Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
156 - Mundur


__ADS_3

Vier mengecup puncak kepala Vaya berkali-kali sambil memeluk Vaya dengan begitu erat. Vaya benar-benar tak ingin melepaskan pelukan Vier yang saat ini tengah berpamitan.


"Sampai nanti, Vaya," bisik Vier.


"Ya, sampai nanti, Vier," balas Vaya.


Vier memandangi wajah Vaya, begitu berat rasanya ia berpisah dari Vaya. Namun apa boleh buat, sebentar lagi pesawat yang akan membawanya ke Paris akan segera lepas landas.


Bu Cintami benar-benar sangat kesal melihat Vaya yang melambaikan tangan untuk mengantar kepergian Vier.


Bu Cintami segera menghampiri Vaya. Dengan tangan bersedekap, wanita paruh baya itu jelas menunjukkan sikap sangat mengintimidasi.


"Aku sungguh tidak tahu, apa sebenarnya yang kau inginkan dari Vier," katanya dengan nada sedingin es.


Vaya menoleh ke arah Bu Cintami yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.


"Apakah sesungguhnya kau adalah orang suruhan yang ditugaskan untuk menghancurkan hidup Vier?" tebak Bu Cintami.


Vaya menarik napasnya, lagi-lagi harus mendengar ucapan ibu mertua yang selalu menuduh Vaya yang bukan-bukan. Ia pun menatap lurus ke arah Bu Cintami.


"Ibu, tolong jangan berasumsi buruk terhadap saya," ucap Vaya.


"Berasumsi buruk?!" Nada bicara Bu Cintami meninggi namun sedikit tertahan.


"Sekarang lihatlah apa yang sudah kau lakukan pada Vier! Kau membuat Selena, wanita yang lebih pantas untuk menjadi istri Vier harus mengalami  nasib yang begitu malang!"


"Selena terancam akan menghabiskan hidupnya dalam kelumpuhan! Vier harus bertanggung jawab untuk mendampingi wanita cacat! Itu artinya, aku akan memiliki menantu cacat gara-gara kau!"


Bu Cintami menunjuki Vaya, meluapkan emosinya yang tertahan.


"Aku benar-benar merasa ini tidak adil bagi Vier! Mengapa bukan kau saja yang menjadi wanita cacat? Mengapa bukan kau saja yang mengalami kelumpuhan?"


Bu Cintami mendengus kesal meluapkan kemarahannya pada Vaya. Vaya menatap lurus ke arah Bu Cintami yang masih melotot kesal. Mata besar beliau benar-benar seakan hendak memutilasi Vaya.


"Ibu," potong Vaya.


"Selama ini Ibu selalu menyalahkan saya atas semua hal yang terjadi. Ibu menyalahkan saya karena menganggap semua ini terjadi gara-gara saya masuk dalam kehidupan Vier," ucap Vaya.


"Kau...!" Bu Cintami menyela dengan nada tertahan.


"Tapi coba Ibu pikir lagi," Vaya cepat-cepat melanjutkan.


"Jika saja Ibu tidak menentang pernikahan saya dan Vier. Seandainya saja Ibu tidak membawa kembali Selena dalam kehidupan pernikahan saya dan Vier. Saya, Vier, maupun Selena tidak perlu mengalami masalah seperti ini."


"Selena tak perlu meneguk habis obat penenangnya hingga mengalami over dosis lantaran merasa marah dan kecewa karena Vier lebih memilih saya sebagai istrinya."


"Toh, saya tidak merebut Vier dari Selena karena hubungan Vier dan Selena telah berakhir sebelum Vier menikahi saya."


Vaya menjelaskan panjang lebar semua yang selama ini ditahannya, semua hal yang dilakukan oleh Bu Cintami untuk menyudutkan Vaya.


"Kau! Berani-beraninya kau malah memutar balik fakta dan menyalahkanku seperti ini!" Bu Cintami kembali menunjuk Vaya.


Vaya mengambil telunjuk Bu Cintami dan menggenggamnya.


"Ibu, saya hanya menyampaikan asumsi saya, seperti halnya Ibu yang selalu menyampaikan asumsi-asumsi buruk tentang saya."

__ADS_1


"Coba Ibu pikir lagi dengan baik, apakah asumsi saya ini salah? Pada kenyataannya memang seperti itu kan?"


Vaya mengulas senyum sinisnya ke arah Bu Cintami.


"Seandainya Ibu tidak membawa Selena kembali ke dalam kehidupan Vier. Saat ini Selena tidak harus mengalami kelumpuhan yang akan membuatnya cacat. Apa yang terjadi pada Selena murni karena perbuatannya sendiri."


"Seharusnya Vier tidak perlu bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dilakukannya."


Bu Cintami menarik kembali tangannya yang digenggam dengan sangat keras oleh Vaya.


"Mestinya Ibu-lah yang harus bertanggung jawab atas Selena. Vier benar-benar sungguh malang karena harus menjadi korban keegoisan Ibu."


