Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
121 - Menghilang?


__ADS_3

"Ba-bagaimana denganmu? Apa maksudmu, Vier?" tanya Vaya.


"Hmm...," Vier berhemm panjang sambil menciumi puncak kepala Vaya.


"Oh, apa maksudmu, kau juga menyukai kamar ini?" tanya Vaya.


Vier memutar tubuh Vaya, mereka segera saling berhadapan. Alis Vier berkerut-kerut melihat Vaya yang nampak memasang ekspresi kebingungan.


Apa Vaya sungguh tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Vier?


Kring...


Gawai cerdas Vier berdering. Vier merogoh saku celananya untuk menjawab telepon dari Mike.


"Halo, Mike, ada apa?" jawab Vier sambil berjalan menjauhi Vaya.


Vaya menghela napasnya, jantungnya benar-benar berdebar makin tak karuan.


Vaya yakin, ia berdebar-debar lantaran merasa sangat tegang untuk memenuhi permintaan sepuluh ronde dari Vier.


Pria itu bahkan sampai mengajak Vaya pergi ke tempat yang sangat jauh dari tanah airnya. Vaya jadi bisa menebak apa maksud dan tujuan pria itu.


Ya, Vier pasti sengaja membawa Vaya pergi ke tempat yang jauh agar Vaya tidak bisa menolak keinginan Vier untuk menuntaskan bermesraan sebanyak sepuluh ronde.


Jika Vaya menolak keinginan Vier, bisa-bisa Vier akan menenggelamkan Vaya di tempat ini.


Itulah yang terlintas dalam benak Vaya saat ini.


Ugh! Dasar Vier gila! Vaya mengumpat dalam hati.


Vaya melihat Vier yang masih sibuk berkomunikasi dengan Mike di balkon.


Diam-diam Vaya menyelinap keluar dari vila mereka.


Vaya menatap langit malam yang begitu cerah, menyusuri jembatan kayu panjang dan terasa tak berujung.


Entah mengapa Vaya merasa menyesal sudah pergi bersama Vier. Pergi ke tempat yang sangat jauh dan terisolasi seperti ini untuk menjadi budak pemuas birahi Vier saja.


Vaya merasakan matanya memanas dan dadanya terasa sesak.


Mengapa ia harus menerima nasib seperti ini? Menjadi seorang budak pemuas birahi dari pria yang akan membuangnya ketika perbudakan ini berakhir.


Vaya jadi bertanya-tanya, mengapa nasibnya begitu mengenaskan seperti ini?


Terjebak dalam sebuah pernikahan tanpa cinta yang sejatinya hanyalah sebuah kontrak perbudakan birahi.


Mencintai pria lain tapi takut karena diancam mati.


Apa ini sudah menjadi nasib Vaya, tidak boleh mencintai dan dicintai siapa pun lagi selama terikat kontrak perbudakan birahi dengan Vier?


Seandainya saja Vaya pergi ke tempat yang indah ini bersama orang yang mencintai dan dicintainya, Vaya tentu tidak akan menyesal seperti sekarang.

__ADS_1


...*****...


"Mike, Mike, cukup Mike, bisakah untuk tiga hari ke depan jangan menghubungiku dulu? Aku ini sedang cuti, Mike! Aku ini sedang cuti!" keluh Vier sambil memijat pelipisnya.


"Pak Vier, maafkan saya, saya sudah berusaha untuk mengatasi semua pekerjaan yang Anda tinggalkan semampu saya," sahut Mike di seberang sana.


Mike jelas tidak bisa menerima cuti mendadak yang diambil Vier tanpa membuat konfirmasi terlebih dulu pada Mike.


Mike bahkan harus keluar dari rumah sakit lebih awal karena harus mengurusi pekerjaan yang ditinggalkan Vier begitu saja untuk pergi liburan ke Maldives.


"Hmm, Mike, nanti akan kubawakan oleh-oleh yang banyak untukmu, oke?"


Tut... Tut... Sambungan telepon terputus.


Vier segera menutup teleponnya. Jangan sampai rencana liburannya harus berantakan gara-gara masih saja diganggu dengan pekerjaan. Liburan dadakan yang diurusnya sendiri tanpa meminta bantuan Mike haruslah sukses.


"Vaya!" seru Vier sambil kembali ke dalam vila.


Vier mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Vaya?"


Vier membuka pintu kamar mandi yang kosong.


"Vaya!" seru Vier.


Vier menghambur keluar dari vila untuk mencari keberadaan Vaya. Ia berlari menyusuri jembatan di sepanjang resort yang begitu sepi lantaran seluruh tempat ini telah disewa secara khusus oleh Vier sehingga tidak akan ada tamu lain yang datang.


