Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
092 - Aku Bertanya, Harus Kau Jawab


__ADS_3

Setibanya di koridor yang lengang, Yoran menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus ke arah Vaya.


"Vaya, apa kau baik-baik saja?" tanya Yoran.


"Aku baik-baik saja, Yoran," jawab Vaya.


Ucapan Vaya berbanding terbalik dengan ekspresi yang tergambar jelas di wajahnya. Kegelisahan Vaya benar-benar terlihat. Jantung Vaya bergemuruh tak karuan, terlebih ia meninggalkan Vier dalam keadaan seperti itu.


Yoran menatap Vaya lekat-lekat.


"Vaya, aku tahu penampilanmu saat ini memang terlihat luar biasa dan pasti akan memesona para pria. Hanya saja aku tak menyangka Vier akan menjahilimu!"


"'Vier benar-benar sungguh pria yang rendah! Bisa-bisanya dia melakukan hal tidak senonoh padamu!"


Yoran masih menatap Vaya, yang terlihat kehilangan kemampuan untuk bicara. Namun Vaya berusaha untuk meluruskan kesalahpahaman itu.


"A-anu Yoran, sebenarnya...," ucapan Vaya menggantung di lidahnya.


"Vaya, kau harus berhati-hati pada Vier! Kau pasti tahu Vier itu pria macam apa! Pria yang suka menggoda wanita!" Yoran menyela ucapan Vaya.


"Jangan sampai kau tergoda rayuannya dan menjadi salah satu dari sekian banyak wanita yang tergoda olehnya," lanjut Yoran.


"Yo-Yoran, a-anu sebenarnya...," kata Vaya tertahan.


"Vaya, kau adalah wanita yang menawan, kau wanita yang baik, dan sudah sepantasnya mendapatkan pria yang lebih baik," Yoran kembali menyela ucapan Vaya.


Vaya benar-benar tidak tahu mengapa lidahnya begitu kelu untuk menjelaskan hal yang sebenarnya pada Yoran.


"A-anu Yoran, sebenarnya, yang terjadi hanyalah kesalahpaha..."


"Yoseph!"


Vaya dan Yoran langsung menoleh ke arah seseorang yang memanggil nama Yoran.


Grace!


Vaya dengan cepat melepaskan tangan Yoran yang mencengkeram lengannya.


"Kau dari mana saja, Yoseph? Aku mencarimu," kata Grace.


"Maaf Grace, tadi ada masalah kecil yang terjadi pada temanku," ucap Yoran.


"Oh begitu," Grace mengulas senyumnya.


"Vaya, kembalilah ke ruang pesta, nikmatilah pestanya," kata Yoran.


"'I-iya," jawab Vaya tergagap.


Yoran dan Grace segera meninggalkan Vaya. Vaya hanya bisa terdiam. Ketakutan kembali menyergapnya.


Vier pasti benar-benar sangat marah padanya. Entah hukuman macam apa yang akan diterima oleh Vaya.


Entah alasan apa yang harus Vaya siapkan. Alibi apa yang harus diceritakan oleh Vaya agar terhindar dari hukuman Vier.


Di saat Vaya tengah pusing menyiapkan alibi-alibi yang sempurna demi terhindar dari kecurigaan Vier, mata Vaya menangkap sosok Mike yang tiba-tiba saja sudah muncul di hadapannya.


"Bu Vaya, mari kita pulang," ajak Mike dengan suara yang begitu datar.

__ADS_1


...*****...


Mike segera membukakan pintu mobil untuk Vaya. Vaya segera masuk dan duduk di kursi belakang. Ia mengambil sikap defensif, mengedarkan pandangannya, menunggu Vier datang.


Mike sudah duduk di kursi kemudi dan mulai mengendarai mobil mewah itu meninggalkan pelataran parkir bawah tanah yang temaram.


"Pak Mike, Vier ke mana?" tanya Vaya.


"Pak Vier sudah pulang lebih dulu, menumpang mobil lain," jawab Mike singkat.


"Hee? Kenapa begitu?" tanya Vaya.


"Bu Vaya, kecelakaan lalu lintas khususnya kecelakaan mobil rentan terjadi ketika pengemudi terdistraksi oleh situasi dan kondisi yang kurang kondusif," jawab Mike.


Vier memilih untuk pisah mobil daripada nantinya harus bertengkar dengan Vaya. Keselamatan adalah prioritas utama meski emosi sudah di ujung tanduk.


...*****...


Sesampainya di rumah, Vaya merasakan atmosfer penuh ketegangan saat Mike mempersilakan Vaya masuk ke ruang kerja Vier.


Vier sudah duduk di meja kerjanya, sambil menyingkirkan sesuatu dari atas meja, ia mengambil kantong berisi es batu lalu menempelkannya pada sudut bibirnya yang mulai lebam.


Vaya benar-benar tak berani menatap sorot mata Vier yang saat ini memancarkan kemarahan yang tak terucap.


