
Hosh.. Hosh..
Vaya terengah-engah, deru napasnya memburu, matanya menatap langit-langit, dengan tatapan mata yang kosong. Keringat sudah membanjiri sekujur tubuh Vaya.
Vaya bisa melihat seringaian jahat di wajah Vier yang saat ini sedang memegangi dan mengunci kedua betisnya.
Plak..!
"Argh!" Vaya menjerit.
Satu tepukan keras mendarat di bokongnya, juga remasaan yang sukses membuat Vaya menggelinjang, mengangkat bokongnya lebih tinggi.
"Vaya! Masih satu set lagi!" ucap Vier.
"Aduh, Vier! Aku benar-benar sudah mau pingsan! Tenagaku sudah habis!" keluh Vaya.
Vaya tergeletak di atas matras yoga, tak sanggup rasanya harus melakukan sit up lagi.
"Ck! Vaya, jangan malas-malasan! Pemanasan itu sangat penting!" Vier menyeringai.
Vier segera merayap naik di atas tubuh Vaya yang sudah nyaris pingsan karena kelelahan akibat melakukan tiga set push up dan sit up.
"Baiklah, kalau begitu sekarang giliranku," kata Vier.
Vier mulai melakukan push up di atas tubuh Vaya. Satu kecupan mendarat di bibir Vaya setiap kali pria itu menurunkan tubuhnya, dan melepas bibir Vaya ketika pria itu mengangkat tubuh.
Sebelumnya, Vier juga menyuruh Vaya untuk melakukan hal yang sama ketika Vaya mulai melakukan sit up. Mereka berciuman dengan gairah yang benar-benar membakar.
Vier kembali mendaratkan ciuman ke bibir Vaya, melumaat bibir yang tidak tebal dan juga tipis yang kerap membuatnya tak bisa menahan diri.
"Aah! Vier!"
Vaya melenguuh, kehabisan napas karena menerima buasnya ciuman dari Vier. Ritme ciuman Vier makin meningkat sekian detiknya.
Vaya tersentak karena Vier mengunci dan menyesap lidahnya, belum lagi lidah pria itu bermain-main di langit-langit yang membuat Vaya jadi menggelinjang heboh. Rasa geli yang benar-benar membuat Vaya jadi ketakutan. Ia terlalu takut untuk terbuai pada ciuman Vier yang mulai membuatnya mabuk kepayang lantaran tubuhnya yang bereaksi di luar kendalinya.
"Vaya," suara Vier terdengar bergetar.
Birahi sedang menguasai diri Vier. Vier bak seekor serigala yang saat ini sudah siap menyantap anak domba yang nampak tak berdaya dalam kungkungannya.
Vier menyusuri garis rahang Vaya, menyusupkan tangannya di balik sport bra yang dikenakan Vaya untuk meremaas dua gundukan kenyal dengan pucuk yang menegang. Menyingkap perlahan hingga kedua gundukan itu menantang sempurna di depan matanya.
Oh tidak! Vaya berusaha mendorong Vier yang saat ini sedang melahap dengan begitu rakus gundukan kembarnya.
"'Vi-Vier! Jangan, Vier!" Vaya berusaha mendorong kepala Vier.
Vier menangkap tangan Vaya dan menahannya di samping kepala Vaya. Vaya kembali menggelinjang heboh, tak bisa mengontrol gerak tubuhnya.
"'Hm, jangan apa, Vaya? Apa maksudmu jangan berhenti?" Vier menyeringai sambil terus melakukan aksi penjilatan.
Bak seekor lalat yang menjilati manisnya madu yang tercecer di lantai.
"Vi-Vier! Kumohon! Jangan lakukan ini, ugh!" Vaya berusaha melepaskan diri dari Vier.
__ADS_1
"Vaya, kenapa aku tidak boleh melakukannya?" tanya Vier.
Vier menghentikan aksinya, matanya menatap mata Vaya yang kembali digenangi air mata. Gairahnya kembali surut melihat Vaya yang gemetar ketakutan.
"Katakan padaku, Vaya!" suara Vier meninggi.
Emosi dan rasa kecewa terpancar dari sorot mata Vier yang membuat air mata Vaya makin bercucuran.
Vaya menggigit bibirnya, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun ketika ia duduk bersimpuh dan menunduk. Tak ada keberanian yang bisa membuat Vaya menatap mata Vier.
"Apa karena ada pria lain yang berkencan denganmu?" tanya Vier.
Deg.. Jantung Vaya seakan berhenti berdetak.
"Wah, sepertinya dugaanku benar!" Vier kembali menyeringai.
Vaya mengangkat wajahnya, menatap kemarahan yang terpancar dari sorot mata Vier, meski saat ini senyum pria itu mengembang dan memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Tidak, Vier! Sungguh bukan seperti itu!" sergah Vaya dengan cepat.
"Lantas seperti apa?" tanya Vier.
Vier mencengkeram kedua pipi Vaya, seringaian horor tetap melengkung sempurna di wajah tampannya.
Otak Vaya dituntut untuk berpikir super cepat. Memikirkan alasan yang tepat mengapa ia tidak bersedia untuk disentuh oleh Vier.
Ia tidak mungkin menjadikan alasan bahwa hatinya menolak kehadiran Vier karena sudah ada Yoran di hatinya. Itu sama saja artinya menyuruh Vier untuk melenyapkan Yoran dari muka bumi ini.
"Vier! Aku bukan Selena!" kata Vaya.
