Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
074 - Masakan Vaya


__ADS_3

Vaya melangkah cepat menyusuri area parkir bawah tanah yang temaram menuju ke sebuah mobil yang sudah menunggunya. Vaya memasukkan tas berisi barang-barang yang ia beli dari supermarket yang baru saja dikunjungi.


Kemudian ia segera memasuki mobil, duduk di kursi yang ada di samping pengemudi. Senyumnya mengembang cerah ke arah Yoran yang sudah menunggunya.


"Maaf, Yoran, pasti kau sudah menunggu lama," kata Vaya.


Yoran menggeleng.


"Tiga puluh menit aku rasa terlalu singkat," jawabnya.


Vaya kembali merasa salah tingkah karena Yoran kembali menatapnya begitu lekat.


"Jadi, apa saja yang kau beli?" tanya Yoran antusias.


"Aku akan memasak sesuatu yang spesial untukmu, Yoran," jawab Vaya.


"Ya, aku menantikannya," sahut Yoran.


Yoran segera mengemudikan mobil, melesat meninggalkan area parkir bawah tanah pusat perbelanjaan tempat ia dan Vaya bertemu.


Awalnya Yoran mengajak Vaya untuk makan malam bersama karena besok Yoran sudah harus kembali pulang ke kotanya.


Vaya pun berinisiatif untuk menyiapkan masakan yang spesial sebelum Yoran pergi.


"Aku cukup percaya diri dengan kemampuan memasakku, koki bersertifikasi bahkan sudah mengakui kemampuanku," kata Vaya sesumbar.


Mobil yang dikemudikan Yoran memasuki area parkir bawah tanah kawasan apartemen elit. Yoran mengeluarkan tas berisi belanjaan Vaya, lalu menggandeng tangan Vaya begitu mereka memasuki lift menuju ke unit apartemen Yoran.


Mata Vaya terpana melihat unit apartemen Yoran yang mewah, memiliki konsep modern dan minimalis yang biasa disaksikan Vaya di televisi. Desain interiornya didominasi warna putih dan abu-abu. Ada sofa panjang dengan bentuk huruf U di area ruang tamu. Area dapur yang bersih langsung menjadi tujuan Vaya.


Dengan cepat Vaya mengeluarkan bahan-bahan masakan yang tadi dibelinya di supermarket secara dadakan.


Yoran duduk di meja makan, mengamati Vaya yang sudah mulai sibuk menggunakan dapurnya. Vaya jadi salah tingkah karena Yoran terus memandanginya.


"Ada apa, Yoran?" tanya Vaya.


"Ini pertama kalinya ada seseorang yang menggunakan dapur ini untuk memasak," jawab Yoran.


"Benarkah? Serius?" tanya Vaya.


Nada bicara Vaya terdengar meragukan perkataan Yoran. Yoran menjawab dengan anggukan dan senyumnya yang sukses membuat jantung Vaya kembali berjedag-jedug.


Yoran beranjak dari kursi, ia segera menghampiri Vaya.


"Apa ada yang bisa kubantu?" ia menawarkan diri.


"Yoran, cukup duduk dengan tenang saja," jawab Vaya.


Vaya memeriksa isi pancinya, memastikan semua bahan-bahan masakannya sudah bercampur semua.


Hati Yoran rasanya mencelos melihat Vaya yang begitu cekatan saat memasak. Sungguh berbeda dengan Grace yang bahkan seumur hidupnya tidak pernah menghadapi kompor.


Jangankan memasak, membuatkan Yoran secangkir kopi saja tak pernah dilakukan oleh wanita itu.


Yoran mendekati Vaya yang sedang mengaduk-aduk isi panci.


"Aromanya wangi sekali," puji Yoran.


"Benarkah?" tanya Vaya.

__ADS_1


Yoran mengangguk, ia segera membawa bibir Vaya ke bibirnya.


Vaya menyambut ciuman lembut dari Yoran. Ia memejamkan matanya, mengalungkan kedua tangannya ke leher Yoran. Menikmati kembali pergulatan lidah mereka yang saling menyesap dan membelit. Vaya benar-benar menyukai ciuman dari Yoran yang begitu lembut. Sungguh berbeda dengan ciuman Vier yang selalu membuat Vaya merasa bahwa pria itu ingin menelannya.


Vaya dan Yoran mengakhiri ciuman mereka, wajah mereka sama-sama memerah.


"Duduklah, sebentar aku siapkan," kata Vaya.


Yoran mengangguk, ia segera kembali duduk di belakang meja makan.


Vaya segera meletakkan semangkuk sup daging beraroma semerbak beserta kentang panggang di hadapan Yoran.


"Vaya, terima kasih ya, kau sampai repot-repot memasak seperti ini, aku sungguh senang sekali," kata Yoran.


Vaya mengulas senyumnya, menatap Yoran yang mencicipi sup daging buatan Vaya. Menu paling simpel dan cepat yang bisa disajikan Vaya.


"Ada apa, Yoran?" tanya Vaya begitu melihat ekspresi wajah Yoran yang berubah.


"Apa masakanku seburuk itu?" tanya Vaya.


