Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
125 - Tak Mau Pulang


__ADS_3

Vaya menatap ke dalam mata Vier saat mereka saling melepaskan ciuman. Vaya seakan tersihir oleh kedua manik mata Vier yang berwarna hitam. Sorot mata pria itu dipenuhi dengan letupan-letupan gairah, seiring dengan gerak tangannya yang mengusap lembut gundukan Vaya. Vaya segera membuka satu per satu kancing kemeja yang membungkus tubuh atletis Vier.


Tatapan penuh hasrat, gairah, dan saling mendamba itu membawa mereka untuk kembali saling berpagutan.


Vier membawa Vaya ke tembok, menekan tubuh Vaya di sana, menahan kedua tangan Vaya di sisi kepala Vaya, sambil terus saling berpagutan.


Vaya memejamkan matanya, menikmati sensasi sedikit brutal yang dilakukan oleh Vier saat pria itu menyusuri garis rahangnya, turun ke leher, dan menghisap tulang selangkanya.


"Hmm, Vier," Vaya mengeraang, merasakan tubuhnya yang benar-benar terbakar.


Vier menghentikan aksinya. Ia menatap Vaya yang terengah-engah.


"Ayo kita pulang, Vaya, pesawat kita sudah menunggu," kata Vier.


"Vier, kumohon, kita jangan pulang sekarang! Begini saja, terserah, mau sepuluh ronde, dua belas ronde, atau dua puluh ronde, ayo kita lakukan," Vaya memohon.


Vier masih menatap Vaya. Dalam hati tentu saja Vier bersorak kegirangan karena Vaya yang menawarkan dirinya. Hanya saja ia masih tetap mempertahankan harga diri. Sesuai kesepakatan yang sudah mereka buat semalam yakni mereka harus pulang saat ini juga. Dan tentu saja Vier punya alasan tersendiri mengapa mereka harus pulang sekarang.


"Vaya, kita harus pulang sekarang," ulang Vier.


"Aku tak mau pulang! Maunya digoyang!" rengek Vaya.


Vier berusaha menahan tawanya, namun ekspresi wajahnya tetap serius.


"Vier, apa kau tidak mau melakukannya denganku karena di sini tidak ada cambuk dan borgolmu?" tanya Vaya.


Vier masih menatap mata Vaya lekat-lekat.


"Aku tidak akan kabur meski tanpa ada borgol, cambuk, atau pun rantai pengekang yang membelengguku," kata Vaya.


"Hmm, begitukah?" Alis Vier terangkat sebelah.


"Ya," jawab Vaya.


"Vaya, apakah jika aku memintamu untuk memberikan semua yang kau miliki, kau akan memberikan dengan segenap dan setulus hatimu tanpa merasa terpaksa?" tanya Vier.


Vaya terdiam menatap Vier.


"Apa kau sungguh menginginkan itu, Vier?" tanya Vaya.


"Ya, berikan aku semua yang kau miliki tanpa terkecuali," jawab Vier.


Vaya kembali menatap Vier yang terlihat serius. Saat ini hasrat Vaya terhadap Vier seakan membuyarkan akal sehat Vaya. Namun permintaan Vier jelas membuat akal sehat Vaya kembali bekerja.


"Apa kau juga akan memberikan semua yang kau miliki padaku tanpa terkecuali?" Vaya balik bertanya.


Vier masih menatap Vaya lekat-lekat. Vaya melihat keraguan di mata Vier. Vaya tersadar bahwa Vier tidak mungkin melakukannya. 


"Baiklah, ayo kita pulang, Vier," Vaya menghela napas berat.

__ADS_1


Vaya melepaskan tangan Vier. Ia bergegas mengambil barang-barang pribadinya dan menyimpannya dalam tas.


Setelah itu Vaya sudah bersiap menunggu di depan pintu vila.


Vaya kembali saling berpandangan dengan Vier yang mengulas senyumnya begitu mereka sama-sama berada di depan pintu.


Tangan mereka sama-sama mendorong pintu vila. Vaya merasakan adanya sengatan listrik yang menggelitik saat tangannya bersentuhan dengan tangan Vier.


Tatapan mereka kembali bertemu dan saling mengunci. Vier menjatuhkan tasnya, begitu juga dengan Vaya yang langsung melompat ke dalam pelukan Vier.


Mereka kembali saling berciuman, penuh gairah. Hasrat yang membara membakar sampai ke tulang.


"Oh Vier!" Vaya mendesaah di sela-sela bibir mereka yang saling memagut.


"Vaya," Vier mengeraang sambil menyesap bibir Vaya.


Vier segera menurunkan ritsleting gaun Vaya, gaun itu pun segera terlepas. Begitu juga Vaya, ia melepaskan kemeja yang membungkus tubuh Vier. Dengan cepat, Vaya membuka ikat pinggang yang melingkari pinggang Vier dan meloloskan celana panjang Vier.


