Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
126 - Arti Masa Lalu


__ADS_3

Mata Vaya langsung tertuju pada sosok wanita berwajah cantik dengan kulit seputih susu. Memakai pakaian keluaran terbaru dari rumah mode ternama Eropa mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Blazer berwarna merah muda yang dipadukan dengan terusan berwarna hitam. Wanita itu menurunkan kacamata hitamnya.


"Missyu," ucap Vier.


Deg..


Jantung Vaya seakan berhenti berdetak mendengar Vier mengucapkan kata "miss you" kepada seorang wanita yang baru saja mereka temui.


Siapa wanita ini? Kenapa Vier dengan mudah mengucapkan "miss you" alias "rindu kamu" kepada wanita lain di hadapanku? Batin Vaya bergejolak.


"Vier! Sungguh kebetulan bertemu denganmu di sini!"


Wanita itu menghampiri Vier dan Vaya. Wanita itu dengan begitu luwesnya membuka tangannya,  dan Vier langsung menyambut pelukan wanita itu.


Dada Vaya langsung terasa sesak melihat Vier memeluk wanita itu meski hanya sekejap. Terlebih keduanya saling menatap seakan mereka adalah dua orang yang sudah begitu lama tidak saling berjumpa.


Wanita berparas cantik itu mengarahkan pandangannya pada Vaya. Pandangannya menusuk dan terkesan mencemooh tanpa kata-kata.


"Ya, aku sungguh tak menduga akan bertemu denganmu di sini," kata Vier.


"Sampai jumpa nanti malam," ucap wanita itu.


"Ya, sampai jumpa nanti malam," sahut Vier.


Wanita berparas cantik dan begitu anggun itu melangkah pergi meninggalkan Vier dan Vaya.


Vier menoleh ke arah Vaya yang langsung memasang wajah cemberut.


"Dasar playboy!" Vaya mendorong bahu Vier dengan kesal dan melangkah pergi lebih dulu.


"Vaya, apa maksudmu?" Vier mengejar langkah Vaya.


"Vier, tak usah pedulikan aku! Pergilah bersama mantan pacar yang kau rindukan itu!" sungut Vaya.


Vier mengernyitkan keningnya tak mengerti apa maksud Vaya yang tiba-tiba saja marah seperti ini.


"Mantan pacar yang kurindukan? Apa maksudmu, Vaya?" tanya Vier keheranan.


"Miss you! Love you! Hueek!" cibir Vaya sambil berpura-pura hendak muntah.


Miss you? Love you? Batin Vier cepat-cepat mencerna apa maksud cibiran Vaya.


"Haha!" Vier tertawa.


Tawa Vier sungguh menyebalkan hingga membuat Vaya makin meradang.


"Vaya, apa kau sedang cemburu?" tanya Vier.


"Tidak! Aku tidak cemburu padamu!" jawab Vaya mendongkol.


Vier mengulas senyumnya lalu merangkul bahu Vaya dengan gemas.


"Ugh, lepaskan aku, Vier!" sungut Vaya berontak.

__ADS_1


"Haha, duhh, gemasnya!" Vier mengacak rambut Vaya dengan gemas.


...*****...


"Pak Vier, Bu Vaya," Mike menyambut Vier dan Vaya begitu keduanya keluar dari pintu kedatangan.


Mike datang untuk menjemput Vier dan Vaya.


"Hai, Mike," sapa Vier dengan senyum sumringah.


Senyum sumringah Vier tentu saja berbanding terbalik dengan Vaya yang justru memasang ekspresi cemberut.


Apa keduanya bertengkar lagi di Maldives? Jauh-jauh ke Maldives hanya untuk bertengkar? Ya ampun, batin Mike.


"Vaya, kau pergilah bersama Mike, aku masih ada urusan," kata Vier.


"Ya, pergilah, Vier, uruslah urusanmu dengan mantan kekasihmu itu! Miss you, love you, huekk,"  Vaya kembali melemparkan cibiran.


"Haha!" Vier tertawa lagi.


Vier bisa menebak bahwa Vaya pasti sangat cemburu dengan wanita yang tadi mereka temui.


Entahlah, Vier semakin senang dan berbunga-bunga melihat Vaya cemburu seperti ini.


Vier memeluk dan mencium kening Vaya sebelum mereka berpisah di depan mobil yang akan membawa Vier pergi.


"Sampai jumpa nanti malam," bisik Vier sambil mengecup sekilas bibir Vaya.


Vier segera memasuki mobil yang membuatnya berpisah dari Vaya.


"Silakan masuk, Bu Vaya," ucap Mike sembari membukakan pintu mobil untuk Vaya.


Vaya memasuki mobil dengan perasaan gusar. Mike menutup pintu dan segera masuk ke kursi depan di samping sopir.


Sepanjang perjalanan, Vaya hanya bisa termenung. Rasanya sungguh menyesakkan melihat Vier memeluk wanita lain di depan matanya dan mengucapkan kata "rindu kamu" kepada wanita lain secara terang-terangan di hadapannya.


Vaya menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil. Seketika ia langsung meratapi nasibnya. Padahal baru semalam ia merasakan limpahan cinta dan kasih sayang yang membuatnya begitu terbuai. Terlena oleh kenikmatan surga dunia yang membuatnya melayang hingga ke langit ketujuh.


Tapi sekarang, Vier justru meninggalkannya demi wanita lain!


Dasar playboy!


...*****...


Mobil yang dikendarai sopir terhenti di depan sebuah butik mewah.


Vaya segera memasuki sebuah butik bersama Mike.


Mata Vaya langsung tertuju pada deretan pakaian-pakaian modis, terbaru, dengan harga selangit.


"Pak Mike, kenapa kita pergi ke butik?" tanya Vaya.


"Pak Vier meminta Anda untuk memilih sendiri pakaian yang ingin Anda pakai. Karena pengalaman dari beberapa waktu yang lalu, Anda kerap menolak pakaian yang dipilih sendiri oleh Pak Vier," Mike memberi penjelasan.

__ADS_1


"Oh, begitu ya," Vaya meringis.


"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa Vier menyuruhku memilih pakaian? Apa untuk menghadiri pesta lagi?" tanya Vaya.


"Bisa jadi," jawab Mike singkat.


Vaya kembali merasakan rasa sesak di dalam dadanya.


Ucapan wanita yang ia temui di bandara kembali terngiang-ngiang dalam benaknya.


Sampai jumpa nanti malam..


Kalimat itu membuat dada Vaya seketika kembali sesak.


Vaya terdiam di depan deretan pakaian.


"Pak Mike, apa Anda tahu, kira-kira berapa banyak jumlah mantan pacar Vier?" tanya Vaya.


"Kenapa tiba-tiba Anda bertanya seperti itu, Bu Vaya?" tanya Mike.


"Pasti jumlahnya banyak sekali kan, Pak? Saat masih sekolah saja, hampir semua siswi pernah menjadi kekasih Vier," kata Vaya.


"Yang mana jika dikalkulasikan hingga kini, itu artinya setengah populasi wanita di kota ini pernah berkencan dengan Vier kan?" 


Mike masih mendengarkan cerocosan Vaya. 


"Wah, benar-benar sungguh luar biasa ya, Pak Mike! Aku bahkan tidak menyangka bisa menjadi salah satu wanita yang dibawa oleh Vier ke tempat tidurnya!"


"Entahlah, apakah ini sebuah prestasi yang harus kubanggakan atau justru aib yang harus kusembunyikan?" 


Vaya merasa matanya memanas, pandangannya kabur oleh air mata yang mulai terkumpul di pelupuk matanya.


"Bu Vaya," ucap Mike.


"Menurut saya pribadi, apalah artinya sebuah masa lalu? Bukankah yang terpenting itu adalah masa kini, dan ke depannya bersama orang yang mencintai dan Anda cintai?"


"Anda tidak hidup di masa lalu. Karena hidup adalah proses untuk meninggalkan masa lalu dan menjalani masa kini demi masa depan," lanjut Mike.


Vaya menatap ke arah Mike. Ucapan Mike jelas langsung membuat Vaya tertegun.


Selama ini, Vaya memang selalu hidup dalam bayang-bayang masa lalu Vier yang dulu dikenalnya, lima belas tahun yang lalu. 


Vaya bahkan tak pernah tahu bagaimana keadaan Vier selama lima belas tahun itu. Mereka seakan hidup di belahan dunia yang berbeda. 


Sebuah reuni mempertemukan mereka setelah lima belas tahun telah berlalu. Dan sebuah pernikahan pun akhirnya menyatukan mereka.


Tiba-tiba Vaya merasa jauh lebih unggul dibandingkan para mantan kekasih Vier. Para wanita cantik itu hanyalah kepingan masa lalu Vier. 


Vaya cepat-cepat menyeka air matanya. Ia menarik napas dan mulai mencari pakaian terbaik untuk dipakainya.


Vaya ingin tampil luar biasa di depan Vier. Tak peduli betapa cantiknya para mantan kekasih Vier, mereka hanyalah mantan yang tidak bisa memiliki Vier seutuhnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2