Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
039 - Tawaran Pijat


__ADS_3

Para pelayan segera menyiapkan peralatan memasak dan bahan-bahan yang diperlukan oleh Vaya di ruang makan.


Vier duduk di kursi, dengan tangan terlipat di depan dada mulai menyaksikan pertunjukan live cooking. Saat ini Vier memang sedang melakukan pertaruhan dengan Vaya. Pertaruhan memasak dalam lima menit sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Vaya.


Vaya segera menjerang air dalam panci, menunggu hingga air dalam panci mendidih kemudian memasukkan dua keping mie instan. Ia juga memotong bawang-bawangan lalu menumisnya hingga mengeluarkan aroma harum.


"Masakan yang siap dalam lima menit! Huh, yang benar saja!" keluh Vier.


Vier berdiri mengitari Vaya yang sedang memasak.


"Vier, mie instan juga perlu proses untuk mengolahnya," gerutu Vaya menanggapi keluhan Vier.


"Vaya, apa kau tahu, makanan yang paling kuhindari adalah makanan instan! Terutama mie instan! Kenapa demikian? Mie instan itu minim nutrisinya tapi banyak kalorinya! Dan kau menyuruhku untuk makan mie instan! Huhh! Yang benar saja!"


"Aku bahkan mempekerjakan koki bersertifikasi yang selalu bisa menghidangkan makanan segar!"


"Vier, mie instan jika diolah dengan baik, dan dimakan sesekali tentu tidak masalah. Lain halnya jika kau makan mie instan tiga kali sehari selama sebulan," sahut Vaya.


"Ususmu bisa jebol kalau makan mie instan secara berlebihan seperti itu," lanjut Vaya.


"Apa kau tahu, aku kurang suka dengan bumbu mie instan?" ucap Vier.


"Ya, aku akan meracik bumbunya sendiri," sahut Vaya.


Hihh, Vier benar-benar sangat cerewet! Ya Tuhan, semoga jodohku bukan pria cerewet macam Vier!


"Satu menit lagi!" tukas Vier sambil melihat jam tangannya.


"Iya, sebentar siap," sahut Vaya lagi.


Setelah meniriskan mie, Vaya memindahkan mie ke dalam wajan berisi bumbu racikannya. Aroma wangi yang terendus membuat Mike tanpa sadar mendekat ke arah kompor.


"Aromanya sedap sekali, Bu Vaya," puji Mike.


"Anda mau saya buatkan juga, Pak Mike?" tanya Vaya.


"Saya akan dengan senang hati menerimanya," jawab Mike sumringah.


"'Huhh! Aroma boleh menggoda, tapi jika rasanya menyedihkan, kau benar-benar harus siap dengan konsekuensinya, Vaya!" celetuk Vier.


Hihh, Vier ini, sedikit-sedikit konsekuensi, belum juga dicoba sudah ancam-mengancam. Dasar tuman! Kebiasaan!


Vaya segera menyajikan mie ke dalam mangkuk lalu menyerahkannya pada Vier.


Mike meneguk ludahnya, tergiur aroma sedap dari mie instan yang terhidang di meja makan. Masih menjadi misteri baginya, mengapa mie instan yang dibuatkan oleh orang lain rasanya lebih nikmat dari buatan sendiri.


Vier mengambil garpu dan segera melakukan proses penjurian.


"Apa tidak ada penjelasan untuk masakanmu ini?" tanya Vier.


Hihh, kau bahkan melihat sendiri proses pembuatannya! rutuk Vaya dalam hati.


"Mie rebus dengan potongan cabai, sawi, dan telur yang biasa dijual di warung kopi," Vaya menjelaskan apa yang dimasaknya.


"Warung kopi?" Vier mengerutkan keningnya.


"Ya, dulu ibuku pernah membuka usaha warung kopi, aku sering membantu beliau," jawab Vaya.


"Warung kopi itu maksudmu kafe?" tanya Vier.


"Vier, zaman dulu mana ada kafe," sahut Vaya.


Vier mulai menyeruput mie instan yang disajikan dalam mangkuk. Wajahnya nampak serius setiap kali menyantap setiap suapan demi suapan tanpa banyak kata.


Mike melirik ke arah panci, masih ada mie instan yang tersisa.


Aku ingin mencicipinya juga, batin Mike.


"Vaya, berikan lagi mie instan yang masih tersisa di di panci!" perintah Vier.


"Loh Vier, katanya kau tidak doyan mie instan," ceplos Vaya.


"Vaya, aku menghabiskan mie instan yang kau masak bukan karena mie instan ini enak, tapi karena aku benar-benar sangat lapar," kata Vier.

__ADS_1


Vaya mencebik sambil menumpahkan kembali mie instan ke dalam mangkuk Vier. Vier kembali menyantap mie instan tersebut hingga tak tersisa.


Mike hanya bisa menelan ludahnya, rasanya pasti enak sekali.


"Bagaimana, Vier? Mie instan cocok untuk hidangan pembuka kan? Apa kau mau aku memasak hidangan utama?" tanya Vaya.


"Khukhu," Vier tertawa sinis sambil menyeka mulutnya dengan serbet putih.


"Vaya, apa kau tahu, berapa waktu yang harus kuhabiskan untuk membakar kalori dari dua bungkus mie instan ini? Apa kau sungguh ingin melihatku dipenuhi dengan tumpukan lemak jahat sepertimu?"


Vier kembali menyeringai.


"Huhh! Gara-gara kau terlalu lama pulang, aku jadi lelah," keluh Vier.


"Maaf, Vier, tadi pekerjaanku banyak," kata Vaya.


"'Huh! Alasanmu saja itu," sungut Vier sambil memijat belakang lehernya.


