
"Tidak, Vier! Aku tidak mau kembali bersamamu!"
Ucapan Vaya terdengar begitu tegas dan seketika membuat Vier terperangah. Vier sungguh tak menyangka bahwa Vaya akan bersikap seperti ini.
Padahal Vier sudah membayangkan saat-saat dramatis tatkala mereka akhirnya kembali bertemu lagi setelah tiga tahun berlalu.
Vaya berlari ke dalam pelukannya, menangis dan memohon agar mereka kembali bersama tanpa perlu berpisah lagi.
Tiga tahun Vier membiarkan waktu berlalu sambil menunggu proses kesembuhan Selena. Selama tiga tahun itu pula, Vier akhirnya mampu membuat Selena menyerah hingga akhirnya meminta Vier untuk membawa kembali Vaya. Itulah yang selama ini telah direncanakan oleh Vier.
"Kenapa, Vaya? Kenapa kau tidak mau kembali bersamaku?" tanya Vier.
"Apa karena ada pria lain? Apa karena kau sudah terikat bersama pria lain?"
Vier melemparkan pertanyaan-pertanyaan dengan emosi yang tertahan.
"Vier, kau harus tahu, selama tiga tahun ini aku bisa hidup sendiri tanpamu! Sehingga aku pun yakin bahkan hingga tiga puluh tahun ke depan aku bisa hidup tanpamu!" tandas Vaya.
Vier menarik napasnya, emosinya tersulut namun ia harus mengontrolnya.
"Begitukah? Lantas bagaimana dengan Vero?" tanya Vier.
"Vier, aku bahkan menjalani kehamilan selama sembilan bulan tanpamu! Aku melahirkan Vero, tanpamu! Aku membesarkan Vero, juga tanpamu! Itu artinya, tanpamu, aku dan Vero akan baik-baik saja!" sahut Vaya.
Vaya menatap skeptis ke arah Vier.
"Lagipula, kau dan Selena pada akhirnya sudah kembali bersama. Aku benar-benar merasa sangat bodoh karena harus membuang-buang waktuku untuk menunggumu yang ternyata mempermainkanku saja!" ucap Vaya dengan nada penuh kegetiran.
"Vaya!" hardik Vier.
Vaya terkesiap mendengar hardikan Vier.
"Aku dan Selena tidak kembali bersama! Harus berapa kali kukatakan agar kau bisa mengerti?! Dan aku tidak pernah membuang-buang waktuku untuk mempermainkanmu!"
Vaya dan Vier saling mengunci tatapan mereka. Vaya kembali merasakan rasa sesak yang bergemuruh dalam dadanya.
"Vier, aku benar-benar sudah ikhlas. Aku tidak akan mengharapkanmu lagi," ujar Vaya.
"Vaya! Kenapa kau seperti ini? Bukankah kita sudah saling berjanji?!"
"Janji? Vier, bukankah justru kau yang sudah mengingkari semua janji yang kau ucapkan?!"
"Aku benar-benar sudah kenyang termakan janjimu!"
Vaya mendengus kesal ke arah Vier. Tatapan matanya masih tidak bersahabat.
Vier menyugar rambutnya, rasa kesal kembali menderanya. Inilah Vaya yang dikenalnya, Vaya yang begitu keras kepala.
"Aku yakin, Vier, berpisah adalah satu-satunya jalan yang terbaik bagi kita," ucap Vaya.
__ADS_1
"Dengan begitu, ibumu pasti akan benar-benar senang karena wanita sepertiku tidak perlu menjadi menantunya! Dan aku pun merasa lega karena pada akhirnya terbebas dari teror ibumu!"
"Oh ya Vier, aku mengatakan ini bukan karena aku hendak menjelek-jelekkan ibumu! Aku sungguh menghormati beliau meskipun beliau tidak pernah menganggapku!"
"Vaya! Apa kau sungguh tidak ingin kembali padakuĀ karena ibuku?!" tanya Vier.
"Vier! Aku tidak ingin kembali bersamamu jika pada akhirnya aku hanya akan terus terluka!"
"Menjadi orang yang paling bersalah dan terus dipersalahkan itu benar-benar sangat menyedihkan, Vier!"
Pandangan Vaya mulai berkabut, air mata menumpuk di pelupuk matanya. Rasa sesak yang dirasakan Vaya kembali menggerogoti.
"Vaya," lirih Vier berusaha menarik Vaya ke dalam pelukannya.
"Tidak, Vier!" Tolak Vaya.
"Vaya!" Vier menarik paksa Vaya ke dalam pelukannya.
"Tidak, Vier! Tidak! Lepaskan aku!" Vaya meronta.