Ke mana Vaya menghilang?


"VAYA!" teriak Vier.


"Excuse me, Sir, do you need any help?" tanya seorang pekerja yang kebetulan bertemu dengan Vier.


"I'm looking for my wife. Do you see her?" tanya Vier.


"Sir, we will help you looking for your wife," kata pekerja yang langsung menggunakan radio HT untuk berkomunikasi.


Berdasarkan hasil pemantauan cctv, lokasi Vaya pun segera ditemukan.


Vier menghela napas berat, jantungnya bergemuruh, ia segera menghampiri Vaya.


...*****...


Vaya sedang duduk menikmati pemandangan malam di ujung dermaga yang lokasinya cukup jauh dari vila tempatnya menginap.


Vaya memandangi air laut yang beriak di bawah jembatan. Air laut terlihat begitu jernih meski hanya disinari dengan lampu-lampu yang menyala.


Kenapa di sini sepi sekali ya? Batin Vaya.


Vaya mengusap lengan karena hembusan angin yang cukup kencang menerpanya.

__ADS_1


"Vaya!"


Vaya tersentak kaget, ia menoleh dan melihat Vier yang terlihat penuh kemarahan saat berjalan menghampirinya.


"Vi-Vier!" Vaya tersentak kaget.


Secara reflek, Vaya langsung berdiri. Vaya bisa melihat sorot mata Vier yang berkilat penuh kemarahan.


"Vaya, kau ini benar-benar ya! Apa maksudmu pergi diam-diam seperti ini?! Siapa yang mengizinkanmu keluar dari vila?! Apa aku ada menyuruhmu?!"


Vier mencecar Vaya dengan rentetan pertanyaan.


"Vi-Vier," Vaya tergagap.


"Kenapa kau suka sekali membuat pelanggaran?! Apa kau memang suka sekali mendapat hukumanku?!"


Kemarahan Vier jelas membuat Vaya tak bisa berkata-kata. Vaya langsung memejamkan matanya begitu melihat Vier melayangkan tangannya ke arah Vaya.


Vaya tersentak kaget, Vier tidak memukulnya, melainkan mengambil kepala Vaya dan membiarkan kening mereka saling menempel.


"Dasar bodoh!" geram Vier dengan mata terpejam.


Rasa cemas yang bergemuruh dalam dadanya seketika padam.


Vier melepaskan keningnya dari kening Vaya lalu menangkupkan kedua tangannya di wajah Vaya.


"Dasar kau ini! Bagaimana kalau kau terpeleset lalu tercebur ke laut?! Terlambat satu detik saja orang yang tidak bisa berenang sepertimu akan mati tenggelam!" cecar Vier.


"Vi-Vier, jangan mengatakan hal yang menakutkan seperti itu," gerutu Vaya.


"Vaya, aku hanya mengatakan kemungkinan terburuk yang ada dalam pikiranku!" 


"Saat ini kita berada jauh dari tanah air! Akulah yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadapmu! Kalau sampai terjadi sesuatu padamu hanya gara-gara kau luput dari pengawasanku! Siapa yang akan disalahkan?! Pasti aku kan!" 


Vier masih mencecar Vaya yang hanya bisa terdiam. 


"Jangan pernah pergi tanpa sepengetahuanku! Tanpa izinku! Mengerti?!" 


"I-iya, tapi Vier...," kata Vaya.


"Tidak ada tapi-tapian!" sergah Vier.


"Vier, maaf, maafkan aku," kata Vaya. "Tadi, aku hanya berjalan-jalan sebentar, karena kupikir kau pasti akan sibuk mengurus pekerjaanmu bersama Mike," Vaya mencoba mengemukakan alasannya pergi tanpa izin dari Vier.


"Vaya, sudah tidak usah banyak alasan! Sepertinya aku memang harus mengikatmu agar kau tidak keluyuran ke mana-mana! Tidak pergi sesuka hatimu! Tidak luput dari pengawasanku!"


Vaya tidak tahu, entah mengapa ia merasakan kehangatan yang mengalir dari ucapan Vier yang terlihat dan terdengar begitu tulus. 


"Vier, apa kau sungguh peduli padaku?" tanya Vaya.


"Jika aku tidak peduli padamu, aku sungguh tidak akan peduli meski sekarang kau sudah menjadi santapan hiu!" jawab Vier dengan sinisnya.

__ADS_1


Sorot mata Vier yang tadinya penuh kemarahan berubah lembut. Sorot mata yang lembut dan penuh kehangatan itu membuat Vaya berjinjit, mengalungkan tangannya ke leher Vier, dan membenamkan bibirnya ke bibir pria itu.


...*****...


__ADS_2