Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
033 - Lipstik


__ADS_3

"Bu Vaya!"


Vaya menoleh dari monitornya, kepala Lamia muncul dari celah pintu kaca ruang kerja Vaya. Lamia berjalan jingkat bak belatung yang melompat-lompat di atas makanan busuk. Evi langsung melemparkan pandangan skeptis. Lamia menyengir sambil menghampiri Vaya.


"Ada apa, Lamia?" tanya Vaya.


"Bu Vaya, aku sungguh minta maaf waktu itu mengotori baju Bu Vaya karena tak sengaja terjatuh," kata Lamia.


"'Oh, iya, tidak apa-apa, namanya juga musibah," sahut Vaya.


Lamia mengeluarkan sesuatu yang dibawanya dari dalam kantung kertas.


"Oh ya, Bu Vaya, ini terimalah sebagai permohonan maaf dariku."


Lamia menyerahkan sebuah lipstik yang masih tersegel plastik.


"Lamia, kau tidak perlu repot-repot," kata Vaya mencoba menolak pemberian Lamia.


"Tidak apa-apa, Bu, ini terimalah permintaan maafku. Kebetulan aku ada beli lipstik promo dari brand Amoreus. Warnanya cantik sekali lho, Bu, sangat cocok untuk Bu Vaya."


Lamia mendesak Vaya untuk menerima lipstik berwarna merah menyala itu.


"Terima kasih, Lamia, tapi aku rasa aku tidak cocok memakai warna menyala seperti ini, kulitku tidak secerah kulitmu," Vaya berusaha menolak.


"Loh, Bu Vaya, ini adalah warna yang menjadi tren tahun ini! Apalagi brand Amoreus ini sedang naik daun lho!" Lamia mendesak Vaya.


"Ba-baiklah, terima kasih ya, Lamia," Vaya mengambil lipstik tersebut.


"'Harus dipakai ya, Bu Vaya," ucap Lamia.


"Iya, nanti aku pakai, sekali lagi terima kasih," kata Vaya.


Lamia segera keluar dari ruangan kerja Vaya sambil tersenyum senang.


Haha! Warna lipstik itu benar-benar akan membuatmu terlihat seperti tante girang, Bu Vaya, Lamia terkekeh geli.


"Coba aku lihat lipstiknya, Mbak," kata Evi.


Vaya menyerahkan lipstik pemberian Lamia pada Evi.


"Aku buka ya, Mbak," kata Evi.


"Buka saja, Evi," sahut Vaya.


"Mbak saja yang perawanin dulu," kata Evi.


"Haha, apa sih, Evi, buka saja," sahut Vaya.


"Aku lebih suka brand dari Oh My Gorgeous daripada Amoreus ini, Mbak," kata Evi sambil mengeluarkan semua koleksi lipstiknya.

__ADS_1


Vaya melongo melihat banyaknya lipstik yang dimiliki oleh Evi dan semua warnanya pun bernuansa sama, yakni pink nude.


"Wah, Evi, koleksi lipstikmu banyak sekali, kau pakai semua ini?" tanya Vaya.


Evi mengangguk bangga.


"Haha, ya ampun, Evi, kau ini sudah macam beauty vlogger saja," Vaya tertawa.


"Mbak, perempuan itu mana cukup punya lipstik satu," sahut Evi.


Evi mulai membuka tutup lipstik bertekstur cair yang diberikan Lamia lalu mengoleskannya ke pergelangan tangan.


"Mbak Vaya, lihat deh, memang sih, untuk masalah harga Amoreus jatuhnya lebih murah karena suka sekali memberi promo. Tapi untuk kualitas aku lebih pegang Oh My Gorgeous. Dari segi warna, tekstur, hingga ketahanannya, Oh My Gorgeous lebih unggul," Evi menjelaskan.


"Aku kurang tahu brand kosmetik terbaru, karena tahu sendiri, aku masih pakai merk jadul, haha," Vaya tertawa lagi.


"Ih, Mbak ini, kita sebagai perempuan, harus concern dengan kecantikan yang kita miliki. Kalau tidak cantik ya minimal punya dada dan bokong besar yang bisa dipamerkan. Sekarang itu ya, omong kosong kalau ada pria yang menerima penampilan wanita apa adanya! Sejelek-jeleknya pria, pasti ingin punya istri yang cantik!" cerocos Evi panjang lebar.


"Kalau ada yang bilang mau terima apa adanya, paling itu cuma untuk konten!" cibir Evi.


