
"Kami sungguh minta maaf."
Erika dan Gaby, dua wanita itu membungkuk dalam, lalu menatap takut-takut ke arah pria yang saat ini melipat kedua tangannya di depan dada.
Pria tampan dengan tatapan yang benar-benar mengintimidasi kedua wanita itu.
"Ck, aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana kalian dengan mudahnya melakukan pengeroyokan? Apa coba tujuannya? Biar viral di media sosial? Biar kalian terkenal dan diundang ke stasiun televisi?"
Vier melemparkan rentetan pertanyaan yang membuat dua wanita itu hanya bisa menunduk terdiam.
"Kau!"
Vier menunjuk pria muda bernama Sammy yang menatap takut-takut ke arah Vier.
"Kalau kau memang sudah tidak suka dengan pacarmu, putuskan saja! Jangan mencari pelarian ke wanita lain! Lihat akibatnya! Hanya gara-gara wanita yang kau bawa terlihat mirip dengan istriku, akhirnya istriku harus diserang seperti ini!" cecar Vier.
Sammy, pria muda itu hanya bisa meneguk ludahnya dengan rasa gentar yang tak bisa disembunyikan.
"Maaf Pak, bukan seperti itu," Sammy menyela Vier.
"Huh! Aku tidak mau tahu! Aku akan membawa masalah ini ke meja hijau!" tandas Vier.
"Pak, Pak! Tolong jangan begitu!" Erika dan Gaby memohon.
Keduanya pun segera beralih pada Vaya.
"Kakak, tolong maafkan kami! Kami sungguh salah mengenali, kami benar-benar sembrono," Gaby memohon pada Vaya.
"Iya Kak, kakak begitu cantik dan eksotis, sehingga kami sampai salah melabrak orang! Kami sungguh menyesal!" Erika turut memohon pada Vaya.
"A-aku cantik dan eksotis?" Vaya menyeringai.
"Kakak, kami sungguh minta maaf! Kalau Kakak terluka, kami akan ganti biaya pengobatan!" lanjut Erika.
"Kami sungguh menyesal," Gaby dan Erika memohon dengan sangat.
Keduanya bahkan sudah mulai bercucuran air mata.
"Aku tidak peduli! Kalian harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kalian lakukan!" tandas Vier.
"Apa kalian lebih memilih untuk diikat dan digantung terbalik di alun-alun kota? Atau kalian diikat dan ditenggelamkan bersama jangkar kapal di tengah laut? Ayo, silakan pilih yang mana," Vier menyeringai horor.
Vaya mendelik gusar, pilihan dari Vier sungguh membuat siapa pun tidak bisa memilih.
"Pak! Tolong, Pak! Ampuni kami! Kami mengaku salah!" Erika dan Gaby kembali memohon.
Keduanya bahkan kini sudah berlutut dan mengiba di depan Vier dan juga Vaya.
Vaya sungguh merasa kasihan kepada dua wanita muda itu. Keduanya memang bersalah karena sudah menyerang Vaya, namun semua itu terjadi karena kesalahpahaman.
Tak terbayangkan oleh Vaya jika kedua wanita muda itu benar-benar harus diikat dan digantung terbalik di alun-alun kota. Bisa-bisa mereka viral dan langsung masuk ke akun sosial media lambe-lambean.
Ih waww minceu takut! Gara-galah salah labrak digantung kebalik deh..
Begitulah kira-kira caption dari admin sosial media lambe-lambean.
Berkat kelincahan dan rasa ingin tahu warganet yang luar biasa, akhirnya diketahuilah bahwa korban salah penyerangan adalah Vaya.
Tak bisa dibayangkan oleh Vaya ketika kejadian itu benar-benar viral dan namanya harus menjadi bulan-bulanan warganet.
Hanya demi wanita bertampang seadanya, dua wanita muda digantung terbalik di alun-alun kota. Fakta nomor tiga sangat membagongkan.
__ADS_1
Tidak! Tidak! Itu benar-benar mengerikan! Vaya menepis semua pikiran buruknya.
"Apa kalian sungguh tulus meminta maaf?" tanya Vaya.
"Ya, kami sungguh minta maaf," sahut Erika dan Gaby.
"Apa kalian berjanji untuk tidak akan melakukan hal seperti ini lagi di masa yang akan datang?" tanya Vaya.
"Tentu saja!" sahut Erika.
"Pasti Kak, itu pasti! Aku bersumpah demi Tuhan!" Gaby menimpali.
"Ya sudah, aku memaafkan kalian," kata Vaya.
"Vaya!" Vier melotot ke arah Vaya.
"Tidak apa-apa, Vier," kata Vaya meyakinkan.
"Tidak apa-apa apanya?!" sergah Vier. "Mereka jelas-jelas mengeroyokmu, Vaya! Dan aksi tidak terpuji mereka ini diabadikan oleh orang-orang yang berada di sekeliling kalian!"
"Sebentar lagi perkelahian kalian akan masuk di media sosial dan menjadi perbincangan! Ini jelas bukan sebuah prestasi yang membanggakan!" tuntut Vier.
"Vier," kata Vaya sambil menatap Vier.
Vier menghela napas berat, lalu melemparkan pandangannya kepada tiga orang asing di hadapannya.
"Pak, apakah tidak bisa kita semua berdamai saja? Lagipula Kakak cantik ini sudah memaafkan kami," kata Erika.
