Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
130 - Pelakor


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan.


Supaya author tetap semangat biar kata real life lagi sibuk-sibuknya.


Happy reading..


...*****...


Pelakor? Aku?


Vaya masih menatap wajah-wajah cantik yang saat ini sedang memandang Vaya dengan tatapan mereka yang mencemooh.


Vaya meneguk ludahnya, mendapat tudingan bahwa ia merebut Vier dari Selena jelas membuat image Vaya di depan keluarga Vier memburuk.


Padahal kesan pertama yang baik tentu harus didapatkan oleh Vaya demi kelangsungan hubungannya dengan Vier.


Bagaimana jika keluarga Vier tidak menerima Vaya sebagai anggota keluarga mereka?


Bagaimana jika nanti mereka menghasut Vier?


Semua pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Vaya membuat Vaya jadi makin paranoid sendiri.


Terlebih saat ini Vier sedang menemui kedua orang tuanya untuk berbicara empat mata. Vier pasti sedang membahas masalah Vaya yang mendadak menggantikan posisi Selena sebagai istri Vier.


Bagaimana jika orang tua Vier tidak menerima Vaya?


Itu artinya Vier akan membuang Vaya kan?


"Missyu, Honey! Aku rasa kalau pelakor sih itu tidak mungkin!"


Praise melangkah menghampiri kedua adik perempuannya. Pria pesolek yang berkali-kali dipergoki Vaya sedang mematut dirinya di depan kamera gawai cerdasnya itu ikutan nimbrung menginterogasi Vaya.


Daripada disebut menginterogasi, Vaya lebih merasa bahwa saat ini saudara dan saudari Vier sedang melakukan perundungan terhadapnya.


"Praise! Bagaimana kau bisa berpikir bahwa Vaya bukanlah pelakor yang merebut Vier dari Selena?" tanya Honey.


"Kita semua bahkan sudah tahu bahwa Vier akan menikah dengan Selena!" ujar Missyu.


Oh Praise! Kau benar! Aku bukan pelakor! Batin Vaya merasa senang karena ada yang membelanya.


"Hei, Missyu, Honey! Coba kalian lihat baik-baik, wanita ini bahkan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Selena yang luar biasa cantik!" tandas Praise.


Buagh...


Vaya merasa Praise sedang menghantam kepalanya dengan balok kayu.


Vaya terlempar dan mendarat di jurang penyesalan karena baru saja merasa senang saat Praise membelanya. Namun rupanya pria itu justru menjatuhkan Vaya ke inti bumi.


"Entah apa yang dipikirkan oleh Vier sampai seleranya memburuk seperti ini! Haha!" Praise terkekeh dengan nada mencemooh.


"Yah, aku rasa Vier sudah kehilangan taste of women-nya!" lanjut Praise.


"Tapi, setidaknya Vier masih menginginkan perempuan, bukan menginginkan sesama kaum adam!" Dearmine yang sedari tadi berkutat di depan gawai cerdasnya akhirnya menimpali.


"Hei, apa maksudmu bicara begitu, Dear?" tanya Praise.


Praise memicingkan matanya ke arah Dearmine yang mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Dear, aku ini juga masih suka wanita! Tapi aku memiliki standar yang luar biasa tinggi! Aku punya taste of women yang jauh lebih baik dari Vier!" Praise mulai ngegas setiap kali mendengar Dearmine memihak Vier.


Vaya benar-benar hanya bisa terdiam melihat ketegangan yang tercipta di tengah saudara-saudari Vier hanya gara-gara Vaya.


"Hei, hei, apa-apaan ini?!"


Vaya langsung menoleh ke arah Vier yang berjalan menghampiri saudara-saudarinya. Vier langsung bersikap defensif terhadap Vaya yang terlihat jelas sedang mengalami perundungan.


"Apa yang kalian lakukan terhadap istriku?" tanya Vier.


"Huh! Istri apanya, jelek begitu!" cibir Praise.


"Haha! Tidak masalah jelek, yang penting punya istri! Haha!" Vier tertawa mengejek Praise.


Praise benar-benar kesal mendengar ejekan Vier.


"Baiklah, aku rasa aku harus pamit lebih dulu! Sampai jumpa tahun depan!" Vier berpamitan. Ia segera membawa Vaya pergi meninggalkan keluarganya.


Acara makan malam tahunan yang harus berakhir sebelum menimbulkan masalah bagi Vier.


...*****...


"Selamat datang, Pak Vier, Bu Vaya."


Pak Jo menyambut kedatangan Vier dan Vaya.


Vaya terlalu sibuk termenung, baginya begitu berat untuk menarik senyumnya.


"Vaya, mari kita bicara," ajak Vier.


