
Vier membuka amplop yang dilemparkan Deri, ia membaca surat perjanjian yang intinya berisi dua permintaan Deri.
Yang pertama, Deri menginginkan Vier mencabut segala macam tuntutan yang dilayangkan untuk dirinya. Lalu yang kedua, Deri meminta ganti rugi baik secara material maupun non material senilai lima ratus miliar serta meminta Vier untuk memulihkan nama baik Deri.
"Lekas tandatangani!" desak Deri.
"Di mana ibu mertuaku?" tanya Vier.
"Nanti ibu mertuamu akan datang kalau kau sudah tanda tangan!" sahut Mike.
"Tak ada ibu mertua, tak ada tanda tangan!" jawab Vier dengan tegas menyerahkan kembali dokumen itu ke arah Deri.
Deri langsung meradang mendengar penolakan Vier.
"Apa?! Kau jangan angkuh begitu! Sadar diri kau! Di sini aku yang berkuasa!"
Plok... Plok...
Deri memukulkan dokumen itu ke kepala Vier secara semena-mena.
Mike melotot lebar, rahang dan kepalan tangannya seketika mengeras melihat Vier diperlakukan seperti itu.
"Deri! Tolong berhenti!" teriak Vaya.
"Berhenti kau bilang?!" Deri menyeringai jahat.
Ia mencengkeram kedua pipi Vier, menekan sekeras yang ia bisa.
"Aku benar-benar benci melihat pria berwajah seperti ini! Sok tampan! Cuih!"
Deri meludah dengan kasar ke wajah Vier. Vier terdiam, menegang merasakan ludah Deri yang mengotori sekitar mata dan pipinya.
"Deri!" teriak Vaya.
"Vaya! Kau itu berisik sekali!" Deri balas berteriak.
Deri beralih pada Vaya, dengan penuh kemarahan ia langsung mencekik leher Vaya.
"Diam! Diam! Atau lehermu akan kupatahkan!" hardik Deri.
"Ugh!" Vaya menggeliat, memegang tangan Deri.
Vaya meronta, cekikan dari Deri benar-benar membuatnya tak bisa bernapas.
Vier mengepalkan tinjunya, berusaha untuk menahan diri meski jiwanya meronta-ronta untuk menghantam Deri yang begitu semena-mena.
"Baiklah! Akan kutandatangani!" kata Vier mengalah.
Deri melepas cekikannya dari leher Vaya. Vaya terhuyung dan jatuh terduduk.
"Uhuk! Uhuk!" Vaya terbatuk.
Tidak! Jangan tanda tangani itu, Vier!
"Mike, berikan pulpenku," kata Vier.
Mike merogoh saku jasnya, menyerahkan sebuah pulpen berwarna perak ke tangan Vier.
Vier masih mempertahankan ekspresi luar biasa tenangnya.
"Deri, bisa minta tolong pegang dokumennya selagi aku menandatangani surat perjanjian ini?" tanya Vier.
"Alah, pegang saja sendiri! Suruh saja asistenmu itu menjadi mejamu!" sahut Deri.
"Tidak, aku ingin kau yang menjadi saksi bahwa aku benar-benar menandatanganinya," kata Vier.
"Huuh! Dasar manja!" ketus Deri.
Deri merampas dokumen itu dan langsung memeganginya.
Vaya melihat senyum samar Vier, senyum berbahaya yang selalu dilakukan Vier ketika pria itu menyembunyikan kemarahannya.
__ADS_1
Vier memutar ujung pulpennya lalu mulai menggoreskan pulpen itu ke kertas. Tidak ada tinta yang keluar.
"Mike, sepertinya pulpen ini macet, ada pulpen lain?" tanya Vier.
Mike menggeleng pelan.
"Deri, tolong pegang dulu pulpen ini, aku cari pulpen lain," Vier merogoh sakunya.
Deri merampas pulpen dari tangan Vier. Namun seketika Deri langsung merasakan sengatan listrik yang langsung membuat pria itu berteriak kencang.
Vier merampas kembali pulpen dari tangan Deri.
"Arghhh!"
Suara Deri melengking, Vier dengan satu gerakan cepat langsung mengunci leher Deri dengan sikunya sambil menodongkan pulpen yang sejatinya merupakan stun gun alias senjata kejut listrik.
"Jangan bergerak atau kau benar-benar akan mati terkena serangan jantung," Vier menyeringai horor di telinga Deri.
Deri masih merasa pandangannya berkunang-kunang, sengatan listrik yang diterimanya benar-benar sangat mengejutkan.
"Vaya!" Vier memberi kode agar Vaya berlindung di belakangnya.
Vaya segera menuju ke belakang tubuh Vier, berlindung dari para preman yang hendak menyerangnya.
Mike dengan sigap mengeluarkan pistol dan mengacungkannya kepada para preman yang mengelilinginya.
