Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
184 - Tante Bule


__ADS_3

Bu Cintami menjadi orang pertama yang langsung mendapatkan hasil tes DNA Vier dan Vero.


Bu Cintami terperangah, kehilangan kata-kata saat membaca hasil tes DNA yang menyatakan bahwa Vero benar-benar adalah anak kandung Vier.


Oh Tuhan! Aku benar-benar sudah mempunyai seorang cucu?!


Batin Bu Cintami melonjak kegirangan, namun wanita itu sudah terbiasa menyembunyikan sikap ekspresifnya lantaran tuntutan kehidupan sosial.


"Gemma! Hasil tes ini benar-benar tidak dimanipulasi?" tanya Bu Cintami penuh selidik.


"Saya sudah berkoordinasi langsung dengan pihak rumah sakit. Lagipula, saya juga sudah membawa sampel Tuan Vier dan Tuan Vero ke beberapa rumah sakit lain tanpa sepengetahuan Tuan Vier guna memastikan bahwa hasil tes DNA tersebut benar-benar sesuai dengan kondisi yang ada," beber Gemma panjang lebar.


Bu Cintami mengulas senyum puas, tak salah ia memilih Gemma untuk menjadi asisten pribadinya menggantikan asisten-asisten lain yang dinilainya kurang kompeten.


"Baguslah, kalau memang seperti itu. Kalau begitu, aku harus menemui cucuku sekarang," ujar Bu Cintami.


Bu Cintami segera menelepon Vier, namun tidak ada jawaban.


"Ke mana Vier? Kenapa tidak menjawab teleponku? Apa dia membawa kabur cucuku?!"


...*****...


Selena menatap sendu ke arah jendela, namun sebuah sapaan membuatnya menoleh ke arah pintu.


"Selena," sapa Vier.


Netra Selena langsung tertuju pada sosok bocah yang digendong Vier. Vier menurunkan Vero begitu berhenti di tepi tempat tidur Selena.


"Ini bunga untuk Tante," Vero menyerahkan buket bunga mawar merah muda untuk Selena.


"Kata Ayah, ini bunga kesukaan Tante," kata Vero.


"Thank you," jawab Selena sambil mengulas senyumnya tatkala menerima bunga pemberian Vero.


Selena memeluk buket bunga itu sambil tetap tersenyum ke arah Vero.


"Who is your name?" tanya Selena pada Vero.


Vero menoleh ke arah Vier.


"Ayah, Tante bule ngomong apa sih?" tanya Vero.


"Haha," Vier tertawa. "Nanti Vero belajar bahasa Inggris ya," kata Vier sambil mengacak rambut Vero dengan gemas.


"Vier, your son is just like you," kata Selena dengan pandangan berbinar-binar. "His face, his eyes, what a cute little guy," puji Selena.


"Haha, tentu saja, Selena," sahut Vier penuh kebanggaan.


"Ayah, Tante bule ngomong apa sih?" tanya Vero.


"Vero tampan seperti Ayah," jawab Vier sambil menyeringai.

__ADS_1


Vero langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal lantaran salah tingkah.


"Di mana ibumu?" tanya Selena pada Vero.


"Ibuku menunggu di luar," jawab Vero.


Selena kembali mengulas senyumnya.


"Ayah, Tante bule cantik sekali, seperti artis di televisi," cerocos Vero.


"Haha, matamu memang jeli sekali, Vero!" Vier kembali tertawa.


"Vier, aku memutuskan untuk memulai pengobatan di Jerman," kata Selena.


"Kenapa, Selena? Apa ada masalah dengan rumah sakit ini?" tanya Vier.


Selena menggeleng pelan.


"Sudah sejak tahun lalu ayahku memintaku untuk dirawat di salah satu rumah sakit pengobatan syaraf di Berlin. Rumah sakit itu merupakan rekomendasi dari rekan ayah," ujar Selena.


"Tante memangnya sakit apa?" tanya Vero.


"Tante tidak sakit, Tante hanya ingin lebih sehat," jawab Selena.


Selena memandangi wajah Vier.


"I wish we could had this little guy too. Seandainya kita bisa memiliki anak laki-laki juga," ujar Selena.


"You will have another one, with another man, Selena. Kau akan memiliki seorang anak dengan pria lain, Selena," kata Vier.


