Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
021 - Tanda Tangan


__ADS_3

Klik.. Klik..


Mike membuka secara bergantian borgol yang membelenggu kedua tangan petugas keamanan yang seketika langsung bersujud syukur begitu borgol terlepas dari tangan mereka.


"Terima kasih, Pak! Huhu! Terima kasih, Bu," kedua petugas keamanan itu menangis haru.


"Saya tidak akan melupakan kebaikan Anda."


"Saya akan mengabdi penuh kepada Anda".


"Baiklah, kalian bisa kembali bekerja," kata Mike.


"Terima kasih, terima kasih," kedua petugas keamanan itu segera pergi.


Keduanya diantar langsung oleh Pak Jo yang akhirnya bisa bernapas lega. Pak Jo bahkan sudah sangat cemas, secara tidak langsung ini teguran untuknya selaku kepala pelayan yang harusnya benar-benar melakukan kontrol penuh terhadap semua pekerja yang bekerja di rumah ini.


Pak Jo bahkan nyaris membuat surat pengunduran diri lantaran merasa tidak becus terhadap pekerjaannya.


"Kalian benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya tidak mengenali istri Pak Vier," keluh Pak Jo.


"Mohon maaf, Pak Jo, kami benar-benar mengira bahwa Nyonya itu hanyalah seorang pelayan yang harus pergi ke pasar karena katanya ada bahan masakan yang kurang untuk sarapan pagi Pak Vier."


"Lagipula jika Nyonya itu mengaku sebagai istri Pak Vier, kami jelas tidak akan percaya," sahut petugas yang lain.


Plok! Plok!


Pak Jo menepuk keras bahu kedua petugas keamanan itu.


"Aduh, Pak Jo!" keluh keduanya kesakitan.


"Berterima kasihlah pada Nyonya! Kalian bisa dimaafkan dan dibebaskan karena permintaan beliau!" tandas Pak Jo seraya menyentak keras kedua bahu petugas keamanan itu.


"Ugh! Maaf, Pak Jo, maaf!" mereka meringis kesakitan.


"Sana! Kembali bekerja!" perintah Pak Jo.


Pak Jo segera kembali ke lobi, merasakan atmosfer penuh ketegangan yang tercipta.


"Pak Jo, tolong siapkan makan malam," perintah Vier.


"Baik, akan segera saya siapkan," jawab Pak Jo.


Vier masih menyeringai horor ke arah Vaya yang terlihat tak bisa menyembunyikan wajah cemberutnya.

__ADS_1


"Aku benar-benar lapar."


Vier beranjak dari tempat duduknya menuju ke ruang makan.


"Vier, mengenai kontrak itu...," kata Vaya.


"Vaya, kita bahas kontrak itu setelah makan malam," sahut Vier.


...*****...


Usai makan malam, Vier kembali membawa Vaya ke ruang seksi, Vaya menyebutnya demikian karena ruangan itu berisi koleksi lingerie yang seksi. Vaya gemetaran membawa amplop berisi kontrak pernikahan mereka. Vaya tak bisa membayangkan bahwa ia diwajibkan untuk menandatangani kontrak perbudakan birahi itu.


Siapapun yang bisa menggantikan posisiku saat ini, waktu dan tempat dipersilakan! Batinnya menjerit histeris.


Vier yang dikenalnya dulu, jelas bukanlah Vier yang sekarang. Lima belas tahun yang silam, pria itu hanyalah bocah kebanyakan gaya, kini bocah itu tumbuh dan berkembang menjadi pria yang penuh kuasa.


Vier duduk di tepi tempat tidur, masih memandangi Vaya yang begitu konsisten memasang wajah cemberut.


"Vier, berikan aku alasan mengapa aku harus menandatangani kontrak perbudakan ini?" tanya Vaya.


"Perbudakan?" tanya Vier dengan alis terangkat sebelah.


"Ya, aku menyebutnya begitu," sahut Vaya skeptis.


Vier melonggarkan ikatan dasinya, Vaya langsung mengambil sikap defensif secara reflek.


Vier beranjak dari tempat tidur, melangkah anggun ke arah Vaya. Otomatis Vaya ikut melangkah mundur pelan-pelan.


"Kau itu wanita pembohong. Wanita penuh dusta, yang entah bagaimana caranya bisa kupercaya tanpa ada pernyataan hitam di atas putih. Mengenai isi kontrak, jujur saja, kau tidak punya hak untuk menolak. Mengapa demikian?"


