Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
182 - Cerita Selena


__ADS_3

Vaya masih memandangi Selena yang kini mengurai senyum menyebalkan. Senyum khas yang biasa dikembangkan oleh para wanita yang merasa sudah memenangkan hati pria yang diperebutkan.


"Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana pertemuanku dengan Vier. Saat itu aku menemani ayahku pada sebuah pertemuan bisnis. Ayahku yang memperkenalkan Vier padaku," Selena mulai bercerita.


Aku sungguh tidak perlu mendengar itu, Selena! Batin Vaya.


Namun Vaya tetap bersikap tenang dan santai karena tahu bahwa Selena jelas sedang berusaha memprovokasinya.


"Saat itu jujur saja, aku memang tertarik pada Vier, hanya saja aku tidak perlu menunjukkan hal itu padanya," lanjut Selena.


"Kemudian aku langsung mencari informasi tentang Vier, semua informasi tentangnya selalu bagus. Tidak ada kabar miring tentang Vier, kecuali fakta bahwa ia adalah seorang pria yang kerap berganti wanita di setiap kesempatan," Selena mengulas senyumnya.


"Bagiku, tidak masalah seorang pria kerap mengganti wanitanya, hanya saja Vier berbeda. Tidak ada berita buruk tentang Vier, meski Vier adalah seorang playboy."


Vaya masih mendengarkan dengan saksama setiap ucapan Selena yang bernada lambat, seakan wanita itu berpikir lama sekali sebelum memilih kata-kata yang akan ia ucapkan.


"Pada akhirnya, aku pun menghubungi Vier, lalu mengajak pria itu untuk berkencan."


Senyum Selena makin mengembang lebar, tangannya yang lentik sesekali memainkan ujung rambut pirangnya.


"Dan apa kau tahu apa yang dikatakan oleh Vier? Dia bersedia berkencan denganku," lanjut Selena.


Vaya mengulas senyum kecutnya.


"Tapi, kau pasti tahu, bahwa Vier adalah seorang pria yang penuh dengan syarat dan ketentuan yang berlaku," Selena melanjutkan ceritanya.


"Hmm, ya, tipikal Vier," Vaya menanggapi.


"Begitulah, akhirnya kami berkencan dan tak terasa kami sudah dua tahun berkencan."


Nada bicara Selena terdengar makin sombong di telinga Vaya.


"Kemudian, aku meminta Vier untuk menikahiku. Dan Vier pun menyetujui permintaan tersebut."


Ekspresi Selena seketika berubah muram.


"Di saat aku dan Vier akan menikah, tiba-tiba saja aku merasakan keraguan yang amat besar. Apa Vier benar-benar bersedia menikahiku karena dia mencintaiku ataukah karena aku memintanya untuk menikahiku?" lanjut Selena.


"Di tengah keraguanku itu, tiba-tiba saja aku mendengar ucapanmu yang mengatakan bahwa kau adalah mantan kekasih Vier dan pernah membunuh bayimu atas permintaan Vier."


Senyum kecut Vaya semakin lebar, Vaya yakin wajahnya saat ini pasti benar-benar terlihat menggelikan.

__ADS_1


"Selena, apa kau benar-benar percaya dengan ucapanku waktu itu?" tanya Vaya.


Dengan satu gerakan lambat, Selena menggerakkan kepalanya, seakan wanita itu sedang menjadi bintang iklan untuk produk perawatan kulit kenamaan.


"Awalnya tentu saja aku tidak memercayai hal tersebut," jawab Selena.


Tatapan Selena sama sekali tak menyiratkan keraguan.


"Namun semakin aku mencoba untuk tidak memercayainya, semakin aku meragu pada Vier."


"Saat itu, aku pun jadi berpikir, apakah selama ini Vier memang sengaja menyembunyikan semua hal-hal buruknya agar tetap terlihat baik?"


"Yah, aku sangat mengerti bahwa sekarang informasi yang beredar bisa dibeli dengan uang. Semata-mata demi pencitraan yang baik di mata publik," lanjut Selena.


"Aku yang ketika itu dalam keadaan penuh bimbang dan ragu pada akhirnya membuat keputusan yang hingga saat ini, jujur saja, masih sangat kusesali."