"You deserve a better man than me. Kau layak mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku," ucap Vier tulus.


"You are the best man I've ever had. Kau adalah lelaki terbaik yang pernah kumiliki," balas Selena.


"Ih, kenapa Ayah dan Tante bule bicara pakai bahasa rahasia begitu sih?" keluh Vero.


"Haha, itu karena ayahmu ini sebenarnya adalah agen rahasia. Tolong rahasiakan dari ibumu, ya," Vier tertawa sambil kembali mengacak rambut Vero dengan gemas.


Selena mengulas senyumnya, jauh di lubuk hatinya, tentu saja ia merasa sedih. Seandainya saja ia tidak membatalkan pernikahannya dengan Vier, saat ini ia dan Vier pasti sudah berbahagia dengan anak-anak mereka.


Selena tersadar bahwa Vero jauh lebih membutuhkan Vier daripada dirinya yang selama tiga tahun ini sudah menyusahkan Vier. Memisahkan Vier dari anaknya. Bukankah yang dilakukannya sungguh jahat dan tak berperasaan?


"Ayah, katanya kita mau ke Disneyland?" Vero menggoyang-goyangkan tangan Vier.


"Ahaa, tentu saja, Vero, kita akan ke Disneyland," sahut Vier.


"Benar ya? Jangan janji-janji palsu lagi," cibir Vero.


Vier menyeringai ke arah Vero, kemudian ia beralih pada Selena.


"Baiklah, Selena, kami permisi dulu. Jaga dirimu baik-baik," ujar Vier.

__ADS_1


Vier memberi Selena pelukan singkat yang membuat Selena berusaha untuk tidak menangis meski matanya sudah berkaca-kaca.


"Ayah, aku mau peluk tante bule juga," kata Vero.


"Kemarilah," Selena menyambut Vero dengan tangan terbuka.


Vero memeluk Selena dengan erat.


"Tante kurus sekali, makan yang banyak ya," ceplos Vero.


"Ehem, Vero," Vier berdeham.


"Ada apa, Ayah?" tanya Vero.


"Vero, berat badan adalah isu sensitif wanita, jadi sebaiknya tidak perlu dibahas," sahut Vier.


Vero menutup mulutnya dengan cepat.


"Maaf, Tante," kata Vero takut-takut.


"Haha," Selena tertawa lepas.


...*****...


Sementara itu Vaya duduk menunggu di taman dekat rumah sakit. Vier membawa Vero pada Selena karena Selena meminta untuk dipertemukan dengan Vero.


Vaya benar-benar merasa sesak dalam dadanya kembali bergemuruh.


Mereka tidak boleh memonopoli Vero. Aku juga punya hak yang sama untuk merawat dan membesarkan Vero, batin Vaya.


"Bonjour."


Vaya menoleh ke arah seorang pria yang tiba-tiba datang menghampirinya. Pria berambut pirang dengan mata biru dan wajah tampan yang maskulin. Pria itu bersetelan jas rapi dan klimis.


"Bonjour, ca va? Comment tu t'appelles?" tanya pria itu.


"Hah?!" ceplos Vaya.


"Sorry, I can't speak French," tolak Vaya.


Pria bermata biru itu terlihat kurang berkenan dengan penolakan Vaya.


Vaya segera beranjak dari tempat duduknya, sementara pria itu mulai mengikuti Vaya.


Vaya selalu teringat pesan bahwa ketika berada di luar negeri, sebaiknya bersikap waspada terhadap orang asing yang berlagak kenal. Bisa jadi orang tersebut merupakan anggota sekte aliran sesat yang sedang melakukan perekrutan calon anggota baru. Sasaran mereka pada umumnya adalah para pendatang. Terlebih pendatang yang kurang fasih dalam berbahasa asing.


Vaya mempercepat langkahnya. Ia benar-benar tidak mau berurusan dengan orang asing, terutama pria asing yang menggunakan ketampanan untuk menjebak.


Merasa bahwa pria asing itu sudah tidak mengikutinya, Vaya pun segera menghentikan langkah dan memandang ke sekeliling.


Taman dekat rumah sakit itu sudah berganti dengan bangunan berblok-blok yang di sepanjang jalannya banyak kafe dan restoran tengah dipadati pengunjung.

__ADS_1


Oh tidak! Ini di mana?


...*****...


__ADS_2