
Sebuah kalung berbahan kulit berwarna hitam dengan rantai kromium yang berkilauan langsung menyita perhatian Vaya. Vaya bergidik ngeri, otaknya seketika membeku melihat Vier memainkan kalung yang terlihat seperti kalung anjing.
Vaya berusaha turun dari tempat tidur, lututnya seketika gemetaran dan tak bisa digunakan untuk berjalan.
Vaya terpaksa merangkak, seperti bayi yang baru belajar merangkak menuju ke pintu keluar.
Vier mengulas senyumnya melihat kepanikan Vaya.
"Vaya, jika kau berani melangkah keluar satu langkah dari ruangan ini, kau benar-benar akan menyesal!" ancam Vier.
Vaya tak tahu apakah ia harus mendengarkan ancaman Vier, ataukah mengindahkannya saja. Ia hanya tak ingin Vier menyentuhnya lagi.
"Vaya!" hardik Vier.
Ck.. Vier berdecak kesal melihat Vaya yang justru mengabaikan ancamannya.
Setengah berlari, Vier mengejar Vaya dan meringkus Vaya yang sudah membuka pintu dan hendak keluar. Ia segera membawa kembali Vaya ke atas tempat tidur, tak peduli meski Vaya meronta-ronta.
"Tidak! Vier! Lepaskan aku!" Vaya meronta.
"Vaya, kau ini benar-benar ya!" keluh Vier.
Vier segera memasang kalung kulit itu ke leher Vaya, sekaligus gelang kulit yang menjadi cabang dari kalung tersebut. Vier menarik rantai kromium itu dan membuat Vaya langsung terbelenggu rantai pengikat tersebut.
"Vaya, kuperingatkan padamu! Jangan pernah sekalipun kau berpikir untuk bercerai dariku!
Vier berkata sambil menarik rantai kromium itu lebih kencang. Tubuh Vaya benar-benar tak dapat digerakan.
Vier segera membalik tubuh Vaya. Ia segera menghirup dalam-dalam aroma rambut Vaya.
"Ugh, Vier, lepaskan aku".
Vaya memohon dengan sangat.
"Vier, bukankah lebih baik kita bercerai saja! Kita bahkan tidak saling mencintai," kata Vaya.
"Khukhu, Vaya! Kau bahkan belum sepenuhnya bertanggung jawab atas kebohonganmu yang merusak rencana pernikahanku!"
Tubuh Vaya menegang saat Vier memberikan kecupan-kecupan liar mulai dari leher hingga telinganya.
"Aah! Vieer!" Vaya melenguuh panjang.
Tangan Vier menyusup ke dalam gaun tidur yang dikenakan Vaya. Meremaas dengan kuat, lembut, dan mantap, pada dua bukit kembar yang membuat Vaya menggelinjang. Memainkan dua pucuk yang menegang tak karuan saat menerima sentuhan Vier.
"Vier, lepas, lepaskan aku".
Vaya memohon dengan nafas tersengal-sengal.
"Aku tidak akan melepaskanmu Vaya! Aku akan memberimu hukuman! Hukuman atas sikapmu yang menentangku!"
__ADS_1
Vier menyentak gaun tidur yang dikenakan Vaya. Dalam sekejap Vaya sudah kembali tampil tanpa busana.
Rasa takut dengan segera menyergap Vaya, tangan Vier menyibak rambut panjang Vaya, mencumbu belakang leher Vaya, terus turun hingga ke punggung.
"Aah! Vier! Tidak! Hentikan!"
Vaya mengejang dan berteriak saat Vier mulai menyantap setiap jengkal kulitnya.
"Lepaskan aku Vier!" Vaya mencoba meronta.
Vaya benar-benar tak tahan dengan perlakuan Vier terhadap tubuhnya. Pria itu menjilaat, menghisap, dan menggigit kecil di sepanjang punggung Vaya.
Bersamaan dengan goyangan dua jari yang menyusup masuk ke sarang kenikmatan, menstimulasi agar sarang itu segera basah dan hangat.
"Aah! Vier! Aahh!"
Vaya meracau dengan gerakan jari Vier yang memporak-porandakan inti dirinya. Dan benar saja, hanya dalam hitungan detik, Vaya yang menegang, terkulai lemas, dengan cairan yang merembes keluar.
Vier tersenyum puas, mencecapi lelehan cairan yang membasahi tangannya.
Vier kembali menarik rantai kromium yang membuat posisi tubuh Vaya menegak. Vier mendorong pelan tubuh Vaya yang langsung melengkung ke depan.
