Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
051 - Aku Harus Ikut


__ADS_3

Vaya membuka matanya, wajah Vier menjadi pemandangan pertama yang disaksikannya. Wajah tidur pria itu nampak begitu damai. Vaya memandangi wajah pria itu secara saksama. Rambut hitam yang tebal dan kaku, alis tebalnya, hidungnya yang mancung bahkan lalat pun akan tergelincir saat hinggap di hidung Vier, belum lagi bibir pria itu memancarkan rona kemerahan yang sesuai dengan kulitnya yang putih dan bersih. Bulu-bulu halus bermunculan di rahangnya yang tegas dan juga bulu-bulu kumisnya.


Dari dulu Vier memang sudah tampan, begitu dipuja para gadis. Hampir setiap hari Vier terlihat bersama dengan gadis-gadis yang berbeda. Namun siapa yang akan menduga bahwa saat ini, justru Vaya yang berbaring di sampingnya. Terikat kontrak perbudakan birahi dengan pria ini.


Vaya cepat-cepat menutup matanya saat mata Vier tiba-tiba saja terbuka. Terlambat, Vier sudah memergoki Vaya.


"Sebegitu terpesona melihat ketampananku ya?"


Vier menyeringai melihat Vaya yang mencebik.


"Mana kewajibanmu setiap pagi?" tagih Vier.


Vaya mengernyitkan dahinya, Vier menarik Vaya ke dalam dekapannya.


"Ugh, Vier!" rutuk Vaya.


"Kau benar-benar harus kuhukum, Vaya," ucap Vier.


"Tu-tunggu, Vier! Kenapa aku harus mendapat hukumanmu lagi?!"


"Ada dua perkara yang membuatmu harus mendapatkan hukuman dariku. Perkara yang pertama yakni kau sudah berani menggodaku. Kau menggodaku seperti ini."


Vier menciumi rahang Vaya, turun hingga ke leher Vaya.


"Ugh, Vier," Vaya menggeliat.


"Tapi kau malah membuatku tergoda sia-sia! Dasar menyebalkan!" Vier masih menciumi tulang selangka Vaya.


"Vieer, maaf aku sungguh tak menduga bahwa kau akan tergoda ikan buntal, sapi glonggongan sepertiku," Vaya menggeliat dalam dekapan Vier.


"Huh! Aku ini laki-laki yang sehat lahir dan batin ya! Apalagi kau menggodaku seperti itu! Dasar wanita tak punya akhlak!" rutuk Vier.


"Aku benar-benar kesal padamu karena pada akhirnya harus menggarap proyek solo di kamar mandi, semua gara-gara ulahmu yang tidak bertanggung jawab!"


Vier masih merutuk sambil menyesap perlahan tulang selangka Vaya yang sukses membuat Vaya merinding hingga ke sumsum tulangnya.


"Ugh! Maafkan aku, Vieer," Vaya menggeliat bak cacing kepanasan.


"Lalu perkara selanjutnya, apa kau berpura-pura lupa dengan apa yang harus kau lakukan saat bangun tidur?"


Apa yang harus kulakukan saat bangun tidur? Vaya berpikir cepat.


Vaya menatap Vier yang terlihat kesal. Pria itu bahkan sudah menyodorkan wajahhya.


"Apa maksudmu ciuman bangun tidur?" tanya Vaya.


"Vaya, apa kau mau kuikat dan kugantung terbalik di balkon?" tanya Vier.


Vaya mendelik gusar sebelum akhirnya mengambil bibir Vier dan mencium pria itu sesuai permintaannya. Entahlah, Vier tidak tahu mengapa berciuman dengan Vaya membuatnya jadi kecanduan seperti ini.


...*****...


Vier masih terlihat uring-uringan ketika menyantap sarapan paginya. Melihat Vier yang masih dalam mode seperti itu pada akhirnya membuat Vaya jadi tidak enak untuk tetap meminta izin. Padahal Vaya sudah berjanji untuk menemui ibunya hari ini.


Mike jelas terheran-heran melihat Vier yang uring-uringan seperti ini. Apakah semalam keduanya kembali bertengkar?

__ADS_1


Vaya menarik napasnya, ia memutuskan tetap meminta izin pada Vier untuk pulang ke rumah orang tuanya.


"Vier, aku boleh ya, pulang ke rumah orang tuaku hari ini," pinta Vaya.


Vier melemparkan tatapan skeptis. Ingin marah, tapi rasanya percuma. Vaya begitu keras kepala dan tak bisa diatur.


"Vier, aku sudah berjanji pada ibu dan adik-adikku," Vaya kembali memohon.


Vier kembali berpikir, jika Vaya berbohong dan menemui pria lain, tapi Vaya tidak mungkin bisa tidur dengan pria lain dalam keadaan datang bulan kan?


Tapi mereka masih tetap bisa saling memuaskan satu sama lain!


Bisa saja pria itu tetap main sikat, main embat, meski Vaya tengah datang bulan!


Cih, sial! Apa yang kupikirkan sih?! Keluh Vier.


"Vieer," rengek Vaya.


"Baiklah! Baiklah!" kata Vier pada akhirnya.


"Baiklah apa, Vier?" tanya Vaya.


"Baiklah, kau boleh pergi ke rumah orang tuamu," jawab Vier.


"Terima kasih, Vier!" Vaya tersenyum senang.


"Tapi... Aku harus ikut," lanjut Vier.


"Hee? Vier, bukankah pekerjaanmu banyak, dan kau pasti akan kurang nyaman menginap di rumah orang tuaku! Kau pasti sudah paham dengan kondisi rumah orang tuaku yang tidak bisa disamakan dengan rumahmu ini!" sergah Vaya.