"Kau...! Kau...!" Bu Cintami benar-benar kehilangan kata-katanya.


"Tolong pikirkan baik-baik apa yang sudah saya katakan. Jangan berpikir bahwa apa yang Anda lakukan itu benar. Ya, mungkin menurut sudut pandang Anda itu benar, tapi belum tentu benar bagi orang lain," kata Vaya.


"Kau! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah merestuimu menjadi menantuku!" geram Bu Cintami.


"Ya, saya pun merasa tak pantas menjadi menantu Anda. Karena saya pun mempertanyakan, apakah Anda pantas menjadi mertua saya?"


Bu Cintami benar-benar kehilangan kemampuannya untuk membalas kata-kata Vaya.


"Baiklah Bu, kalau begitu saya permisi," Vaya menunduk lalu berpamitan.


Vaya melangkah meninggalkan Bu Cintami yang tenggelam dalam rasa kesalnya.


...*****...


Vaya menjalani hari-hari yang begitu berat. Ia harus menjalani hidup tanpa Vier dan merasakan rindu yang makin menggila di setiap detik yang berlalu.


Apakah Vier benar-benar akan kembali padanya?


Namun saat ini Vier sedang memintanya untuk memberi bukti bahwa Vaya memang mencintainya.


Dering telepon membuyarkan lamunan Vaya. Vaya segera menjawab telepon.


"Halo, Vier," kata Vaya dengan perasaan berbunga-bunga setiap kali Vier meneleponnya.


"Vaya, bagaimana kabarmu?" tanya Vier.


"Aku baik-baik saja," jawab Vaya yang tentu saja berbohong.


"Syukurlah," ucap Vier terdengar lega.


"Vier, bagaimana keadaan Selena?" tanya Vaya.


"Selena masih belum sadar," jawab Vier.


Vaya terdiam. Sudah hampir satu bulan lamanya, Selena belum kunjung sadar.


"Vier, bagaimana jika Selena tidak akan pernah sadar?" tanya Vaya.


"Vaya, jangan berkata seperti itu," sahut Vier.


"Selena pasti akan sadar!"

__ADS_1


"Hmm, ya, apakah saat Selena sadar nanti, kau tetap akan berada di sisinya?" tanya Vaya.


"Vaya, kesembuhan Selena saat ini menjadi tanggung jawabku," jawab Vier.


Vaya kembali meneteskan air mata. Rasa sesak menghantam kembali dadanya. 


Rasa berat untuk membagi Vier dengan wanita lain yang kian hari makin memberatkan Vaya.


"Vier, apakah sebaiknya kita berhenti bicara?" tanya Vaya.


"Vaya, apa maksudmu?"


"Karena semakin aku mendengar suaramu, aku semakin merindukanmu! Semakin berat pula aku menjalani hidupku tanpamu, hiks!"


Vier tertegun mendengar ucapan Vaya.


"Vaya, apa itu memang sungguh maumu?"


"Aku sungguh tidak mau, Vier! Tapi memangnya aku bisa apa selain menunggumu tanpa kepastian seperti ini?"


Hening tak ada jawaban dari Vier.


"Baiklah, kalau memang itu maumu, Vaya," ucap Vier. "Aku akan selalu merindukanmu."


Tut... Tut...


Panggilan berakhir, dan Vaya kembali menangis dalam kesendiriannya.


...*****...


"Bagaimana, Bu Vaya?"


Vaya yang sedari tadi melamun langsung kembali fokus pada selembar surat yang membuatnya terpaku.


Selembar surat pernyataan berisi tawaran yang benar-benar membuat Vaya dilema.


Perubahan manajemen membuat pihak perusahaan mengubah peraturan dalam pengelolaan sumber daya manusia. 


Perubahan tersebut meliputi adanya perubahan kebijakan perusahaan mengenai status kepegawaian. Yang mana perombakan besar-besaran pun terjadi. Pegawai lama seperti Vaya harus mengikuti kebijakan yang baru.


Kebijakan tersebut yakni pembaharuan kontrak kerja. Bagi karyawan yang bersedia lanjut bekerja, perusahaan menawarkan kontrak kerja dalam waktu yang ditentukan. 


Sedangkan bagi pekerja yang menolak pembaharuan kontrak kerja, maka akan diberikan kompensasi sesuai dengan kebijakan perusahaan.


Vaya benar-benar dilema, di satu sisi ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya, namun di sisi lain, uang kompensasi yang ditawarkan jelas menggiurkan. Ia bisa menggunakan uang itu sebagai modal melanjutkan hidupnya.


"Baik, akan saya tangani," jawab Vaya.


...*****...


"Mbak Vaya, Mbak benar-benar memilih mundur dari perusahaan?" tanya Evi dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, aku merasa sudah sangat lelah, Evi. Sepuluh tahun bekerja, dan aku merasa karirku hanya jalan di tempat. Sehingga aku rasa, sebaiknya aku memang harus mundur," jawab Vaya.


"Mbak Vaya!" Evi langsung memeluk Vaya erat-erat.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2