
Bunyi alarm menggema memenuhi ruangan yang sunyi. Dalam pencahayaan yang temaram, Vaya membuka kelopak matanya, mengerjap mencari-cari suara yang mengusik tidurnya yang nyenyak. Sungguh aneh, padahal semalam Vaya bahkan mencoba untuk tetap terjaga. Ibarat anak domba yang tersesat dan harus bermalam di sarang serigala. Waspada harus disiagakan guna menghindarkan diri menjadi santapan serigala ketika ia sedang lengah.
Pasti karena kasur dan bantal yang empuk makanya tidurku jadi nyenyak, Vaya membatin sambil mencoba menggerakkan tubuhnya.
Tiba-tiba saja ia tersadar bahwa saat ini posisi tubuhnya sedang terkunci, ada lengan kokoh yang saat ini melingkari perutnya disertai dengan deru napas tenang yang bersandar di ceruk lehernya.
"Vi-Vier!" seru Vaya segera menutup mulutnya.
Vaya tersadar bahwa ia tidak boleh membuat kegaduhan yang berujung membangunkan Vier. Bagaimana jika pria itu marah karena merasa tidurnya terganggu lalu membuat Vaya kembali menerima hukuman?
Vaya tidak tahu harus berbuat apa tatkala Vier makin mempererat pelukannya.
Ugh! Vier! Sesak! Vaya berteriak tanpa suara.
Vaya berharap saat ini tubuhnya bisa bertransformasi menjadi ubur-ubur. Tubuh ubur-ubur yang lembek akan mudah lepas dari belitan Vier. Selain itu tubuh ubur-ubur juga akan mengeluarkan sengatan sebagai senjata untuk melindungi diri dari tangan Vier yang mulai menyentuh sesuatu yang membuat jantung Vaya seakan berhenti berdetak. Ya, tangan Vier benar-benar nakal karena mengusap-usap pegunungan terlarang miliknya.
"Ugh! Vier!" geram Vaya sambil berusaha menyingkirkan tangan Vier.
"Hmmphmm..," gumam Vier dalam tidurnya.
Dasar pria gila! Memangnya dia pikir dadaku ini adonan donat?!
"Vieer!" geram Vaya sambil mencabuti bulu-bulu halus yang ada di lengan Vier.
"Vier! Lepaskan aku atau aku akan mencabuti semua bulu di tanganmu ini!" kata Vaya dengan nada berisi ancaman.
Vier membuka matanya lalu memutar tubuh Vaya agar menghadap ke arahnya.
"Vi-Vier!"
Vaya tercekat menatap Vier yang masih memejamkan matanya.
"Hmmh!" Dengus Vier. "Sudah berapa banyak bulu di tanganku yang kau cabuti, Vaya?" tanya Vier dengan suaranya yang parau.
Vaya terperanjat, entah sudah berapa banyak bulu-bulu halus di lengan Vier yang ia cabuti lantaran pria itu tak kunjung melepaskan tangannya yang melakukan kegiatan uyel-uyel.
Oh tidak! Apa Vier akan menghukumku lagi? Pikir Vaya.
"Vier! Tolong lepaskan aku!" Vaya memohon dengan sangat.
Vier membuka matanya, menatap Vaya yang memasang ekspresi memelas.
"Berani sekali kau mencabuti bulu tanganku, siapa yang menyuruhmu melakukannya?" tanya Vier.
"Vi-Vier, ha-habisnya kau menguyel-uyel dadaku! Dadaku ini bukan dada sapi!" jawab Vaya terbata.
"Dadamu?" Kening Vier berkerut. "Oh, aku kira itu perutmu yang bergelambir! Haha!"
Vier mengejek Vaya, seringaian terukir sempurna di wajah tampannya yang kini bermunculan bulu-bulu jenggot yang sedang bertumbuh.
"A-apa?! Perutku?" Vaya terperangah.
Vier masih mengulas senyumnya, menatap ekspresi nelangsa Vaya yang selalu sukses membuat jiwa menjahilinya tergugah sempurna.
"Sekarang hitung semua bulu-bulu tanganku yang kau cabuti!" perintah Vier.
"Huh! Apa kau pikir bulu tanganku itu rumput liar?! Huh!" Dengus Vier.