"Lepaskan dia!" perintah Mike pada dua preman yang menjaga Aria.
Dua preman itu mengabaikan perintah Mike, mereka nekat menyerang Mike. Bagi mereka Mike hanyalah seekor cacing, pria kurus dan ramping yang hanya menggertak dengan pistol mainan.
Mike menarik pelatuk pistolnya dengan cepat.
Dor!
Satu tembakan melesat dan mengenai betis salah satu preman.
"Arghh!" preman bertubuh besar itu menjerit keras sebelum akhirnya tumbang.
"Argh! Sakit!" preman berbadan besar itu meronta di lantai.
"Kuperingatkan demi kebaikan kalian! Jangan membuatku menarik kembali pelatuk pistolku!"
Mike masih mengacungkan pistol ke arah para preman.
Satu preman yang berada di belakang Mike melompat menerjang Mike.
"Mike!" seru Vier.
Mike segera menjadi sasaran empuk para preman. Mereka saling memperebutkan pistol di tangan Mike.
"Kyaa!" seru Vaya.
Vier tersentak kaget, melihat Vaya diringkus oleh seorang preman.
Vaya benar-benar ketakutan berada dalam ringkusan preman berbadan kekar, dengan deru napasnya yang bau menyengat.
"Vaya!" seru Vier.
Vier mendorong Deri dengan keras, tubuh Deri tersungkur ke lantai, pria itu meraung kesakitan.
"Lepaskan Vaya!" seru Vier.
"Tidak akan!" hardik preman itu.
"Vaya, menunduk!" seru Vier.
Vaya berusaha menunduk, preman di belakang Vaya pun menunduk.
Vier memanfaatkan kesempatan untuk menendang kaki preman itu. Tentu saja seruan Vier bertujuan untuk mengecoh.
Preman itu jatuh tersungkur, tubuh Vaya limbung, Vier segera membawa Vaya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Vaya, gunakan ini untuk melindungi dirimu," kata Vier menyerahkan stun gun-nya.
Tubuh Vaya masih gemetaran saat Vier meninggalkannya di situasi yang teramat genting.
Sementara itu, Mike saat ini masih dikeroyok oleh para preman yang saling berebut pistol.
Mike berusaha sekuat tenaga untuk tetap mempertahankan pistol di tangannya.
Bugh..
Satu pukulan harus diterima Mike, pistol terlepas dari tangan Mike. Seorang preman segera berlari menyambar pistol itu.
Duagh..
Preman itu jatuh tersungkur akibat menerima satu tendangan dari Vier.
Vier langsung menyambar pistol itu dan menembakkannya ke udara.
"Berhenti, atau kalian semua akan mati!" seru Vier.
Di saat perhatian para preman teralih pada Vier, Mike segera melumpuhkan para preman dengan serangan-serangan yang mengenai titik vital mereka semua.
Deri yang masih terhuyung, mencoba bangkit, lalu menerjang ke arah Vier.
Vier dan Deri kembali saling berebut pistol. Preman lain segera membantu Deri, merebut pistol dari tangan Vier.
Vier jatuh tersungkur saat preman itu menarik dan menghempas tubuhnya hingga terguling di sisi Vaya.
"Vier!" teriak Vaya.
"Uhuk..!"
Vier terbatuk, ada darah yang keluar dari mulutnya.
"Vier! Vier!" seketika Vaya panik.
Tangis Vaya pecah makin histeris.
"Sst... Vaya, tenanglah!" kata Vier.
"Vier, kau berdarah!"
"Aku tidak apa-apa, akan kubuat mereka berdarah lebih banyak dari aku!" kata Vier.
"Vier..."
Vaya menangis melihat Vier yang berjuang mati-matian seperti ini.
Vier mengambil balok kayu yang teronggok tak jauh darinya.
Deri yang masih sempoyongan mengacungkan pistol ke arah Vier. Vier melempar balok kayu itu ke tangan Deri.
Pistol yang dipegang Deri terlepas ketika pria itu jatuh tersungkur.
Vier menendang wajah preman yang berusaha menyerangnya, menghantam preman lain yang menyerangnya.
Mike berguling dan berhasil mendapatkan pistolnya kembali.
Dor!
Dor!
Dua tembakan melesat dan mengenai dua preman yang masih menyerang Vier.
Vier mengambil sebilah parang yang dijadikan senjata oleh preman yang menyerangnya, ia menyeret Deri dan menodongkan parang panjang itu ke leher Deri.
"Berhenti! Atau aku benar-benar akan menebas leher pria ini!" seru Vier penuh kemurkaan kepada para preman yang masih berusaha menyerang.
...*****...
Jangan lupa tinggalkan jejak perhatian pembaca untuk mendukung karya recyeh author ya.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya.