Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
030 - Bertukar Kado


__ADS_3

Lamia melepaskan tangannya dari lengan Vaya begitu keduanya tiba di halaman belakang gedung kantor. Dua orang wanita sudah menunggu kedatangan mereka, yakni Mery dan Nola. Keduanya merupakan komplotan biang gosip paling tersohor seantero perusahaan. Apa pun yang mereka sampaikan ke khalayak ramai akan dipercaya seakan semua itu adalah kebenaran. Semua orang di perusahaan memilih untuk menghindari ketiga biang gosip itu daripada berurusan dengan mereka dan berakhir menjadi bahan gunjingan.


"Vaya, apa benar kau dan Pak Andre pacaran?" tanya Mery.


"Hah? Aku pacaran dengan Pak Andre? Siapa yang bilang?" Vaya balik bertanya.


Matanya sekilas menatap ke arah Lamia yang memasang ekspresi kesal.


"Iya, habisnya kami lihat, kau begitu akrab dengan Pak Andre! Bahkan semalam kalian pergi makan bersama! Tapi Pak Andre tidak mengajak kita!" sambar Nola.


"Pak Andre bukannya tidak mengajak kalian semua,  Pak Andre hanya mengajak teman-teman yang biasa bekerja lembur," sahut Vaya.


"Bu Vaya, bilang saja kalau Bu Vaya yang memohon untuk diajak Pak Andre karena pada awalnya Pak Andre hanya mengajakku!" sergah Lamia.


"Lamia, aku tidak memohon Pak Andre untuk diajak. Aku diajak, kalau bisa ya pergi, kalau tidak diajak ya sudah, tidak masalah bagiku," ucap Vaya.


"Tapi kenapa kau dan Pak Andre benar-benar sangat akrab? Kalian pasti diam-diam berkencan!" sergah Mery.


"Mbak Mery, aku dan Pak Andre tidak ada hubungan romantis seperti yang kalian sangka, lagipula sekarang aku sudah meni...," Vaya menahan ucapannya.


Tahan, Vaya! Tidak ada yang boleh tahu bahwa kau sudah menikah! Terlebih kau menikah dengan seorang playboy, benar-benar sangat memalukan!


"Meni apa, Vaya?" tanya Nola.


"Aku sudah meningkatkan fokusku untuk bekerja! Sekarang adik-adikku sedang butuh banyak biaya untuk sekolah mereka! Jadi, aku tidak punya waktu untuk memikirkan masalah percintaan!" jawab Vaya diplomatis.


"Bu Vaya, benar ya, Ibu tidak ada hubungan apa pun dengan Pak Andre?" tekan Lamia.


"Tidak ada, Lamia! Tidak ada!" sahut Vaya dengan tegas.


Vaya melayangkan pandangannya pada tiga wanita di hadapannya.


"Baiklah, aku harus kembali bekerja," Vaya berpamitan.


Lamia, Mery, dan Nola saling berpandangan usai menatap kepergian Vaya.


...*****...


"Iya halo, Bu."


Vaya menjawab telepon dari ibunya.


"Vaya, apa kabar? Akhir-akhir ini kamu sibuk sekali ya sampai tidak ada mengabari Ibu?"


Vaya memutar bola matanya. Akhir-akhir ini ia memang benar-benar sangat sibuk, terlebih dalam menghadapi penyiksaan Vier.


"Maaf, Bu," sahut Vaya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Bu Asih.


"Iya bu, aku baik-baik saja," jawab Vaya.


Vaya harus menjawab baik-baik saja, ibunya tidak perlu tahu perundungan yang dilakukan Vier terhadapnya.


"Bagaimana kabar suamimu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Bu Asih lagi.


"Iya Bu, dia baik-baik saja," jawab Vaya.


"Syukurlah, Ibu senang kalian baik-baik saja," kata Bu Asih. "Oh ya, Vaya, begini, Rian minta dibelikan satu set pisau, uang tabungan Rian dan uang Ibu masih belum cukup, bisakah kamu bantu?" tanya Bu Asih.


"Baik Bu, aku mengerti," jawab Vaya.

__ADS_1


"Oh ya, bagaimana dengan Aria? Bukannya kalau mau ujian, Aria harus bayar uang ujian ya Bu?" tanya Vaya.


"Ibu sudah bayar uang ujian Aria," jawab Bu Asih.


"Ya sudah, Vaya, kamu lanjut bekerja saja, sempatkan datang ke rumah walau sebentar," lanjut Bu Asih.


"Iya, Bu," sahut Vaya.


Tut... Tut... sambungan telepon berakhir.


Vaya segera menghubungi Rian, adiknya yang mengambil kuliah jurusan tata boga memang membutuhkan peralatan masak yang harganya cukup fantastis.


"Halo, Rian, kamu perlu pisau set apa sampai uang tabunganmu tidak cukup?"


"Pisau dekoratif, Kak, harganya memang cukup mahal," jawab Rian.


"Coba kirimkan gambarnya ya," kata Vaya sebelum menutup teleponnya.


Vaya menunggu kiriman gambar pisau yang dibutuhkan Rian. Vaya terperangah dengan harga pisau set itu. Seketika Vaya langsung memijat pelipisnya.


Uang tabungan di rekeningnya saja masih belum cukup untuk membeli pisau set itu.