Vier duduk di sofa, punggungnya bersandar nyaman pada bantal besar berwarna hitam, menatap lurus ke arah Vaya.


Vaya masih tetap berdiri dengan lutut yang mulai gemetaran.


"Jadi Vaya, bisakah kau jelaskan padaku, mengapa tiba-tiba Yoran datang, memukulku, lalu membawamu pergi?" tanya Vier.


Vaya terdiam, pertanyaan Vier sungguh terdengar seperti petugas Komisi Pemberantasan Korupsi yang sedang melakukan interogasi pejabat yang terlibat kasus korupsi.


"Vaya, aku bertanya, harus kau jawab!" tandas Vier.


Vaya meneguk ludahnya, tenggorokannya tercekat seakan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


"Vaya!"


"A-aku, aku," Vaya tergagap.


"'Aku apa?!"


"Aku... aku rasa, itu hanya kesalahpahaman saja, Vier," jawab Vaya.


"Kesalahpahaman apa?" tanya Vier.


Vaya tidak tahu apa yang harus dijawabnya. Apakah tidak ada seorang pun yang bisa membantunya memberikan jawaban?


Vier memicingkan matanya.


"Vaya, sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Yoran?"


Vaya kembali terdiam mendengar pertanyaan Vier. Belum sempat Vaya menjawab pertanyaan sebelumnya, sudah muncul lagi pertanyaan lain dari Vier.


"Hubunganku dengan Yoran? Apa maksudmu, Vier?" Vaya balik bertanya.


Vaya berusaha menutupi rasa gugupnya, terlebih saat ini bukan hanya Vier yang sedang menatapnya tajam, Mike pun melakukannya juga.

__ADS_1


Vier memberi kode kepada Mike, Mike segera mengambil sesuatu dari meja kerja Vier. Sesuatu yang dilihat Vier sebelum Vaya memasuki ruang kerjanya.


Sebuah amplop cokelat besar dibawa Mike ke depan meja. Mike mengeluarkan isi amplop tersebut.


Vaya terbelalak, matanya membulat lebar melihat foto-fotonya dan juga Yoran.


Foto-foto saat Vaya menemui Yoran di restoran tempat terakhir mereka bertemu untuk makan siang bersama.


Vaya merasa seakan hendak memuntahkan jantungnya, lambungnya, hingga usus dua belas jarinya. Ketakutannya selama ini benar-benar menjadi kenyataan.


Pantas saja Mike sampai memberinya peringatan karena pria itu sudah tahu semuanya.


Tahu semuanya? Oh tidak! Batin Vaya gelisah.


Vaya berusaha menenangkan dirinya, tidak boleh ada kegentaran yang terlihat.


"Apa selama ini pria yang kau kencani adalah Yoran?" tanya Vier.


"'Vier, aku tidak berkencan dengan Yoran," jawab Vaya.


Alis Vier terangkat sebelah, ia menoleh ke arah Mike.


"Huh! Astaga, Vaya!" Vier mendengus kesal.


"Vaya, sampai kapan kau mau terus berbohong padaku?" tanya Vier dengan suaranya yang mulai meninggi setengah oktaf.


"Aku tidak berbohong padamu, Vier," jawab Vaya.


"Vaya, apa kau pikir aku adalah pria bodoh yang bisa kau bohongi?" tanya Vier.


Vier melempar kantong es ke lantai dengan perasaan kesal.


"Vier, aku tidak berbohong padamu! Aku tidak berkencan dengan Yoran!" jawab Vaya.


"Haha! Vaya! Kalau kau memang tidak mengencani Yoran, bisakah kau jelaskan padaku, mengapa Yoran membeli penthouse seharga dua puluh miliar atas namamu?!" Vier tertawa dengan penuh kemarahan.


"A-apa?! Penthouse dua puluh miliar?!" Tanya Vaya dengan mata terbelalak.


"Ya, jika memang kau dan Yoran tidak memiliki hubungan apa pun lantas mengapa Yoran sampai berbaik hati membeli penthouse itu atas namamu?" tanya Vier.


Penthouse dua puluh miliar? Astaga!


Matilah aku! Apa yang harus aku lakukan?


Pilihan pertama, tetap diam, dan berpura-pura tidak tahu.


Pilihan kedua, mengakui, menangis, dan memohon pengampunan Vier.


Pilihan ketiga, berpura-pura gila.


Jadi, apa yang harus dipilih Vaya sekarang?


Jika ini soal pilihan ganda, pasti Vaya sudah menggunakan metode hitung kancing kemeja untuk memilih jawabannya.


Hanya saja saat ini Vaya sedang memakai gaun tanpa kancing. Haruskan ia meminjam kemeja Vier untuk menggunakan metode hitung kancing?


Sebuah metode alternatif yang ia lakukan ketika menghadapi soal matematika dan menemui jalan buntu?

__ADS_1


Jika semasa sekolah dulu ujian matematika sangatlah menakutkan, saat ini justru kemarahan Vier-lah yang membuat Vaya luar biasa ketakutan.


...*****...


__ADS_2