
Aria, gadis itu sedari tadi tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah pria kalem yang hanya berdiam diri di teras rumah. Pria itu memang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali ia bertemu di pesta pernikahan Vaya.
Nama pria itu Mike, pria dewasa yang berpembawaan tenang dan kalem. Bagi gadis remaja seperti Aria, Mike jelas terlihat seperti bapak guru yang seksi.
"Kak Vaya, asisten Kak Vier itu sudah punya pacar?" tanya Aria.
Vaya memicingkan matanya lalu mencubit hidung Aria dengan gemas.
"Aduh! Kak Vaya!" keluh Aria.
"Aria, tidak usah tanya-tanya yang tidak penting!" tegur Vaya.
"Ih, Kakak! Kan aku cuma tanya," keluh Aria.
"Tidak usah tanya-tanya begitu! Kau ini macam cabe-cabean genit yang mengincar om-om," cibir Vaya.
"Kakak, aku sungguh iri! Kakak dikelilingi pria-pria tampan," kata Aria.
Vaya kembali mencubit hidung Aria dengan gemas.
"Aduhh, Kakak!" keluh Aria lagi.
"Aria, kamu fokus sekolah dan belajar saja yang benar! Tidak usah memikirkan pria-pria tampan!" tandas Vaya.
Aria nampak mencebik, Vaya langsung mengacak-acak rambut Aria dengan gemas. Vaya sungguh tidak ingin adiknya sampai mengikuti jejaknya ketika ia masih remaja. Menjadi pemburu laki-laki yang sukses membuatnya mengukir sejarah pahit selama melewati masa remajanya. Masa-masa kelam yang ingin ia lupakan selama-lamanya.
"Iih, Kakak ini," sungut Aria.
"Aria, awas ya, nanti uang jajanmu Kakak potong!" kata Vaya dengan nada mengancam.
Aria terlihat lagi-lagi mencebik, Vaya mengulas senyumnya. Entah mengapa ia jadi merasa seperti Vier yang kerap memberinya ancaman.
Vaya kembali menatap Vier yang saat ini masih menyantap makanan. Lagi-lagi Vaya bertanya-tanya, mengapa Vier nampak mudah membaur dengan keluarganya.
"Ibu, terima kasih untuk makanannya, juga terima kasih sudah bersedia menerima kedatangan saya, maaf saya tidak menyiapkan oleh-oleh yang layak," kata Vier.
Cih! Dasar Vier cari muka! Sok akrab! Batin Vaya.
"Nak Vier, justru Ibu yang harusnya berterima kasih padamu, meski sibuk kau masih bersedia mampir kemari, bagi Ibu itu sudah lebih dari cukup," kata Bu Asih.
Astaga, Ibu! Tidak usah hiraukan pria bermuka dua macam Vier!
Vaya mendengus kesal.
"Vaya, kamu kenapa sih? Dari tadi macam banteng melihat kain merah saja," tegur Bu Asih.
"Oh, tidak ada apa-apa, Bu," sahut Vaya.
Dasar pembohong! Batin Vier sambil mengulas senyumnya.
"Oh ya, Nak Vier, sebelumnya mohon maaf, Ibu pernah menyampaikan pada Vaya, kalau bisa kalian mengadakan acara syukuran kecil-kecilan di sini, supaya para tetangga tahu bahwa kalian sudah menikah," kata Bu Asih.
"Ibu!" Vaya melotot ke arah ibunya. "Vier sangat sibuk, tidak mungkin bisa membuat acara kecil-kecilan," sergah Vaya.
Ibu, tolong jangan minta yang aneh-aneh! Batin Vaya.
"Ibu maunya semua orang tahu Vaya sudah menikah, supaya kejadian Kak Darti tidak perlu terulang lagi. Pernikahan kalian memang terkesan mendadak dan tertutup, wajar orang banyak tidak tahu," kata Bu Asih.
Aduh, Ibu! Memang lebih baik tidak ada yang perlu tahu pernikahan ini! Sungguh memalukan! Batin Vaya
"Oh, begitu, baiklah tidak masalah, Bu," ucap Vier.
"Untuk saat ini memang saya belum bisa melakukan hal tersebut dikarenakan kesibukan pekerjaan. Tapi mungkin nanti Mike bisa mengaturkan semuanya. Ibu jangan cemas ya," ucap Vier.
__ADS_1
"Terima kasih atas pengertianmu, Nak Vier," kata Bu Asih.
Vaya kembali mendengus sambil melotot ke arah Vier.
"Mike, apa kau sudah menyiapkan yang kuminta?"
Mike bergegas menghampiri Vier, menyerahkan sebuah kopor hitam.
"Rian, Aria," panggil Vier.
Rian dan Aria segera berebut menghampiri Vier.
"Ini tambahan uang jajan untuk kalian," Vier menyerahkan masing-masing satu amplop tebal untuk Rian dan Aria.
"Terima kasih, Kak Vier!" seru Rian dan Aria begitu antusias.
"Vier!" Vaya melotot ke arah Vier.
Vier mengabaikan Vaya, lalu beralih pada Bu Asih. Vier mengeluarkan amplop berukuran lebih tebal lagi untuk Bu Asih.
"Ibu, maaf saya datang tidak membawa oleh-oleh, jadi mohon diterima untuk tambahan belanja di dapur," ucap Vier.
"Aduh, Nak Vier, tidak usah repot-repot," Bu Asih menolak.
