Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
186 - Tersesat


__ADS_3

"Apa yang harus kulakukan? Aku harus ke mana?"


Vaya bertanya pada dirinya sendiri. Matanya masih terus menerus melakukan pemindaian terhadap sekelilingnya.


Jalan di kota Paris selalu dan senantiasa ramai dikunjungi baik para wisatawan maupun penduduk lokal.


Kafe-kafe, rumah makan di pinggir jalan ramai didatangi pengunjung, terlebih sekarang sudah menunjukkan waktu makan siang.


Vaya berusaha menahan organ-organ pencernaannya yang sudah mulai melakukan demonstrasi besar-besaran. Terus menerus bekerja tapi belum kunjung mendapat asupan makanan segar.


Vaya melanjutkan langkahnya, menepi ke area taman untuk sekadar mencari tempat duduk. Mata Vaya menangkap beberapa orang yang saat ini sedang mengelilingi sebuah kolam air mancur. Tiga orang yang nampak berkasak-kusuk itu sepertinya merupakan turis dari negara Asia Timur.


Mereka membuka ransel besar dan mengeluarkan barang-barang bawaan mereka.


Vaya masih memerhatikan sampai salah satu dari mereka mengeluarkan uang receh dan mereka bertiga langsung melompat kegirangan.


Dari bahasa tubuh mereka terlihat mereka mulai melempar uang receh yang mereka temukan dan langsung berdoa di depan kolam air mancur itu.


Setelah berdoa, ketiga turis itu pun pergi meninggalkan air mancur tersebut. Vaya berjalan mendekati kolam air mancur itu.


Di dasar kolam air mancur terdapat banyak tumpukan uang koin.


"Sepertinya mereka tadi juga melempar uang receh ke dalam kolam lalu berdoa," gumam Vaya.


Vaya merogoh tasnya, miris melihat isi dompetnya yang sekarang hanya berisi uang receh.


Vaya mengambil uang recehan tersebut dan kemudian melemparkan uang recehnya ke dasar kolam lalu cepat-cepat berdoa.


"Semoga aku bisa kembali bertemu dengan Vero,  lalu pulang kembali ke tanah air dengan selamat," ucap Vaya.


"Lalu semoga Selena juga cepat sembuh," lanjut Vaya.


"Lalu semoga aku bisa hidup berbahagia, bahagia selamanya bersama keluargaku," lanjut Vaya.


"Hmm, apa lagi ya? Yah, pokoknya semoga keinginanku terkabul. Kalau bisa sekarang juga terkabulnya. Kumohon!" pinta Vaya dengan sungguh-sungguh.


"As your wish, Madam."


Suara di belakang Vaya membuat Vaya terlonjak kaget dan cepat-cepat menutup mulutnya.


...*****...


Vier masih memandangi peta kota Paris di layar gawai cerdasnya. Ia mempelajari peta itu, mengira-ngira ke mana Vaya pergi.


"Harusnya Vaya tak pergi jauh-jauh, apalagi hanya satu jam saja."


"Jika pun dia pada akhirnya tersesat, dia harusnya ke kantor polisi terdekat."


"Saya sudah menanyakan ke kantor polisi terdekat, tidak ada turis yang datang melapor dengan ciri-ciri Bu Vaya," Mike menimpali dari belakang kemudi.

__ADS_1


Vier menarik napas panjang.


"Ke mana kira-kira Vaya pergi?" Vier bertanya-tanya.


"Biasanya saat orang tersesat secara naluri mereka akan berusaha pergi ke tempat yang ramai," ujar Mike lagi.


"Tidak, Mike, Vaya justru sebaliknya, dia akan pergi ke tempat yang lebih sepi," sahut Vier.


"Setiap sudut di kota Paris ini selalu ramai, Pak," ucap Mike.


"Kalau begitu cari dalam radius 10 kilometer, tempat yang sepi dan tenang!" perintah Vier.


Mike menunggu informasi dari para informan yang pada akhirnya memberi keterangan bahwa mereka melihat sosok seperti yang dicari oleh Mike.


Sosok itu berada di taman air mancur yang sepi, lokasinya tiga blok dari posisi mereka saat ini.


Vier segera turun dari mobil dan melangkah cepat ke taman air mancur tersebut.


Jantungnya berdentam keras, semoga saja informasi yang didapatkan Mike tidak salah.