Selena adalah kunci! Selena adalah kunci! Batin Vaya bersorak bak pemandu sorak yang sedang tampil di depan publik.
S to the E to the L to the E to the N to the A! SELENA!
"Aku bukan Selena, tidak akan bisa menjadi Selena dan tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Selena di mana pun!" lanjut Vaya.
"Ya, aku tahu, Vaya! Mataku tidak buta! Kau memang bukan Selena! Dan tidak akan pernah menjadi Selena!" Vier melepaskan cengkeramannya dari pipi Vaya.
"Tapi tentu kau tidak lupa dengan posisimu! Kau itu istriku! Istriku!" kata Vier.
"Ya, aku tahu posisiku, Vier! Aku tahu posisiku sebagai istrimu! Tapi istri hanyalah jabatan secara struktural dalam organisasi hidupmu! Namun aku tidak menjalankan jabatan itu secara fungsional karena aku hanyalah pejabat sementara!" Vaya menyeka air matanya.
Ya, Vaya sadar posisinya hanyalah sebagai pejabat sementara. Sama saja seperti pegawai program intern atau yang lebih dikenal dengan sebutan pegawai magang di sebuah perusahaan. Atau hanya tenaga bantuan alias naban di lingkungan pemerintahan.
Vier menyugar rambut hitamnya yang tebal, ia segera beranjak dan meninggalkan Vaya yang kembali menangis tersedu-sedu di ruang gym pribadi Vier.
Ya, Vier memilih untuk meninggalkan Vaya, daripada harus terus berdebat, memperdebatkan seseorang yang tidak ada di antara mereka, yakni Selena.
...*****...
Vaya turun dari mobil daring yang mengantarnya ke sebuah restoran di kawasan perbukitan. Restoran mewah yang begitu eksklusif dan tertutup. Sangat cocok untuk orang-orang yang menginginkan privasi lebih.
Ia memasuki jalan setapak yang di kiri kanannya masih dipenuhi rerimbunan pohon pinus.
__ADS_1
Restoran berkonsep alam terbuka dengan kolam renang yang menghadap langsung ke lembah ngarai yang hijau.
Vaya langsung mengulas senyumnya begitu seorang pria menyambut senang kedatangannya dan langsung menggenggam tangan Vaya. Menuntun Vaya menuju ke meja yang sudah menghidangkan makan siang mewah untuk mereka berdua.
"Terima kasih sudah bersedia datang, Vaya," kata Yoran sambil mempersilakan Vaya duduk di kursi.
"Aku justru berterima kasih karena kau sudah mengajakku untuk makan siang di restoran ini," kata Vaya.
Yoran masih mengunci tatapannya pada Vaya. Wanita yang akhir-akhir ini mengisi hidupnya dan membuat hari-harinya terasa jauh lebih nyaman melalui obrolan-obrolan ringan yang bersahabat.
Yoran bahkan begitu rindu untuk berjumpa lagi dengan Vaya. Rasa rindu bak seorang remaja yang ingin bertemu dengan pujaan hatinya.
Yoran mengamati wajah Vaya yang terlihat tegang, bahkan Vaya sempat menoleh beberapa kali ke sekeliling mereka.
"Vaya, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat," kata Yoran.
"Aku baik-baik saja, Yoran," jawab Vaya.
Tentu saja saat ini Vaya berbohong. Ia merasa sangat was-was menemui Yoran seperti ini. Terlebih Vier sudah melayangkan ancaman yang tidak bisa hanya dijadikan isapan jempol semata.
Yoran mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, sebuah kotak mungil berwarna hijau tosca yang langsung disodorkan Yoran tepat di hadapan Vaya.
"Apa ini, Yoran?" tanya Vaya.
"Hadiah untukmu," jawab Yoran.
Vaya mengambil dan membuka kotak mungil tersebut. Memandangi sepasang anting berlian berukuran mungil dengan model stud yang langsung membuatnya terperangah.
Terlebih anting tersebut merupakan anting keluaran dari rumah perhiasan Tiffanyee & Co. Harga sepasang anting ini jelas lebih mahal jika ditukar dengan dua ginjal Vaya sekaligus.
"Yoran, untuk apa memberiku hadiah mewah seperti ini? Aku rasa ini terlalu berlebihan," kata Vaya.
Yoran mengurai senyumnya, memandangi Vaya yang masih tak bisa menyimpan ekspresi kagetnya.
"Vaya, aku memilih anting ini karena aku pikir akan sangat cocok untukmu," sahut Yoran.
"Jadi, kau memilih anting ini sambil memikirkanku?" tanya Vaya.
Yoran mengulas senyumnya yang lagi-lagi sukses membuat Vaya deg-degan tak karuan.
"Apa kau mau aku membantu memakaikannya untukmu?" Yoran menawarkan.
Vaya mengangguk malu-malu tapi mau. Yoran segera menghampiri Vaya, ia pun segera memakaikan anting tersebut di telinga Vaya yang jarang memakai anting.
Vaya benar-benar luar biasa tegang, terlebih ketika Yoran memegang daun telinganya. Sontak tubuh Vaya jadi merinding tak karuan.
"Sudah," kata Yoran.
Vaya berdebar-debar sambil memegangi anting yang menempel pada kedua telinganya.
"Apa terlihat cocok untukku?" tanya Vaya.
Yoran mengangguk. "Sangat cocok," jawab Yoran.
__ADS_1
Vaya mengulas senyumnya menatap Yoran yang juga tersenyum hangat padanya.
...*****...