"Hei, seenaknya saja kalian mengatakan damai! Kalian cari gara-gara dengan istriku itu sama saja kalian juga mencari gara-gara denganku!" tandas Vier.
"Pak, jadi apa yang harus kami lakukan untuk menyelesaikan masalah ini secara damai?" tanya Sammy.
Vier menyeringai.
"A-apa?!" seru ketiga orang di hadapan Vier secara serempak.
"Ya, aku butuh identitas kalian untuk membuat pernyataan tertulis di depan kuasa hukumku!" Vier menyeringai.
Vaya tertegun mendengar ucapan Vier.
"Aku akan mengirimkan tim kuasa hukum yang akan membantu kalian membuat surat permohonan maaf dan pernyataan tertulis," lanjut Vier.
...*****...
Vaya dan Vier meninggalkan restoran tersebut setelah urusan mereka dengan pelaku pengeroyokan Vaya berakhir.
Vaya segera memasuki mobil begitu Vier membukakan pintu untuk Vaya.
"Jadi, kau mau ke mana lagi setelah ini? Apa masih ada restoran lain yang hendak kau kunjungi?" tanya Vier sambil duduk di belakang kursi kemudi.
Ia mulai memakai sabuk pengamannya dengan mata yang tak lepas memandangi Vaya.
"Hmm, anu, Vier," kata Vaya.
"Anu apa?" tanya Vier.
"Vier, kenapa sih, kau masih bersikeras membawa masalah pengeroyokanku ke ranah hukum? Bukankah mereka sudah menyesali perbuatan mereka dan meminta maaf?"
Vaya menatap Vier yang nampak mengernyitkan keningnya.
"Ck, Vaya! Vaya!" Vier menyugar rambutnya.
__ADS_1
Vier menghela napas berat, dengan mata yang masih tak luput memandangi wajah Vaya.
"Vaya, apa kau ini sungguh tidak paham apa maksudku?" tanya Vier.
Vier mengambil rambut Vaya yang tergerai, memainkan helaian-helaian itu dengan jemarinya.
"Aku sungguh tidak terima pada oknum-oknum yang berbuat semena-mena padamu! Seenaknya saja menuduhmu, menyerangmu tanpa merasa benar-benar bersalah! Sungguh lancang!"
Vaya tertegun, rasanya saat ini ribuan kupu-kupu berkeliaran menggelitiki perutnya.
"Yang boleh berbuat semena-mena, yang boleh menuduhmu, menyerangmu tanpa perlu merasa bersalah hanyalah aku!"
Vier menyeringai sambil mencium rambut Vaya. Vaya mencebik, rasanya sia-sia saja ia berdebar-debar karena ucapan Vier.
"Hmm, ya, ya, yang boleh berbuat semena-mena ya," cibir Vaya.
Vier menyeringai sambil menatap Vaya lekat-lekat lalu mengambil dagu Vaya.
"Ya, tentu saja hanya aku yang boleh berbuat semena-mena padamu, karena kau adalah milikku," lanjut Vier.
"Hmm, Vier, kalau kau ingin menciumku, aku rasa lebih baik jangan kau lakukan," Vaya menyeringai.
"Hmm?" Alis Vier mengerut.
"Haah! Haah! Mulutku bau seafood yang tidak bisa kau makan," kata Vaya beralasan.
Sebelah alis Vier terangkat tinggi.
"Vaya! Beraninya kau ber-haah-haah di depan wajahku!" sergah Vier.
"Vi-Vier, aku hanya ingin membuktikan padamu saja," Vaya terbata.
"Membuktikan apa?" tanya Vier. "Membuktikan kalau mulutmu itu selebar mulut kuda nil?" ejek Vier.
"Ku-kuda nil?" Vaya mengerucutkan bibirnya.
Vier menyeringai.
"Kalau begitu, aku ingin merasakan seperti apa rasanya semua seafood yang sudah kau makan dengan mulutmu yang selebar kuda nil ini."
"Vi-Vier, mulutku, benar-benar bau..."
Ucapan Vaya belum selesai dan Vier sudah membenamkan bibirnya ke bibir Vaya.
Vaya tidak tahu, saat ini lagi-lagi perutnya terasa panas dan tegang.
Vaya memejamkan matanya, menikmati bibir mereka yang saling beradu. Ciuman Vier benar-benar begitu lembut dan dalam. Ritme yang teratur membuat Vaya bisa tetap bernapas dengan baik.
Vier menyentuh lembut kedua pipi Vaya yang memanas, begitu juga dengan Vaya yang menyusurkan jarinya ke rahang Vier. Merasakan suhu tubuh Vier yang makin meningkat setiap detiknya.
Mereka saling melemparkan pandangan begitu ciuman mereka berakhir.
...*****...
Tak butuh waktu lama bagi Vaya untuk segera masuk ke dalam kamar hotel bertipe presidensial. Begitu pintu tertutup dan lampu menyala berkat kartu ruangan, Vier segera mendorong Vaya ke dinding sambil menatap Vaya lekat-lekat.
Vaya mengalungkan kedua tangannya di leher Vier, membiarkan bibirnya kembali terendam dalam bibir Vier.
Saat ini naluri mengambil kendali atas diri mereka. Dengan cepat Vier membuka kancing kemeja Vaya, begitu juga dengan Vaya yang membuka jas Vier berikut dengan apa pun yang menempel di tubuh pria itu.
...*****...
__ADS_1