Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
167 - Pencarian Vier


__ADS_3

Mike mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang. Sesekali ia melirik dan mengawasi Vier yang tengah melamun memandang ke luar jendela.


Saat ini Vier dan Mike sedang berada dalam perjalanan untuk mencari keberadaan Vaya. 


Vier jadi teringat pada pertemuannya dengan Rian beberapa waktu lalu sebelum memulai perjalanannya untuk mencari sendiri di mana Vaya berada.


"Mengapa Vaya melarangmu untuk memberitahu keberadaannya?" tanya Vier pada Rian.


Rian menunduk, lidahnya terasa kelu dan kaku untuk membicarakan di mana Vaya. Vaya sudah mewanti-wanti Rian untuk tidak memberitahukan keberadaannya. Tujuannya tentu saja untuk melindungi Vaya dan keluarganya.


"Kak Vaya melarang saya," jawab Rian.


"Apa tujuan Vaya melarangmu, Rian?" tanya Vier lagi.


"Kak Vaya hanya ingin melindungi keluarga kami," jawab Rian.


"Melindungi keluarga kalian dari siapa?" tanya Vier.


"Dari orang-orang yang hendak berbuat jahat terhadap keluarga kami, itu saja, Kak Vier," jawab Rian.


Vier menghela napas berat. Ia tentu bertanya-tanya mengapa Vaya sampai berbuat sejauh itu dengan menghilangkan jejaknya?


Vier mengepalkan tangan dengan erat, rahangnya mengetat menahan rasa kesalnya.


"Rian, apa Vaya sudah menikah lagi dengan pria lain makanya dia sengaja menghilang seperti ini?" tanya Vier.


"Bukannya justru Kak Vier yang sudah menikah lagi?" Rian balik bertanya.


"Apa?! Aku menikah lagi?!" Vier terperangah lalu melempar tatapannya pada Mike.


"Rian, itu hanya salah paham saja. Pak Vier tidak mungkin menikah lagi lantaran beliau masih terikat pernikahan yang sah dengan Bu Vaya," Mike menjelaskan pada Rian.


Rian masih menatap Vier dan Mike dengan tatapan skeptis.


"Maaf, Kak, sebenarnya saya tidak mau ikut campur urusan antara Kak Vaya dan Kak Vier. Hanya saja saya sudah diminta oleh Kak Vaya seperti itu," kata Rian.


Vier dan Mike saling berpandangan. Vier lagi-lagi menghela napas berat. Sungguh tipikal Vaya yang begitu keras kepala.


"Baiklah, Rian. Aku mengerti dan aku menghargai keputusan Vaya. Hanya saja, aku minta padamu secara pribadi."


"Sudah saatnya aku datang dan menjemput Vaya. Aku sungguh tidak bisa menahan diri lebih lama lagi," kata Vier.


Vier masih menatap lurus ke arah Rian. Ia berusaha untuk mengendalikan rasa geram dan emosinya.


"Jika kau memang sungguh tidak mau memberitahuku di mana keberadaan Vaya. Maka aku akan mencari Vaya dengan caraku sendiri," Vier memberikan sedikit ancaman pada nada bicaranya yang tenang.


"Itu benar, bagi saya, tidak masalah mengerahkan lebih dari sepuluh batalyon atau paling sedikit sepuluh peleton pasukan bayaran untuk mencari Bu Vaya," Mike menambahkan.


Rian tertegun mendengar dua pria yang saat ini terlihat jelas sedang mengancamnya. Terlintas dalam benak Rian saat Vaya digerebek oleh pasukan yang menghebohkan jagat media sosial.


Rian jadi ragu, bagaimana jika Vaya marah karena Rian sudah membocorkan di mana lokasi keberadaan kakaknya itu?


"Hmm, anu, Kak Vier," kata Rian ragu-ragu.


"Kak Vier, pasti tahu kan bagaimana Kak Vaya kalau dia sudah marah jika aku memberitahu Kak Vier di mana Kak Vaya berada?" kata Rian.


Vier dan Mike masih memusatkan perhatian mereka pada Rian.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku memberitahu Kak Vier ancar-ancarnya saja?" Rian menawarkan.


...*****...


Itulah hal yang disampaikan oleh Rian sehingga Vier dan Mike pun akhirnya melakukan perjalanan untuk menemukan Vaya. 


Perjalanan yang panjang dan jauh menerobos jalur pegunungan dan hutan, memasuki daerah-daerah terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan hingar-bingar perkotaan.


Mereka bahkan sempat menginap sebelum melanjutkan kembali perjalanan yang benar-benar jauh, menembus belantara yang seakan tak berujung.


Cuaca pun mulai tidak bersahabat lantaran hujan yang mengguyur begitu deras bak adanya badai membuat Mike dan Vier harus mencari tempat persinggahan terdekat yang mereka temui.


Mike menepikan mobil yang dikemudikannya di sebuah warung kecil yang berada di pinggir jalan. Warung kecil itu tutup namun bagi Mike apa salahnya mencoba singgah di tempat itu. 


...*****...


"Kita bahkan tidak tahu, apakah di depan sana ada tempat untuk singgah Pak, jadi saya rasa tempat inilah satu-satunya kesempatan kita untuk beristirahat. Lagipula di warung tersebut hanya ada bocah kecil yang berjaga."


Mike menjelaskan pada Vier begitu ia kembali setelah melakukan negosiasi yang begitu alot dengan bocah kecil penunggu warung tersebut.