Vier memeluk tubuh Vaya dengan sangat erat, ia benar-benar enggan untuk melepaskan tubuh Vaya.
Selama tiga tahun ini ia bahkan hanya bisa memeluk Vaya dalam mimpinya saja.
Ia benar-benar tidak peduli meski Vaya mendorongnya dengan kuat untuk melepaskan diri dari pelukannya.
Vaya menangis dalam pelukan Vier, ia benar-benar merasa marah dan kecewa pada Vier. Namun pelukan Vier yang begitu erat membuatnya tak berdaya.
"Vero!"
Seruan Aria terdengar menyeruak di sela-sela derasnya bunyi hujan.
Aria yang baru saja datang dalam keadaan basah kuyub seketika terkejut mendapati kakaknya berpelukan dengan seorang pria.
Kak Vaya!" seru Aria.
"A-Aria!" sahut Vaya dengan cepat mendorong tubuh Vier.
"Ka-Kak Vier!" seru Aria.
"Kok Kak Vier bisa ada di sini?" tanya Aria keheranan.
"Oh, hai, Aria!" sapa Vier.
"Vier, lepaskan aku!" gerutu Vaya.
Vier mengabaikan gerutuan Vaya dan mengulas senyum ramah pada Aria yang masih keheranan.
Jantung Aria seketika berdebar-debar ketika mengedarkan pandangannya ke segala arah.
__ADS_1
Jika sekarang ada Kak Vier, berarti pria itu juga pasti ada! Batin Aria bergejolak.
Tunggu! Ini bukan saatnya memikirkan Pak Mike! batin Aria.
Vaya segera mendorong Vier agar terbebas dari pelukan Vier.
"Aria, di mana ibu?" tanya Vaya.
"Eh, oh, Kak Vaya, ibu masih di puskemas, aku pulang lebih dulu karena kepikiran Vero," jawab Aria.
"Karena tadi aku meninggalkan Vero sendirian," lanjut Aria sambil mencuri pandang ke arah lantai atas.
"Memangnya ibu sakit apa?" tanya Vier.
"Ibu terkena vertigo, Kak," jawab Aria yang lagi-lagi mencuri pandang ke lantai atas.
"Aria, lebih baik kamu segera ganti pakaian, nanti kamu masuk angin," perintah Vaya melihat Aria yang basah kuyub.
Aria langsung melesat ke lantai atas, jantungnya bergemuruh makin tak karuan. Dan benar saja, sesampainya di lantai atas, ia mendapati Vero yang saat ini sedang menjadikan Mike sebagai sandaran.
Mike sedang menunjukkan permainan di gawai cerdasnya yang membuat Vero duduk anteng dalam pelukan Mike.
"Pak Mike!" sapa Aria.
Mike menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Mata Mike langsung tertuju pada sosok gadis berseragam putih abu-abu yang sedang dalam keadaan basah kuyub.
"Aria," ucap Mike.
Aria langsung mengembangkan senyumnya melihat Mike yang terlihat tetap tampan dan rapi seperti biasa. Di mata Aria, Mike bahkan tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan. Masih tetap sama seperti ketika terakhir kali mereka bertemu
Mike mengamati Aria yang nampak lebih dewasa, tubuh Aria terlihat lebih berisi dengan warna kulit yang cerah. Aria memang memiliki kulit yang lebih cerah dibandingkan dengan Vaya. Hal tersebut lantaran kulit Aria mengikuti gen dari ibunya.
"Lho, Tante kok kenal Pak Mike?" tanya Vero.
"Tentu saja aku mengenal Pak Mike," sahut Aria.
"Kok bisa kenal?" tanya Vero lagi.
"Haha, aku bahkan sudah mengenal Pak Mike sebelum kau lahir, Vero!" Aria tertawa dengan rasa bangga.
"Oh ya, Tante, kenapa basah kuyub begitu?" tanya Vero.
"Ini Tante baru pulang karena mencemaskanmu," jawab Aria.
Aria cepat-cepat menuju ke lemari pakaian untuk mengambil pakaiannya sambil mencuri pandang ke arah Mike.
Aria cepat-cepat berpaling karena kepergok mencuri pandang, pun demikian dengan Mike yang langsung mengalihkan pandangannya ke layar gawai cerdasnya lagi.
Aria yang salah tingkah langsung menyambar pakaian ganti dengan cepat lalu melesat turun kembali ke lantai bawah.
__ADS_1
Aria mengendap-endap saat menuruni tangga lantaran Vaya dan Vier kembali ke mode bersitegang, penuh dengan ketegangan yang ikut menegangkan Aria.
...*****...