
Vaya memasuki ruang pakaiannya, ia segera mengambil tas berisi pakaian yang dibawanya ketika pindah ke rumah Vier.
Dengan cepat ia memakai pakaian dalam kemudian kaus dan celana jeansnya. Semua gaun-gaun indah yang disiapkan Vier nyatanya hanya membuat Vaya makin mirip dengan boneka yang dimainkan oleh Vier.
Saat ini yang ada dalam pikiran Vaya adalah pergi meninggalkan rumah Vier secepat mungkin. Semakin lama ia berada di rumah ini, yang ada ia hanya akan semakin dipandang rendah.
"Vaya!"
Vier berseru sambil menerobos memasuki ruang pakaian Vaya. Matanya langsung tertuju pada tas yang dibawa Vaya.
"Kau mau ke mana?" tanya Vier.
"Pergi," jawab Vaya.
"Oh begitu ya? Jadi, kau memilih untuk pergi?"
"Ya, memangnya apa yang akan kulakukan selain memilih pergi? Apa kau sungguh ingin melihatku makin direndahkan olehmu dan juga keluargamu? Membiarkanmu dan mereka semua menghina dan menginjak-injak harga diriku?!" tandas Vaya.
Vaya dan Vier saling berpandangan, tatapan mereka saling mengunci satu sama lain.
"Vier, aku sadar diri! Aku sadar bahwa aku sudah begitu rendah! Jangan makin direndahkan!"
Vaya menghela napas berat, air mata rasanya hendak kembali tumpah ruah.
"Vier, sungguh, kalau aku tahu akan begini jadinya, harusnya dari awal kita tidak perlu melakukan pernikahan ini! Harusnya aku mendekam saja di penjara!"
"Di penjara aku juga tetap dapat makan sehari tiga kali! Aku juga bisa tetap tidur meski tanpa ada tempat tidur yang nyaman! Baju tahanan aku rasa jauh lebih cocok untukku!"
"Daripada aku harus hidup seperti ini! Memakai pakaian indah, tidur di tempat yang nyaman, memakan makanan yang mewah! Namun ternyata aku tak lebih dari sekadar mainanmu saja!"
"Mainan yang kau mainkan di saat kau merasa bosan dan butuh pelampiasan!"
"Dan bodohnya, aku menyangka bahwa semua yang kau lakukan terhadapku adalah sebuah ketulusan. Sebuah ketulusan dari orang yang menjadi suamiku."
Hiks....
Air mata Vaya tumpah ruah mengingat banyaknya hal yang pernah mereka lakukan bersama.
"Vaya," lirih Vier tertahan.
"Harusnya kau tidak perlu repot-repot membuatku merasa nyaman hingga akhirnya aku merasa takut kehilanganmu, Vier! Harusnya kau jangan lakukan itu! Jangan memberiku harapan yang indah untuk hidup bahagia bersama dengan pria sepertimu!"
Vaya kembali menatap Vier yang lagi-lagi hanya bisa terdiam.
"Aku pergi."
__ADS_1
Vaya melangkah pergi, Vier menahan tangan Vaya.
"Jangan pergi!"
"Lepaskan aku, Vier!" geram Vaya.
"Jangan pergi, Vaya! Ini perintah!" sergah Vier.
"Tidak, Vier! Aku bukan mainanmu!" Vaya menyentak tangan Vier hingga terlepas.
Vaya berusaha untuk tidak menangis lagi begitu meninggalkan Vier yang masih termangu sendiri.
...*****...
Vier masih termenung menatap langit-langit kamar.
Ia menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong. Biasanya ada Vaya yang masih terlelap begitu nyenyak dalam pelukannya.
Vier mencoba menutup matanya yang sama sekali tidak bisa terpejam hingga menjelang subuh.
Vier bangkit dari tempat tidur karena menyadari bahwa pagi sudah datang dan ia masih belum juga bisa memejamkan matanya.
...*****...
"Selamat pagi, Vier."
"Selamat pagi, Bu, tumben Ibu pagi-pagi sudah kemari," kata Vier sambil menarik kursi dan duduk di belakang meja makan.
"Ibu ingin sarapan denganmu dan juga istrimu," sahut Bu Cintami.
Bu Cintami mengulas senyumnya, padahal ia sudah mendengar kabar bahwa Vaya meninggalkan rumah ini semalam.
Vier menatap lurus ke arah Bu Cintami.
"Vaya sudah pergi, Bu," ucap Vier.
"Pergi?" Bu Cintami berpura-pura terkejut.