"Kau tidak perlu cemas, nanti Mike akan mengaturkan semuanya," sahut Vier.


Vaya mendelik gusar, ia tidak mungkin membiarkan Vier menghebohkan para tetangganya seperti ketika pria itu datang meminta restu. Tak bisa dibayangkan oleh Vaya ketika Vier menginap di rumahnya. Berapa banyak petugas keamanan yang berjaga di sekeliling rumahnya untuk menghalau para tetangga yang kepo. Belum lagi Vier yang akan benar-benar rewel, mendatangkan tempat tidur hingga pendingin udara. Bisa-bisa para tetangga akan berpikir bahwa rumah Vaya diikutkan program televisi pembedahan rumah.


"Baiklah, Vier, aku akan pergi bersamamu, tapi aku pun akan mengajukan syarat yang harus kau penuhi."


"Haha!" Vier tertawa sinis. "Vaya, pihak yang harusnya memberi syarat itu adalah aku sebagai pihak yang memberi izin padamu! Tanpa izin dariku, itu semua akan menjadi larangan!" tandas Vier.


"Vier, aku hanya mencoba melakukan negosiasi denganmu. Aku hanya ingin mengunjungi orang tuaku seperti yang biasa kulakukan. Aku tidak ingin ada iring-iringan heboh, pengawalan dan penjagaan yang ketat, serta kerewelanmu," beber Vaya.


Haha, Anda benar, Bu, Pak Vier memang orang yang rewel jika menyangkut tentang dirinya, batin Mike menanggapi pemaparan Vaya.


Vier menimbang-nimbang kembali, ia tentu saja tidak setuju Vaya pergi sendiri ke rumah orang tuanya.


Ada dua pertimbangan mengapa Vier harusĀ  ikut mendampingi Vaya. Yang pertama adalah membuktikan bahwa Vaya benar-benar pergi ke rumah orang tuanya, bukan pergi menghabiskan akhir pekan dengan pria lain. Yang kedua adalah jika Vaya pergi sendiri, bisa-bisa ibu mertuanya akan menganggapnya menantu durhaka. Bisa saja nanti Vaya menceritakan semua perlakuan Vier padanya. Menceritakan semua aturan, perintah, dan hukuman yang diberikan Vier. Jika sampai terjadi otomatis hal itu akan membuat Vier kembali menjatuhkan hukuman yang lebih berat lagi untuk Vaya yang sudah bersikap ember.


Vier menandaskan gelas berisi jus jeruknya sebelum akhirnya ia membuat keputusan.


"Baiklah, kita pergi ke rumah orang tuamu setelah aku menyelesaikan pekerjaanku," kata Vier.


"Hee? Tapi Vier... ," sergah Vaya.


"Ya, akan kulakukan apa yang kau inginkan," sahut Vier.


Vier segera meninggalkan Vaya yang hanya bisa melongo.

__ADS_1


Vaya terlalu terkejut dengan keputusan Vier yang mendadak ingin ikut dengannya.


Semoga saja Vier benar-benar tidak rewel! Secara dia itu kan seperti bayi! Bayi besar yang rewel, keluh Vaya.


...*****...


"Iya Bu, ini aku sudah mau berangkat," ujar Vaya saat menelepon ibunya.


"Hati-hati di jalan ya," ucap Ibu.


"Iya Bu," sahut Vaya.


"Kak, oleh-oleh!" terdengar seruan Aria.


"Iya, iya," sahut Vaya.


"Ya sudah, sampai ketemu di rumah ya," kata Ibu sebelum menutup telepon Vaya.


Vaya mengulas senyumnya, memikirkan oleh-oleh apa yang akan ia berikan untuk adiknya.


"Ehem!"


Vaya menoleh ke arah Vier yang menghampirinya.


Vaya mengerutkan kening melihat penampilan Vier yang nampak bersinar berkilau-kilau. Pria itu mengenakan kaus hitam berkerah tinggi, coat panjang berwarna cokelat yang dipadukan syal berwarna senada keluaran dari rumah mode Eropa. Celana panjang hitam dengan sepatu hitam yang mengilat menyempurnakan penampilan Vier.


Belum lagi Vier juga membawa koper-koper besar berwarna hitam yang dibawa oleh Mike dan Pak Jo.


"Ada apa, Vaya? Apa penampilan berkelasku ini terlihat begitu memesona?" tanya Vier.


"Vier, kau mau ke mana?" tanya Vaya.


"Ke rumah orang tuamu," sahut Vier.


"Vier, rumah orang tuaku bukan di Eropa," ucap Vaya.


"Ya, aku tahu," sahut Vier. "But, this is fashion! Fashion item!"


"Vier, lalu apa maksud koper-koper yang kau bawa itu?" tanya Vaya.


"Kita kan akan menginap, tentu aku harus membawa beberapa keperluan pribadiku," jawab Vier.


Beberapa? Vaya terperangah. Ini sama saja seperti kau hendak minggat, Vier!


"Vier, tidakkah sebaiknya kau kurangi bawaanmu? Kau pasti tahu sendiri, rumah orang tuaku tidak akan cukup untuk menampung koper-kopermu ini," kata Vaya.


"Tolong bawa seperlunya saja," lanjut Vaya.


"Vaya, aku memerlukan semua ini," sahut Vier.


"Vier, kita akan pergi naik kendaraan umum, pasti akan sangat merepotkan membawa semua barang-barangmu," kata Vaya.


"Tapi Vaya... ," potong Vier.


"Vier, kita sudah sepakat lho," kata Vaya.

__ADS_1


"Baiklah! Baiklah!" sahut Vier akhirnya mengalah.


...*****...


__ADS_2