"Lihat, lenganku jadi botak-botak begini kan?! Tanggung jawab kau!" Vier menyeringai horor.
"Vi-Vier, maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud mencabut bulu tanganmu! Itu bukan salahku, tapi salah tanganku," Vaya mencoba membela diri.
Vier memicingkan kedua matanya.
"Jadi, sekarang kau menyalahkan tanganmu?" tanya Vier.
__ADS_1
Vaya berusaha untuk melakukan hal yang kiranya bisa menyelamatkannya dari hukuman Vier.
"Vier, maafkan aku, jari-jariku yang bersalah karena sudah nekat mencabuti bulu-bulu di tanganmu," kata Vaya sambil memainkan jari-jarinya di dada bidang Vier.
Vier kembali menyeringai, ia menahan rasa geli yang timbul karena ulah jemari Vaya.
"Siapa yang menyuruhmu memegangi dadaku? Apa aku ada memintamu melakukannya?" tanya Vier.
Vaya menghentikan gerakan jari-jarinya.
"Maaf, Vier! Maaf, tolong jangan hukum jari-jariku!"
"Tidak! Bagiku salah tetaplah salah! Kau harus mendapat hukuman!" Vier menyeringai.
Oh tidak! Apa dia akan mengikatku lagi?!
"Sekarang yang harus kau lakukan sebagai hukumanmu adalah cium bibirku sebanyak bulu-bulu tanganku yang kau cabuti!" tukas Vier.
"A-apa?!" Vaya terperanjat mendengar perintah Vier.
"Segera lakukan, atau aku akan mengganti hukumanmu! Apa kau sungguh ingin kuikat, lalu kugantung terbalik di balkon kamar ini dan menjadi tontonan semua orang?" Vier menyeringai.
"Vi-Vier, tolong jangan mengada-ada seperti itu!" gerutu Vaya.
"Vaya, apa kau pernah melihatku bercanda jika aku mengatakan akan menghukummu?" Vier menyeringai horor.
Ugh! Dasar Vier gila!
Vaya benar-benar tak punya pilihan lain selain melakukan apa yang diminta Vier.
Vaya mendekat ke wajah Vier, memejamkan matanya, dan mulai mengecup bibir Vier.
Cup.. Cup..
Vier memutar bola matanya, merasa tidak puas dengan ciuman yang dilakukan Vaya.
"Vier, aku kan sedang menciummu!" jawab Vaya.
"Tidak! Bukan seperti itu yang kumau!" tolak Vier.
"Tapi, bibir bertemu bibir kan berarti ciuman!" Vaya membela diri.
Vier mengubah posisinya, membuat Vaya berada di atas tubuhnya.
"Vi-Vier!" Seru Vaya terkaget.
Vier menarik tengkuk Vaya lalu membenamkan ciumannya.
Oh tidak! Lepaskan aku, Vier! Jerit Vaya dalam hati.
Sulit bagi Vaya untuk menghindar dari Vier yang saat ini seakan hendak menelannya. Vier benar-benar begitu rakus saat menyesap bibir Vaya. Vaya bahkan merasa kehabisan napas akibat ulah Vier.
"Seperti itu yang kumau," ucap Vier usai melepaskan bibirnya dari bibir Vaya.
Vaya mengatur napasnya yang nyaris hilang. Kesal sekali rasanya menjadi bulan-bulanan Vier seperti ini. Tapi apa yang bisa dilakukan Vaya selain mematuhi keinginan gila Vier?
"Sekarang ulangi lagi," perintah Vier.
Vaya memejamkan matanya, dalam hatinya saat ini ia hanya bisa nelangsa. Membenamkan bibirnya ke bibir Vier jelas bukan keinginannya.
Vier mengulas senyumnya, menikmati ciuman selamat pagi yang membuatnya benar-benar merasa senang.
"Vaya, tidak seperti itu! Ulangi lagi!" keluh Vier.
Vaya mendelik gusar, sudah tiga kali ia mencium Vier namun tetap saja salah.
__ADS_1
"Lakukan lagi yang benar," perintah Vier.
"Vier, ini sudah tiga kali lho," keluh Vaya.
"Aku tidak peduli, mau seratus kali pun jika kau tidak melakukannya dengan benar, tetap harus kau ulangi," sahut Vier.
