
"Vier, sungguh, tidak perlu mengantarku ke kantor."
Vaya masih berusaha melakukan negosiasi dengan Vier. Vaya sungguh enggan diantar ke kantor oleh pria itu.
Vier masih terpaku pada tablet pintarnya, memeriksa pekerjaan selagi ada waktu.
"Coba sebutkan dan jelaskan alasan mengapa aku tidak boleh mengantarmu ke kantor? Apa karena ada pria lain yang kau kencani di kantormu?" tanya Vier tanpa teralih dari tablet pintar.
Mike yang sedang mengemudi mencuri pandang melalui kaca spion. Menyaksikan sepasang suami istri penuh drama yang membuatnya pusing sendiri.
Vaya mendelik gusar, rasanya ia benar-benar ingin muntah saking kenyangnya dituduh melakukan perselingkuhan.
Vaya jadi teringat, orang yang selalu menuduh berselingkuh biasanya justru merupakan oknum yang melakukan perselingkuhan. Bersikap over protektif padahal tujuannya untuk menutupi perselingkuhannya.
Huh, padahal aku tidak peduli meski Vier melakukan perselingkuhan di luar sana, batin Vaya.
Jadi, semakin cepat aku menghirup kebebasanku kan?
"Vier, terserah kau menilainya seperti apa," sahut Vaya.
Vier menyeringai sambil menyundul-nyundul kepala Vaya.
"Aku ini sudah berbaik hati mengantarmu ke kantor, padahal aku sangat sibuk. Jadi hargai kemurahan hatiku ini! Mengerti?"
Kepala Vaya bergoyang-goyang persis seperti hiasan boneka yang dipajang di dashboard mobil.
Vaya benar-benar kesal, ia membuka tasnya, mengambil dompet lalu mengeluarkan kartu kredit Vier, menjejalkan kartu kredit pemberian pria itu agar Vier bungkam.
"Nih, gesek sendiri berapa nominal untuk menghargaimu!"
Ingin rasanya Vaya berkata seperti itu, namun apa daya, ia hanya bisa membayangkan dalam benaknya saja.
"Vier, aku benar-benar sungguh terharu dengan kemurahan dan kebaikan hatimu. Sungguh terima kasih banyak," kata Vaya.
Vier mengerutkan keningnya melihat Vaya yang menyeringai horor. Terlihat jelas bahwa wanita itu tidak berterima kasih padanya secara tulus alias terpaksa.
"Hmm, begitu ya, kalau begitu, berikan aku tindakan nyata dari rasa berterima kasihmu itu," sahut Vier.
"Hee?" Vaya tersentak kaget.
"Kemari," Vier menunjuk bibirnya.
"Vier, apa maksudmu?"
Vier memonyongkan bibirnya sambil mengetuk-ngetuk bibirnya.
"Apa kau ingin aku menciummu?" tanya Vaya.
"Tidak, tonjok aku sekarang," jawab Vier.
"Hee? Tonjok?" Mata Vaya membulat besar.
"Coba saja kalau kau berani menonjokku. Kuperkosa kau sekarang juga," Vier menyeringai horor.
"Ugh!" Vaya kembali memajukan bibirnya bersenti-senti.
Vier menyeringai jahat.
"Ayo lakukan!" tantang Vier.
Vaya merangkul leher Vier, memejamkan matanya dan membiarkan bibirnya kembali terbenam di bibir Vier.
Vier mengulas seringaiannya begitu melepaskan ciuman.
__ADS_1
"Nanti siang, kita makan siang bersama. Aku akan menyuruh sopir untuk menjemputmu," kata Vier.
"Vier, aku rasa tidak perlu," Vaya menggeleng.
Ekspresi Vier berubah masam.
"Jadi, kau lebih memilih untuk makan siang dengan Iron Man itu daripada aku?"
Aduh, dasar Vier gila!
"Bu Vaya, kita sudah sampai," kata Mike menyela.
"Oh, sudah sampai ya," sahut Vaya.
"Vaya, kita makan siang bersama," Vier menahan tangan Vaya.
"Ya, ya, lihat saja nanti," sahut Vaya.
Sebelum turun dari mobil, Vaya celingukan terlebih dahulu. Ia memastikan bahwa tidak ada rekan kerjanya yang memergokinya turun dari mobil mewah.
Tentu saja Vaya tidak mau repot-repot menjelaskan kepada semua orang mengapa ia bisa turun dari sebuah mobil mewah.
Vier memicingkan matanya melihat Vaya yang celingukan seperti itu.
"Mike, lihatlah, Vaya celingukan seperti dia baru saja turun dari bajaj! Apa mobilku ini masih kurang bagus ya?" keluh Vier.
"Saya rasa tidak seperti itu, Pak," Mike menanggapi.
"Lantas kenapa Vaya bersikap seperti itu? Apa begitu memalukan aku mengantarnya pergi ke kantor? Atau dia sungguh tidak ingin kekasih gelapnya melihatku mengantarnya?" tanya Vier.