"Ibu, saya lebih suka jika Ibu tidak menolak pemberian saya," Vier mengulas senyum ramah.
"Terima kasih, Nak Vier, Ibu benar-benar merasa tidak enak," kata Bu Asih.
"Tidak apa-apa Bu, saya senang jika Ibu menerima pemberian saya dengan hati yang senang dan tangan terbuka," kata Vier.
Vaya kembali melotot sambil mendengus kesal macam banteng. Ingin rasanya menyuruh keluarganya untuk mengembalikan uang pemberian Vier, namun melihat kedua adiknya begitu antusias, Vaya bisa apa?
"Vaya, lekaslah bersiap-siap, kira harus pergi sekarang," kata Vier.
"Ya, kita harus pulang bersama," Vier menyeringai horor.
"Vier, kau pulang duluan saja," Vaya melotot ke arah Vier.
"Vaya, kita pulang sekarang," Vier balas melotot ke arah Vaya.
"Vaya, pulanglah bersama suamimu," Bu Asih membujuk Vaya.
"Tapi Bu...," kata Vaya.
Vier menyeringai horor, mulutnya mengucapkan sebuah kalimat tanpa suara.
Pulang atau kau akan kuhukum!
Ugh! Dasar Vier gila!
Dengan berat hati, Vaya pun terpaksa menuruti keinginan Vier. Padahal Vaya masih ingin berlama-lama bersama keluarganya. Melihat kedua adiknya sudah sibuk menerawang isi amplop, membuat Vaya merasa lebih baik ia pulang saja.
"Bu, kami pamit dulu," Vier berpamitan.
Ia mengecup punggung tangan Bu Asih dan memberi rangkulan singkat.
"Hati-hati ya," pesan Bu Asih.
"Ibu, aku pergi dulu," Vaya berpamitan.
"Sampai ketemu lagi ya, Kak Vier," kata Rian.
"Sering-sering mampir ya, Kak," Aria menyahut.
__ADS_1
"Ya, sampai ketemu lagi. Kapan-kapan kalau ada waktu berkunjunglah ke rumahku," ucap Vier.
"Baik, Kak!" seru Rian dan Aria kompak.
Vaya terperangah begitu ia keluar dari rumahnya.
Para tetangga kelihatan sibuk mendekat ke arah rombongan mobil mewah itu. Ada yang mengambil kesempatan untuk sekadar berswafoto dengan latar belakang deretan mobil mewah, ada juga yang sibuk mencari tahu siapa rombongan itu, mengapa mereka terhenti di depan rumah Ibu Asih.
Para pengawal membukakan pintu mobil untuk Vier dan juga Vaya. Setelah memastikan mereka duduk dengan nyaman, iring-iringan mobil akhirnya bergerak meninggalkan rumah Vaya.
"Bu Asih, siapa yang datang berkunjung? Iring-iringannya luar biasa sekali!"
Para tetangga segera mewawancarai Bu Asih.
"Vaya dan suaminya semalam menginap," jawab Bu Asih.
"Apa? Suami Vaya?"
"Lho, Vaya sudah menikah? Kapan? Kok tidak ada kabarnya?"
Para tetangga memberondong Bu Asih dengan banyak pertanyaan. Maklum, di kampungnya Vaya kerap menjadi bahan gunjingan para tetangga yang sudah memberinya predikat perawan tua.
"Maaf, Ibu-ibu, bukannya tidak memberi kabar, tapi undangannya akan segera menyusul," jawab Bu Asih.
"Kalau begitu permisi ya, Bu," Bu Asih berpamitan.
Ia meninggalkan para tetangga yang kerap bergosip miring tentang Vaya. Para tukang ghibah yang menyematkan predikat perawan tua yang tidak kunjung laku untuk Vaya.
"Bagaimana mungkin Vaya bisa dinikahi lelaki yang selain setampan aktor, ternyata juga seperti sultan?"
"Pasti main dukun itu!"
"Hihh! Makanya menikahnya diam-diam begitu!"
Begitulah gunjingan para tetangga yang begitu iri.
Ibu!" teriak Aria. "Uang jajan yang diberikan Kak Vier banyak sekali!"
"Ibu! Ini banyak sekali!" teriak Rian juga.
Bu Asih terlihat pucat, bagaimana mungkin ia memegang begitu banyak uang di dalam amplop cokelat itu. Jumlah yang begitu banyak untuk ibu rumah tangga sepertinya. Menantunya itu benar-benar sultan.
Betapa beruntungnya Vaya bisa menikah dengan pria yang tidak hanya tampan dan kaya raya, tapi orangnya juga baik dan ramah.
Jika di mata Bu Asih, Vaya begitu beruntung, maka tidak dengan Vaya.
Ia merasa menikah dengan Vier adalah malapetaka.
Seringaian Vier saat ini benar-benar sangat menakutkan, pria itu terlihat jelas sedang marah besar padanya.
Entah hukuman macam apa yang akan diberikan Vier untuk Vaya.
Hiks, kenapa hidupku menyedihkan seperti ini?
Tidak adakah yang bersedia untuk bertukar nasib denganku?
...*****...
Pembaca setia yang dipenuhi dengan kehaluan haqiuqiu. Terima kasih sudah membaca sampai episode ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan untuk karya mengreceh ini ya. 🥰
Nantikan episode selanjutnya.
__ADS_1