bukankah kau membawaku ke ruangan ini untuk memborgol dan mencambukiku?"
Vier mengusap lembut wajah Vaya, memandangi ekspresi Vaya yang terlihat getir.
"Vaya, apa kau tahu, di rumah ini, aku punya ruang kerja pribadi sebagai tempat untukku bekerja. Aku juga punya ruang gym pribadi sebagai tempat untukku berolahraga. Dan ruangan ini adalah ruangan khusus untuk tempat bercinta."
Vier menjelaskan sambil membuka satu per satu kancing kemeja miliknya yang dipakai oleh Vaya.
"Sebenarnya aku kurang suka bercinta di tempat yang tidak seharusnya karena jujur saja membuatku kurang nyaman," ucap Vier sambil menyapukan jarinya menyusuri kulit Vaya.
Vaya menggelinjang dengan perlakuan Vier. Sentuhan Vier jelas membuat Vaya kembali merasa sangat bergairah.
"Hmm, Vier, apakah ruangan ini merupakan ruangan yang menjadi perwujudan fantasimu?" tanya Vaya.
"Fantasimu yang begitu liar dan jujur saja membuatku merasa takut," ucap Vaya.
Vier kembali menatap mata Vaya. Ia bisa melihat sorot mata Vaya yang memancarkan rasa takut.
Vier menghentikan aksi membelai kulit Vaya, lalu menarik Vaya untuk turun dari tempat tidur.
Vier menyibak tirai hitam dan membuka salah satu pintu yang permukaannya dilapisi cermin. Mata Vaya membulat melihat koleksi mainan pemuas birahi milik Vier. Cambuk, borgol, rantai, dan teman-temannya yang tersusun rapi membuat mata Vaya membulat besar.
"Vaya, bagiku mewujudkan fantasiku adalah bentuk penghargaan terhadap diriku sendiri," ucap Vier sambil mengambil cambuk ekor kuda berwarna hitam.
__ADS_1
"Semakin liar fantasi yang kumiliki, semakin besar pula penghargaan dan pencapaian yang kuraih," Vier mengulas senyumnya, memainkan cambuk ekor kuda ke telapak Vaya.
Vaya merasakan geli yang menggelitik telapak tangannya. Sapuan cambuk ekor kuda begitu halus dan lembut, otomatis membangkitkan gairahnya.
"Jadi, menurutku, buang saja semua rasa takutmu terhadap semua benda-benda ini. Karena tujuan dari semua benda-benda menakjubkan ini adalah untuk memberikan sensasi dan mewujudkan fantasi."
Senyum Vier kembali terulas.
"Vier, apakah semua benda-benda ini aman? Semuanya benar-benar terlihat menakutkan," ucap Vaya.
"Vaya, se*x toys dibuat bertujuan untuk menciptakan sensasi dan memberikan tambahan sensasi kenikmatan dengan level yang lebih. Semua benda-benda ini aman selama pemakaiannya tepat," Vier menjelaskan.
"Rasa takut tercipta karena kau sendiri yang menciptakan rasa takut itu di dalam pikiranmu," lanjut Vier.
"Vier, apa kau sudah mencoba semuanya?" tanya Vaya.
Aduh, aku bicara apa sih? Sudah jelas dia memiliki semua se*x toys ini, otomatis sudah pernah digunakannya kan?! Batin Vaya merutuki pertanyaan bodohnya.
"Hmm, kau mau mencoba semua ini?" Vier balik bertanya.
"Hmm, Vier, bukankah sudah kukatakan bahwa aku sungguh merasa takut?" sahut Vaya.
Vier kembali mengulas senyum yang menggetarkan hati wanita mana pun yang melihatnya. Tak terkecuali Vaya yang saat ini merasakan kembali gairah saat Vier memainkan cambuk di dadanya yang terbuka.
Vier mengulas kembali senyumnya melihat Vaya menggigit bibir bawahnya, menikmati sentuhan cambuk yang membuat tubuh Vaya kembali bereaksi. Puti*ng yang mengeras dan tegak menantang itu jelas mengundang Vier.
Vier benar-benar tak tahan untuk kembali menyergap Vaya, menggendong Vaya lalu membaringkannya ke tempat tidur.
Vaya segera mengambil kembali bibir Vier, bibir yang terasa manis, rasa es krim cokelat masih tersisa dan itu benar-benar sangat nikmat. Lidah mereka kembali saling memagut seakan mereka baru pertama kali melakukan belitan-belitan penuh gairah.
Vaya benar-benar tenggelam sepenuhnya dalam ciuman Vier yang memabukkan. Ya, pria itu benar-benar seperti nikotin yang menyebabkan kecanduan.
Bibir dan lidah Vier kembali berpetualang menjelajahi garis rahang Vaya, turun hingga ke leher dan tulang selangka Vaya.
"Aahh, Vier," Vaya mengeraang.
Kulitnya seakan ikut terbakar akibat panas yang terpancar dari tubuh Vier. Kejantanan Vier yang mengeras segera terbebas dari celana panjang yang dengan mudah diloloskan kembali dari tubuhnya.
Vaya segera mengaitkan kakinya di pinggang Vier yang sudah siap dalam posisi untuk menyatukan kembali diri mereka.
__ADS_1
Tubuh Vaya tersentak saat Vier sudah memasukinya secara sempurna, menghentak dengan tempo yang cepat, kemudian melambat secara bertahap.
"Aah! Aah! Vier!"
Vaya tak kuasa menahan jeritannya setiap kali Vier mendesak masuk semakin cepat dan semakin dalam.
"Menjeritlah, Vaya," Bisik Vier.
"Aku benar-benar suka mendengar jeritanmu."
"Oh, Vieer!" Vaya mengeerang lagi.
"Hmm, Vaya, milikmu benar-benar sangat sempit dan hangat," Vier mencengkeram bokong Vaya dengan kuat, menyentak dengan keras dan tanpa henti.
"Aah! Ahh, Vier!"
Vaya meracau, rasanya ia sedang terbang melayang hingga langit ke tujuh. Rasa nikmat yang memanjakannya benar-benar membuatnya tak bisa melakukan apa pun kecuali mengeraang dan melenguuh nikmat.
Malam yang semakin larut sama sekali tak menyurutkan gairah yang begitu membara di antara mereka.
Tanpa mengenal lelah keduanya masih asyik memacu untuk mendapatkan kenikmatan bertubi-tubi.
Mereka bercinta seakan tak ada lagi hari esok.
"Vieer! Aku mau keluar, ugh!"
"Ya, kita keluar bersama-sama, Vaya," ucap Vier.
Vaya menatap mata Vier yang dipenuhi dengan kabut kenikmatan.
"Aaah!"
Vaya merasakan rasa hangat yang mengalir ke dalam tubuhnya saat tubuh Vier menimpa tubuhnya.
Vier memejamkan matanya sambil mencium kembali bibir Vaya yang terbuka. Sensasi berdenyut-denyut yang memijat juniornya menjadi hal yang paling disukainya usai meraih puncak kenikmatan bersama.
Vaya memeluk erat tubuh Vier. Vaya tahu, mungkin ia bukanlah satu-satunya wanita yang pernah dipuaskan oleh Vier. Namun saat ini hal itu sungguh tidaklah penting.
Yang terpenting adalah saat ini Vier berada di sisinya. Persetan dengan semua wanita yang pernah ditiduri Vier di atas tempat tidur ini. Yang pasti saat ini, Vier berada dalam pelukannya, bukan dalam pelukan para wanita itu.
__ADS_1
...*****...