"Selena, aku pun juga merasa sangat menyesal karena telah membuat kebohongan itu. Aku sungguh tak menyangka bahwa selera humormu begitu buruk," Vaya kembali menimpali.


"Ya, habisnya bagaimana ya? Kau datang padaku, mengaku pernah mengandung anak Vier. Vier bahkan selalu mengatakan, jangan sampai aku melewati batasnya! Bagiku, itu artinya Vier benar-benar sangat menjaga agar kejadian di masa lalunya tidak akan pernah terjadi lagi. Ya, pasti itu sebabnya, alasan mengapa Vier selalu menolak saat aku memintanya untuk meniduriku."


Vaya tertegun mendengar ucapan Selena. Entah mengapa Vaya jadi merasa sangat malu saat mengingat bahwa ia juga pernah meminta Vier untuk menidurinya.


Vaya menghela napas berat sambil memandangi wajah Selena.


"Jadi, Selena, apa maksudmu dengan mengatakan semua ini padaku?"


Selena kembali menarik senyum yang di mata Vaya terlihat sangat menyebalkan.


"Maksudku adalah, aku ingin tahu, apa kau benar-benar mencintai Vier, seperti aku mencintainya, dan apakah Vier juga mencintaimu?"


Vaya merasakan paru-parunya seakan diremas oleh setiap kata yang terlontar dari bibir indah Selena. Bibir yang masih merona merah muda lembut meski tanpa sapuan perona bibir.


"Hmm, begitu ya", ucap Vaya.


Vaya melangkah mendekati jendela, membuka sedikit celah agar bisa merasakan embusan angin musim gugur di luar sana.


"Selena, apa kau tahu, aku dan Vier memulai pernikahan ini semata-mata karena aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah kulakukan."


"Aku mengacaukan rencana suci kalian yang hendak membangun rumah tangga bahagia."


"Aku telah menanggung semua akibat perbuatanku, Selena."

__ADS_1


Vaya kembali mengarahkan pandangannya pada Selena.


"Jika kalian memang ingin kembali bersama, aku tidak keberatan. Sungguh, melepas Vier bukan berarti aku tidak mencintainya, semua itu semata-mata kulakukan demi kebaikan Vier, dan juga kebaikan anakku."


"Anakmu?" tanya Selena.


"Ya, maksudku aku mengandung, melahirkan, dan membesarkan benih yang ditanamkan Vier padaku. Aku tentu tidak mungkin membunuh benih itu seperti yang pernah kukatakan padamu," jawab Vaya dengan cepat.


"Meski tumbuh tanpa sosok ayah, anak itu tetap bisa tumbuh dengan baik," lanjut Vaya.


"Dan jika kau dan Vier memang ingin kembali bersama, tolong terima dan perlakukan anak itu dengan baik."


"Aku tidak bermaksud mengeluh padamu. Tapi mengandung, melahirkan, dan membesarkan seorang anak tanpa didampingi oleh suami, sungguh amatlah berat. Hanya saja, aku bersyukur bisa melalui semua itu dengan baik."


...*****...


Vier masih menunggu di depan ruang perawatan Selena. Meski ia benar-benar tidak sabar dan ingin mendengar sendiri, apa yang dibicarakan oleh Vaya dan Selena.


Menunggu seperti ini benar-benar membuat Vier merasa bahwa detik demi detik bergerak begitu lambat. Seperti menunggu balapan siput yang berlari ke garis akhir.


Gawai cerdas Vier bergetar di dalam saku jasnya. Nama Mike muncul di layar datar benda pipih itu.


Namun belum sempat ia menjawab telepon dari Mike, matanya langsung tertuju pada rombongan ibunya.


"Vier," Bu Cintami menyapa Vier.


"Ibu," Vier membalas sapaan Bu Cintami.


Gawat! Di dalam ada Vaya! Batin Vier.


"Mengapa Ibu kemari? Tumben sekali," tanya Vier.


"Ibu hanya mau menjenguk Selena," jawab Bu Cintami.


"Mengapa kau menunggu di luar, Vier?" tanya Bu Cintami.


Vier cepat-cepat memikirkan alasan yang tepat untuk membawa ibunya pergi sebelum bertemu dengan Vaya yang pada akhirnya malah memperkeruh keadaan.


Belum sempat Vier membawa Bu Cintami pergi, pintu ruangan terbuka dan Vaya muncul dari balik pintu.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2