"Vier, apa kau mau kupijat?" tanya Vaya.


"Apa? Kau mau memijatku?" Vier balik bertanya.


"Yah, anggap saja aku melakukannya untuk menebus kesalahanku karena pulang terlambat," kata Vaya.


"Haha!" Vier tertawa.


Tawanya yang dibuat-buat membuat Vaya jadi dongkol.


"Mike, Vaya bilang dia mau memijatku! Haha," Vier tertawa ke arah Mike.


"Memangnya ada yang salah dengan pijat?" tanya Vaya.


"Vaya, apa kau tahu, aku bahkan punya kursi pijat full body yang bisa kugunakan kapan pun. Dan kau menawarkan diri untuk memijatku? Haha!" Vier tertawa lagi.


"Oh ya sudah, kalau kau memang tidak berkenan," kata Vaya.


"Tunggu!" kata Vier.


"Hmm, baiklah, Vier, aku revisi saja penawaranku, aku sungguh lancang menawarkan jasa pijat padamu," sahut Vaya.


"Tidak! Tidak! Aku sudah menerima penawaranmu. Kau tidak punya hak untuk melakukan revisi," kata Vier dengan cepat.


"Vier, sungguh, aku rasa aku melakukan hal lain saja yang lebih berguna daripada pijat."


"Vaya, ini perintah!"


Vaya terdiam, Vier segera beranjak dari kursinya. Tanpa diketahui oleh siapa pun, terbentuk seringaian di wajahnya.


...*****...


Vaya menghela napas berat, menatap deretan lingerie yang harus dikenakannya. Sebelum memijat Vier, Vaya diwajibkan mandi sebersih mungkin. Kemudian harus mengenakan salah satu lingerie seksi. 


Memangnya aku harus memijat apanya sampai harus mandi dan berpakaian seksi segala?


Huuh!


Vaya masih mendengus kesal, ia mengambil salah satu lingerie berwarna hitam dengan model paling sederhana. Ia dengan cepat mengganti handuk kimononya dengan lingerie itu.


Ugh, dasar laki-laki cabul! 


Vaya keluar dari ruang pakaian, matanya segera menangkap Vier yang saat ini sudah bersandar di tumpukan bantal.


"Kau lama sekali! Aku sampai nyaris tertidur!" keluh Vier.


"Ya, kan kau sendiri yang meminta agar aku mandi sebersih mungkin, lalu memakai lingerie. Lingerie di dalam ruangan juga banyak dan aku harus memilihnya," sahut Vaya.


"Aku sungguh tidak tahu, kenapa aku harus mandi dan memakai lingerie hanya untuk memijatmu," gerutu Vaya.


"Haha! Vaya! Tentu saja kau harus mandi sebersih mungkin. Aku tidak mau tubuhku terkontaminasi virus, bakteri, kotoran yang kau bawa. Dan aku tentu tidak mau kau memakai pakaian yang tidak layak saat berada di tempat tidur," terang Vier.


Vier menyeringai memandangi Vaya yang nampak memasang ekspresi kesal.


"Kenapa kau bengong begitu? Lekas mulai!" perintah Vier.

__ADS_1


"Ya, ya!" sahut Vaya.


"Pijat kakiku yang benar!" tunjuk Vier.


"Ya! Ya!" sahut Vaya.


Vier kembali menyeringai saat Vaya mulai memijat kaki Vier.


"Aduh! Vaya, apa kau sedang menggelitiki kakiku?" sergah Vier.


Vaya mencebik sambil menekan betis Vier lebih keras.


"Aduh! Vaya! Apa kau mau mematahkan kakiku?!" sergah Vier lagi.


Hihh! Ini orang, pelan salah, keras tambah salah! 


"Pijat yang benar!" tandas Vier.


Vaya mengerucutkan bibirnya, masih tetap menekan betis Vier.


Vier menatap Vaya yang terlihat bersungguh-sungguh memijat kakinya. 


Namun tiba-tiba mata Vier terfokus pada belahan dada Vaya yang nampak menggetarkan sisi maskulinnya. Gundukan lemak itu nampak menginginkan jamahannya.


"Hmm, Vier," kata Vaya.


Vaya menatap Vier yang nampak melamun.


"Vier!" panggil Vaya 


"Hmm, yaa, ada apa?" tanya Vier.


Cih sial, apa yang kupikirkan! Batin Vier.


"Apa Selena pernah memijatmu seperti ini?" tanya Vaya.


Vier mengerutkan keningnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Vier.


"'Hmm, ya, karena kupikir pijatan Selena pasti lebih baik daripada yang kulakukan saat ini," jawab Vaya.


"Pijatan yang dilakukan dengan penuh cinta tentu sangat berbeda dengan pijatanku yang tidak seberapa," sahut Vaya.


"Kemari!" panggil Vier 


"Hee?" Vaya tersentak kaget.


"Mendekat padaku!" kata Vier.


Vaya tak bergeming, membuat Vier menarik tangan Vaya hingga Vaya terjatuh di pangkuannya.


"Aduh! Vier!" keluh Vaya.


Vier menorehkan seringaian khasnya.


"Apa perlu kutunjukkan padamu, apa yang dilakukan Selena?"


"Tidak! Tidak perlu, Vier," tolak Vaya ketakutan.


Vier menyeringai, mengunci Vaya dalam pangkuannya.


Perlahan Vier menurunkan tali tipis di bahu Vaya dengan giginya.


"'Vi- Vier!"


...*****...


Pembaca setia tersayang yang dipenuhi dengan kehaluan hakiki....


Terima kasih sudah membaca sampai episode ini.


Sampai jumpa di episode selanjutnya untuk menjawab apa yang akan dilakukan Vier terhadap Vaya.

__ADS_1


__ADS_2