Vaya hanya bisa menangis saat kembali merasakan keperkasaan Vier yang perlahan-lahan memasuki inti dirinya dari belakang.
Tubuh mereka segera bergerak seirama, menarikan tarian erotis yang sudah ada sejak zaman manusia masih berburu dan meramu.
Vaya berteriak, namun sepertinya percum saja. Meski Vaya menangis dengan air mata berderai, Vier tetap melakukan apa yang saat ini harus dilakukannya.
Keringat segera membanjiri tubuh mereka berdua. Vaya benar-benar membenci semua ini.
Ia benci karena tubuhnya begitu menikmati sentuhan yang diberikan Vier.
Gelombang-gelombang kenikmatan berkejaran dan membuat tubuhnya berkali-kali terhempas kenikmatan.
Dia membenci kenikmatan itu.
Ia benci melihat Vier yang menatap matanya, penuh gairah yang berkobar. Setiap hentakan pinggulnya, setiap ciumannya, setiap pagutannya, setiap sentuhannya, membuat Vaya merasa tak berdaya.
***
Vier segera membuka rantai kromium yang membelenggu tubuh Vaya.
Kemudian ia mengusap lembut wajah Vaya yang sembab memancarkan ekspresi luar biasa lelah. Peluh masih membasahi sekujur tubuh mereka.
Vaya masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Vier segera merebahkan Vaya ke atas tempat tidur, ia segera berbaring di samping Vaya yang menatap benci padanya.
Vaya benar-benar kesal melihat Vier yang menyeringai sambil memainkan rantai kromium di dada Vaya.
__ADS_1
"Hmm, kalung ini benar-benar sangat cocok untukmu Vaya," goda Vier.
Dasar laki-laki biadap! Maki Vaya dalam hati.
"Ada apa Vaya? Kenapa menatapku seperti itu? Kau sungguh ingin ronde selanjutnya?" tanya Vier dengan nada menggoda.
"Vier! Kenapa kau melakukan ini lagi padaku?" tanya Vaya masih tetap melemparkan tatapan kebenciannya pada Vier.
"Vaya, apa kau tidak mendengar pendahuluan yang kusampaikan sebelumnya?" tanya Vier.
"Aku memberimu hukuman!"
Vier menyeringai sambil mengusap lembut anak rambut Vaya dan menyelipkannya ke belakang telinga Vaya.
Ugh!
"Vier! Kenapa kau masih memberiku hukuman? Bukankah aku sudah memberimu bukti bahwa aku belum pernah tidur dengan pria manapun seperti yang kau tuduhkan padaku!" sungut Vaya.
Vier menatap Vaya yang masih melemparkan tatapan kebenciannya.
"Ya, aku mengakui bahwa kau memang belum pernah ditiduri oleh pria lain! Tapi kau diam-diam sudah menemui pria lain, dan lebih parahnya lagi mengaku masih lajang!"
Vier mencubit cuping hidung Vaya dengan gemas.
"Aduh, Vier, sakit!" keluh Vaya.
"Vaya, kau itu wanita yang sudah menikah! Kau sudah menikah denganku! Dan kau jangan pernah melupakan kenyataan itu!" kata Vier.
Vaya mendorong tubuh Vier, ia segera bangkit dan turun dari tempat tidur.
"Vier, kita memang menikah, tapi aku bukan wanita yang harusnya menikah denganmu!"
"Dan harusnya aku juga tidak perlu kau tidur denganmu!"
Lagi-lagi Vaya melemparkan tatapan penuh kebencian pada Vier yang masih berbaring di tempat tidur.
Vaya mengambil kembali gaun tidurnya yang teronggok di lantai. Kedua talinya yang tipis sudah putus, namun Vaya masih bisa menggunakan gaun itu untuk sekedar menutupi tubuh telanjangnya.
"Harusnya yang kau tiduri itu Selena! Ataupun Selena lainnya, dan bukannya aku!" tandas Vaya.
"Vaya!" sergah Vier.
Vaya kembali meneteskan air matanya melihat Vier. Ia benar-benar merasakan rasa benci yang teramat besar pada pria yang sudah berlaku semena-mena pada dirinya.
"Vaya! Kemari!" perintah Vier.
Vaya mengabaikan perintah Vier, ia segera menuju ke pintu. Membuka pintu dan segera pergi dari kamar itu.
"Vaya!" seru Vier.
__ADS_1