
"Fungsi utama dari rangkaian produk perawatan ini adalah mampu mencerahkan kulit yang kusam dalam kurun waktu dua bulan pasca pemakaian secara teratur dan tentunya rutin, memakan waktu lebih lama jika dibandingkan dengan produk kompetitor yang mengklaim bahwa produk mereka dapat mencerahkan kulit dalam kurun waktu tiga puluh hari. Padahal menurut para ahli, kulit manusia memiliki kemampuan beregenerasi secara alami setiap enam minggu, yang mana itu berarti sama saja hampir dua bulan."
Kepala tim peneliti dari divisi pengembangan produk perawatan kulit itu bernama Richard. Pria berusia awal empat puluh tahun ini menjelaskan produk yang dikembangkannya kepada Vier.
"Bahan-bahan aktif yang digunakan adalah bahan-bahan alami dan tidak terdapat kandungan yang berbahaya, tentunya sudah sesuai dengan standar dari badan pengawas makanan dan obat-obatan," lanjut Richard.
"Ya, aku paham, setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Selain mencerahkan, apalagi yang bisa ditawarkan?" tanya Vier.
"Menjaga kelembaban alami kulit, melembutkan kulit, meratakan warna kulit, juga melindungi kulit dari paparan sinar UVA dan UVB, sudah teruji secara klinis tidak menimbulkan alergi bahkan untuk jenis kulit sensitif," jawab Richard panjang lebar.
Vier mengoleskan produk perawatan kulit berbentuk krim itu ke punggung tangannya. Meratakan dengan gerakan perlahan, membiarkan krim tersebut meresap ke kulitnya.
"Richard, aku rasa untuk teksturnya kurang cepat meresap, tolong komposisinya diperbaiki lagi, terkadang para wanita suka mengeluh dengan tekstur produk yang tidak cepat meresap, karena akan sulit untuk dibaurkan dengan produk lain," kata Vier.
"Terlebih para wanita biasanya menggunakan produk perawatan berlapis-lapis. Menumpuknya seperti hendak membuat croissant," lanjut Vier.
"Baik, akan saya perbaiki," kata Richard.
"Dan pastikan bahwa produk ini tidak ada rasa dan aroma yang menyengat. Aku sebal sekali saat mencium wanita yang menggunakan produk kecantikan yang rasanya pahit sekali! Entah apa kandungan bahan yang diracik hingga sepahit itu!"
"Baik, saya mengerti," sahut Richard lagi.
Richard hanya bisa geleng-geleng kepala kepada temannya yang benar-benar playboy itu. Namun semua itu justru membuat Vier semakin kaya dengan meraup banyak keuntungan dari bisnis perawatan kulit dan kosmetika. Dengan berbekal pengalaman, Vier mampu mewujudkan semua keinginan para wanita yang sangat peduli pada kecantikan mereka.
"Oh ya, Richard, aku juga ingin kau mengembangkan produk untuk pria. Kau pasti tahu, banyak pria enggan menggunakan perawatan kulit lantaran merasa bahwa rangkaian perawatan itu terlalu ribet. Buatlah sebuah produk yang memiliki banyak fungsi," usul Vier.
"Kalau bisa digarap secepat mungkin sebelum ada kompetitor yang meniru lagi inovasi-inovasi produk OMG!"
"Baik, saya dan tim akan menggarapnya dengan cepat," lanjut Richard.
Mata Vier menangkap sosok wanita berkulit paling gelap di antara anggota tim Richard.
"Kau," panggil Vier.
"Saya, Pak?" tanya wanita itu.
"Kemari," kata Vier.
Wanita itu segera mendekat ke arah Vier. Wanita berperawakan tinggi dan kurus itu terlihat salah tingkah karena ditatap oleh pria setampan Vier.
"Kenapa warna kulit di wajahmu nampak tidak merata seperti itu?" tanya Vier keheranan.
__ADS_1
"Oh, ini, dulu saya pernah memakai krim perawatan kulit abal-abal," jawab wanita itu tertunduk malu.
"Kenapa kau memakai krim perawatan itu?" tanya Vier.
"Saya ingin mencerahkan kulit saya, katanya produk itu bagus, banyak reviewnya, bahkan sudah terdaftar BPOM, namun ternyata begitu pemakaian dihentikan jadinya malah seperti ini," jawab wanita itu kembali tertunduk lemah.
"Begitu ya, sebenarnya standar kecantikan kulit bukanlah dilihat dari tingkat kecerahannya, melainkan dari kesehatannya. Untuk apa punya kulit cerah namun banyak masalah? Semua wanita itu cantik, karena mereka terlahir sebagai wanita. Yang tampan itu adalah pria!"