Bagaimana kalau sampai salah orang?


Mata Vier segera tertuju pada sosok wanita berkulit cokelat yang saat ini bermandikan sinar matahari musim gugur.


Vier merasakan lega yang teramat sangat namun juga kesal yang luar biasa begitu mendapati Vaya kembali.


Di saat orang pusing mencarinya, wanita itu malah bersantai-santai di kolam air mancur sambil membuat permohonan.


"As your wish, Madam," ucap Vier tepat di telinga Vaya.


"Kyaaa!" Vaya menjerit sambil menutup mulutnya.


Vier segera memegangi pinggang Vaya yang nyaris terjatuh lantaran terkejut.


Vaya benar-benar begitu kaget, ia langsung menatap ke dalam bola mata Vier yang terlihat tajam dan berbinar. Pria itu selalu mengulas senyum seringaian khas, memamerkan deretan giginya yang putih dan terawat.


"Vier!"


Vaya berseru dan reflek langsung berpegangan pada bahu Vier.


"Vaya! Kau ini benar-benar ya!" geram Vier.


Vaya meneguk ludahnya  mendengar geraman penuh kemarahan dari Vier. Ia dengan segera melepas tangannya yang bertumpu pada bahu Vier. Vier juga melepaskan tangannya yang menahan tubuh Vaya.


"Vier! Maafkan aku! Tolong jangan marah! Tolong dengarkan penjelasanku dulu," ucap Vaya.


"Tadi itu, tadi itu ada pria tampan bermata biru dengan rambut pirang yang tiba-tiba datang menghampiriku," kata Vaya tergesa-gesa.


"Apa?! Pria tampan bermata biru dengan rambut pirang?" potong Vier. "Lalu kau mengikutinya, begitu? Oh bagus sekali, Vaya!" geram Vier makin menjadi.

__ADS_1


"Tidak, Vier! Justru sebaliknya! Pria itu yang mengikutiku! Aku jadi ketakutan dan lari sampai entah ini di mana! Sungguh!" Vaya menjelaskan dengan cepat.


Vier masih melemparkan tatapan tidak percaya.


"Vier, sungguh! Aku tidak bohong," Vaya memelas.


"Vaya! Kau ini benar-benar!"


Vier terlihat marah, Vaya menunduk, sementara Vier langsung menyugar rambutnya.


"Berapa kali harus kukatakan padamu agar kau mengerti? Jangan pernah pergi ke mana-mana tanpa seizinku!"


Vaya tertegun, entah mengapa ia merasa benar-benar sangat bersalah.


"Tapi syukurlah, sekarang semua itu tidak penting! Bisa menemukanmu seperti ini adalah hal yang lebih penting bagiku," kata Vier.


Vaya balas menatap ke arah Vier, ekspresi Vier melembut dan itu sungguh melegakan Vaya.


"Bagaimana caramu menemukanku, Vier?" tanya Vaya.


Vier memasang ekspresi seakan ia baru saja menjadi juara kelas yang baru saja menerima penghargaan dari kepala sekolah.


"Aku bisa mencarimu selama kau tidak bersembunyi di hutan belantara," sahut Vier.


Nada bicara pria itu terdengar begitu angkuh dan penuh dengan kebanggaan, membuat Vaya seketika mendelik gusar.


"Aku pasti akan mencarimu, entah bagaimana caranya, yang pasti aku akan mencarimu dan menemukanmu, meski di dasar neraka sekalipun," Vier menambahkan.


"Haha," Vaya tertawa kecut mendengar betapa Vier kembali menjadi sosok pria hiperbolis.


"Vaya, aku serius," tukas Vier.


"Haha," Vaya kembali tertawa mengejek.


Melihat kedatangan Mike, Vaya jadi tersadar bahwa Vero tidak bersama Mike.


"Vier, di mana Vero?" tanya Vaya.


"Vero bersama ibuku," jawab Vier.


"Apa?!" Vaya terperangah.


"Kenapa Vero bisa bersama ibumu, Vier?" tanya Vaya.


"Ibuku membantu menjaga Vero selagi aku mencarimu, Vaya," jawab Vier.


"Oh tidak!" Vaya memejamkan matanya.


Seketika saat itu juga Vaya merasa marah pada Vier.

__ADS_1


"Bawa kembali Vero padaku, Vier!"


...*****...


__ADS_2