"Haha, jangan pesimis gitu, Evi," kata Vaya.


"Tapi benar kan, Mbak? Kalau memang pria itu tidak memandang penampilan, harusnya aku dan Mbak Vaya sudah punya pacar. Bukannya masih bertahan jomblo begini," keluh Evi.


Evi langsung cepat-cepat menutup mulutnya, bagi wanita yang sudah berumur kepala tiga, membicarakan masalah pacar jelas menjadi topik pembicaraan yang sensitif.


"Haha, tidak masalah, Evi," Vaya tertawa.


Ya, aku tidak punya pacar, tapi aku punya suami yang sakit jiwa!


...*****...


Vaya kembali termenung. Pernikahannya dengan Vier terjadi lantaran kebohongan yang dibuat oleh Vaya. Sungguh aneh sekali tunangan Vier yang bernama Selena itu serta merta menelan begitu saja kebohongan Vaya.


Apakah sebaiknya aku mencari Selena?


Aku tidak mungkin kan terus menerus hidup dalam cengkeraman kegilaan Vier!


Vaya memijat pelipisnya, menimbang-nimbang apakah mencari Selena adalah jalan terbaik untuknya.


Jika Vaya bisa menjelaskan semuanya pada Selena, siapa tahu Selena akan mengerti dan akhirnya memutuskan untuk kembali bersama Vier.


Tidak alasan bagi Vier untuk menolak kembali Selena, toh Vier sangat mencintai Selena, kan?


"Bu Vaya? Bu?"


"Eh!"


Vaya terkesiap, lamunannya seketika buyar. Pak Andre mengulas senyumnya melihat Vaya yang melamun, sehingga wanita itu mengacuhkan panggilannya.

__ADS_1


"I-iya, ada apa, Pak Andre?" tanya Vaya beranjak dari kursinya.


"Bu Vaya tidak keluar kantor untuk mencari makan siang?" tanya Pak Andre.


"Oh, saya bawa bekal, Pak," jawab Vaya.


"Oh begitu," kata Pak Andre.


Pria berkulit cerah, dengan kepala plontos yang selalu berpenampilan rapi dan harum semerbak itu kembali mengulas senyumnya.


"Oh ya, Pak, kenapa Anda ke ruangan saya?"


"Begini, Bu Vaya, mohon maaf sebelumnya. Saya rasa jaket yang Anda kembalikan ini bukan milik saya," Pak Andre menyodorkan kantong kertas ke meja kerja Vaya.


"Eh," Vaya terkesiap.


"Saya ingat jaket saya dari nomor produksinya, dan jaket ini jelas bukan milik saya," kata Pak Andre.


"A-anu Pak, maaf, sebenarnya, pada saat saya bawa ke penatu, jaket Anda rusak, tapi karena sudah saya bawa pulang, saya tidak bisa klaim kerusakannya. Jadi saya berinisiatif untuk mengganti dengan yang sama persis," ujar Vaya.


Vaya tidak mungkin mengatakan bahwa jaket pria itu rusak karena kegilaan Vier. Berbohong demi kebaikan jelas bukan hal yang salah kan?


"Oh begitu, Bu Vaya tidak perlu repot-repot seperti itu," kata Pak Andre.


"Maaf Pak, tapi itu kesalahan saya, jadi saya harus bertanggung jawab," kata Vaya.


"Sebenarnya saya merasa tidak enak karena jadi merasa seperti melakukan tukar tambah, dari barang bekas menjadi barang baru," kata Pak Andre.


"Tidak apa-apa, Pak, ini kan salah saya, jadi sudah sewajarnya kan," ucap Vaya.


"Hmm, begini saja, kalau begitu, biar saya merasa lebih adil, bagaimana jika saya traktir Anda makan malam?" tanya Pak Andre.


"Aduh Pak, tidak usah repot-repot, tidak apa-apa," kata Vaya.


"Jangan begitu, Bu, justru saya yang tidak enak dan jadi merasa bersalah," ujar Pak Andre.


Vaya menyeringai.


"Baiklah, nanti kabari saja ya, kapan Bu Vaya bisa," kata Pak Andre.


"'Baik, Pak," jawab Vaya.


Pak Andre pun segera keluar dari ruang kerja Vaya. Vaya menghela napas berat.


Duh, kenapa aku jadi mengiyakan ajakan Pak Andre?


Bagaimana caraku meminta izin pada Vier ya? Kalau dia sampai tahu aku pergi tanpa seizinnya, dia pasti akan kembali menghukumku, keluh Vaya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2