Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
138 - Akhir Kencan Biasa


__ADS_3

"Vaya, lihatlah, aku sudah menemukan kebahagianku! Aku rasa kau juga tak perlu berpura-pura bahagia seperti ini! Carilah kebahagiaanmu sendiri," kata Ibe.


"Apa maksudmu, Ibe?" tanya Vaya.


"Vaya, aku tahu, Vier hanya melakukan pencitraan agar terlihat seperti suami idaman! Padahal dia hanya ingin menutupi perselingkuhannya saja! Daripada kau tidak bahagia, lebih baik kalian bercerai! Aku siap menjadi saksi di sidang perceraianmu!" lanjut Ibe.


Vaya benar-benar tak mengerti apa yang diucapkan oleh Ibe. Ibe terlihat begitu senang saat Jason akhirnya kembali bergabung dengan mereka.


Makanan yang dipesan pun datang, Jason memesan begitu banyak makanan, ia memesan menu-menu makanan terlaris. Mulai dari sop buntut hingga nasi goreng, aneka minuman, es campur hingga es teler semua dipesan oleh Jason. 


"Kalian semua adalah tamu kehormatanku, terutama kau, Vier! Kau harus makan yang banyak! Berdusta itu perlu energi yang besar!" kata Jason.


Vaya menatap wajah Vier yang terlihat tidak nyaman dengan kelakuan Jason. Vier hanya makan seporsi kecil lalapan ayam. Vaya menawarkan Vier untuk mencoba menu lain, namun Vier menolak.


"Aku sudah selesai," kata Vier mengakhiri sesi makan malamnya.


"Wah kau makan sedikit sekali, Vier," kata Ibe. "Kau benar-benar jaga penampilan ya?" lanjut Ibe sambil terkekeh.


"Memang," jawab Vier singkat.


"Oh, aku pikir kau makan sedikit sekali agar istrimu tidak curiga bahwa kau sudah makan di luar," celetuk Jason.


"Jason, hentikan!" tegur Ibe saat melihat ekspresi Vier yang menegang.


"Haha," Vier tertawa dingin. "Kau lucu sekali, Jason. Selera humormu begitu tinggi."


"Tentu saja, wanita lebih suka pria humoris daripada sekadar tampan!" tandas Jason dengan penuh percaya diri.


"Pelayan, tolong bungkus makanan yang masih tersisa," panggil Jason kepada seorang pelayan.


Pelayan menghampiri dan mulai mengambil satu per satu piring. Vaya menatap ke Ibe yang terlihat kesal dengan kelakuan Jason. Wajah Ibe nampak merah menahan malu.


"Tolong tagihannya," kata Vier kepada pelayan yang dipanggilnya.


Pelayan datang membawa tagihan berlembar-lembar. Jason langsung merampas tagihan itu lalu melihat total keseluruhan. Ia nampak menyembunyikan ekspresi kaget saat melihat tagihan itu.


"Kalau untuk pembayaran non tunai bisa langsung ke kasir, Pak," kata si pelayan ramah.


Jason merogoh tas bermodel clutch hitamnya, ia membuka dompet dan berdiri dari kursinya.


"Kalian tenang saja, aku yang bayar semua ini," kata Jason berapi-api.


Wajah Ibe terlihat makin memerah, ia jelas menahan malu. Vier duduk sambil melipat tangannya di depan dada.


"Kau bertemu di mana lelaki macam itu?" tanya Vier ke arah Ibe.


"Kami baru bersama seminggu, biasanya dia tidak seperti itu," kata Ibe membela Jason.


"Bagaimana dia bisa berpikir bahwa istriku ini adalah selingkuhanku? Dia benar-benar merendahkanku dan juga Vaya," kata Vier.


"Setidaknya dia bukan seorang lelaki pendusta dan tukang selingkuh sepertimu, Vier!" tandas Ibe menatap tajam Vier.

__ADS_1


"A-apa? Tukang selingkuh?" tanya Vier keheranan.


Vier menatap Vaya yang terlihat kebingungan.


"Ibe, ada apa denganmu?" sela Vaya.


"Vaya, sudahlah kalian tak usah berpura-pura menjadi pasangan menikah yang begitu bahagia! Kalian bahkan tak terlihat seperti pasangan sungguhan!" cecar Ibe.


"Ibe, cukup!" sergah Vaya. "Jangan berasumsi tanpa mengetahui kebenarannya!" lanjut Vaya.


"Vaya, apa kau sungguh ingin terus hidup bersama pria pendusta dan tukang selingkuh macam Vier?" tanya Ibe.


"Ibe!" sergah Vaya.


"Nona Feybe, tolong jangan mencampuri masalah rumah tangga kami," kata Vier akhirnya.


Ibe menatap Vier yang terlihat menahan amarahnya. Suasana yang begitu tegang membuat mereka tidak nyaman.


Jason datang kembali dalam keadaan kalut.


"Fey, dear! Bisakah aku pinjam kartu kreditmu? Semua kartu kreditku sudah di luar batas pemakaian! Aku baru menyadarinya!" kata Jason sambil memohon.


"A-apa?" Ibe terperangah mendengar permohonan Jason.


Vier berdiri dari kursinya, ia menuju ke meja kasir. Jason mengikuti Vier, ia merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.