Jemari Vier menyusuri tubuh Vaya makin ke bawah, mengusap lembut inti diri Vaya yang sudah basah dan hangat akibat gejolak hasrat yang sedari tadi begitu bergelora.


Tubuh Vaya yang bersandar pada tembok, dengan kaki yang terbuka lebar, memudahkan akses Vier untuk melakukan eksplorasi secara berkelanjutan.


"Oh, Vier," Vaya merintih, sambil memeluk erat Vier, menggila saat menyentuh titik kenikmatannya.


Vier berjongkok, dan membuat kaki Vaya melingkari bahunya.


Vaya memejamkan matanya, merasakan sapuan lembut dan menggila yang memporak-porandakan dirinya. Vaya mencengkeram kepala Vier lebih dalam hingga akhirnya kenikmatan yang tak terbendung itu akhirnya membuncah, jebol bak tanggul yang kelebihan kapasitas.


Mata mereka saling bertemu dan saling mengunci saat Vier kembali menyatukan milik mereka. Vier mengeraang merasakan rasa hangat menyambutnya kehadirannya.


Vier mengulas senyumnya, menyambut bibir Vaya  sambil mulai menggerakkan tubuhnya secara teratur. 


"Oh, Vier!" Vaya kembali merintih merasakan kenikmatan yang menggila setiap detiknya.


Detik-detik dan menit-menit yang berlalu, membawa Vaya pada terjangan kenikmatan yang tak terbendung. 


"Vaya!" Vier mengeraang di atas tubuh Vaya yang terguncang keras.


Gelombang kenikmatan sukses memporak-porandakan diri mereka berdua.


Vier kembali menatap Vaya yang tersenyum padanya dengan bermandikan peluh dan napas tersengal-sengal.


Vaya mengusap lembut wajah Vier, membiarkan jarinya menyusuri wajah tampan Vier yang berkilauan keringat.


"Vier, apa setelah ini kita harus bersiap untuk pulang?" tanya Vaya sambil memainkan jarinya di rambut Vier.


"Hmm," Vier berpura-pura berpikir. "Baiklah, tapi setelah sembilan ronde lagi," Vier menyeringai.


"Haha," Vaya tertawa. "Yakin hanya sembilan ronde?" tanya Vaya dengan nada menantang.

__ADS_1


Vier menyeringai.


"Vaya, tentu saja aku menginginkan lebih dari sembilan ronde!" sahut Vier.


"Haha," Vaya tertawa.


"Baiklah, kalau begitu, mari kita lanjutkan ke ronde selanjutnya," Vier menyeringai.


"Haha!" Vaya kembali tertawa sambil menyambut bibir Vier.


...*****...


Vaya sungguh merasa bahagia begitu menyambut pagi yang menyongsong. Wajah tampan Vier menjadi pemandangan pertama saat ia membuka mata. 


Vaya mengecup bibir Vier yang terkatup rapat, dan tiba-tiba saja Vier langsung menyambar dengan pagutan yang lebih dalam.


"Hihi! Vier," Vaya terkikik geli saat Vier membawa Vaya ke dalam pelukannya.


"Hmm, apa tidurmu nyenyak?" tanya Vier sambil membuka matanya secara perlahan.


"Hmm, sangat," jawab Vaya sambil merasakan debaran jantung Vier.


Vaya mendongak memandangi wajah Vier.


"Ada apa, Vaya?" 


"Bagaimana kau bisa setampan ini, Vier?" tanya Vaya.


"Haha! Vaya, apa kau sedang menggodaku?" Vier balik bertanya.


"Oh tidak, aku salah lihat! Kau tidak tampan!" sahut Vaya cepat-cepat merevisi ucapannya.


"Haha," Vier tertawa.


Vier kembali mengungkung Vaya di bawahnya. Vaya mengulas senyum dan menikmati kembali pergulatan pagi mereka.


...*****...


Vaya masih merasakan debaran jantungnya menggila saat menggenggam tangan Vier sepanjang perjalanan pulang ke tanah air. 


Vaya sungguh yakin bahwa ia sedang jatuh cinta pada Vier. Buktinya ia sungguh tak ingin berpisah sedetik pun dari pria ini.


Pria yang sangat pandai mempermainkan emosi dan kewarasannya. Pria yang membuatnya sangat tergila-gila hanya dalam waktu satu malam.


Mereka segera meninggalkan pintu kedatangan penumpang dari luar negeri di bandara yang saat ini begitu ramai.


"Vier!"


Langkah Vier dan Vaya terhenti saat mereka bertemu dengan orang yang menyapa Vier.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2