Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
102 - Drama Cincin


__ADS_3

Cincin milikku? Batin Vaya sambil memandangi cincin yang tersemat di jari manis kirinya.


Vaya mengalihkan pandangannya dari cincin itu, ia menatap Vier yang saat ini masih tersenyum lembut padanya.


Mendadak Vaya merasakan tubuhnya menegang karena tatapan Vier menunjukkan adanya gairah yang membara.


Tangan Vier yang besar terasa panas, dan membuat tangan Vaya yang berada dalam genggamannya seketika lembab.


Vaya bahkan bisa merasakan darah dalam pembuluh darahnya berdesir kencang, sekencang degup jantungnya saat ini.


Entah apa maksud Vier sampai memberikannya sebuah cincin berlian yang nominalnya pasti amatlah fantastis jika melihat besarnya berlian yang bertahta di atas cincin berbahan emas putih itu.


Rasa takut pun segera menyergap Vaya seperti biasanya saat ia sedang bersama Vier.


Di saat yang sama, Vier merasakan gemuruh yang bersorak sorai membahana dalam dirinya yang harus pandai-pandai disembunyikan di balik senyum seringaiannya.


Vaya menarik tangannya, namun Vier menahan.


"Vi-Vier, kenapa tiba-tiba kau memberiku cincin?" tanya Vaya tergagap.


"Hmm, setelah kupikir-pikir, selama ini kau tidak memakai cincin kawin sehingga orang-orang akan mengira bahwa kau masih lajang," sahut Vier.


"Jadi maksudmu, cincin ini adalah simbol?" tanya Vaya berhati-hati.


"Ya, cincin kawin kan memang berfungsi sebagai simbol bahwa orang yang memakainya sudah tidak lajang lagi," sahut Vier.


Vier membawa tangan Vaya ke bibirnya, meninggalkan sebuah kecupan singkat yang sukses membuat Vaya jadi makin berdebar tak karuan.


"Ada apa, Vaya? Apa kau tidak suka dengan cincin ini?" tanya Vier.


Pria itu masih menatap Vaya dengan begitu intens, mengamati setiap detail perubahan ekspresi yang tergambar jelas di wajah Vaya.


"Hmm, ya, cincin ini terlalu berlebihan dan aku merasa cincin ini tidak cocok di jariku. Jariku jadi terlihat gendut-gendut seperti larva ulat sagu! Haha!" Vaya tertawa dibuat-buat sambil mencoba menarik tangannya dari genggaman Vier.


"Larva ulat sagu?" Vier mengerutkan keningnya.


Pria itu membawa tangan Vaya lebih dekat dan mengamatinya secara saksama.


"Apa jari-jarimu benar-benar seperti larva ulat sagu?" tanya Vier sambil mengecup satu per satu jemari Vaya.


"Vi-Vier, apa yang kau lakukan?!" Vaya terperanjat.


"Hmm, kata orang larva ulat sagu itu makanan tinggi protein. Aku ingin memakan ulat sagu," jawab Vier sebelum mengulum jemari Vaya.


"Vi-Vier!" Vaya berusaha mendorong Vier.


Perbuatan Vier benar-benar sungguh meresahkan. Jemari Vaya yang dikulum Vier seketika membuat semua syaraf di tubuh Vaya menegang tak karuan. Sensasi yang tercipta jelas membuatnya harus berjuang keras menolak melalui pikiran. Namun rupanya tubuh Vaya tidak menyetujui penolakan tersebut dan cenderung mengkhianati pikiran Vaya.


"Vaya, jangan membuatku berpikir untuk memberimu hukuman," ucap Vier begitu melepaskan jemari Vaya.


"Vaya, kau pasti paham kan, menolakku artinya kau melanggarku, sehingga kau layak untuk mendapatkan hukumanku."


Vier menyeringai, matanya masih tak lepas memandangi ekspresi Vaya yang berubah muram.


"Dan ingat, jangan pernah kau lepaskan cincin ini dari tanganmu!" kata Vier dengan nada penuh ancaman.

__ADS_1


Vaya kembali mencebik, lalu membuang pandangannya dari Vier. Vaya mengedarkan pandangannya ke sekitar danau.


Tiba-tiba mata Vaya menangkap kilatan cahaya yang berpendar di angkasa. Langit yang tadinya gelap segera berkilauan.


Boom...! Boom...!


Ledakan yang memekakkan telinga, disertai hujan cahaya warna-warni dari ledakan kembang api membuat Vaya luar biasa tercengang dengan keindahannya.


Kembang api berwarna merah, kuning, hijau, bahkan ungu meledak-ledak di angkasa, menghujani gelapnya malam dan memeriahkan danau yang tadinya begitu tenang.


"Indahnya!" ceplos Vaya penuh rasa takjub.


Vier mengulas senyumnya, sambil terus memandangi wajah Vaya. Ia tidak peduli dengan hujan kembang api yang begitu memukau. Saat ini melihat senyum Vaya yang merekah sempurna dan terlihat begitu bahagia sudah cukup membuat Vier merasa lebih baik.


"Vier, bagaimana bisa ada hujan kembang api? Padahal sekarang belum tahun baru lho!" Vaya tak bisa menutupi rasa takjubnya.


