
"Huek... Huek!"
Vaya merasakan mual yang begitu berlebihan di tengah kegiatannya berkemas. Hari ini Vaya harus meninggalkan mess karyawan karena ia sudah mengundurkan diri dari perusahaan.
Vaya segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Tak ada yang bisa ia muntahkan pagi ini, karena ia baru saja bangun tidur.
"Ugh, aku kenapa ya?" batin Vaya bertanya-tanya.
"Huek...!"
Lagi-lagi rasa mual itu muncul.
"Aduh, apa asam lambungku naik ya?" Vaya bertanya-tanya sendiri.
...*****...
Vaya menguatkan diri begitu tiba di depan pintu rumahnya. Ia merasa begitu berat untuk pulang kembali ke rumah.
Namun saat ini yang bisa ia lakukan adalah pulang kembali kepada keluarganya. Hanya keluarganya yang bisa menjadi tempatnya untuk bersandar.
Tok... Tok...
Vaya mengetuk pintu sambil menunggu di depan teras. Vaya menatap sekeliling bangunan rumah orang tuanya yang sudah reyot lantaran termakan usia. Vaya belum punya uang lebih untuk melakukan renovasi besar-besaran. Meski beberapa waktu yang lalu Vier pernah menawarkan bantuan untuk melakukan renovasi, namun Vaya menolaknya.
Vaya tidak mau menjadi orang yang dianggap memanfaatkan kesempatan karena menikahi pria kaya raya. Vaya sungguh tidak berkenan dipandang rendah hanya karena ia adalah orang yang hidup di bawah garis kesejahteraan.
Namun tetap saja, ibu mertuanya justru memandangnya rendah. Tidak memanfaatkan kekayaan suami saja dituduh memanfaatkan, apalagi benar-benar memanfaatkan kekayaan suami?
Vaya cepat-cepat menepis pikiran itu begitu ibunya membukakan pintu rumah untuknya.
"Ibu," Vaya segera mengambil tangan Bu Asih dan menciumnya serta memberi pelukan.
Bu Asih terdiam dengan ekspresi yang membuat Vaya menegang.
"Ibu, ada apa?" tanya Vaya.
"Masuk dulu, Vaya," jawab Ibu.
Vaya segera memasuki rumah dan mengikuti Bu Asih. Bu Asih mengambil sesuatu di rak penyimpanan yang berada di samping televisi.
Aria dan Rian hanya berani mengintip dari kamar, tak berani menghampiri ibu dan kakak mereka.
Bu Asih menyodorkan sebuah amplop ke arah Vaya.
"Vaya, kembalikan amplop ini ke ibu Vier," kata Bu Asih.
"A-apa? Ibu Vier?" Vaya terperangah.
"Ya, tempo hari Ibu Vier kemari dan memberikan amplop ini untuk Ibu. Tapi Ibu sungguh tidak bisa menerimanya," ujar Bu Asih.
Vaya mengeluarkan selembar cek dengan nominal yang sangat fantastis.
__ADS_1
"Vaya, mengapa kau tidak jujur pada Ibu?" tanya Bu Asih.
Vaya terdiam melihat ekspresi wajah ibunya yang berubah sedih.
"Ketika kau mengatakan bahwa kau akan menikah, Ibu sebenarnya sangat terkejut dan hampir-hampir tidak percaya. Tapi, karena kau bilang bahwa Ibu harus percaya padamu, maka Ibu pun percaya dan tidak mempertanyakannya," kata Bu Asih.
"Hanya saja, ketika mendengar Ibu Vier mempertanyakan bagaimana cara Ibu mendidikmu, saat itu Ibu merasa bahwa Ibu sudah menjadi orang tua yang gagal mendidikmu," mata Bu Asih berkaca-kaca.
"Apa benar kau memaksa Vier untuk menikahimu sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatan yang pernah kalian lakukan di masa lalu?"
"Vier bahkan sampai harus membatalkan pernikahannya untuk menikahimu."
"Ibu," Vaya menyela.
Vaya merasakan kembali rasa sesak di dalam dadanya. Ia bisa menebak apa yang dibicarakan oleh ibu mertuanya sampai-sampai ibunya begitu sedih seperti ini.