Vier mengakhiri orasinya dengan menatap satu per satu anggota tim pengembangan produk.
"Baiklah, kalau begitu, silakan kembali bekerja," Vier berpamitan.
Vier dan Mike meninggalkan laboratorium tempat Richard dan timnya bekerja. Melanjutkan kembali pekerjaan untuk mengunjungi pabrik perawatan kulitnya.
"Mike, segera hubungi Vaya. Aku mau dia segera memulai program kelayakan sebagai istriku," kata Vier.
"Program kelayakan?"
Mike menghentikan langkahnya. Apa ia tidak salah dengar?
"Ada apa, Mike?"
"Maaf, Pak Vier, saya tidak mengerti apa maksud Anda dengan program kelayakan untuk Bu Vaya?" kata Mike.
"Mike, bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa Vaya adalah istriku, sehingga aku bebas melakukan apa pun padanya? Vaya bahkan sudah menandatangani aturan pernikahan yang kubuat, itu artinya dia benar-benar berada dalam genggamanku, kan?"
Vier menyeringai horor.
"Baiklah, saya akan menghubungi Bu Vaya," Mike mengambil gawai cerdasnya.
Mike segera menghubungi Vaya. Vier sudah merencanakan banyak hal yang harus dilakukan oleh Vaya. Wanita itu harus mulai belajar untuk terlihat layak mendampingi Vier sebagai istri.
Sungguh tidak lucu sekali jika Vaya dianggap sebagai seorang pembantu. Benar-benar sangat memalukan dan menjatuhkan harga diri Vier sebagai seorang suami. Meski pernikahan mereka bukanlah seperti pernikahan pada umumnya yang berlandaskan cinta dan kasih sayang, tetap saja mereka berdua adalah pasangan suami istri yang sah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
"Pak Vier, mohon maaf, malam ini Bu Vaya ada lembur, sehingga beliau akan pulang terlambat."
Mike memberi laporan, singkat dan padat. Vier mendelik gusar, matanya bahkan berputar-putar.
"Kenapa susah sekali mengatur wanita itu?" Vier menyeringai menahan rasa kesalnya.
Vier melanjutkan kembali langkahnya dengan gusar.
__ADS_1
Wanita itu benar-benar harus diberi hadiah menarik agar bisa bersikap lebih baik!
...*****...
Vaya memasuki tempat makan angkringan yang begitu padat dipenuhi pengunjung. Stand yang menyajikan makanan diserbu pengunjung. Beraneka macam lauk dihidangkan dengan tusuk sate berjajar rapi dalam wadah persegi berwarna-warni. Para pengunjung cukup mengambil piring rotan yang diberi alas berupa kertas nasi lalu dipersilakan sendiri mengambil lauk yang dihidangkan. Harga lauk pun bervariasi, tergantung lauk apa yang diambil, namun semua harganya tentulah murah meriah.
Vaya mengambil sate usus ayam, otak-otak, dan satu bungkus nasi bakar ikan suwir untuk mengisi piringnya.
"Bu Vaya, tambah lagi lauknya," kata Pak Andre.
"Tidak, Pak, cukup ini saja," sahut Vaya.
"Wah, padahal semuanya terlihat enak lho, Bu," kata Pak Andre sambil mengambil beberapa tusuk sate ayam untuk mengisi piring Vaya.
"Waduh, Pak, banyak sekali," kata Vaya.
"Tidak apa-apa," sahut Pak Andre.
"Mas, dihitung saja semua, mereka semua anggota saya, nanti saya yang bayar," kata Pak Andre kepada sang kasir.
"Terima kasih, Pak Andre!" seru para pegawai serempak berterima kasih.
Lamia menjadi satu-satunya orang yang merasa kesal di antara semua orang yang begitu antusias memilih lauk untuk dimakan.
Ia benar-benar sangat kesal dengan keakraban antara Vaya dan Pak Andre.
Lamia menerobos lalu menyenggol Vaya secara sengaja.
"Aduh!" seru Lamia.
Seketika Lamia terjatuh dan membuat isi piring Vaya tumpah mengotori pakaian Vaya.
Haha! Rasakan! Batin Lamia senang.
...*****...
Pembaca setia, author menyapa lagi. Teruntuk para pembaca yang dipenuhi dengan kehaluan, author ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi pembaca yang menjalankannya. Yang tidak berpuasa, hormati yang berpuasa ya.
Yuk, dukung terus karya ini dengan tinggalkan jejak cinta like, kolom komen, kolom hadiah, kolom vote, kolom favorite biar nggak ketinggalan update.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1