"Sungguh aku berniat menraktir kalian semua makan malam!" kata Jason.


Vier mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dompetnya. Jason terpana melihat kartu hitam yang dikenalnya sebagai kartu sakti tanpa ada batas pemakaian itu.


Begitu pula Jason yang tak memercayai apa yang didengarnya. Bagaimana seorang Vier yang berpenampilan begitu sederhana bisa begitu bermurah hati? Padahal Vier hanya terlihat seperti pengangguran banyak acara yang hobi memoroti uang kekasihnya.


"Wah, aku berterima kasih sekali padamu, Vier!" kata Jason masih mengekori Vier.


"Terima kasih atas waktu kalian, aku dan istriku pamit undur diri," kata Vier.


"Terima kasih, senang bisa berkumpul dengan kalian, aku minta maaf atas ketidaknyamanan ini," kata Vaya sambil menundukkan kepalanya.


Vier langsung menggandeng tangan Vaya, keduanya meninggalkan Jason yang ternganga menahan malu.


"A-apa? Suami istri?!" Jason terperangah.


Jason menoleh ke arah Ibe yang terlihat memasang ekspresi geram.


"Kenapa kau tidak bilang kalau mereka itu pasangan suami istri?! Aku kira mereka pasangan selingkuhan!" kata Jason terlihat marah pada Ibe.


"Kau itu yang buta! Bagaimana mungkin bisa berasumsi konyol seperti itu! Aku muak padamu, Jason!" teriak Ibe.


...*****...


Vaya melirik takut-takut ke arah Vier yang saat ini masih terdiam. Keduanya menyusuri area parkir bawah tanah yang temaram. Area parkir itu nampak sepi, hanya deretan sepeda motor yang tersusun rapi dan petugas pengawas parkir berlalu lalang mengawasi kondisi tempat parkir bawah tanah.

__ADS_1


Vaya sungguh merasa tidak enak pada Vier, terlebih atas tudingan-tudingan yang dilontarkan oleh Ibe. Entah apa yang Ibe pikirkan sampai wanita itu mengatai Vier sebagai pria pendusta dan tukang selingkuh. Belum lagi Jason, kekasih Ibe, juga menuding mereka berdua sebagai pasangan selingkuhan.


"Vaya," kata Vier.


"Eh, ya," sahut Vaya tergagap.


"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Vier.


"Eh, tempat?" Vaya balik bertanya.


"Ya, tempat yang ingin kau kunjungi," sahut Vier.


Vaya menatap Vier yang terlihat mengurai senyumnya.


"Vier, maaf," ucap Vaya. "Aku sungguh minta maaf karena Ibe sudah bicara sembarangan begitu."


"Aku sungguh tidak tahu, bagaimana Ibe bisa sampai berasumsi seperti itu."


Vier menatap Vaya yang terlihat begitu cemas. Vaya bahkan menekan-nekan buku-buku jarinya lantaran merasa sangat tidak enak pada Vier.


"Vaya, sudahlah. Jangan merusak kencan yang harusnya kita nikmati bersama dengan hal-hal sepele yang yah sejujurnya memang sangat menggangguku," ucap Vier.


"Aku ingin kita menikmati kencan ini. Kencan yang akan membuatmu merasa bahwa tidak ada level yang membuat kita berbeda," lanjut Vier.


Vaya mengulas senyumnya dan menerima Vier yang mengulurkan helm ke arahnya.


"Jadi, mau ke mana? Jangan bilang sembarang, terserah, atau aku ikut saja! Tidak ada tempat seperti itu," tukas Vier penuh penekanan.


"Haha," Vaya tertawa.


"Bagaimana? Apa sebaiknya kita langsung check in ke hotel saja?" Vier mengedipkan sebelah matanya.


"Haha! Vier!" Vaya tertawa sambil mencubit perut Vier dengan gemas.


"Jadi, Vaya, kau mau ke mana?" tanya Vier.


"Entahlah, Vier, aku tidak tahu. Aku kan tidak pernah pergi berkencan," jawah Vaya.


"Aduduh, kau sih, jelek sekali, makanya tidak ada pria yang mau berkencan denganmu! Haha!" Vier tertawa sambil mengejek Vaya.


"Biar saja aku jelek! Toh pria luar biasa tampan sepertimu justru mau mengajakku berkencan!" sahut Vaya.


"Hmm, yah, habis mau bagaimana lagi, habisnya kau istriku sih! Kalau bukan istriku, mana mungkin wanita jelek sepertimu berkencan denganku! Haha!" ejek Vier lagi.


Vaya mengerucutkan bibirnya, entah mengapa ia sama sekali merasa tidak perlu marah dalam menanggapi ejekan Vier.


"Vier, kau pasti benar-benar sudah buta! Pria luar biasa tampan sepertimu mau dengan wanita jelek sepertiku!"


"Ya, aku rasa aku memang sudah buta, dibutakan oleh kejelekanmu itu! Haha!" Vier tertawa lagi.


Tawa Vier segera dibungkam oleh bibir Vaya dan Vier menyambut senang hal itu.

__ADS_1


Ya, dia terlalu senang pergi berkencan dengan Vaya.


...*****...


__ADS_2