"Ibu, maafkan aku. Bisakah Ibu mendengar penjelasanku? Akan kuceritakan semuanya Bu, akan kuceritakan semuanya, dan kupastikan bahwa semua ini bukan salah Ibu yang mendidikku," kata Vaya memelas.
Vaya menggenggam tangan ibunya lalu mereka berdua saling berpandangan.
"Semua ini salahku, Bu. Salahku yang sudah membuat sebuah kebohongan. Aku berbohong pada tunangan Vier. Aku mengaku pernah hamil dan menggugurkan bayi Vier. Kebohongan itu bagiku hanyalah sebuah candaan, tapi rupanya kebohongan itu justru membuat tunangan Vier membatalkan pernikahan mereka."
"Vier akhirnya memintaku untuk bertanggung jawab atas kebohongan itu dan menjadikanku sebagai istrinya."
Bu Asih meneteskan air matanya mendengar penuturan Vaya.
"Vaya, kenapa kau sampai berbohong seperti itu?"
"Vaya, tapi tetap saja, berbohong itu tidak baik," sela Bu Asih.
"Iya Bu, aku tahu. Aku pun sudah siap dengan segala konsekuensi atas kebohonganku itu," ujar Vaya.
"Dan pada akhirnya, aku pun benar-benar jatuh cinta pada Vier, Bu," lanjut Vaya.
Vaya menunduk dan menangis di atas tangan ibunya.
"Maafkan aku Bu, aku benar-benar minta maaf. Gara-gara aku, gara-gara kebohonganku, semua jadi seperti ini. Aku sadar, efek dari kebohonganku ini membuat semua orang kehilangan kepercayaan padaku," ucap Vaya terisak.
Bu Asih menangis dan mengusap lembut kepala Vaya.
"Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah memberi bukti agar semua kepercayaan itu bisa kudapatkan lagi," kata Vaya.
Sementara itu Aria dan Rian yang mengintip ikut menangis tersedu-sedu.
"Vaya, sudah, berhentilah menangis," kata Bu Asih.
Vaya mendongak dan melihat senyum hangat di tengah air mata yang berlinangan di wajah ibunya.
"Yang penting kau sudah bicara jujur, itu sudah cukup bagi Ibu," kata Bu Asih sambil menyeka air mata yang meleleh di pipi Vaya.
"Kak Vaya!"
__ADS_1
Aria dan Rian pun akhirnya keluar dari tempat persembunyian mereka lalu menghambur memeluk Vaya.
"Huek...!" Vaya kembali merasa mual.
Vaya melepas pelukan adik-adiknya dan langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan kembali isi perutnya.
Bu Asih, Aria, dan Rian saling melemparkan pandangan mereka.
Usai mengeluarkan isi perutnya, Vaya kembali berkumpul bersama keluarganya dalam keadaan sempoyongan.
"Lho, Kak Vaya kenapa? Kok muntah-muntah?" tanya Aria.
"Asam lambungku mungkin sedang naik," sahut Vaya.
"Haah! Jangan-jangan Kak Vaya hamil?" tebak Rian.
"Rian, jangan bicara yang aneh-aneh!" sahut Vaya.
"Vaya, apa kamu sudah periksa?" tanya Bu Asih.
Vaya terdiam, ia berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali ia datang bulan.
"Kak, aku belikan test pack ya!" kata Rian berinisiatif.
"Aduh, Rian, tidak per... huek...!"
Lagi-lagi Vaya merasa begitu mual.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang juga!" ucap Rian.
...*****...
Tiga buah alat uji kehamilan yang saat ini dipegang oleh Vaya menampilkan dua garis merah yang terpampang jelas dan nyata.
Vaya menghela napas berat.
"Aku yakin alat test pack ini pasti salah," kata Vaya.
"Alat test kehamilan harus digunakan pada pagi hari, menggunakan air pipis pertama!" lanjut Vaya.
"Aku tidak mungkin hamil!" Vaya meyakinkan dirinya.
Bu Asih, Aria, dan Rian lagi-lagi saling melemparkan pandangan.
"Vaya, daripada tebak-tebakan begitu, lebih baik langsung periksa saja ke dokter," usul Bu Asih.
"Tapi Bu, aku tidak mungkin hamil, karena... huek!"
Vaya kembali merasa mual dan lagi-lagi harus berlari ke kamar mandi untuk menguras isi perutnya.
...*****...
__ADS_1