"Lihat, Pak!"
Vier terkejut melihat puluhan orang yang menghampiri mobil mewahnya. Ekspresi mereka semua sama yakni terkagum-kagum bahkan ada yang bersiap untuk berswafoto.
Mike segera menginjak pedal gas, meninggalkan kerumunan orang-orang yang merasa kecewa karena mobil mewah tersebut meninggalkan mereka.
...*****...
Vaya bergegas memasuki gedung kantornya, tiba-tiba saja tiga orang wanita menghadang langkahnya. Tiga wanita yang jujur saja tidak ingin ditemui Vaya pagi ini. Nola, Mery, dan Lamia menyambut Vaya dengan senyum sumringah.
"Pagi, Vaya, siapa tuh yang mengantarmu?" tanya Nola.
"Mengantarku?" Vaya pura-pura balik bertanya.
"Aku melihatmu turun dari mobil super mewah lho," sahut Mery.
"Ehemm, aku juga lihat lho," Lamia menimpali.
"Oh, itu taksi daring," sahut Vaya.
"Hello, Vaya! Tidak mungkin mobil semewah itu adalah taksi daring!" sergah Nola.
"Vaya, aku juga sering tuh panggil taksi daring, tapi ya paling sering dapatnya Ayalah atau Agiyah," sahut Mery.
"Oh, kalian hanya kurang beruntung saja," sahut Vaya.
Lamia memandangi penampilan Vaya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Tas tangan yang dibawa Vaya langsung menyita perhatian Lamia.
"Wah, tas baru ya, Bu Vaya?" kata Lamia.
"Kau hanya baru melihatnya saja, Lamia," ucap Vaya.
"Wah, bagus juga tas kw-mu, beli di mana, Vaya?" tanya Nola.
__ADS_1
"Ini Hermas kw berapa, Vaya?" tanya Mery.
"Hehe," Vaya menyeringai kikuk.
"Ih, aku ya, daripada pakai Hermas kw-kw, lebih baik beli saja di konter yang ada di mall! Malu aku tuh pakai barang kw! Berasa jadi sosialita gagal! Hehe!" Nola melemparkan ejekannya pada Vaya.
"Haha, teman-teman, aku ke ruanganku dulu ya," Vaya berpamitan.
Vaya melangkah cepat, ia mengamati penampilannya di dinding lift. Pakaiannya yang modis, sepatu, dan tas dari rumah mode ternyata memang tidak sesuai untuknya. Tas Hermas dengan harga miliaran yang dibawanya ini pun ternyata nampak seperti tas kw super di mata rekan-rekan kerjanya.
Harusnya ia tidak usah memedulikan Vier yang memaksanya untuk tampil berkelas. Ujung-ujungnya Vaya justru mendapat ejekan dari teman-temannya.
...*****...
Vaya memasuki sebuah restoran yang berada di hotel berbintang lima sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Vier. Pria itu ingin makan siang bersama Vaya.
Ada apa sih dengan, Vier? Kenapa kelakuan gilanya makin menjadi-jadi? Batin Vaya sambil duduk di salah satu meja yang telah direservasi.
Pelayan menyerahkan buku menu untuknya.
"Permisi, Bu, apa mau langsung memesan?" tanya pelayan itu.
"Nanti saja," jawab Vaya.
"Baik, silakan panggil jika sudah siap memesan," pelayan itu berpamitan.
Vaya duduk menunggu sambil berkutat dengan gawai cerdasnya untuk berselancar di dunia maya.
Sepuluh, dua puluh menit telah berlalu.
"Ke mana sih, Vier? Ini sudah mau jam satu siang. Aku harus kembali ke kantor," gumam Vaya.
Gawai cerdasnya berdering, ia segera menjawab telepon dari Mike.
"Halo, Pak Mike, kalian di mana?"
"Bu Vaya, sebelumnya saya minta maaf, saat ini Pak Vier mendadak ada urusan pekerjaan," Mike menjelaskan.
"Jadi, maksud Anda, Vier tidak datang kemari?" tanya Vaya.
"Benar, Bu. Oleh karena itu, silakan Anda makan siang tanpa Pak Vier, sampai nanti Bu."
Mike mengakhiri teleponnya. Vaya mendengus kesal.
"Hih! Dasar Vier! Aku bahkan susah payah meminta izin untuk meninggalkan kantor di saat pekerjaanku menumpuk! Apa aku kena prank?"
Vaya mengamati sekeliling restoran, mencari letak kamera tersembunyi yang saat ini mungkin sedang menyorotnya.
Tidak ada!
"Huhh!" Dengus Vaya lagi.
"Vaya?"
Vaya langsung berdebar-debar tak karuan begitu melihat sosok seorang pria yang berjalan menghampirinya.
...*****...
Jangan lupa tinggalkan jejak cinta, kasih sayang, dan perhatian para haluers.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1