Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
193 - Memulai


__ADS_3

Vaya masih melingkarkan kedua tangannya di leher Vier, sementara Vier segera menyusupkan kedua tangannya untuk memeluk pinggang Vaya lalu menyandarkan tubuh Vaya ke tembok di samping pintu masuk.


Mereka saling menatap dengan sangat intens, tidak ada jarak yang memisahkan mereka.


"Bagaimana caramu membuktikan padaku, bahwa aku benar-benar bisa memercayaimu?" tanya Vaya.


Vier mengulas senyum miringnya, tanpa melepaskan pandangannya barang sedetik pun dari Vaya.


"Vaya, apa kau lupa? Sebenarnya siapa yang lebih bisa dipercaya?" Vier balik bertanya.


"Wanita penuh kebohongan sepertimu, ataukah pria sepertiku?" Vier bertanya.


"Siapa yang bisa memercayai pria sepertimu?" Vaya balas bertanya.


Vier kembali mengulas senyumnya. Vaya tentu tidak ingin kejadian yang pernah dialaminya dulu harus terjadi di masa yang akan datang. Ia harus mengambil langkah preventif.


Vier tak putus-putusnya memandangi wajah Vaya. Saat ini ia benar-benar sudah tidak sabar untuk mencurahkan segala kerinduan yang selama ini sudah ditahannya.


Perdebatan yang saat ini tengah mereka lakukan benar-benar membuat Vier makin bergairah. Gairah yang benar-benar tak kuasa untuk ditahannya. Bak bom yang saat ini sedang menghitung mundur waktu untuk meledak.


"Vaya, mari kita mulai untuk saling percaya," ucap Vier.


Mengalah dan menyerah untuk mengakhiri perdebatan mereka.


"Aku percaya padamu dan kau harus percaya padaku," lanjut Vier.


"Bagaimana aku harus memercayaimu, Vier?" todong Vaya mengulang kembali pertanyaannya.


Vier makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Vaya.


"Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kau bisa memercayaiku?" Vier balik bertanya.


Vaya memicingkan matanya, menatap skeptis ekspresi serius yang tergambar jelas di wajah Vier.


"Sepertinya kita harus membuat perjanjian tertulis untuk memperbaharui kontrak perbudakan birahimu, Vier," jawab Vaya tanpa perlu banyak berpikir.


"Kontrak perbudakan birahi?" alis Vier bertaut.


Beberapa detik kemudian Vier menarik senyumnya.


"Vaya, apa kau sungguh berpikir seperti itu?" tanya Vier dengan senyum jahilnya.


"Hmm, yah, awalnya aku berpikir seperti itu," jawab Vaya.


"Dan akhirnya?" tanya Vier.


Vaya menyeringai kecut.


"Daripada disebut perbudakan birahi, aku rasa lebih cocok disebut tergoda seorang penggoda," jawab Vaya.


"Penggoda?" sebelah alis Vier terangkat.


"Ya, kau adalah seorang pria penggoda," jawab Vaya.


"Kalau aku penggoda, maka kau lebih menggodaku lagi, Vaya."


Vaya menarik senyumnya, ia sungguh merasa tersipu karena tatapan mata Vier benar-benar menggodanya.


Vier pun mulai membenamkan bibirnya pada bibir Vaya. Sambutan hangat yang sudah lama begitu dirindukannya.


Vaya menyelipkan jemarinya di rambut Vier, rasa rindu untuk menyentuh pria itu setelah sekian lama mereka terpisah.


Vier mulai membuka mantel yang dikenakan Vaya, begitu pula Vaya yang juga melepas mantel yang dikenakan Vier. Atmosfer di sekeliling mereka memanas seiring dengan makin panasnya ciuman yang mereka lakukan.

__ADS_1


Vaya yang sedari tadi memejamkan matanya tiba-tiba tersadar bahwa ada tatapan mata yang sedang mengawasi mereka. Begitu Vaya membuka kedua matanya, Vaya terlonjak kaget.


"Kyaa!"


Vaya berteriak sambil mendorong Vier agar menjauh darinya. Cepat-cepat Vaya menutup mulutnya lantaran merasa cemas teriakannya akan membangunkan Vero.


Vier terhuyung, tubuhnya limbung dan nyaris menabrak tembok di belakangnya.


Ia benar-benar kaget Vaya menjerit seperti itu.


Vier menoleh ke arah Mike yang nampak mematung, berdiri tegang tanpa suara dengan sikap sempurna ala pasukan baris-berbaris.


"Astaga, Mike! Kau benar-benar mengagetkanku!" dengus Vier gusar sambil menyugar rambutnya.


Mike masih mematung, pria itu benar-benar hanya bisa terdiam menyaksikan pemandangan yang dulu kerap disaksikannya. Dua sejoli yang dulu kerap menganggap Mike hanyalah cctv berjalan saat keduanya mengumbar kemesraan tanpa peduli tempat dan waktu.


Wajah Vaya seketika memanas karena ia benar-benar seperti pasangan yang tertangkap sedang berbuat mesum oleh Satpol PP.


"Maaf, saya bukannya mengganggu waktu Anda berdua. Hanya saja, Pak Vier dan Bu Vaya lebih baik tidak melakukannya di depan pintu masuk. Saya jadi tidak bisa keluar," Mike menjelaskan.