"Hmm begitu ya," sahut Vier masam.


Mike mengangguk meski ia tahu bahwa Vier tidak bersedia untuk singgah. Vier hanya ingin secepatnya menemukan Vaya.


Namun setelah melakukan berbagai pertimbangan, Vier akhirnya turun dari mobil dan memasuki warung kecil itu.


Matanya langsung terpaku pada bocah kecil yang memasang sikap begitu defensif.


Bocah kecil itu bahkan menyita kartu identitas dan gawai cerdas milik Mike sebagai jaminan bahwa Vier dan Mike bukanlah orang yang hendak berbuat jahat.


"Sungguh bocah yang pandai sekali," komentar Vier.


"Jadi, Pak Mike dan Pak Vier, Anda mau minum apa? Teh? Kopi?" tanya Vero.


"Apa kau punya minuman selain teh dan kopi?" tanya Mike.


"Hmm, ada susu dan juga jus kemasan," jawab Vero. "Dan minuman penambah energi."


Mike dan Vier kembali saling berpandangan.


"Kalau begitu jus kemasan saja," kata Mike.


Vier masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling warung yang sederhana. Bangunan dari kayu yang nampaknya sudah begitu lama berdiri.


"Oh ya, Vero, ngomong-ngomong, mengapa kau sendirian seperti ini? Di mana orang tuamu?" tanya Vier.


Vero datang dengan membawa baki berisi dua kotak jus kemasan lalu meletakkannya di atas meja.


"Orang tuaku sedang tidak ada di rumah," jawab Vero.


"Ke mana orang tuamu? Sungguh keterlaluan meninggalkan anak kecil sendirian seperti ini. Ini sama saja seperti penelantaran anak!" tukas Vier.


"Penelantaran anak?" tanya Vero.


"Ya, orang tuamu bisa dipenjara lho karena sudah menelantarkan anak seperti ini," sahut Vier.


"Apa? Penjara?" tanya Vero dengan matanya yang membulat besar.

__ADS_1


"Tapi, tapi penjara kan tempat orang-orang jahat! Ibuku bukan orang jahat!" kata Vero.


"Kalau memang ibumu bukan orang jahat, kenapa ibumu sampai meninggalkanmu sendirian seperti ini?" tanya Vier.


"Ibuku tidak meninggalkanku pergi! Ibuku hanya pergi ke pasar! Nanti juga kembali!" sahut Vero.


"Oh begitu, lalu bagaimana dengan ayahmu?" tanya Vier.


"Ayahku tidak ada," jawab Vero.


Ekspresi Vero terlihat murung.


"Ayahmu tidak ada? Ke mana ayahmu?" tanya Mike.


"Tidak tahu! Kata ibuku, ayahku bekerja, tapi sampai sekarang aku bahkan tidak pernah tahu siapa ayahku. Aku rasa ibuku berbohong, mungkin sebenarnya aku tidak punya ayah," jawab Vero.


Vier dan Mike kembali saling berpandangan. 


"Vero, kau tidak mungkin tidak punya ayah. Kau pasti punya ayah, tapi mungkin saja kau ditelantarkan oleh ayahmu," kata Vier.


"Ditelantarkan ayahku?" tanya Vero.


"Ya! Itu sudah pasti! Ayahmu pastilah orang yang sangat jahat!" sahut Vier.


"Berarti itu artinya yang harusnya masuk penjara adalah ayahku! Benar begitu kan?!" ucap Vero.


"Hmm, ya, harusnya memang seperti itu," sahut Vier enteng.


"Baiklah, kalau begitu, nanti aku akan meminta ibuku supaya ayahku dipenjara saja!" kata Vero.


"Ya! Aku rasa itu ide bagus!" Vier menyeringai.


"Pak Vier, saya rasa itu bukan ide yang bagus," bisik Mike. "Vero bahkan tidak tahu siapa ayahnya, bukankah itu berarti, ibu Vero pasti bukan wanita baik-baik?"


"Tidak, Mike, aku melihat potensi besar pada Vero. Vero sungguh bocah yang sangat pandai. Entah mengapa dia mengingatkanku pada saat aku masih kecil," Vier berbisik.


"Hmm, ya, ngomong-ngomong Vero memang terlihat seperti versi mini Anda," sahut Mike.


"Mike, kau jangan mengada-ada! Aku bukan pria yang asal menebar benih! Apalagi sampai ke pedalaman seperti ini! Apa kau pikir aku mau meniduri orang hutan? Huh!" dengus Vier dengan suara serendah mungkin.


"Oh ya Mike, tolong ambilkan pakaian ganti untukku. Pakaianku jadi lembab dan kurang nyaman," titah Vier.


"Baik Pak," sahut Mike.


"Vero, ngomong-ngomong toiletnya di mana?" tanya Vier.


"Toiletnya di dekat tangga itu, Pak Vier," jawab Vero.


Vier segera memasuki toilet sementara Mike kembali ke luar menuju ke mobil yang ia parkir di samping rumah.


...*****...


Sementara itu, Vaya baru saja menurunkan barang-barang bawaannya dari mobil yang ia tumpangi. Kehujanan membuat tubuh Vaya menggigil.


"Vero!" seru Vaya begitu memasuki rumah.


Vaya segera menuju ke toilet dan membuka pintu toilet.

__ADS_1


"Kyaaaa!" teriak Vaya.


...*****...


__ADS_2