
"Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut."
Mike menutup teleponnya, lalu mengarahkan pandangan kepada Vier yang memasang ekspresi masam. Sudah lima kali Mike mencoba untuk menghubungi nomor telepon Vaya namun nomornya masih belum aktif juga.
"Ck, ke mana dia pergi sampai nomornya tidak aktif begitu?" Vier berdecak kesal.
Vier menyimpan pena dan juga dokumen-dokumen yang sudah selesai ditandatanganinya.
"Mungkin daya ponsel Bu Vaya habis, Pak Vier," jawab Mike.
"Habis? Apa maksudmu, Mike?" tanya Vier.
"Biasanya seperti itu, Pak, maklum ponsel Bu Vaya sudah renta," jawab Mike.
"Astaga, memalukan sekali! Aku bahkan sudah memberinya fasilitas tanpa batas, kenapa dia masih memakai ponsel renta?" Vier tertawa.
"Mike, apa jangan-jangan kehabisan daya hanya alasan Vaya untuk tidak menjawab teleponmu?" lanjut Vier.
Vier mengambil gawai cerdas pribadinya.
"Sirii, calling Vaya," perintah Vier pada gawai cerdasnya.
"Sorry, Vaya not detected," jawab sang gawai cerdas.
"Hah? Apa kau bilang?" Vier terkejut mendapat jawaban dari gawai cerdasnya.
"Mike, kenapa tidak ada kontak Vaya di ponselku?" tanya Vier.
"Maaf Pak, Anda tidak meminta saya untuk menyimpan nomor ponsel Bu Vaya di ponsel pribadi Anda," jawab Mike.
"Mike, alasan macam apa itu?!" sergah Vier.
Pak Vier, Anda bahkan melarang saya untuk menyimpan nomor ponsel seseorang tanpa izin dari Anda! Meski itu nomor ponsel ibu Anda sendiri! Batin Mike.
"Berikan nomor ponsel Vaya! Biar aku sendiri yang menghubunginya," kata Vier.
Vier segera mengusap tombol panggil begitu Mike mengirim kontak Vaya.
Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku menghubungi Vaya, apa yang harus kukatakan padanya ya? Batin Vier.
Terdengar nada sambung yang membuat Vier menyeringai senang.
"Dengarkan, Mike! Panggilanku tersambung! Jangan-jangan nomormu sudah diblokir Vaya, haha!" Vier tertawa senang.
Ya sudah, mulai sekarang Anda sendiri yang menelepon Bu Vaya, jangan menyuruh saya lagi! Batin Mike.
"Ck, kenapa Vaya belum menjawab juga?" gerutu Vier.
Vier kembali mencoba menelepon, semakin Vaya tidak menjawab teleponnya, ia semakin ngotot dan ngegas.
"Ck, apa dia tidak menjawab teleponku karena tidak mengenali nomorku?!" keluh Vier.
"Apa jangan-jangan dia tidak mau menjawab teleponku lantaran berpikir bahwa yang menelponnya adalah telemarketing asuransi?" lanjut Vier.
"Kalau kau memang berpikir seperti itu, habis kau, Vaya!" rutuk Vier.
Dan benar saja, begitu Vaya menjawab telepon dari Vier, Vaya memang mengira bahwa Vier adalah telemarketing asuransi.
__ADS_1
"Mike, ayo kita jemput wanita menyebalkan ini!" ajak Vier.
...*****...
Vaya memasuki mobil Vier dengan takut-takut, tatapan sinis dari Vier mengikutinya. Mike segera mengemudikan mobil begitu Vaya duduk di samping Vier.
"Jam berapa ini? Kenapa kau masih belum pulang juga?" tanya Vier.
"Jangan mentang-mentang aku sibuk dan pulang terlambat, lantas kau juga pulang terlambat!" cecar Vier.
Mike rasanya ingin tertawa melihat Vier macam emak-emak yang menjemput lalu memarahi anak gadisnya karena pulang terlambat.
"Hmm, yah, namanya juga aku banyak kerjaan," sahut Vaya.
Vier menarik Vaya, ia mulai mengendus aroma Vaya. Hidungnya menyusuri garis rahang Vaya.
"Tumben kau pakai parfum," komentar Vier.
"Aku tadi beres-beres kamar messku, karena tidak sempat mandi, jadi aku pakai parfum saja," sahut Vaya.
"Huh, kenapa aroma parfummu benar-benar mengerikan? kau pakai parfum apa sih!" keluh Vier.
"Yah, aku pakai parfum yang ada saja," sahut Vaya.
Vaya sengaja menyemprotkan banyak-banyak parfum karena menyadari bahwa aroma parfum Yoran menempel di tubuhnya. Ia juga tidak sempat jika harus mandi dan berganti pakaian karena Vier menjemputnya secara mendadak.
"Jangan lagi kau pakai parfum murahan begitu, aromanya benar-benar mengerikan!" tandas Vier.
Vaya tidak menyahut, ia membuang pandangannya ke luar jendela.
"'Aduh, Vier! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" gerutu Vaya.
"Mana kewajibanmu saat bertemu denganku?" tanya Vier.
"Kewajiban apa?" Mata Vaya terbelalak lebar.
"Kau harus menciumku, kan?!" sergah Vier.
"Vier, jangan aneh-aneh!" Vaya berusaha turun dari pangkuan Vier.
"Aneh-aneh?" tanya Vier.
"Di depan ada Mike!" sahut Vaya.
"Apa kau bermaksud mengajak Mike ke kursi belakang?" tanya Vier sambil menyeringai usil.
"Vier!" Vaya berusaha berontak.
Namun terlambat, Vier sudah membenamkan bibirnya ke bibir Vaya. Ia selalu tak tahan untuk menyesap bibir yang sudah membuatnya kecanduan.
"Vi-Vier, ehmph," Vaya berusaha melepaskan bibirnya dari pagutan Vier.
Namun Vier tak peduli, ia malah semakin antusias untuk membuat Vaya tak menolak ciumannya. Vaya tidak ingin Vier menciumnya seperti ini, ia merasa sungkan dengan Mike.
Mike lagi-lagi hanya bisa menguatkan hatinya.
Kapan ya, aku bisa punya pacar?
__ADS_1
Tunggu, waktu senggang saja aku tidak punya! Batin Mike lagi-lagi nelangsa.
...*****...
Vaya segera menaiki tempat tidur begitu selesai mandi. Membuka gawai cerdasnya untuk memeriksa apakah ada pesan yang masuk. Vaya mengulas senyumnya, rasanya hari ini ia terlalu bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama Yoran.
Rasanya Vaya ingin menceritakan semua ini kepada kedua sahabatnya, yakni Mima dan Ibe.
Apa kira-kira tanggapan kedua sahabatnya jika mereka berdua sampai tahu apa yang terjadi antara Vaya dan Yoran?
Keduanya pasti akan mengatai bahwa Vaya hanya berhalusinasi saja.
Vaya memeluk bantal, memejamkan matanya, kemudian membayangkan kembali saat ia dan Yoran berciuman. Vaya tidak peduli, yang pasti saat itu ia hanya mengikuti nalurinya saja.
Ponsel Vaya bergetar, sebuah pesan masuk dan langsung membuat Vaya berdebar tak karuan.
Yoran mengirimkan foto Vaya yang diambil pria itu secara candid. Vaya terlihat sedang membaca pesan-pesan tertulis yang ada di pagar kayu.
Yoran : Apa aku boleh menyimpannya?
Pertanyaan Yoran jelas membuat Vaya seketika tersenyum. Lagi-lagi Vaya berdebar-debar tak karuan.
Vaya : Kalau tidak boleh menyimpannya, harusnya jangan mengambil foto itu tanpa izin.
Yoran : Tadinya aku hanya ingin mengambil foto pagarnya saja.
Vaya kembali terkekeh, ia menggigit bantal karena merasa bahwa Yoran sungguh menggemaskan sekali.
"Vaya!"
Vaya terkesiap mendengar suara Vier. Vaya cepat-cepat menyembunyikan ponselnya di bawah bantal, berbaring menyamping lalu menarik selimut.
Vier yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera naik ke tempat tidur. Ia segera memeluk Vaya.
"Vier, apa kau mau kupijat?" tanya Vaya sambil melepaskan tangan Vier.
"Hmm, tidak, aku sudah ngantuk sekali," jawab Vier sambil mempererat pelukannya.
"Apa kau mau kupijat?" tanya Vaya mengulangi pertanyaannya.
"Tidak perlu," jawab Vier sambil memejamkan matanya.
Drrt... Drrtt...
Vaya terperanjat, ponselnya yang berada di bawah bantal bergetar.
Pelan-pelan Vaya menyusupkan tangannya ke bawah bantal untuk mengambil ponselnya.
Drrt... Drrt...
Ponselnya bergetar karena Yoran meneleponnya. Belum sempat Vaya menjawab telepon dari Yoran, Vier sudah merampas ponsel Vaya lalu melempar ponsel itu jauh-jauh.
"Vier! Kenapa kau membuang ponselku?!" sergah Vaya.
"Vaya, tidur!" perintah Vier.
...*****...
__ADS_1