"Karena kau adalah pihak yang bersalah dan harus menerima konsekuensi secara adil," lanjut Vier.


Vaya terdiam, ia menatap Vier yang masih menyeringai horor.


"Kau pasti tahu kan, ciri-ciri orang yang munafik adalah apabila berkata dia kerap berdusta, apabila berjanji akan mengingkari, dan apabila dipercaya maka berkhianat." 


"Vier, apa kau menganggapku orang yang munafik?" tanya Vaya.


"Ya, seperti itulah kau di mataku. Kau kerap berbohong, kau melanggar perintahku dengan pergi tanpa izin dariku, kau bahkan melanggar janji bahwa kau siap menerima konsekuensi atas kesalahanmu," sahut Vier.


"Vier, aku pergi tanpa izin darimu karena aku harus pergi bekerja! Itu tanggung jawabku terhadap keluargaku!" sergah Vaya.


"Ya sudah, berhentilah bekerja! Biar aku yang menanggung semua tanggung jawabmu! Kau cukup di rumah saja, dan lakukan apa yang kuperintahkan!" tandas Vier.

__ADS_1


"Haha!" Vaya tertawa sambil mendorong Vier menjauh darinya.


"Vier, aku berterima kasih atas kemurahan hatimu yang bersedia menanggung tanggung jawabku, namun aku tidak bersedia!" 


"Aku tidak mau kau memandangku rendah dan menganggapku hanyalah parasit yang menempel menghabiskan uangmu! Aku bukanlah wanita yang seperti itu, tipikal wanita-wanita yang bersedia kau tiduri demi uangmu! Kalau kau menganggapku seperti itu, apa bedanya aku dengan pelacur?!" cecar Vaya.


"Sudah, kau tidak usah banyak bicara, segera tanda tangani kontrak tertulis ini dan bersikap baiklah sebagai istri sholeha!" tandas Vier.


Vaya mendelik gusar, perdebatannya dengan Vier benar-benar menguras emosi.


"Baiklah, aku akan menandatangani kontrak denganmu, namun dengan satu syarat, bahwa kau tidak akan mencampuri urusan pribadiku!"


Vaya benar-benar harus memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan negosiasi dengan Vier.


"Do what I want! Lakukan apa yang kumau! I do what you want! Aku lakukan apa yang kau mau!" tantang Vaya.


"Haha," Vier tertawa sambil menyugar rambutnya.


Wanita di hadapannya ini benar-benar menarik. Sangat berbeda dengan para wanita yang pernah ada dalam hidupnya.


Vier mengambil amplop yang masih dipegang oleh Vaya. Ia mengeluarkan isi amplop dan membubuhkan tanda tangannya pada kolom tanda tangan sebagai pihak pertama.


Vier langsung menyodorkan dokumen tersebut pada Vaya.


Vaya meneguk ludahnya, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Vier menerima negosiasinya. Setidaknya dengan begini Vaya punya hak untuk menolak apapun keinginan Vier jika bertentangan dengan urusan pribadinya.


Vaya menambahkan poin tambahan pada kolom khusus lalu mengakhirinya dengan membubuhkan tanda tangan selaku pihak kedua.


Vier mengambil dokumen tersebut dan membacanya lagi.


"Baiklah, dengan begini, kita sudah membuat kesepakatan," Vier mengulas senyum dinginnya.


"Ya, dengan begitu kau tidak punya alasan lagi untuk menghakimiku sebagai orang yang munafik!" tandas Vaya.


Vier menyeringai sambil membuka ikatan dasinya.


"Terserah! Jadi, bisakah kita memulai yang harus kita mulai?" tanya Vier.


Vaya terpaku, ia hanya bisa meneguk ludahnya ketika Vier merentangkan dasinya ke hadapan Vaya.


Vaya menutup menutup mata, detik berikutnya ia sudah merasakan kegelapan. Vier menutup mata Vaya dengan dasi dan mengikatnya cukup kuat. Vaya bahkan tidak bisa membuka kelopak matanya.


"Aku hanya memastikan bahwa kau benar-benar tidak bisa melihat apa yang akan kulakukan terhadapmu," bisik Vier.

__ADS_1


Bisikan Vier seketika membuat Vaya merinding. Terlebih saat Vaya merasakan bahwa pria itu mulai membuka satu per satu kancing kemejanya.


...*****...


__ADS_2