Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
060 - Harga Diri Darti


__ADS_3

"Kau itu ya, Asih! Sungguh sembarangan mencari menantu! Coba kau tengok aku ini! Aku bahkan menyuruh agar Deri membujang saja daripada harus menikah dengan perempuan asal-asalan! Aku tentu tidak mau punya menantu susah yang ujung-ujungnya hanya akan menyusahkanku dan Deri saja!" cecar Darti.


"Aku ini tidak sepertimu, Asih! Sebenarnya siapa menantumu itu?! Kenapa jadi orang banyak lagak begitu?! Dia pikir siapa dirinya? Sudah merasa hebat sampai mengancam Deri seperti itu?! Sampai berjumpa di pengadilan! Huh! Arogan sekali!" cecar Darti lagi.


"Potongan macam tukang ronda saja lagaknya begitu angkuh! Sudah mertua susah! Eh, menantu susah juga! Ujung-ujungnya saling menyusahkan!" cibir Darti.


"Yang penting Kak Vaya sudah menikah, Tante!" celetuk Rian.


"Suami Kak Vaya juga luar biasa tampan dan tinggi!" Aria menimpali.


"Huuh!" dengus Darti.


"Untuk apa pria tampan tapi miskin! Nasib perempuan itu tergantung dari siapa yang menikah dengannya! Sayang sekali adikku harus bernasib buruk karena menikah denganmu, Asih!" tandas Darti.


"Tante Darti, ayahku meninggal karena sakit bukan karena ibuku!" sergah Vaya yang baru saja keluar dari kamarnya.


Rahang Vaya mengeras setiap kali mendengar Tante Darti menghina ibunya. Vaya segera kembali duduk di samping Bu Asih.


"Vaya, sudah," Bu Asih menepuk lembut lengan Vaya.


"Vaya! Vaya!"


Deri berlari ke dalam rumah, menghampiri Vaya. Pria tambun itu terlihat macam orang kebakaran jenggot.


"Katakan padaku, sebenarnya siapa suamimu itu?! Siapa dia?!" teriak Deri.


Deri terlihat frustrasi karena saat ini keadaannya sedang genting. Ia baru saja mendapat telepon dari anggota gudang, polisi sedang menyita gudangnya.


"Bagaimana dia bisa menyita gudangku?! Dasar brengsek!" raung Deri penuh kemurkaan.


"Deri, apa maksudmu? Aku sungguh tidak mengerti," tanya Vaya keheranan.


"Kau jangan pura-pura, Vaya! Kau sama brengseknya dengan suamimu!" raung Deri.


Deri tak kuasa menahan amarah yang membuncah dalam dirinya.


"Hei! Berani sekali kau membentak istriku!"


Vier langsung memberi teguran pada Deri begitu ia keluar dari kamar Vaya.


Deri terkesiap, matanya langsung menangkap sosok pria bersetelan jas berwarna biru gelap. Pria yang tadinya berpenampilan macam tukang ronda itu kini menjelma menjadi sosok model yang seakan keluar dari majalah mode.


"Whoaa! Kak Vier keren sekali!" seru Rian dan Aria berbarengan.


"Sst," Vier menempelkan telunjuk ke bibirnya, meminta kedua adik iparnya untuk diam. Rian dan Aria seketika bungkam.


Vier kembali beralih pada Deri.


"Apa kau sungguh ingin aku menambahkan daftar tuntutan untukmu?" tanya Vier ke arah Deri.


"Ugh!" geram Deri. "Dasar brengsek! Siapa kau sebenarnya?! Berani-beraninya kau mengancamku!" hardik Deri.


"Khukhu," Vier terkekeh. "Aku tidak akan mengancam jika tidak berani," sahut Vier penuh percaya diri.


Vaya mengerutkan keningnya, jika kebersihan itu sebagian dari iman, maka mengancam dan menuntut sudah menjadi sebagian dari hidup Vier.


Vier segera duduk di belakang meja, bersusah payah untuk duduk bersila. Di hadapannya saat ini tersaji beberapa jenis hidangan. Mulai dari mie goreng, ayam goreng, hingga tumis sayuran.


"Wah, apa Ibu yang memasak ini semua?" tanya Vier.


"Maaf ya, Ibu hanya bisa menyajikan ini saja," kata Bu Asih segera menyodorkan piring untuk Vier.

__ADS_1


"Huh! Apa ini sungguh waktu yang tepat bagimu untuk makan? Dasar brengsek!" raung Deri.


Vier mengabaikan raungan Deri.


"Pak Deri!"


Seorang pria segera menghampiri Deri. Pria itu adalah anak buah Deri yang bernama Jasman.


"Jasman, kenapa kau kemari?!"


"Saya harus mengantarkan dokumen ini secara langsung, Pak Deri," Jasman menyerahkan amplop yang dibawanya.


Deri membuka amplop dan membaca isinya, seketika pria itu menegang dan nyaris tidak bisa bernapas. Dokumen yang diterimanya merupakan surat dari kuasa hukum brand kosmetik OMG yang melayangkan tuntutan untuk Deri.


"Apa-apaan tuntutan ini?!" teriak Deri penuh kemurkaan.


Vier bersitatap dengan Mike.


"Oh, wah, sudah datang ya, cepat juga kerjamu, Mike," kata Vier sambil menyantap makanannya.


"Terima kasih, Pak Vier, saya hanya berusaha mengerjakan semampu saya," ucap Mike.