Vier bahkan tidak pernah komplain lagi dengan masakanku, batin Vaya.


Yoran menggeleng cepat.


"Vaya, aku benar-benar sangat senang, masakanmu sangat enak," ucap Yoran.


Vaya kembali berbunga-bunga mendapat pujian dari Yoran.


"Vaya, apa kau tahu, Grace bahkan tidak pernah sekali pun memasak untukku," ucap Yoran dengan penuh kegetiran.


"Yoran, mungkin Grace sangat sibuk, tidak punya waktu untuk memasak," sahut Vaya.


"Oh begitu," sahut Vaya.


Menurut Yoran, masakan istri adalah bentuk perhatian kepada suami. Namun menurut Vaya, hal tersebut tidak berlaku bagi Vier. Bagi Vier, memasak merupakan cara pria itu menghukum Vaya. Membuat Vaya harus bersusah payah, menyiksa Vaya dengan ekspektasinya yang luar biasa.


Hiks, kenapa yang menikah denganku adalah Vier dan bukannya Yoran? Vaya membatin.


"Yoran, besok kau akan pergi jam berapa?" tanya Vaya.


"Penerbangan pagi," jawab Yoran.


"Kapan kau akan kembali lagi?" tanya Vaya.


"Aku pasti akan kembali, tapi tidak dalam waktu dekat ini," jawab Yoran.


"Oh begitu," sahut Vaya.


Yoran bisa melihat kegetiran dari tatapan mata Vaya.


"Vaya, kupastikan bahwa ketika aku datang kemari, orang yang pertama kali kutemui adalah kau," ucap Yoran.


Vaya mengangguk.


"Yoran, makannya dihabiskan ya," pinta Vaya.


"Pasti," sahut Yoran.


...*****...

__ADS_1


Usai makan malam, Vaya menuju ke balkon, ia segera duduk di kursi yang ada di sana sedangkan Yoran terlihat sudah sibuk berkutat di depan laptopnya.


"Yoran, kau benar-benar sibuk ya, sampai di rumah pun tetap masih bekerja," kata Vaya.


"Oh, maaf, aku hanya memeriksa beberapa surat elektronik yang masuk," Yoran segera menutup laptop.


Mereka kembali saling berpandangan, Yoran mengambil tangan Vaya dan menggenggamnya.


"Vaya, aku benar-benar berterima kasih padamu, selama kau berada di sisiku, aku benar-benar merasa senang," kata Yoran.


Mereka kembali saling menatap. 


"Aku bahkan sampai lupa, kapan terakhir kali aku merasakan rasa senang. Aku sampai berpikir, kehidupan macam apa yang kujalani selama ini?"


Vaya bisa melihat raut wajah Yoran yang berubah murung, bahkan sangat murung.


"Yoran, terkadang, kita memang membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan kita, meski tidak memberikan solusi atas permasalahan yang kita hadapi, setidaknya dengan bercerita akan membuatmu merasa lebih lega," kata Vaya.


"Aku siap mendengarkan apa pun yang ingin kau katakan," lanjut Vaya.


"Terima kasih, Vaya," kata Yoran.


Yoran masih menggenggam erat tangan Vaya, lalu memeluk Vaya dengan sangat erat. Vaya merasa sangat nyaman dalam pelukan Yoran. Rasanya ini seperti mimpi saja baginya.


Yoran melepaskan pelukannya, ia mengusap lembut bibir Vaya sebelum kembali melumaat bibir Vaya.


Vaya sama sekali tidak keberatan Yoran kembali menciumnya. Ia merasa bahwa salah satu keinginannya untuk dekat dengan Yoran telah dikabulkan oleh Tuhan.


Ia begitu menyukai Yoran, memendam perasaannya selama lima belas tahun. Menjadikan pria itu sebagai obsesinya.


Vaya tak tahu, saat ini ia hanya mengikuti nalurinya saja. Rasanya saat ini ia ingin Yoran-lah yang memiliki dirinya seutuhnya.


"Aah!" 


Vaya melenguh saat Yoran menyasar lehernya, memberinya kecupan-kecupan lembut yang membuat Vaya menggelinjang hebat.


Yoran kembali memagut bibir Vaya, ia benar-benar sudah kecanduan dengan pertikaian yang memberikan sensasi luar biasa itu. Saling berpagutan, saling mencecap, dan saling mendamba. 


Kring.. Kring..


Terdengar dering telepon yang membuat acara saling mencecap itu terganggu.


Kring.. kring..


Panggilan telepon itu bukan berasal dari gawai cerdas Yoran.


Kring.. Kring..


"Vaya, sepertinya bunyi telepon itu dari tasmu," kata Yoran.


"Tasku?" Vaya keheranan.


Dering ponselku bukan seperti itu, pikir Vaya.


Vaya beranjak dan mengambil tasnya. Vaya terperanjat melihat benda tipis berbentuk persegi panjang itu meraung-raung.


Ya, gawai cerdas itu bukan ponsel rentanya, pantas saja Vaya tidak mengenali nada deringnya. Di layar datar muncul nama pemanggilnya.


My Vierlove is calling... 

__ADS_1


...*****...


__ADS_2