Sebagai orang yang hanya bisa melihat pesta kembang api saat tahun baru, tentu saja hujan kembang api seperti saat ini sungguh menakjubkan bagi Vaya.


"Kalau kau mau, aku bisa mendatangkan hujan kembang api setiap malam," kata Vier dengan penuh kebanggaan.


"Hee? Kok bisa?" Vaya terperangah.


"Aku kan pawang hujan kembang api!" Vier menyeringai sambil membuat gerakan seolah-olah sedang memegang wadah tak kasat mata sambil mengitari wadah itu dengan tongkat yang tak kasat mata pula.


"Aku dan pabrik kembang api berteman baik!" lanjut Vier masih dengan penuh rasa bangga.


"Haha!" Vaya tertawa lepas melihat tingkah Vier.


Bisa-bisanya Vier menirukan gaya ikonik pawang hujan fenomenal yang mendunia.


Vier mengambil bahu Vaya dan merangkulnya.


"Bagaimana? Apa kau mau melihat kembang api setiap malam?" tanya Vier sambil menatap lekat-lekat mata Vaya.


Vier masih menatap Vaya, sorot mata pria itu tidak lagi tajam, melainkan penuh kelembutan yang bisa membuat wanita mana pun pasti akan meleleh, lumer bak mentega di atas wajan panas. Vaya segera tersadar bahwa ia tidak boleh menjadi satu sendok makan mentega itu.


Vier adalah pria yang punya sejuta modus untuk menaklukkan wanita mana pun yang ia inginkan. Pria yang akan membuang Vaya kapan pun jika kontrak perbudakan birahi ini berakhir.


Vaya menunduk melepaskan genggaman tangan Vier. Ia mengamati kembali cincin pemberian Vier lalu melepas cincin berlian yang tersemat di jari manis kirinya. Vier terperangah melihat Vaya meletakkan kembali cincin itu di atas piring es krim.


"Vaya, bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak melepaskan cincin kawinmu?" tuntut Vier.


"Vier, ini bukan cincin kawinku," lirih Vaya.


"Vaya, apa maksudmu?"


"Vier, cincin kawin itu selalu berpasangan. Sedangkan cincin yang kau berikan padaku ini adalah cincin tunggal."


Vaya melirik cincin kawin yang masih melingkar di jari manis kanan Vier.


"Lagipula, pada cincin kawin biasanya terukir nama pasangan yang menjadi pemilik cincin tersebut," lanjut Vaya.


Vier tertegun mendengar ucapan Vaya.


"Vier, aku cukup tahu diri apa posisiku saat ini. Aku tidak membutuhkan simbolisasi. Aku hanya seorang pemeran pengganti yang bertugas untuk menggantikan peran pemeran utama," ucap Vaya.

__ADS_1


Vier masih tertegun dan mencerna setiap perkataan Vaya.


"Vier, terima kasih untuk makan malam dan juga kembang apinya."


Vaya beranjak dari tempat duduk.


"Vaya! Tunggu!" cegah Vier.


Langkah Vaya terhenti karena Vier menahan tangan Vaya.


"Apakah begitu sulit bagimu untuk memakai sebuah cincin yang nampak seperti cincin kawin?" tanya Vier.


"Vier, kau menyuruhku memakai cincin yang nampak seperti cincin kawin. Sementara kau masih menggunakan cincin berukiran nama Selena di jarimu. Apakah itu etis?" Vaya balik bertanya.


Vaya dan Vier kembali bersitegang.


"Pak Mike, tolong antar saya kembali," pinta Vaya.


Mike melirik ke arah Vier.


"Mike, kau tidak perlu mengantar wanita keras kepala ini kembali!" cegah Vier.


"Baiklah! Aku bisa kembali sendiri!" sungut Vaya.


Vaya bergegas pergi meninggalkan dermaga.


Vier memandangi cincin yang berada di atas piring es krim, lalu mengerling ke arah cincin kawin yang tersemat di jari manis kanannya.


"Huh! Dasar wanita keras kepala itu!" geram Vier.


Vier melayangkan tatapannya ke arah Mike.


"Mike! Kenapa kau tidak membeli sepasang cincin?! Kenapa kau hanya beli satu?!" gerutu Vier.


Mike mengerutkan kedua alisnya, saat ini Vier jelas sedang mencari kambing hitam yang bisa dipersalahkan.


"Maaf Pak Vier, saya hanya melaksanakan apa yang Anda perintahkan saja," jawab Mike diplomatis.


"Tapi Mike, kau kan harusnya..."


"Pak Vier, saya rasa Bu Vaya hanya merasa cemburu karena Anda masih mengenakan cincin kawin Anda dengan Nona Selena," potong Mike dengan cepat, mengutarakan analisisnya.


"Apa? Cemburu?" Vier mengerutkan keningnya.


"Ya, saya yakin sekali, makanya beliau enggan memakai cincin pemberian Anda."


"Hmm, begitu ya," gumam Vier.


"Ck! Dasar wanita keras kepala!" geram Vier.


Vier beranjak dari kursinya.


"Vaya!" seru Vier sambil berlari menyusul Vaya.


Huh! Dasar pasangan penuh drama! Mike membatin gusar.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2