"Apa?! Vier?! Apa maksudmu, kau adalah Vierlove Yanjayadi?!" seru Deri.


Tangan Deri masih bergetar hebat membaca nama pihak yang melayangkan tuntutan untuknya.


"Hmm, ya, benar, itu aku," sahut Vier dengan santainya.


Seketika Deri langsung jatuh terduduk, tubuh tambunnya seketika kehilangan tenaga.


"Bohong! Bohong! Ini tidak mungkin!" Deri menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Deri, ada apa?" tanya Darti keheranan.


"Pak! Ampun, Pak! Ampun, Pak! Tolong jangan tuntut saya! Jangan tuntut saya! Saya sungguh tidak tahu apa-apa! Saya tidak terlibat dalam pemalsuan produk perusahaan Anda."


Deri memelas sambil berlinangan air mata.


"Deri! Kenapa kau malah menyembah pria ini?!" sergah Darti.


"Ibu! Apa Ibu mau aku dijebloskan ke penjara?!" sergah Deri.


"Deri, apa maksudmu? Ibu tidak mengerti!"


"Ibu! Sudah jangan banyak tanya!" sergah Deri.


"Ampun, Pak! Saya mohon!"


Deri menatap Vaya.


"Vaya! Memohonlah pada suamimu untuk mencabut tuntutan yang dia berikan padaku!" pinta Deri mengiba.


Vaya hanya mencebik, miris rasanya melihat Deri yang tadinya begitu sesumbar dan menyombongkan dirinya, secara mendadak akhirnya harus memohon dan mengiba seperti ini.


"Maaf ya, Deri, aku tidak pernah ikut campur dalam urusan pekerjaan suamiku. Bisnis adalah bisnis," ucap Vaya.


Vier mengulas senyumnya ke arah Vaya.


"Asih! Keterlaluan kau! Kau sungguh ingin mempermalukan aku dan anakku ya?!" bentak Darti.


"Tante Darti, tolong berhenti menyalahkan ibuku! Ibuku bahkan hanya diam-diam saja!" sergah Vaya.

__ADS_1


"Dasar kalian ini! Tidak tahu berterima kasih! Tidak tahu diuntung! Apa kalian tidak ingat dengan jasa-jasaku yang sudah membiayai pengobatan ayah kalian hingga ratusan juta? Beginikah kalian membalasku?!" cecar Darti.


"Mike!" panggil Vier.


Mike segera menghampiri Vier yang masih sibuk menyantap makanannya.


"Mike, berikan wanita itu cek, terserah mau diisi berapa untuk melunasi biaya pengobatan yang dari tadi digembar-gemborkan oleh wanita itu," perintah Vier.


"Baik, Pak, saya mengerti," sahut Mike.


"Vier!" Vaya melotot ke arah Vier.


"Huh! Kau pikir bisa membayar utang budi dengan uangmu?!" sergah Darti.


"Jika saja dengan uangku bisa menghidupkan lagi mertuaku yang sudah meninggal, berapa pun pasti akan kuberikan," sahut Vier.


Darti merasa dongkol, harga dirinya sekarang ini jelas sedang ditantang oleh pria itu. Benar-benar sangat memalukan jika ia sampai menerima uang hasil utang budi. Utang budi harus dibayar dengan balas budi, itulah yang selama ini menjadi pedoman hidup Darti.


"Huh! Deri, ayo kita pergi! Muak aku melihatmu seperti ini! Jangan memohon dan mengiba seperti ini! Sungguh memalukan!" sergah Darti pada Deri.


"Tapi Bu...," sergah Deri.


"Sudah! Tidak ada tapi-tapian!" bentak Darti.


Darti bergegas pergi, Deri tergopoh-gopoh mengejar ibunya.


"Ibu! Kenapa Ibu tidak mau menerima uang yang diberikan pria itu? Harusnya tadi Ibu ambil saja sebanyak-banyaknya! Aku butuh uang yang banyak untuk menghadapi tuntutan pria itu!"


"Deri! Harga diri kita lebih penting!" sahut Darti.


"Ibu!"


"Cukup, Deri! Jangan buat darah tinggi Ibu kambuh!" bentak Darti.


...*****...


"Ibu, sepertinya aku jadi tahu dari mana bakat memasak yang Vaya miliki, pasti dari Ibu kan?" tebak Vier.


Bu Asih menggeleng pelan. 


"Bukan, Vier, Ibu tidak jago memasak," kata Bu Asih merendah.


"Tapi masakan Vaya enak, Bu, aku sampai tidak bisa kalau tidak makan masakan Vaya, hehe," Vier terkekeh.


Vaya melotot ke arah Vier. 


"Vier, jangan bicara yang aneh-aneh."


Bu Asih mengulas senyumnya, rupanya menantunya sungguh pria yang sangat baik karena Vaya terlihat begitu bahagia.


"Ihiy, Kak Vaya tuh, jedag-jedug," goda Rian.


"Jedag-jedug apa, Rian?" tanya Bu Asih.


"Rian!" Vaya melotot ke arah Rian.


Rian terkekeh geli melihat bola mata Vaya yang sudah nyaris keluar.


"Kak Vier, sabar ya, harap maklum, kakakku itu kelamaan jomblo, jadi tingkat agresifnya pasti lebih dari wanita biasa pada umumnya," ucap Rian pada Vier.


"Ehem, Rian, jangan salahkan aku, kalau bulan depan uang jajanmu hangus!" ancam Vaya.

__ADS_1


"Ampun, Kak! Ampun!"


...*****...


__ADS_2