Vaya kembali mencium bibir Vier dan Vier pun segera menyambutnya, lagi dan lagi.
...*****...
"Ini ruang pakaian untukmu. Semua yang ada dalam ruangan ini harus kau gunakan. Aku tidak mau melihatmu mengenakan pakaian-pakaian lusuh lagi."
Vier membuka pintu sebuah ruangan yang membuat mata Vaya melotot selebar-lebarnya. Ia masih tak memercayai apa yang dilihatnya. Ruangan tersebut berbeda dengan ruangan khusus lingerie.
Ruangan bernuansa putih dengan dinding cermin berhiaskan permadani mewah di tengah ruangan beserta sofa berwarna putih. Terdapat rak-rak yang memajang pakaian dengan mode teranyar berdasarkan jenis dan warnanya. Selain pakaian bermerk, tas, sepatu, hingga aksesoris lain memenuhi ruangan tersebut. Seolah ada butik mewah yang pindah ke dalam ruang seksi.
"Anggap saja aku menebus hutangku yang sudah merusak seragam kerjamu. Jadi kita impas," tukas Vier.
"Aduh, Vier, ini terlalu berlebihan. Aku sungguh merasa tidak pantas untuk mengenakannya," kata Vaya.
"Vaya, menolak perintah artinya apa?" tanya Vier.
"I-iya, iya, aku pakai, aku akan pakai," sahut Vaya dengan cepat.
"Kutunggu kau lima menit lagi di ruang gym," ucap Vier sebelum keluar dari ruang pakaian Vaya.
Vaya masih terlalu silau dengan semua pakaian yang dilihatnya.
Ia mengambil beberapa dan menyandingkan ke tubuhnya.
Bagaimana semua pakaian ini bisa pas di tubuhnya?
Ia membuka laci berisi kumpulan pakaian dalam bermerk yang biasanya hanya bisa dilihatnya di pagelaran mode pakaian dalam ternama di dunia, Secret Victory.
"Ya Tuhan! Apa aku harus memakai pakaian dalam ini di luar supaya orang-orang tahu bahwa pakaian dalamku adalah Secret Victory?" Vaya bermonolog.
"Ini gila! Bagaimana bisa sampai ukuran pakaian dalam pun sesuai dengan ukuran tubuhku?"
Lagi-lagi Vaya terheran-heran sendiri.
Vaya berpindah ke rak berisi koleksi tas bermerk beraneka warna dan bentuk. Sungguh macam mengunjungi surga belanja tas branded kelas dunia.
"Gila! Ini tas Herme yang dipakai Sihriny untuk beli kangkung kan?" Vaya tercengang.
Gila! Gila! Semua ini pasti hanya mimpiku saja kan?!
Vaya mencubit tangannya, memastikan bahwa semua yang ada di hadapannya ini tidak menghilang begitu ia terbangun dari tidurnya.
"Aduh sakit!" Vaya meringis.
Ini benar-benar bukan mimpi!
Semua barang-barang mewah ini benar-benar untukku?! Vier benar-benar sudah gila!
"Kyaa!" Vaya menjerit histeris sambil melompat-lompat kegirangan.
Bak pemain bola yang berhasil mencetak gol ke gawang lawan. Berlari dari satu rak ke rak lain untuk mengambil pakaian-pakaian bermerek yang membuatnya seketika lupa dan terhanyut pada histeria kebahagiaan.
Namun tiba-tiba Vaya terdiam, tak seharusnya ia terhanyut pada histeria ini. Jika ia begitu senang karena mendapat kemewahan ini, apa bedanya ia dengan wanita-wanita pemuas hasrat Vier?
"Semua wanita-wanita itu pasti mendapat fasilitas dan kemewahan dari Vier lalu sebagai gantinya tentu saja mereka harus bersedia menjadi mainan Vier kan? Apalagi Vier itu tipe pria yang habis manis sepah dibuang," Vaya kembali bermonolog di depan cermin.
"Vaya, jangan ikut-ikutan seperti mereka! Kau bukan mereka!" Vaya memperingatkan dirinya sendiri.
Ya, jangan pernah terlena dengan pria playboy! Karena mereka memang tercipta untuk mempermainkan wanita!
__ADS_1
...*****...