Belum lagi, Vaya punya beban utang untuk mengganti jaket Pak Andre yang hancur karena dicincang-cincang oleh Vier. Jaket bermerk milik Pak Andre tentu saja harganya cukup fantastis mengingat pria itu dikenal sebagai pria bermerk. Tidak mungkin kan, Vaya mengganti jaket Pak Andre dengan jaket kw super. Juga seragam kerjanya yang ikut menjadi korban keganasan Vier.


"Oh tidak! Gajian masih lama!" keluh Vaya.


Tring...


Tiba-tiba otak Vaya mengingat selembar kartu sakti yang diberikan Vier untuknya.


Apa kartu kredit yang diberikan Vier adalah bentuk pertanggungjawaban Vier terhadap aksi anarkisnya?


Apa kugunakan saja?  Vaya menimbang-nimbang dalam hati.


Bukankah kebutuhan kuliah Rian juga masuk dalam keperluan Vaya?


Tidak! Tidak! Nanti Vier malah bersikap makin semena-mena padaku! Batin Vaya.


Tapi, kartu kredit dari Vier adalah hadiah untukku!


...*****...


Jam lima sore, Vaya cepat-cepat merapikan meja kerjanya.


"Loh, Mbak Vaya, tumben pulang lebih awal," kata Evi.


"Oh, aku ada urusan, duluan ya, Evi," Vaya berpamitan.


Vaya segera meninggalkan gedung perusahaan, memanggil taksi daring yang mengantarnya langsung ke salah satu pusat perbelanjaan.


"Vaya!"


"Ibe!"


Vaya langsung merangkul Ibe begitu wanita itu menghampirinya.


"'Aduh kangen sekali aku, Vaya!" seru Ibe histeris.


"Iya, aku juga kangen sekali!" balas Vaya.


Ibe melepaskan rangkulannya, melakukan pemindaian terhadap penampilan Vaya.

__ADS_1


"Vaya, kau baik-baik saja kan selama menikah dengan Vier? Apa Vier sudah berselingkuh darimu? Apa dia sudah membawa selingkuhannya kepadamu? Apa dia sudah membuangmu?" Ibe mencecar Vaya.


"Aduh, pertanyaanmu banyak sekali, aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu," gerutu Vaya.


"Vaya, apa kau tahu, aku benar-benar merasa cemas padamu!" ucap Ibe.


"Ibe, aku masih lengkap dan utuh! Bola mataku masih dua, jari-jariku masih sepuluh, dan ginjalku juga masih dua, hehe!" Vaya terkekeh.


"Ih, kenapa kau malah bercanda, Vaya," Ibe mencubit lengan Vaya dengan gemas.


"Habisnya kau bertanya aneh-aneh sih! Hehe," Vaya kembali terkekeh.


"Syukurlah kau baik-baik saja," Ibe bernapas lega.


"Ibe, kita makan dulu yuk, aku lapar," ajak Vaya.


"Oke," sahut Ibe.


Vaya dan Ibe memasuki sebuah restoran udon yang ada di pusat perbelanjaan. Restoran udon tersebut menyajikan makanan yang dianggap Vaya cepat saji karena memang disajikan secara cepat. Vaya mengambil semua gorengan yang dijual secara prasmanan.


Vaya benar-benar merasa bahagia, ia makan dengan sangat lahap. Makanan yang digoreng memang makanan yang lebih enak. Sensasi kriuk benar-benar membuatnya tak bisa berhenti mengunyah.


"Vaya, makannya pelan-pelan, kau ini seperti tidak pernah makan saja," tegur Ibe.


Vaya tidak menyahut, mulutnya masih penuh dengan tempura udang.


"Apa Vier tidak memberimu makan?" tanya Ibe.


Vaya menggeleng sambil menelan apa yang dikunyahnya.


"Aku bosan, setiap hari hanya makan sayur-sayuran mentah! Dan ternyata Vier juga begitu!" sahut Vaya.


"Haha! Dasar gila! Apa kalian berniat menjadi sapi?" Ibe tertawa.


Usai makan Vaya segera pergi ke toko pakaian yang menjual pakaian impor untuk mencari jaket yang sama persis dengan milik Pak Andre.


...*****...


"Pak Vier, Bu Vaya menggunakan kartu kredit yang Anda berikan untuk membeli pisau set dekoratif di salah satu toko daring ternama, kemudian transaksi terbaru yakni digunakan untuk berbelanja di sebuah toko pakaian pria," Mike memberi laporan.


Vier mengerutkan keningnya.


"Pakaian pria?" tanya Vier.


"Merk A, di Pusat Perbelanjaan J," jawab Mike.


Vier mengulas senyumnya.


"Wah, apa dia mau memberiku kado karena dia sudah kuberi hadiah ya?" tanya Vier.


"Bisa jadi, Pak," jawab Mike.


"Wah, ini seperti acara bertukar kado. Aku jadi tak sabar untuk melihat seperti apa kado yang dia siapkan untukku, haha!" Vier tertawa.


Kalau jelek, akan kuikat dia dengan kado yang dia  berikan! Vier menyeringai.


...*****...


Pembaca setia, author ucapkan terima kasih sudah membaca Menikah Karena Berbohong. Terima kasih atas dukungan para pembaca dan para author yang menyempatkan diri untuk membaca karya receh ini.


Yuk selagi nunggu episode-episode baru yang rilis, baca juga karya author yang lain yang sudah kelar untuk sekadar mengisi waktu kosong.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


🙏🙏🙏


__ADS_2