Vaya mengikuti langkah Vier, mereka menyusuri taman yang berada di belakang paviliun utama.


Vaya masih terdiam dan tenggelam dalam pikirannya. Matanya masih menatap ujung sepatunya.


"Vaya," ucap Vier sambil menghentikan langkahnya.


Dugh...


Vaya menubruk Vier yang berhenti mendadak.


"Aduh," Vaya mengaduh.


"Vaya, kau tidak apa-apa?" tanya Vier begitu memutar tubuhnya.


Ia mengusap lembut kepala Vaya, membuat Vaya mendongak.


"Vaya, aku harap kau tidak perlu mendengarkan apa pun yang dikatakan oleh keluargaku tentangmu," ucap Vier.


"Vier, bagaimana bisa aku tidak mendengarkan sedangkan aku punya dua telinga yang masih berfungsi?" kata Vaya dengan nada penuh kegetiran.


Vaya merasakan matanya memanas dan dadanya mulai terasa sesak.


"Vier, apa kau akan membuangku?" tanya Vaya.


"Apa maksudmu, Vaya?" Vier mengernyit.


"Kedua orang tuamu tidak menerimaku kan? Saudara-saudaramu, sudah jelas mereka tidak menyukaiku! Aku tidak secantik Selena! Kau pasti jadi malu sekali karena punya istri yang begitu jelek sepertiku! Aku ini jelek dan berkulit gelap!"

__ADS_1


Vaya mulai meneteskan air matanya. Rasanya harga dirinya terkoyak-koyak di depan keluarga Vier.


"Vaya," Vier menyeka air mata Vaya.


"Hiks, seharusnya kau tidak perlu menikahiku, daripada akhirnya kau harus menanggung malu karena punya istri yang jelek sepertiku, hiks..."


Vier memutar bola matanya lalu mencubit kedua pipi Vaya dengan gemas.


"Vaya, kau ini ya! Apa kau sungguh tidak mendengarkan ucapanku barusan? Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk tidak mendengarkan apa pun yang dikatakan oleh keluargaku?"


Vier menatap Vaya lekat-lekat.


"Kau itu istriku, Vaya! Yang harus kau dengarkan itu adalah aku!" ucap Vier dengan tegas.


"Vier, tapi...," kata Vaya.


"Vaya, tidak ada tapi-tapian!" sergah Vier.


Vaya kembali menatap Vier.


"Vier, jika mereka memintamu untuk membuangku, apa kau akan melakukannya?" tanya Vaya.


"Vaya, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Vier.


"Aku bisa berpikir seperti itu, karena aku menyadari posisiku!"


"Aku wanita yang tidak cantik, tidak memiliki latar belakang keluarga yang hebat! Tidak ada hal yang bisa membuatmu bangga, yang ada aku hanya menjadi beban bagimu!" cerocos Vaya.


Vier menarik napasnya.


"Vaya, apa kau benar-benar ingin mendapat hukumanku?" tanya Vier.


"Hee? Kenapa aku harus dihukum, Vier?" tanya Vaya.


"Karena kau tidak mendengarkan apa yang kuperintahkan! Aku minta kau tidak usah mendengarkan omongan keluargaku, tapi kau justru ngotot seperti ini!" sahut Vier.


"Itu sama saja kau menentangku kan? Dan menentang itu artinya apa?"


"Vi-Vier, aku tidak menentangmu, aku hanya menyampaikan apa yang ada dalam pikiranku," sahut Vaya tergagap.


"Vaya, apa kau tahu, apa yang ada di pikiranmu, sungguh berbeda dengan apa yang ada dalam pikiranku."


Vier dan Vaya kembali saling bertatapan. Vier menyugar rambutnya.


"Ayo ikut aku," kata Vier sambil menarik tangan Vaya.


"Hee? Mau ke mana?!" Vaya tersentak kaget.


Vaya benar-benar kewalahan mengikuti langkah-langkah Vier yang lebar dan panjang. 


Vier membawa Vaya ke dapur yang nampak kosong tanpa adanya aktivitas.


Mata Vaya terpana ketika Vier membuka sebuah lemari es khusus tempat penyimpanan es krim.


Es krim dalam wadah berbentuk ember dengan beraneka rasa. Namun stroberi dan vanila menjadi rasa yang mendominasi lemari es tersebut.


"Saat suasana hatimu sedang buruk, makan es krim bisa membuatmu merasa lebih baik," kata Vier sambil mengeluarkan tiga ember es krim.

__ADS_1


"Jadi, Nona, es krim rasa apa yang Anda inginkan?" tanya Vier sambil mengedipkan sebelah matanya.


...*****...


__ADS_2