"Ehem, Mike, ini apartemenku, jadi terserah aku mau melakukannya di mana pun yang aku inginkan. Tolong jangan dijadikan alasan, Mike," Vier berdeham.


Tapi tidak harus di depan saya kan, Pak?! Mike membatin kesal.


"Ibu!"


Vero berseru sambil setengah berlari menghampiri Vaya.


"Vero," Vaya langsung menyambut Vero ke dalam pelukannya dan menggendong Vero.


Vero terbangun karena mendengar jeritan Vaya.


"Ayo kita kembali ke kamar, Vero lanjut tidur lagi ya," ajak Vaya.


"Kalau begitu, saya permisi Pak," Mike menunduk dalam.


Vier langsung mengunci leher Mike dengan sikunya.


"Cih, sialan kau, Mike! Kenapa kau tidak pulang dari tadi?!" omel Vier dengan suara berbisik.


"Maaf Pak, saya tidak mungkin meninggalkan Vero sendirian!" jawab Mike yang juga berbisik.


"Itu sama saja dengan penelantaran anak! Tidak boleh, Pak!"


"Ck!" Vier berdecak kesal sambil melepaskan sikunya dari leher Mike.


Pasrah dengan keadaan.


...*****...


"Waaah! Kak Vaya!"


Aria berseru heboh tatkala melihat Vaya yang sudah nampak bersiap-siap dalam balutan gaun pengantin berwarna putih.


Vaya menoleh ke arah Aria dan ibunya yang baru saja tiba dari tanah air. Keduanya dijemput secara khusus untuk datang ke Paris. Tujuannya tentu saja untuk menghadiri kembali acara pembaharuan perjanjian pernikahan yang dilakukan oleh Vaya dan Vier. Vaya dan Vier membuat kesepakatan untuk kembali bersama.


"Ibu! Aria!"


Vaya menyambut Bu Asih dan Aria yang langsung memberi Vaya pelukan.


"Vaya benar-benar terlihat cantik," ucap Bu Asih dengan mata berkaca-kaca.


"Ya ampun Ibu, apa kemarin-kemarin aku terlihat tampan?" tanya Vaya seraya terkekeh.

__ADS_1


"Ihh, Kakak ini, pantas saja Kak Vier begitu tergila-gila pada Kakak!" Aria terkekeh dengan gemas.


Vaya menyeringai sambil menjulurkan sedikit lidahnya.


"Vaya, Ibu sungguh menghargai keputusanmu untuk kembali bersama Vier. Tapi, apa kau yakin bahwa kau memang benar-benar ingin kembali pada Vier tanpa adanya keterpaksaan?" tanya Bu Asih.


"Ibu, sungguh tidak perlu mencemaskan apa pun," jawab Vaya.


"Aku ingin kembali pada Vier semata-mata bukan karena meminta pertanggung jawaban Vier atas hidupku dan Vero. Aku ingin kembali pada Vier karena kami berdua sama-sama ingin kembali bersama, memulai semuanya dari awal," lanjut Vaya.


Mata Bu Asih berkaca-kaca, senyumnya terulas menghiasi wajahnya yang sudah dimakan usia.


"Vaya, Ibu hanya ingin kau bahagia," kata Bu Asih.


"Terima kasih Bu, aku pasti bahagia," Vaya kembali memeluk Bu Asih dengan erat.


"Aduh, Kak Vaya, jangan nangis, nanti riasannya luntur," cibir Aria.


"Haha," Vaya tertawa.


"Ibu, Rian jadi datang?" tanya Vaya.


"Rian katanya akan menyusul," jawab Bu Asih.


"Awas saja anak itu tak datang," cibir Vaya.


Oh ya, Kak Vaya, ngomong-ngomong di mana Vero?" tanya Aria.


"Vero bersama Pak Mike," jawab Vaya.


"Oh, kalau begitu aku mau bertemu Vero, aku sudah kangen Vero," kata Aria.


"Ketemu Vero atau ketemu Pak Mike?"


Semua orang menoleh ke arah Vero yang memasuki ruangan bersama Mike.


"Vero!" seru Aria langsung berlari ke arah Vero.


Dengan segera Aria langsung menghambur untuk memeluk Mike yang sedang menggendong Vero.


Belum sempat Aria memeluk Mike, Rian datang dan mendorong Aria dengan cepat.


"Aria! Jangan genit!" cibir Rian.


"Hu-uh!" dengus Aria kesal.


"Rian!" seru Vaya.


Vaya benar-benar merasa senang melihat keluarganya sudah berkumpul lagi.


"Bu Vaya, Anda harus segera bersiap untuk menemui Pak Vier," kata Mike.


"Pak Vier sudah menunggu Anda," lanjut Mike.


"Ya, ya," sahut Vaya.


Vaya benar-benar merasa tegang, padahal ini bukan pernikahan pertamanya dengan Vier. Mereka hanya akan memperbaharui perjanjian pernikahan mereka sebagai kesepakatan untuk memulai awal yang baru. Membayangkan hal-hal indah yang kiranya akan ia dan Vier lalui bersama Vero.


Sesampainya di tempat acara, langkah Vaya terhenti saat melihat kedatangan Bu Cintami.


Seketika itu pula, hal-hal indah yang sudah dibayangkan oleh Vaya, yakni memulai awal yang baru dengan Vier berangsur-angsur ditelan kegelapan yang dibawa oleh Bu Cintami.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2