"Oh, wah, jadi dia sungguh memilih untuk pergi?"
Vier masih menatap lurus ke arah Bu Cintami.
"Ternyata wanita itu memang lebih menginginkan uang," tukas Bu Cintami.
"Uang? Apa maksud Ibu?" tanya Vier.
__ADS_1
"Vier, bukankah Ibu sudah mengatakan padamu, bahwa wanita dari kelas bawah hanya menginginkan uang saja?"
"Ibu menawarkan sejumlah uang pada istrimu, berapa pun akan Ibu berikan, asalkan dia mengatakan dengan sejujur-jujurnya, motif sesungguhnya ia menikah denganmu! Dan lihat, dia hanya membutuhkan uang saja!" beber Bu Cintami.
"Vaya lebih memilih untuk menerima uang pemberian Ibu?" tanya Vier.
"Ya, Ibu sudah memberinya cek kosong yang bisa ia tulis sendiri berapa pun nominalnya," jawab Bu Cintami.
"Hmm begitu ya, jadi, Ibu memberikan Vaya cek kosong dengan syarat agar Vaya meninggalkanku?" tanya Vier.
"Tidak, Vier. Ibu tidak menyuruhnya meninggalkanmu atau pun pergi dari rumah ini," jawab Bu Cintami.
"Ibu hanya memintanya untuk berkata jujur, itu saja," lanjut Bu Cintami.
Vier mengusap wajahnya, Bu Cintami mengulas senyum. Ia merasa senang karena Vier termakan kebohongan yang dikarangnya.
"Vier, istrimu itu sungguh mengingatkan ibu pada Ibunya Dearmine. Wanita dari kalangan bawah yang bermimpi untuk menjadi Cinderella. Berupaya menghalalkan segala cara untuk merebut ayahmu. Tapi lihatlah, ayahmu pada akhirnya menyadari sendiri, wanita mana yang sungguh pantas untuk mendampinginya, bukan untuk sekadar kesenangan sesaat," beber Bu Cintami.
Vier benar-benar kehilangan selera makannya.
"Ibu, aku harus pergi ke kantor sekarang," Vier berpamitan.
"Baiklah, hati-hati, Vier. Ibu mau mengunjungi Selena, dia pasti sudah bosan berada di rumah sakit," sahut Bu Cintami.
Sepeninggal Vier, Bu Cintami pun segera mengambil gawai cerdasnya.
"Halo, tolong kirimkan beberapa lembar cek kosong ke alamat kantor Vaya, dan juga cek kosong ke alamat rumah orang tua Vaya, aku minta hari ini cek itu harus sudah sampai di tangan mereka," perintah Bu Cintami kepada orang suruhannya.
Bu Cintami menutup telepon lalu menyeruput minumannya. Dalam benaknya saat ini skenario untuk memisahkan Vier dan Vaya sungguh harus berjalan sempurna.
Sangat mudah bagi Bu Cintami untuk mencari informasi mengenai Vaya melalui penyelidikan dari orang-orang suruhannya, semudah ketika ia mencari tahu keberadaan Selena.
Begitu mendapatkan informasi secara rinci mengenai portofolio menantunya, Bu Cintami jelas menolak dengan sangat keras.
Kehadiran Vaya sungguh mengingatkan Bu Cintami kepada wanita yang menjebak suaminya. Wanita miskin yang akhirnya hamil dan melahirkan Dearmine.
Menjadi istri dari seorang pria yang begitu didambakan oleh para wanita kerap membuat Bu Cintami merasa sangat tertekan.
Godaan demi godaan menjadi hal yang harus dihadapi oleh Bu Cintami. Terlebih ketika ia dituntut oleh keluarga Pak Javier untuk segera memiliki keturunan. Ia harus merelakan suaminya menikahi para wanita yang bisa memberi keturunan.
Itulah sebabnya rumah tempat tinggalnya berbentuk paviliun-paviliun untuk memisahkan Bu Cintami dari para selir hati Pak Javier.
Hingga akhirnya Bu Cintami berhasil mengandung Vier yang merupakan buah cintanya bersama Pak Javier. Karena hanya Bu Cintami-lah yang terdaftar sebagai istri resmi.
Kehadiran Vier akhirnya jelas membuat para wanita yang menjadi selir Pak Javier tersingkir satu demi satu sesuai dengan kesepakatan yang pernah ia buat dengan suaminya.
__ADS_1
Oleh sebab itulah, bagi Bu Cintami, Vier adalah segalanya. Sehingga segalanya pula harus ia berikan kepada Vier.
...*****...